
Ibu-ibu begitu terharu melihat kedekatan mereka tapi tak sedikit juga yang mencibir tentang pernikahan Danton ganteng dengan putri rimba.
"Bisa-bisanya Pak Gano menikah dengan gadis kecil itu. Hanin itu bodoh lho Bu."
"Bu Gano.. Bu. Jangan panggil Hanin. Pak Gano yang sudah termakan cinta buta pasti tidak akan terima." Jawab seorang ibu-ibu.
"Tau begitu aku sodorkan anakku untuk Pak Gano. Iihh kasihan sekali. Mau jadi apa anaknya nanti. Ibunya saja tak tau bidang ilmu. Dunia ini sungguh lucu."
Bang Enggano bukan tak tau ada bisikan dari ibu pengurus cabang. Tentu semua hal di dunia ini mengalami pro dan kontra apalagi tentang pernikahannya dengan Hanin.
Sebelum semua menjadi malapetaka, Bang Enggano mengambil mic di tangan Hanin.
"Jika ada pertanyaan tentang pernikahan saya dan Hanin silakan. Mungkin masih banyak dari ibu-ibu yang penasaran. Tapi setelah nanti keluar dari gedung ini, saya tidak mau ada silang pendapat atau pertanyaan di belakang. Mohon di pahami.. pernikahan ibarat telah satu jiwa, menyenggol Hanin berarti mencari perkara dengan saya. Terima kasih..!!" Ucap tegas Bang Enggano.
Hanin menyenggol lengan Bang Enggano. "Kenapa kasar begitu Bang?"
"Ini dunia yang sesungguhnya dek. Ini belum ada apa-apanya. Kelak kamu akan paham rasanya hidup di tengah 'dunia'." Jawab Bang Enggano berbisik lembut meskipun maknanya sama sekali tidak lembut.
Mendengar jawaban Bang Enggano, ibu-ibu tadi terdiam namun ibu Danyon yang terharu segera memeluk Hanin di ikuti ibu-ibu perwira dan ibu pengurus lain.
Bang Enggano mundur dan memberi ruang pada mereka.
"Selamat datang dek. Kami sayang padamu. Kalau ada apa-apa bilang sama mbak ya..!!" Ucap Bu Danyon.
"Iya dek, jangan cemas. Om Gano itu suami yang hebat, kami juga akan membantu mu." Kata salah seorang di antara mereka.
Hati yang semakin sesak menuntun langkah Bang Enggano untuk keluar dari gedung pertemuan. Terlihat Ibu Danyon memberi tempat untuk duduk di sampingnya hingga Hanin duduk di antara ibu Danyon dan ibu wadanyon.
Tidak ada uang mempermasalahkan hal itu, malah mereka sangat senang bisa berkenalan dengan Hanin.
~
"Sudah aman pot?" Tanya Bang Jay.
"Alhamdulillah.. mudah-mudahan semua bisa menerima kehadiran Hanin.
"Aku baru dari sana. Semua bisa menerima kehadiran Hanin. Satu ruangan menjadi ceria. Hanin bagai bayi yang baru lahir, sudah pasti di sayangi. Percayalah.. semua akan baik-baik saja. Jangan banyak pikiran pot, wajahmu sampai pucat."
"Bawaan bayi kali ya, rasanya setiap hari aku mual. Biar saja lah yang penting Hanin anteng jalani kehamilan nya tanpa hambatan." Jawab Bang Enggano kemudian memejamkan matanya.
...
Jam setengah dua belas siang acara pertemuan gabungan sudah selesai, Bang Enggano pun menjemput sang istri.
Rasa bahagia Hanin begitu terpancar, hal itu pun turut membuat hatinya bahagia.
"Waahh senang ya bertemu teman baru." Sapa Bang Enggano.
"Hanin senang sekali Bang. Tadi Bu Rano minta Hanin tanya, bolehkah beliau ajar Hanin.. sebab beliau juga adalah guru." Tanya Hanin.
"Boleh.. boleh banget. Alhamdulillah dek. Nanti Abang buat tembusan ke Pak Rano." Jawab Bang Enggano. Daripada guru yang lain Bang Enggano lebih percaya dengan istri Peltu Rano yang tentunya sudah berpengalaman. Peltu Rano adalah prajurit yang mengawali karir dari pangkat tamtama, tentu saja pengalaman hidupnya tidak perlu di ragukan lagi.
