Badass

Badass
6. Laki-laki. Ibarat nafsu dan emosi.



Malam ini Hanin di ijinkan pulang ke rumah. Kondisinya sudah sehat.


"Besok pagi Mama dan Papa kembali ke Jakarta. Papa ada tugas." kata Mama Harni.


"Jaga istri yang benar le. Jangan sembrono kamu..!!" pesan Papa Han.


"Iya Paa... Ya Allah daah.. tadi aku benar-benar sibuk sampai nggak ngawasin Hanin. Lain kali aku pasti hati-hati." janji Bang Enggano. Ia sampai tidak konsentrasi mengemudi karena Papa dan Mama terus saja bicara. Tangan Bang Enggano pun mengusap perut Hanin. "Kamu harus sehat nak, kalau sampai ada apa-apa dengan mu dan Mama.. nama Papa bisa tercatat sebagai pasien gawat darurat di rumah sakit."


***


Mama Harni dan Papa Han sudah kembali ke Jakarta. Bang Enggano bersiap berangkat ke Batalyon menggunakan seragam lorengnya.


"Nanti Yana dan Elfri Abang minta standby jaga kamu di rumah. Jangan macam-macam ataupun berbuat hal seperti kemarin. Selain hal pribadi seperti yang Abang sebutkan tadi, kamu harus bilang dengan Yana dan Elfri agar mereka bisa meneruskan laporan ke Abang..!!" kata Bang Enggano mengarahkan Hanin.


"Abang sudah terlalu banyak cakap ulang-ulang. Hanin tak bodoh lah Bang." raut wajah Hanin sudah terlihat masam. Mungkin istri Letnan Enggano itu sudah bosan mendengar segala nasihat yang di berikan Bang Enggano.


Bang Enggano tak mengambil pusing sikap Hanin, yang jelas semua itu demi kebaikan Hanin sendiri.


"Abang berangkat kerja dulu. Cari uang untuk beli jajanmu..!! Jangan lupa, dengar jika ada suara adzan segera sholat. Abang sudah ajarkan dan kamu harus melakukannya, sholat hukumnya wajib." Bang Enggano mengulurkan tangannya dan Hanin mencium punggung tangannya. Tak lupa Bang Enggano mencium pipi kiri dan kanan Hanin, satu kecupan sayang di bibir serta satu lagi di kening. "Assalamu'alaikum..!!"


"Wa'alaikumsalam.


...


Bang Enggano yang sangat mencemaskan Hanin mempunyai ide untuk memasang CCTV. Hari ini dirinya meminta dua ajudannya untuk mengawasi petugas yang memasang CCTV untuk mengetahui keadaan Hanin secara langsung.


Setelah CCTV terpasang, Bang Enggano langsung memantaunya. Terlihat dari layar laptop yang juga tersambung pada ponselnya, ia pun memantau Hanin.


Bang Enggano sampai menggigit kukunya karena terlalu gemas. Senyum tampannya menghias wajah melihat kerandoman Hanin yang sedang mencoba satu persatu pakaian yang di belikannya kemarin. Istrinya itu berpose layaknya seorang model yang ada di layar laptop di rumah.


"Ngeselin tapi juga ngangenin. Dasar Hanin." gumamnya kemudian mengalihkan layar laptopnya dan fokus dengan pekerjaannya.


//


"Om Yana minum apa?" sapa Hanin.


Prada Yana kelabakan saat Hanin menyapanya.


"Ijin ibu, minum obat saja biar nggak pusing." jawab Prada Yana berusaha tenang. ia tau kelas ibu Danton membuatnya tak begitu risau menjelaskan.


Hanin terdiam, kepalanya pun setiap hari terasa pening hingga rasanya mual sampai muntah.


"Oohh.. cepat sehat ya Om." jawab Hanin lebih kalem.


"Siap Ibu..!!"


Hanin kembali masuk ke dalam rumah dan Prada Yana pun kembali duduk bersandar dan menegak minumannya, ia mengusap wajahnya yang terlihat gusar.


Dari dalam rumah, Hanin memperhatikan Prada Yana yang sedang menyulut rokok dan menghisapnya. Hal yang pernah dan sangat sering di lakukan Bang Enggano tapi suaminya itu melarangnya bahkan 'mengusirnya' saat kepulan asap mendekat padanya.


...


Bang Enggano bersandar pada kursinya. Tubuhnya sudah terasa lelah dengan pekerjaan yang akhirnya terselesaikan juga. Ia membuka kembali laptopnya sembari menggeliat merenggangkan otot.


Baru saja layar laptopnya terbuka, Bang Enggano harus di kagetkan melihat Hanin bersandar memegang botol wh**y dan menghisap rokok. Masih tidak percaya dengan penglihatannya, Bang Enggano menarik zoom. "B*****t, darimana Hanin dapat barang itu???" Bang Enggano mengaktifkan seluruh kolom layar CCTV di rumahnya dan mencari keberadaan kedua ajudannya.


Terlihat Prada Elfri sedang kurve sendirian membersihkan rumahnya dan di kolom lain terlihat Prada Yana sedang meringkuk dan bersandar pada dinding samping garasi rumahnya, di sampingnya nampak botol wh**y dan batang rokok yang berhamburan.


Seketika mata Bang Enggano memerah. Emosinya membakar ubun-ubun kepala. "Rupanya kalian cari mati..!!!!" gumamnya geram.


:


Bang Enggano memarkir motor gagahnya di depan rumah. "Yanaaa.. Elfriiiii..!!!!!!"


