
HARAP DI BACA. KISAH NARA TIDAK TERFOKUS DENGAN SATU TOKOH SAJA.
🌹🌹🌹
"Tolonglah kau jangan berulah lagi. Masih untung kali ini Danton bisa sabar, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Bu Gano. Kita bisa mati sia-sia di tangan Danton." Kata Prada Elfri mengingatkan.
"Kalau Danton menghajar kita sampai hampir mati, tentu Danton akan membuat pelanggaran karena menindak kita tanpa prosedur." Jawab Prada Yana.
"Kau pikir Danton akan peduli dengan semua sanksi yang akan di terima???? Danton kita itu killer, meskipun badannya remuk dan hancur lebur kalau dirinya menilai hal tersebut salah ya tetap saja salah, tanpa toleransi.. dan kau memang salah Yan."
Prada Yana terdiam. Dirinya memang salah. Putus cinta membuatnya seakan hilang akal dan teledor.
"Aku tinggal ke rumah danton.. kamu istirahatlah dulu..!! Tenangkan pikiran, jangan sampai berbuat ulah." Pesan Prada Elfri.
...
Di kediaman Bang Enggano. Usai membaca dan berhitung, Bang Enggano langsung mengajari Hanin bacaan sholat. Hanin sampai menangis kerena tak kunjung bisa menghafal bacaan sholat tersebut.
"Sekali lagi yuk..!!" Bujuk Bang Enggano.
"Tak mau lah Bang. Hanin tak bisa." Tolak Hanin terus merengek.
"Bagaimana mau bisa, di hatimu saja tidak ada niat untuk belajar, sekarang belajar sholat pun demi hidupmu. Mungkin Abang memang menanggung dosamu tapi ibadah adalah pribadi manusia, kelak di akhirat Abang pun tidak bisa selamatkan kamu Hanin." Ucap Bang Enggano. "Kamu tau.. jari terkena api saja panasnya bukan main, bagaimana di akhirat nanti???"
Hanin menarik nafas panjang. Segalanya terlalu sulit dan berat untuk di mengerti tapi dirinya juga harus berusaha demi dirinya sendiri seperti kata Bang Enggano padanya tadi.
"Ayo berdiri dan coba lakukan gerakan sholat dan bacaan do'anya. Abang mau dengar..!!" Perintah Bang Enggano. "Di mulai dari bacaan niat sholat subuh..!!"
Hanin tak berani melawan. Ia pun berdiri dan mulai membaca niat sholat subuh. Bang Enggano memasang telinga baik-baik dan mendengar bacaan do'a yang di lantunkan Hanin. Bang Enggano mengangguk, bacaan niat sholat subuh Hanin tidak ada yang salah. "Coba baca Alfatihah..!!" Kata Bang Enggano.
"Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar."
"Salah.. itu do'a mau makan Neng.. Ayo di ingat lagi..!!"
Hanin duduk bersimpuh membanting diri. Nampaknya istri Letnan Enggano itu sudah merasa lelah. Bang Enggano pun menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. Hatinya pun merasa tak tega dan kasihan juga melihat usaha Hanin. "Ya sudah, kita istirahat dulu ya..!!" Bang Enggano mengusap kening Hanin lalu menyandarkan kepala Hanin di bahunya. "Kasihan sekali istri Abang. Maaf ya sayang, ini semua demi kebaikanmu juga. Kejamnya dunia melebihi apapun yang Abang ajarkan hari ini." Bang Enggano mengecup kening Hanin. Tak lama Hanin langsung tertidur dalam dekapannya.
Tau bumilnya begitu lelah Bang Enggano segera mengangkat Hanin dan merebahkannya di atas ranjang, mukenanya pun belum sempat di lepasnya. "Selamat tidur bumil cantik ku..!!" Satu kecupan hangat mendarat di bibir cantik Hanin.