-_-_-_-
Bang Enggano benar-benar menemui Pak Rano seperti para orang tua lain yang mendaftarkan putra putri mereka untuk bersekolah. Setelah menemui Pak Rano dan ibu Rano untuk urusan pendidikan Hanin, Bang Enggano segera pulang untuk mengajak Hanin menyiapkan segala kebutuhan untuk sekolah.
"Apa Hanin harus pakai pakaian merah putih untuk sekolah?" Tanya Hanin.
"Tidak perlu, kamu hanya sekolah di rumah. Namanya home schooling. Kamu bisa lebih bebas, lebih private dan lebih santai bicara dengan gurumu tapi ingat, santai juga ada batasnya. Kamu tetap harus sopan bicara dengan gurumu meskipun kamu mengenalnya. Paham Hanin??"
"So.. pelajaran di mulai besok. Selama Abang kerja, Yana dan Elfri yang akan memantau caramu belajar."
***
Bu Rano tidak merasa kesulitan saat mengajari Hanin. Dasar pelajaran yang di ajarkan Lettu Gano sudah sangat membantu. Kini Bu Rano mengajari Hanin kelanjutannya saja.
"Coba Hanin ulang kembali yang ibu guru bilang..!!" Pinta Bu Rano.
Bang Enggano sengaja meminta sistem sapaan seperti itu agar Hanin bisa punya rasa tanggung jawab sebagai pelajar. Bu Rano pun akhirnya menyetujui dan di hari pertama belajar ( sekolah ), sengaja Bang Gano menemani untuk memantau bagaimana kelakuan Hanin di hari pertama sekolahnya.
"Air mengalir ke tempat........... sampah."
"Bukan Hanin. Coba di ingat bagaimana sifat air atau benda cair."
"Hmm.. lengket, basah, hangat dan ada bau........"
Seketika Bang Enggano gugup mendengarnya.
"No Hanin, salah.. air apa yang kamu maksud. Ulang lagi." Pinta Bu Rano yang sebenarnya tau maksud Hanin. Beliau menahan tawa sekaligus memberi muka pada Pak Enggano yang pastinya menyimpan rasa malu dengan kepolosan sang istri.
"Eeeemmhh.. sifat air menempati ruang dan mengalir ke tempat yang lebih rendah dan tidak berbau." Jawab Hanin menjabarkan seluruhnya.
Tak lama pipinya memerah mengingat sesuatu.
"Kenapa pipinya merah, hayo fokus belajar. Kangen sama Abang nanti saja..!!" Tegur Bu Rano juga bersikap seperti sahabat Hanin.
"Iya Bu guru, maaf..!!" Hanin menunduk dan tersipu malu.
Bang Enggano pun berbalik badan menyembunyikan raut wajah yang kini entah bagaimana rupanya.
"Nah.. tadi sudah ibu ajarkan ya. Ibu ulang lagi. Siapa yang 'jahat' pernah menjajah negeri kita?" Tanya Bu Rano dengan bahasa yang ringan.
"Bukan Hanin Bu, Bang Gano." Jawab Hanin merasa menjadi tertuduh.
Bang Enggano meraup wajahnya, pusing tujuh keliling memikirkan Hanin. Mungkin jika dirinya yang mengajari Hanin mungkin tensinya akan naik secara drastis.
"Ibu tidak menuduhmu Hanin. Coba di ingat.. siapa??"
Hanin terdiam dan terus berpikir keras. "J*pa*g dan B***da." Jawab Hanin.
"Iyaa.. pintar sekali.. Ayo lanjut belajar..!!"
...
Hanin menyandarkan punggungnya. Perutnya sudah terasa berat meskipun usia kehamilannya baru menginjak usia tiga bulan. Tak lama Hanin pun tertidur.
Bang Enggano usai mengantar Bu Rano ke depan rumah dan mendapati sang istri sudah tidur di lantai.
"Maaf ya sayang, mudah-mudahan kamu kuat. Apapun yang Abang lakukan semua demi kamu." Bang Enggano meninggalkan satu kecupan di bibir lalu mengangkat Hanin dan berjalan masuk ke dalam kamar.
.
.
.
.