"Siap Danton..!!" Kedua pria tersebut berlari saat mendengar suara teriakan Danton mereka.


plaaakk.. plaaakk.. plaaaakk..


"B****t betul kalian..!!" Bang Enggano segera berlari masuk ke dalam rumah kemudian kedua ajudan segera mengikuti.


"Deekk.. Haniiiinn..!!!!" Bang Enggano merampas botol minuman kemudian menghantamkan ke lantai hingga pecah berhamburan, tangannya pun mengambil rokok di jari Hanin dan membuangnya. "Piye caraku momong kowe to deek???" Bang Enggano segera membawa Hanin masuk ke dalam kamar.


Prada Elfri menoleh menatap littingnya. "Kau bawa minuman itu dari luar??" tegur Bang Elfri. "Kau mau kita m**p*s di tindak Danton????"


"Maaf..!!" wajah Prada Yana terlihat sangat lesu.


"Aku tau kamu putus cinta, tapi lihat situasi. Keadaan kita sekarang sudah bagai telur di ujung tanduk. Ibu Gano sedang hamil muda malah kau ajari mabuk dan merokok. Kalau nanti sore nyawamu masih ada sebaiknya kau sujud syukur..!!" gerutu Prada Elfri.


"Haniiiiiiin..!!!!!!!" Suara Bang Enggano sudah mengisyaratkan bahwa Ibu Danton mereka sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.


~


"Kenapa kamu minum minuman itu Hanin..!!!!" Bang Enggano sampai gemas mencengkeram pipi Hanin yang tak kunjung sadar. "Abang sudah bilang jangan sembarang makan dan minum selain segala yang Abang siapkan di lemari es dan kamar..!!"


"Abang ganteng sekali." dalam kesadaran yang belum pulih, Hanin mencolek dada Bang Enggano. Jemari lentiknya pun dengan nakal menyentuh senjata perang Bang Enggano tapi Bang Enggano segera menepisnya. "Buka donk Abaaaang..!!!"


"Diam Hanin.. malu ada Yana dan Elfri..!!" kata Bang Enggano mengingatkan.


"Hanin rindu sekali lah Baaang..!!!!" oceh Hanin sambil terus menarik celana Bang Enggano.


"Ini anak..... bagaimana cara mendiamkan mulutnya." Bang Enggano sampai mengurut pelipisnya. Dirinya sudah terlanjur malu tapi mau bagaimana lagi. Hanin benar-benar tidak bisa di sadarkan dari pengaruh alkohol. "Sadar Haniiinn.. sadaaarr..!!!!! Astagfirullah..!!"


Hanin berdiri dan berniat merebut rokok di jemari Bang Enggano. "Mauuuuu..!!"


"Abang hajar juga kamu ya..!!" ancam Bang Enggano lalu menjauhkan rokoknya.


Hanin berdiri dan terpaku menatap seragam Bang Enggano. Ia mengusap lalu bersandar di dada bidang suaminya, siapa sangka jemari Hanin membuka kancing seragam loreng Bang Enggano.


"Jangan macam-macam Hanin.." sekuat mungkin Bang Enggano menahan diri pasalnya kandungan Hanin kemarin sempat bermasalah. Bang Gano menjauhkan diri dari Hanin dan memintanya duduk tenang.


"Masa Hanin tak boleh rindu Om Gano???" rengek Hanin.


"Om pulaaa kamu bilang. Kamu lihat apa di laptop, enak sekali kamu panggil Abang 'Om'. Abang gerutu Bang Enggano.


"Tak boleh kah?" Hanin kembali berdiri dan melompat-lompat berniat menyambar bibir Bang Gano. "Kalau Hanin rindu, boleh tak Mas???"


Kali ini rasanya Bang Enggano benar-benar tidak sanggup menghadapi kelakuan nakal Hanin. "Kalian kurve barak.. Nanti kita lanjut lagi." perintah Bang Enggano sembari menatap wajah Hanin, ia tak peduli dengan kedua ajudannya. Bang Enggano menutup pintu rapat.


Bang Enggano membiarkan Hanin membuka kancing pakaiannya dan memilih pasrah saat Hanin mendorong tubuhnya di atas ranjang.


"Well.. kamu ini memang pengen di bungkus Om Gano apa bagaimana?" gumam Bang Enggano perlahan kalem.


Hanin membuka pakaiannya di hadapan Bang Enggano. "Waaooo.. sek_si sekali sayang." Senyum mata keranjang Bang Enggano merekah nakal.


"Hanin mau ini.." tunjuk Hanin.


"Hahahaha.. okeeee.." Bang Enggano melonggarkan ikat pinggangnya. "Busyeeet dah.. sabaaarr ayaaank..!!!! Hwaaaa.. hahahaha.." suara riuh Bang Enggano terdengar sangat menikmati sore ini. "Bu Danton minta di jungkir."


//


"Danton marah atau tidak El??? Tadi masih bisa bercanda dengan istri mudanya." bisik Prada Yana.


"Biasa lah.. sifat dasar laki-laki itu ada dua. Mudah tersulut emosi dan mudah bernafsu. Tinggal pilih saja, bisa menahan yang mana dan harus kalah yang mana." jawab Prada Elfri. "Tinggal tunggu hasilnya nanti. Sukur-sukur kalau emosinya Danton mereda."


Tak ada yang tau di dalam kamar itu sikap Banh Enggano berubah serius, dirinya menyadari kandungan Hanin yang sempat bermasalah. "Tolong kerjasamanya sayang..!! Hanin boleh 'main' tapi Abang tetap pegang kendali."


.


.


.


.