
Jarum infus di punggung tangan Bang Enggano sudah di lepas. Hanin yang melihatnya bergidik ngeri pasalnya ia pernah merasakan sakitnya tusukan jarum suntik.
"Sakit atau tak Bang?" Tanya Hanin penasaran karena ekspresi wajah Bang Enggano sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit.
"Nggak, biasa saja. Kamu mau coba lagi?"
"Tak mau lah Bang, itu sakit sekali. Hanin tak tahan rasa sakitnya." Jawab Hanin.
Hanin meringis melihat ada darah tersisa di punggung tangan Bang Enggano dan akhirnya seorang perawat menghapusnya.
"Abang, kata ibu-ibu melahirkan itu sakit sekali. Hanin takut Bang." Kata Hanin.
Bang Enggano hanya tersenyum menanggapi. Sebagai anak seorang bidan sudah pasti dirinya tau bagaimana perjuangan seorang ibu, seorang istri untuk memberi gelar pada seorang pria agar bisa menyandang gelar sebagai seorang ayah.
"Kamu pasti kuat."
"Oiya, Abang sudah janji mau ajari Hanin menyetir mobil. Sekarang saja yuk Bang. Nanti kalau Hanin mau melahirkan biar Hanin bisa menyetir mobil sendiri." Ucap Hanin dengan penuh percaya diri.
"Gaya amat kamu ini, nggak montang manting saja sudah syukur." Gumam Bang Enggano gemas sekali mendengar ucap Hanin.
Hanin terdiam dan menerka bagaimana kondisi seorang wanita yang sedang menjalani proses persalinan.
...
Bang Enggano melirik Hanin yang masih terdiam. Ia pun menyentuh pipi sang istri. "Kenapa melamun saja sayang?" Tanya Bang Enggano.
"Si adek khan ada di dalam perut Hanin. Lalu bagaimana caranya adik keluar dari perut?"
Perasaan Bang Enggano tersentil kaget tapi dirinya harus berusaha tenang dan jangan sampai salah bicara atau salah menjelaskan pada istri tercintanya.
"Kamu sudah paham bagaimana caranya si adek ada di dalam perutmu?"
"Hmm.." Bola mata Hanin menerawang dan mengingat moment apa kiranya yang membuat bayi kecilnya bisa ada di dalam perutnya.
Bang Enggano membiarkan Hanin menerka dan menelaah kata-katanya, hal yang harus dimengerti meskipun hal tersebut tidak ada dalam pelajaran di sekolah.
"Oohh.." Hanin menunduk tersipu malu setelah ia mendapatkan jawaban dari hasil pikirannya.
"Oohh apa? Sudah tau apa belum?"
"Karena Abang cium bibir Hanin khan, jadinya Hanin bisa hamil." Jawab Hanin malu-malu.
"Ada lagi..!!"
"Apa?"
"Pikir lagi..!!" Kata Bang Enggano.
Hanin kembali terdiam dan berpikir namun ia masih belum bisa menemukan jawabannya.
"Tak tau."
"Tauuu.. kamu suka ko', itu lhoo.. Aaahh.. Abaaang, Hanin mau yang iniii.." gumam Bang Enggano menirukan suara Hanin.
Hanin ternganga tapi kemudian tersipu malu mengingatnya.
"Kenapa nih senyum-senyum sendiri?" Goda Bang Enggano tak tahan melihat paras wajah cantik Hanin.
"Lama sekali Abang tak ajak Hanin open B*." Kata Hanin.
Seketika Bang Enggano menghentikan laju mobilnya. Ia mengerem mendadak sampai Hanin nyaris melompat menabrak dashboard mobil. Untung saja tangannya sigap menghalangi. Perlahan Bang Enggano menepikan mobil. Hatinya resah bukan main.
"Iiihh Abaang.. Hanin kaget tau Bang..!!" Protes Hanin, perutnya sampai terasa kaku saking kagetnya.
"Darimana kamu dapat istilah open B* segala??? Coba lihat mana ponselmu...!!!!" Bang Enggano menengadah meminta ponsel lamanya yang kini di bawa Hanin.