~
Bang Enggano duduk di sofa menatap langit-langit ruang tamunya. Pikirannya berputar-putar terus berpikir keras mencari jalan bagaimana kiranya membentuk mental Hanin. Ia membolak balik pikiran untuk menyekolahkan Hanin. Dirinya takut Hanin akan manja pada gurunya. Jika pria, dirinya cemas Hanin akan merengek dan jika gurunya perempuan.. dirinya hanya ingin menghindari fitnah.
"Apakah ada guru yang sudah senior untuk membantu Hanin?"
"Ijin Dan..!!" Prada Elfri usai menyelesaikan tugas dari Bang Enggano.
"Duduk El.. ada info apa?"
"Siap.. Ijin.. ada guru home schooling bersertifikat dan nanti Ibu akan mendapat ijazah resmi. Namanya Dini.. usia dua puluh empat tahun............"
"Skip, yang lain????"
"Skiiip..!!! Lanjut.."
"Siap.. ijin.. Heti.. sama dengan tadi, lulusan Universitas Negara. Usia dua puluh tiga tahun........"
"Jangan.. skip..!!" Bang Enggano semakin pening. "Saya nggak mau cari ribut dengan istri. Saya tau Hanin belum banyak memahami dunia barunya, tapi saya lebih ingin menjaga diri dan menjaga hatinya. Kita tidak pernah tau godaan hidup berasal darimana. Kamu pernah dengar istilah lebih baik menjaga daripada mengobati khan?"
"Siap Danton.. saya paham."
Prada Elfri tersenyum memahami perasaan Dantonnya. Selama ini yang dirinya tau, Dantonnya itu adalah pria yang selengekan, playboy, terkadang mesum tapi harus ia akui juga bahwa hal minusnya bukanlah watak aslinya, Danton jebolan pesantren bersama Letnan Novendra itu benar-benar menunjukan nilai dirinya sebagai seorang pria sejati.
"Pending dulu saja sampai benar-benar dapat guru yang bisa sabar membimbing Hanin. Saya tidak mau guru tersebut bertingkah, menyerah di tengah jalan atau kasar dengan Hanin.. kamu tau lah asal Hanin darimana. Masa saya berusaha lembut tapi istri saya di kasari.. saya jelas nggak terima istri saya di perlakukan buruk." Kata Bang Enggano.
"Siap Danton."
Kemudian Bang Enggano bersandar sambil meremas perutnya dan memejamkan mata. "Mana sebentar lagi ada acara kenaikan pangkat. Sibuk-sibuknya kegiatan nih El.. pusing saya."
"Ijin Dan.. mungkin lebih dulu Ibu bisa di ajari tentang tata cara bersosialisasi dengan istri anggota yang lain.. mungkin bisa bertemu dengan istri jajaran perwira..!!" Saran Prada Elfri.
"Saya sempat berfikir begitu El, tapi saya cemas kalau Hanin tidak akan kuat mental." Jawab Bang Enggano.
"Siap Dan..!!"
"Duuuhh Gusti, mumet tenan aku. Bagaimana nih Hanin???"
"Abaaang..!!!" Sapa Hanin dari dalam kamar. Agaknya istri kecilnya itu sudah terbangun dari tidurnya.
"Dalem sayang.. Abang di ruang tamu." Jawab Bang Enggano.
"Tolong kaitkan b*a Hanin donk Abaang..!!"
Kaget sekali Bang Enggano mendengarnya, pasalnya di ruang tamu masih ada Prada Elfri dan pastinya sudah mendengar ucap Hanin.
"Abaaang.." suara Hanin yang manja semakin mendayu.
Prada Elfri pun sadar diri, ia berdiri untuk undur diri. "Ijin Danton, saya mau melanjutkan pekerjaan lain."
"Ya.. silakan..!! Mohon maaf ya El." Jawab Bang Enggano merasa tak enak hati.
"Siap.. tidak apa-apa Dan."
.
.
.
.