Badass

Badass
28. Terus berjuang.



Aku membawa kursi roda ku kembali ke ruang rawat ku. Akhirnya Daluman pun tak bisa berbuat banyak dan sementara membiarkan ku pergi dengan jalan pikiran ku sendiri.


"Aku tau hatimu sakit Gan. Segera lah pulih..!! Kasihan Hanin..!!" Gumam Daluman, tapi aku sama sekali tak menggubris ucapan nya.


POV Bang Enggano off..


...


Hanin terdiam lesu, ia mengusap perutnya yang kini berusia hampir enam bulan. Jemari lentiknya menghapus air mata yang menetes membasahi pipi.


"Jangan terus menangis, kasihan anakmu..!!" Kata Mama Harni.


"Hanin ingin bertemu dengan Abang..!!" Pinta Hanin.


"Papa bukannya tidak mengijinkan kamu bertemu Bang Gano nak, tapi kondisi Gano pun tidak stabil.. kami khawatir kalau Bang Gano kembali melukaimu..!!" Tolak Papa Han.


Hanin tidak bisa menjawab apapun perkataan dari mertuanya. Tapi hati dan pikirannya bercabang memikirkan banyak hal.


***


Tengah malam saat Bang Enggano tidur, ia mencoba keluar dari kamar dengan sangat hati-hati untuk menghindari pada anggota yang berjaga di sekitar kamarnya.


"Hanin???" Bang Anggit terkejut setengah mati melihat Hanin berjalan ke ruang rawat Bang Gano.


Hanin meletakan telunjuk di depan bibirnya, ia meminta Bang Anggit untuk diam dan tidak bersuara.


"Nggak Hanin.. Abang nggak bisa ambil resiko apapun kalau kamu masuk ke ruang rawat Abang. Bang Gano bisa saja kalap dan kasar sama kamu lagi..!!" Bang Anggit menghadang langkah Hanin.


Dengan tenang Hanin menurunkan lengan Bang Anggit yang memalang langkahnya. "Yang di perut Hanin ini rindu sama Papanya." Kata Hanin.


Mendengar hal itu hati Bang Anggit terasa begitu lemah. Bayi di dalam perut Hanin memang tidak tau apa-apa tentang permasalahan kedua orang tuanya.


"Abang temani..!!"


"Tak perlu Bang, sikap Abang Gano dengan Hanin tidak sepenuhnya keinginan Abang Gano sendiri. Suatu saat Abang akan menerima Hanin kembali entah bagaimanapun caranya." Jawab Hanin.


"Baiklah kalau begitu, masuk lah.. Abang akan berjaga di luar..!!"


~


Hanin menyentuh lembut pipi Bang Enggano dan akhirnya suaminya itu terbangun.


"Ada apa kamu disini??? Kembali ke kamarmu..!!!" Usir Bang Enggano, tangannya mencengkeram erat lengan Hanin.


"Si adek kangen Papanya.. Bang." Jawab Hanin.


"Keluar kamu dari sini..!!" Bentak Bang Enggano.


Tau Bang Enggano sangat keras hati menghindari dirinya. Hanin pun mencari cara penekanan terbaik.


"Argh.." Hanin meremas perutnya.


Bang Enggano merenggangkan cengkeraman tangannya.


Sekali lagi Hanin merintih, ia menunduk dan meringkuk di samping ranjang Bang Enggano. Hanin meremas tangan Bang Enggano seakan menunjukan kesakitannya.


"Kamu kenapa??" Tanya Bang Enggano dengan nada sinis.


"Si adek pengen di elus Papanya." Jawab Hanin setengah merebahkan diri lalu memeluk Bang Enggano.


Hanin semakin kesakitan dan hal itu membuat Bang Enggano kelabakan meskipun ekspresi wajahnya terlihat tenang.


"Hanin nggak kuat jalan Bang. Hanin disini sebentar saja ya..!!" Kata Hanin.


"Nggak..!!"


"Aaaarrgghh..." Tepat saat itu bayi di dalam perut Hanin menendang. "Kita merangkak saja yuk dek.. Papa nggak mau kita disini..!! Sampai di depan pintu jangan minta lahir ya..!!" Gumam Hanin kemudian berlutut dan merangkak.


Ekor mata Bang Enggano melirik Hanin yang mencoba keluar dari kamar dengan merangkak dan menahan rasa sakitnya. "Naik disini..!!" Kata Bang Enggano. "Tapi sebentar saja, disini sempit..!!"


Hanin berpegangan pada nakas kecil. Ia mencoba berdiri sedangkan Bang Enggano terfokus pada ponselnya tapi tangannya memegangi meja nakas agar tidak menimpa Hanin.


Tanpa banyak bicara, Hanin merebahkan diri membelakangi Bang Enggano. "Aaaarrgghh.." Hanin kembali merintih kesakitan.


"Apalagi??" Tanya Bang Enggano.


"Adek mau di usap Papanya."


"Ada-ada saja, nggak usah banyak drama. Cepat tidur, sebentar saja disini..!!" Kata Bang Enggano.


Hanin pun memejamkan matanya.


Sepuluh menit berlalu. Bang Enggano menggerakan tubuhnya, ia mendekat pada Hanin lalu menyentuh perut Hanin. Ada gerakan yang terasa di telapak tangannya, Bang Enggano menitikkan air mata. Entah apa yang ia rasakan.


Beberapa saat kemudian Bang Enggano memejamkan matanya, ia menangis lalu mengusap wajahnya.


//


"Bagaimana??" Barito ikut mengintip bersama Bang Anggit dan Bang Daluman.


"Sepertinya Hanin bisa melaksanakan tugas dengan baik." Kata Bang Daluman.


"Entahlah.. Bang Gano kaku sekali." Jawab Bang Anggit.


"Wajar, Gano pancen gengsine sundhul langit." Imbuh Bang Daluman.


"Kalau terapy terus berjalan, kira-kira bisa sembuh atau tidak Bang?" Tanya Bang Anggit.


"Bisa, masalahnya seniormu itu sudah down di awal. Belum perang dia sudah patah semangat." Bang Barito pun masih susah payah mengintip dari balik pintu.


"Mungkin ada hal yang bisa membuat Bang Enggano cepat pulih??" Bang Anggit tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.


"Perbaiki dulu mental laki-lakinya, baru tahap penyembuhan lainnya. Kau paham maksudku Git??" Sebagai dokter tentu saja Bang Daluman menjawab secara profesional.


"Kalau begitu, kita dorong dari luar. Hanin kerja di dalam." Jawab Bang Anggit.


"Ya jelas Hanin lah kerja dalam. Masa kita.." gerutu Bang Barito.


.


.


.


.