
Bang Enggano menolak apapun yang di berikan dokter. Rasa terpuruknya begitu menghancurkan jiwanya.
"Makan ya Gan..!!" Bujuk Bang Barito.
Keterpurukan Bang Enggano ikut membuat hati para sahabatnya terpukul. Persahabatan di antara keempatnya membuat ikatan persaudaraan mereka tidaklah ringan.
"Aku nggak lapar." Tolak Bang Enggano.
"Kamu harus makan, sebulan lebih perutmu tidak terisi makanan. Kamu bisa mati lemas Gan." Bang Noven ikut membujuk Bang Enggano sebab dirinya juga merasa bersalah, Bang Enggano sampai seperti ini karena menyelamatkan dirinya.
"Biarkan aku mati..!!"
"Ingat anakmu Gan. Kasihan Hanin." Kata Bang Daluman.
"Kau nikahi saja dia atau nikahkan saja Hanin dengan Anggit." Jawab Bang Enggano mulai melantur.
"Kamu yakin? Hatimu tidak panas Hanin dalam pelukan pria lain??" Ucap Bang Noven terbawa suasana dengan sikap dingin Bang Enggano.
"Aku tidak mau melihat Hanin, aku nggak mau tau lagi tentang Hanin dan anaknya." Pekik Bang Enggano, jelas sekali rasa frustasinya begitu menekan batin.
Mama hanya bisa menangis di luar ruangan. Putranya itu juga menolak kehadirannya dan langsung histeris jika bertemu dengan Hanin.
"Bagaimana ini Pa? Hanin sangat butuh Gano tapi Gano menolaknya."
"Kita tidak bisa memaksakan apapun saat ini. Mental Gano sedang berada di titik terendah. Harga dirinya sebagai laki-laki sudah runtuh dan hancur. Dia tidak bisa menafkahi Hanin secara sempurna. Jika dia mengundurkan diri jadi tentara, maka hanya akan ada uang pensiun pokok, tapi dia tidak akan bisa banyak mengambil pekerjaan tambahan di luar. Selain itu, Mama tau keadaan Gano sebagai laki-laki sudah tidak seperti dulu lagi. Anakmu rendah diri." Kata Papa Han.
"Ya Allah Paaa..!!" Mama Harni memeluk suaminya. Beliau merasa ngeri dan takut sendiri dengan keadaan yang menimpa putranya.
"Tapi Gano sempat ingin berpisah dari Hanin Pa."
"Keadaan pria yang mentalnya tidak stabil, tidak bisa di hitung benar Ma. Gano sedang tertekan secara mental. Semua tidak sah. Sudahlah, kamu fokus saja membesarkan hati menantumu, Papa akan awasi Gano..!!" Pinta Papa Han.
...
Sore hari Bang Barito tertidur saat menjaga Bang Enggano. Ia tertidur dengan seragam lengkap. Hal itu di manfaatkan oleh Bang Enggano yang mentalnya sedang kacau.
Sekuat tenaga Bang Enggano mengambil sangkur dari wadahnya. Tepat saat itu Hanin masuk ke dalam ruang rawat suaminya dan melihat semua kejadian itu.
"Abaaang.. jangan..!!!!" Pekik Hanin seketika membangunkan Bang Barito yang nyawanya masih belum sepenuhnya utuh.
Hanin menarik sangkur tersebut tapi tenaganya masih tak cukup melawan tenaga Bang Enggano yang sedang sakit.
jleeeb..
"Gusti Allah..!!!!!! Elfri, Bar... Noveeeeenn..!!!!!"
Keempat orang tersebut masuk ke dalam ruang rawat.
"Astagfirullah..!!!"
...
Hanin mendapatkan perawatan karena perutnya tergores sangkur dan mendapatkan luka yang lumayan dalam.
Bang Enggano terdiam dengan tatapan kosong melompong.
Tak sengaja saat itu Irene istri Bang Noven sedang berada di sana. Istri Kapten Noven itu cukup syok mendengar perkataan suaminya.
"Irene????" Bang Noven pun kaget melihat sang istri sedang berada disana.
Irene meninggalkan tempat dan Bang Noven segera menyusulnya.
"Astagfirullah.. berat sekali cobaan ini." Bang Daluman menghela nafas panjang. "Sudah.. jangan saling menyalahkan. Siapa yang berharap dengan cobaan seperti ini."
...
POV Bang Enggano on..
Aku terdiam tanpa kata melihat istriku terbaring lemah karena kejadian tadi siang. Aku bukannya tidak mencintaimu Hanin, tapi apalah diriku saat ini. Aku hanya akan menjadi beban hidupmu dan anak kita nanti. Aku yang cacat hanya akan menyusahkan hidupmu. Luka di tubuhmu adalah kesakitan ku yang terdalam.
Tuhan, mengapa kau pertemukan aku dengan dia??? Dia yang sangat aku cintai melebihi apapun di dunia ini. Jika saat itu Engkau mengambil nyawaku, aku ikhlas karena mungkin Hanin akan bahagia bersama yang lain. Bukan denganku yang jauh dari kesempurnaan.
Hanin sayangku, belajar lah untuk membenci diriku. Kamu masih sangat sempurna untuk mendapatkan pria yang bisa membimbingmu.
"Abaang..!!"
Ku lihat Hanin sudah tersadar, sungguh hatiku sangat bahagia namun sekaligus teriris pedih. Ingin rasanya memelukmu tapi aku tidak pantas untukmu.
"Gan.. Hanin sudah sadar. Dia mencarimu..!!" Kata Daluman menegurku.
Aku diam saja mendengarnya, lagipula tidak ada yang bisa ku lakukan.
"Aku selalu mengawasi pergerakan mu Gano, kamu bisa membohongi yang lain tapi tidak dengan ku." Ucap Daluman menyentil perasaanku.
Ku akui kemarin mentalku benar-benar terhantam. Siapa yang tidak terpukul dengan musibah seperti ini sampai dalam keterpurukan batinku, aku berkata yang tidak pantas untuk istriku Hanin. Hatiku terombang ambing tidak menentu dan akhirnya ku mengingat bahwa aku masih memilikiMu Tuhan.
"Tau apa kau??" Ucapku sengaja menyanggah perkataan Daluman.
Tiba-tiba Daluman menggeser kursi roda ku menuju luar ruangan dan masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Di sini hanya ada kita berdua..!!" Kata Daluman menatap mataku dengan tajam. "Katakan, kenapa kamu bersikap seperti itu???"
Bibirku rasanya terbungkam. Ingin kukatakan semua tapi aku pun ragu pada diriku sendiri.
"Aku tau perasaanmu....."
"Tau apa kau tentangku??" Aku menutupi perasaanku. Aku tidak ingin semua orang melihat kelemahanku, aku tidak ingin merepotkan semua orang karena keadaanku.
"Kamu tidak menyesal sudah melukai Hanin?" Tanya Daluman yang sungguh tidak bisa aku jawab.
"Aku tidak butuh Hanin dan siapapun, termasuk kamu." jawabku menghindar.
.
.
.
.