
Perlahan Bang Enggano memberikan sentuhan lembut untuk Hanin. Kurang lebih sudah lima belas menit lamanya, semakin lama Hanin semakin terbuai, jelas terlihat Hanin menuntut hal lebih dari setiap sentuhan itu tapi hingga detik ini Bang Enggano belum juga siap dalam medan pertempuran.
Takut tidak bisa menyenangkan istrinya, Bang Enggano pun menarik diri dari atas tubuh Hanin.
"Abang mau kemana?" Tanya Hanin.
"Abang capek dek..!!"
"Kalau Abang capek kenapa harus dekati Hanin??? Apa Abang pikir Hanin tak punya perasaan??? Kalau Abang tak suka dengan Hanin lagi, jangan pura-pura Abang suka. Apa Hanin terlalu gemuk?? Hanin tidak bergerak kesana kemari lagi????" Pekik kesal Hanin, ia pun menyambar pakaiannya kemudian segera beranjak meninggalkan kamar.
"Haniin.. bukan begitu sayang..!!" Bang Enggano pun ikut kocar-kacir menyambar pakaiannya, ia segera memakainya dan mengikuti kemana Hanin pergi. "Haniiinn..!! Aaahh kemana sih celanaku..!!" Gerutunya kemudian mengambil sarung yang lebih cepat untuk di pakai.
:
plaaaakk..
Hanin yang terbakar emosi sampai tanpa sadar menampar pipi Bang Enggano.
Bang Enggano mendekati Hanin kemudian memeluknya. "Abang sakit dek.. kecelakaan itu membuat Abang sempat tidak bisa berjalan dan sekarang.. Abang tidak bisa memenuhi kewajiban Abang sebagai suamimu. Maaf.. Abang tidak jujur dari awal."
"Apa Bang?" Sekujur tubuh Hanin rasanya gemetar, ternyata cobaan di dalam rumah tangganya dan Bang Enggano belum juga usai.
"Ini soal harga diriku dek. Sekarang kamu sudah tau kenyataannya, suamimu ini tidak berguna. Untuk jarak dekat, mungkin kamu masih bisa mentoleransi, tapi jika untuk jarak waktu yang lama.. mungkin kamu tidak akan sanggup hidup denganku. Rumah tangga memang tidak hanya soal hubungan badan, tapi dari sana juga batin akan merasa tenang. Sekarang kamu sudah tau keadaannya, Abang tidak bisa memenuhi seluruh keinginanmu." Ucap jujur Bang Enggano sembari membelai rambut Hanin. "Jika kamu tidak sanggup, katakan langsung di hadapanku.. jangan main di belakangku..!!"
"Jadi begitu cara Abang mendidik istri?? Apa karena Hanin terlalu bodoh sampai Abang tak biarkan Hanin bicara?? Jika Hanin katakan Hanin ingin selingkuh, apakah Abang kuat merasakannya???" Tegur Hanin.
Bibir Bang Enggano terasa terkunci, memang benar adanya di dalam hati kecilnya jelas dirinya tidak rela jika melihat Hanin bersama pria lain.
"Kenapa?? Berubah pikiran??? Kalau merasa diri terlalu cemburuan kenapa harus sok seberani itu??? Atau sekarang Hanin di beri ijin untuk cari laki-laki lain??? Oke.. Hanin cari sekarang..!!" Oceh Hanin setengah mengancam.
"Haniiinn.. jangan begitu donk sayang." Bang Enggano secepatnya memotong langkah Hanin.
"Sayang.. sayaang..!! Kalau sayang itu tak begitu. Abang egois, tak mau ajak Hanin bicara, menentukan apapun sendiri sekarang Hanin ingin pergi tapi Abang halangi. Apa lah maunya Abang ini." Hanin terus saja mengomel karena terlanjur jengkel dengan kelakuan Bang Enggano. "Hanin tanya.. Abang niat sembuh atau tak mau sembuh???"
"Mau sembuh." Jawab Bang Enggano lirih, suaranya pun nyaris tak terdengar.
"Hanin buat obatnya, tapi ingat.. sampai berani Abang muntahkan, Hanin kasih tinggal Abang sendiri disini, sebab Abang tak ada usaha." Lagi-lagi Hanin mengancam suaminya.
"Abang janji."
...
Malam itu juga Prada Elfri, Bang Anggit, dokter Daluman dan satu ajudan lagi berangkat ke suatu tempat untuk mencari bahan obat yang di perintahkan langsung oleh istri Kapten Enggano.
Tidak ada yang berani menentang meskipun hari sudah malam, jangankan untuk melawan.. Kapten Enggano saja diam seribu bahasa pasalnya hari ini istrinya sedang murka.
Setelah kurang lebih dua jam pencarian, empat orang anggota dadakan ibu Enggano segera berkumpul di satu titik yang telah di tentukan.
"Ijin, punya saya juga lengkap." Kata seorang ajudan lagi.
"Saya juga sudah Bang."
"Oke.. berhubung semua bahan sudah lengkap, kita berikan saja sekarang agar lebih cepat di proses." Ajak Bang Daluman.
...
Hanin sibuk memasak obat yang ada dari alam sekitar. Hatinya masih saja menyimpan kesal karena Bang Enggano tidak segera jujur padanya tentang masalah ini.
"Akhirnya berani juga kau bilang sama Hanin." Bisik Bang Daluman.
"Iya, tapi aku malu setengah mati." Jawab Bang Enggano.
"Ini untuk kebaikan kalian berdua. Kalau kamu sembuh bukan hanya kamu saja yang enak, tapi rumah tanggamu juga selamat." Kata Bang Daluman.
Bang Anggit dan dua anggota yang ikut menguping akhirnya paham duduk perkara yang sesungguhnya. Tatap mata Bang Enggano sudah penuh ancaman agar seluruh rekannya tidak membocorkan rahasia ini kemana-mana.
"Baang..!! Ini sudah jadi. Ini sirup pedalaman." Kata Hanin kemudian meletakan minuman berwarna hitam pekat di hadapan semuanya. "Yang tidak berkepentingan bisa minum buatan Hanin yang lain."
Keempat rekan Bang Enggano masing-masing sudah menyambar teh di hadapannya, hanya Bang Enggano saja yang masih terdiam melihat rupa minuman miliknya.
"Ayo, jangan malu. Itu punya Abang." Hanin mempersilahkan Bang Enggano agar segera meneguknya.
Mau tidak mau Bang Enggano mengambilnya juga. "Aduuh.. baunya saja sudah begini. Bagaimana rasanya?" Gumamnya.
Dengan ragu Bang Enggano meneguknya. Ia menahannya di mulut untuk sesaat tapi melihat Hanin menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat, ia pun segera menelannya.
Gllkk..
"Hhkk.."
"Abaaaang..!!!!" Pekik Hanin.
"Bismillah..!!" Bang Enggano pun kembali meneguk tersebut hingga habis tanpa sisa.
"Naah.. gitu khan bagus. Tunggu dua jam. Kalau tidak ada reaksi.. di ulang lagi minumnya." Kata Hanin.
.
.
.
.