Hanin menyerahkan ponselnya lalu Bang Enggano segera mengambilnya. Satu persatu ia melihat history ponselnya, tidak ada yang mencurigakan tapi kemudian ia melihat satu video cuplikan film, film yang menceritakan seorang gadis remaja yang tengah menjajakan diri demi uang.
"Astagfirullah.. kamu belum boleh lihat yang seperti ini. Boleh suatu saat nanti, tapi bertahap.. kamu belum tau artinya." Tegur Bang Enggano.
"Paham apanya???? Nggak usah mengada-ada..!!!" Kata Bang Enggano.
"Begini khan??" Tangan Hanin merajalela menyentuh tubuh Bang Enggano.
Ingin rasanya menghindar tapi mengingat beberapa lama ini dirinya belum menjamah tubuh sang istri membuat rasa rindu dan hasrattnya terpancing.
"Jangan begini sayang..!!" Tolak Bang Enggano mengalihkan tangan Hanin dari tubuhnya. Ia tau mungkin apapun yang di lakukan tidak akan terlihat dari luar karena mobilnya menggunakan kaca film tapi masalah terbesar saat ini adalah ia harus menahan diri demi bayi yang masih ada di dalam kandungan Hanin.
Hanin yang merasa di tolak langsung melipat kedua tangan di depan dada. Wajahnya kusut dan terlihat sangat kesal.
"Dek..!!" Baru saja Bang Enggano ingin menyentuh rambut Hanin tapi istrinya itu menepisnya. "Abang minta maaf ya.. bukannya Abang tidak mau. Tapi.........."
"Sudahlah, Abang pasti punya perempuan lain. Cepat bilang siapa perempuan itu????"
"Astagfirullah hal adzim.. apa sih dek. Ini pasti korban sinetron." Gerutu Bang Enggano.
"Tapi wajah Abang memang seperti laki-laki yang suka main banyak perempuan." Kata Hanin.
"Banyak apanya??? Abang main cuma sama kamu." Jawab Bang Enggano.
"Bohong.. buktinya Abang nggak mau di pegang Hanin...!!"
Bang Enggano hanya bisa menggeleng gemas kemudian melanjutkan perjalanan nya. "Baar... Sabaaarr..!!"
:
Mobil Bang Enggano sudah berbelok ke klinik praktek tempat Bang Daluman bekerja, meskipun hari Sabtu tetap tempat praktek tersebut ramai, salah satu alasannya mungkin juga karena Dokter Daluman adalah dokter yang tampan di sana.
Sekitar tiga puluh menit menunggu akhirnya giliran Hanin masuk ke dalam ruang praktek tersebut.
"Aduuhh.. pasien cantik datang juga." Puji Bang Daluman yang memang dekat dengan para pasiennya namun tidak dengan Bang Enggano yang jengah dengan tingkah polah sahabatnya.
"Sudah jangan banyak basa-basi, cepat kerjakan tugasmu..!!" Kata Bang Enggano.
"Oke.. ayo Hanin naik..!! Angkat rok nya..!!" Pinta Bang Daluman.
Bang Enggano paham tentang prosedur pemeriksaan USG 4D tapi entah kenapa dirinya tidak bisa terima jika yang melakukan pemeriksaan adalah sahabatnya sendiri.
"Apa tidak ada dokter perempuan?" Tanya Bang Enggano.
"Ada." Jawab Bang Daluman.
"Hanin sama dokter perempuan saja." Kata Bang Enggano.
"Dokternya sudah meninggal tiga hari yang lalu."
Jawaban Bang Daluman langsung memancing kekesalan Bang Enggano.
"Bagaimana? Bisa ku periksa sekarang??" Tanya Bang Daluman.
"Aku yang duduk di bagian bawah..!!"
"Dokternya kau atau aku?? Kenapa kau merepotkan ku??" Kini Bang Daluman ikut kesal dengan kelakuan Bang Enggano.
"Kau mau mengintip istri littingmu??"
"Aku sudah di sumpah Kang. Nggak akan ada perasaan apapun antara pekerjaan dan pasienku." Jawab Bang Daluman.
"Ayo kita pulang..!!" Bang Enggano menarik tangan Hanin menuju pintu keluar.
.
.
.
.