
Bang Enggano membuka pintu kamar, setengah mati dirinya gugup. Sejak dirinya terkena musibah baru kali ini dirinya bisa sedekat ini dengan Hanin tanpa rasa takut dan kepura-puraan.
"Abang mau berdiri saja disana?" Tegur Hanin.
Kali ini bukan karena dirinya enggan untuk dekat dengan Hanin tapi karena keadaannya sebagai laki-laki belum sepenuhnya pulih.
"Abang capek dek. Pengen tidur." Alasan Bang Enggano untuk menutupi rasa rendah diri.
Hanin mengangguk, ia pun mendekati Bang Enggano kemudian menggandeng tangannya. "Kalau capek biar Hanin pijat." Kata Hanin.
"Nggak perlu dek. Abang mau tidur saja, capek sekali."
Hanin pun menjauh dari Bang Enggano. Terlihat jelas dalam pandangan mata Bang Enggano jika sang istri merasa kecewa. Dirinya tau Hanin pasti sangat kecewa, di saat sang istri menginginkan belai hangat darinya tapi dirinya tidak bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami.
Batinnya pun ikut sedih melihat Hanin melangkah menuju tempat tidur tanpa membalas rindu sang istri.
***
"Ayo Bang.. terus..!!" Bang Anggit menyemangati Bang Enggano yang sedang melatih diri. Lama tidak menggerakan otot membuat sendi nya terasa kaku.
"Aaahhh... S*it" Bang Enggano berhenti sejenak untuk merasakan kakinya yang gemetar karena terlalu banyak latihan. Nafasnya tak beraturan. Rasa frustasi kembali menderanya namun dirinya berusaha untuk tenang. "Aaaaaaaa.." tangan itu menghantam mesin treadmill hingga retak kaca pengukur kecepatan nya.
"Kalau masih berat lebih baik di hentikan dulu. Jangan di paksa..!!" Saran Bang Anggit.
"Tolong hubungi Elfri untuk jemput dokter Daluman kesini..!!"
...
"Kamu ingin aku menjawab sebagai sahabatmu atau dokter?" Tanya Bang Daluman
"Keduanya."
"Sebagai sahabatmu aku hanya bisa menyarankan sabar saja, semua butuh proses tapi sebagai dokter.. lebih baik tetap ada terapi khusus. Syaraf dalam tubuh manusia itu banyak, sebenarnya faktor masalahmu itu hanya satu.. stress."
"Terapi untuk apa? Aku tidak bisa lagi......."
"Bukan, sudah ku bilang kamu hanya ketakutan saja. Jangankan orang yang baru mengalami kecelakaan seperti mu. Orang lelah dan banyak pikiran saja membuat kita tidak mood untuk hal satu itu. Sudahlah, ubah cara berpikirmu agar kamu cepat sehat. Jujur saja dan beri pengertian. Istrimu itu terlalu lugu, jangan sampai dia salah paham." Saran Bang Daluman.
\=\=\=
Hanin memeluk Bang Enggano dari belakang. Jika sudah begini pasti Bang Enggano merasa trauma dengan dirinya sendiri.
"Kenapa? Abang nggak mau sama Hanin lagi?"
Sudah satu setengah bulan sejak malam itu Bang Enggano sama sekali tidak mau bersentuhan dengan dirinya.
"Sayang.. bukan begitu, bukan Abang tidak mau tapi........."
"Tapi apa? Abang punya perempuan lain??" Tanya Hanin membuat Bang Enggano terkejut.
"Ngomong apa sih dek. Ya nggak lah, mana ada perempuan lain."
"Buktinya benar si Sophian ternyata selingkuh sama Caca." Ucap Hanin dengan kesal, wajahnya menyimpan ketakutan yang dalam.
"Ya artis yang di MeTube. Masa Abang tak tau laki-laki yang tukang selingkuh." Jawab Hanin.
"Astagfirullah hal adzim, kamu terlalu banyak lihat film begitu dek. Abang khan sudah melarangmu..!! Lihat film Barbie aja kenapa sih dek???" Bang Enggano tak habis pikir dengan jalan pikiran Hanin. Ternyata mengajari Hanin jauh lebih susah daripada mendidik anak PAUD.
"Hanin tak suka Barbie lagi." Kata Hanin.
"Memangnya kenapa?"
"Pacarnya Barbie ganteng banget, pangeran Erix. Nah Abang tak sama bahkan tak ganteng sedikit pun." Dengan polosnya Hanin mengatakan semua itu langsung di hadapan Bang Enggano.
"Ya sudah cari saja pangeran Erix mu itu." Bang Enggano menuju lemari pakaian dan mencari kaos untuk tidur malamnya.
Merasa di abaikan suami tercinta, Hanin kesal dan memilih keluar kamar. Ia pun menghubungi seseorang melalu ponsel jadulnya.
"Hallo.. Abang..!!"
:
Bang Anggit mengusap kepala Hanin, entah saat ini dirinya harus tertawa atau menangis mendengar pengakuan adik perempuannya. Hanin terisak-isak karena Bang Enggano memintanya mencari pangeran Erix, belum lagi masalah Sophian dan Caca yang membuat adiknya itu terus merasa kepikiran.
"Bang Gano nggak mungkin seperti Sophian. Sudahlah mulai sekarang jangan lihat filmnya Sophian lagi. Jurassic lebih bagus." Kata Bang Anggit.
"Hanin yakin Bang."
"Apa yang buat kamu yakin???????" Sampai jengkel Bang Anggit mendengar keyakinan sang adik.
"Abang Gano nggak mau Hanin peluk."
Bang Anggit mengusap wajahnya. Ia paham penyebabnya tapi tidak bisa menjabarkan semua. Bang Enggano dan Hanin sama-sama tertekan oleh keadaan namun dengan penyampaian yang berbeda.
"Nanti Abang bilang sama Bang Gano. Sekarang mana buku pelajaran mu. Sudah sampai mana?" Bang Anggit mengalihkan perhatian Hanin.
Secepatnya Hanin masuk ke dalam rumah lalu mengambil buku pelajarannya dan segera menyerahkan pada Bang Anggit.
"Bagus.. sudah sampai tentang langit. Sini belajar sama Abang..!!" Ajak Bang Anggit.
"Hanin malas."
"Kamu harus pintar Hanin..!!!"
Dari dalam rumah Bang Enggano hanya bisa menghela nafas panjang. 'Bagaimana cara bicara dengan Hanin agar dia mengerti. Bicara dengan Hanin sama seperti aku bercakap dengan cermin. Aku hanya mendengarkan diriku sendiri. Kamu pintar, hanya belum pandai memahami secara dewasa.'
.
.
.
.