
Sungguh Bang Enggano begitu geram. Di hari kedua ini dirinya kembali tidak bisa memejamkan mata karena terganggu dengan ulah Dantonnya yang menatap Hanin dengan pandangan tidak sopan. Jiwa protektif nya keluar.
"Awas saja kalau dia berani masuk ke dalam rumah tangga ku dan Hanin." Bang Enggano memeluk Hanin seakan begitu takut kehilangan istri tercinta. "Perasaan Abang tidak enak dek. Mudah-mudahan Allah selalu melindungi pernikahan kita..!!"
-_-_-_-_-
Acara passing in dan passing out sudah selesai di laksanakan. Kini tiba saatnya Bang Enggano memperkenalkan diri di hadapan para anggota beserta keluarga.
"Terima kasih Letnan Anggit untuk kerja kerasnya dalam acara ini, juga kerja keras seluruh anggota yang ada disini." Ucap Bang Enggano membuka acara secara formal. "Mohon ijin memperkenalkan diri, Saya Kapten Radar Enggano Alihardha, korp prajurit intai tempur. Jabatan saat ini.. Komandan Kompi BS tempur. Di samping saya ini, istri saya tercinta ya rekan-rekan dan ibu-ibu semua. Nama istri saya Badia Natha Haninda.. Saya biasa memanggilnya Hanin, untuk di ketahui.. istri saya ini masih berusia delapan belas tahun, terpaut jauh dengan saya kurang lebih sebelas tahun. Harap di maklumi, do'a sepertiga malam saya jatuh pada pucuk daun yang baru saja tumbuh."
"Siaaap.."
Para anggota senang sekali melihat wajah alami ibu Danki baru mereka, terlihat tenang dan selalu bergelayut manja di lengan Pak Danki.
"Mungkin rekan dan ibu-ibu sudah banyak mendengar tentang status pernikahan kami. Ya memang begitulah adanya, saya tidak akan menutupi fakta yang terjadi. Istri saya berasal dari pelosok bumi dan tidak begitu paham dunia luar, untuk selanjutnya.. saya mohon bantuan dan sedikit keras untuk turun mendampingi dan membimbing istri saya dimana pun dan kapanpun." Ucap ringan Bang Enggano saat itu.
Seluruh keluarga besar kompi mengapresiasi segala apapun yang telah di lakukan oleh Danki baru mereka.
...
Bang Enggano mendampingi Hanin saat memimpin istri prajurit kompi untuk pertama kalinya. Pengalaman sebelumnya membuat Hanin sudah lebih fasih dan tata bahasa nya sudah sedikit lebih tertata.
"Mohon bantuannya ya ibu-ibu..!! Terus terang saya belum begitu paham apa yang saya temui. Saya ini tidak pernah sekolah, maaf kalau saya bodoh. Tolong bimbing saya agar tidak mempermalukan Abang."
Ucap Ibu Danki membuat para ibu-ibu yang lain sempat trenyuh dan bersedih. Seorang ibu memeluk Hanin dengan erat. "Ilmu sangat penting ibu, tapi adab jauh di atas segalanya. Kami sayang ibu dan kami akan terus ada untuk mendampingi ibu."
"Terima kasih banyak Bu." Jawab Hanin.
"Siap ibu..!!"
Bang Enggano berdiri. Banyak kata yang tak sanggup di ucapnya, yang jelas hatinya penuh dengan rasa syukur pada Tuhan karena baginya, penerimaan Hanin pada lingkungan barunya adalah berkah yang tidak ternilai adanya.
-_-_-_-
"Uuuhhh.. capek sekali Bang." Hanin bersandar di ruang kerjanya.
Bang Enggano tersenyum kemudian berjongkok dan melepas sepatu high heels Hanin. Bang Enggano memilihkan tinggi tiga centimeter untuk memudahkan Hanin berjalan namun tetap dengan gaya anggun dan menawan.
"Hanin bisa sendiri Bang." Kata Hanin menarik kakinya karena sampai saat ini dirinya masih sering merasa tidak enak pada Bang Enggano.
"Nggak apa-apa." Bang Enggano kembali melepas semua sepatu Hanin lalu memijatnya sebentar. "Istri Abang sudah lelah bekerja, biar Abang layani ibu Danki."
Hanin kembali bersandar, tubuh lelah, punggung terasa berat di tambah kantuk tak tertahan membuatnya langsung tertidur pulas. Agaknya pijatan lembut Bang Enggano sangat membantunya untuk rileks.
Tok.. tok.. tok..
"Ijin Danki..!!" Terdengar suara Prada Elfri mengetuk pintu ruang kerja Hanin.
"Masuk El..!!"
"Nggak apa-apa, yang penting ada buahnya. Terima kasih ya, kamu sudah sempat makan apa belum?" Tanya Bang Enggano mengambil kantong plastik dari tangan Prada Elfri tanpa mengambil uang kembalian.
Prada Elfri salut dengan Dankinya. Ia tau Dankinya belum makan siang tapi selalu menanyakan hal-hal remeh semacam itu pada anggotanya.
"Siap.. sama-sama Danki. Saya sudah makan." Jawab Prada Elfri.
"Istirahatlah dulu..!! Bawa kembaliannya untuk beli basreng..!!" Perintah Bang Enggano.
"Siap.. terima kasih Danki." Hal kecil seperti itu memang membuat siapapun bahagia apalagi Pak Danki tidak satu atau dua kali memberikan seluruh uang kembalian yang kalau di kumpulkan bisa menjadi banyak. Memang begitulah cara Danki menghargai anggotanya tanpa harus menjatuhkan, itupun di luar kebiasaan Danki yang suka memberinya uang.
...
Hanin menggeliat dan terbangun dari tidurnya. Dari jauh Hanin terus memandangi Bang Anggit yang tengah mengarahkan para anggotanya untuk persiapan makan malam bersama Danki beserta ibu.
Merasa ada yang memandangi, Bang Anggit mengarahkan pandangan dan benar saja ternyata Hanin sedang menatapnya. Bang Anggit pun segera menghampiri Hanin.
"Hai.. sudah bangun?" Tanya Bang Anggit.
"Sudah O_om." Jawab Hanin sedikit ragu.
"Panggil Abang saja, tidak usah canggung." Kata Bang Anggit. "Ehm.. Hanin, bolehkah Abang tau. Apa yang kamu ingat tentang hutanmu, atau.. apa yang kamu ingat tentang masa kecilmu?"
"Hutan ya?? Hutan itu rumah bagi Hanin. Disana damai, kami hidup rukun. Tapi.. Hanin tak tinggal bergabung dengan masyarakat adat."
"Kenapa?"
"Sejak kecil Hanin di kucilkan karena Hanin tak banyak darah adat." Jawab Hanin.
"Bagaimana caramu besar?" Tanya Bang Anggit lagi.
"Hanin tinggal dengan Bapa tua tapi Bapa tua telah tiada."
"Kamu punya saudara?" Selidik Bang Anggit.
"Tak ada lah Bang. Hanin seorang saja."
Bang Anggit tersenyum namun ia masih menyimpan rasa penasaran pada kehidupan Hanin. Saat itu dari jauh terlihat Bang Enggano sedang berjalan ke arah mereka, Bang Anggit pun segera menghindar.
.
.
.
.