
Satu bulan berlalu, bobot tubuh Hanin terlihat menyusut. Pikiran dan hatinya terkuras karena Bang Enggano tak kunjung sadar. Ia memegang tangan Bang Enggano berharap suaminya itu akan segera sadar.
"Abang.. Lihat perut Hanin, sudah besar ya Bang. Hanin juga sudah bisa baca beberapa surat pendek. Abang mau dengar?" Tanya Hanin meskipun Bang Enggano belum bisa merespon nya. Hanin pun segera membaca membaca beberapa surat pendek yang sudah ia pelajari.
Selama Bang Enggano belum sadar, Hanin juga terus belajar berbagai macam hal. Ia tidak patah semangat meskipun semua terasa sangat sulit untuk di lakukan.
Perlahan tapi pasti Hanin melafalkan surat pendek tersebut. Ia menyandarkan kepala di ranjang Bang Enggano.
"Fasabbih bihamdi rabbika.........." Hanin berhenti membaca, tenggorokan nya terasa tercekat saat ia melupakan bacaan surat pendeknya. "Fasabbih bihamdi rabbika......"
"Fasabbih bihamdi rabbika waastaghfir-hu, innahuu kaana tawwaabaa.." suara Bang Enggano menyelesaikan ayat terakhir surat pendek tersebut.
Sontak Hanin menoleh ke arah sumber suara. "Abaang.. Abaaaaang..!!!" Hanin sangat senang dan langsung menghambur memeluk Bang Enggano. "Hanin rindu Abang..!!"
"Aaww.. arrghh.. sakit sayang, dada Abang masih sakit sekali." Memang hantaman batang kayu itu membuat tubuh Bang Enggano memar dan mengalami luka yang tidak ringan.
Hanin memilih mundur tapi Bang Enggano meraih tangannya.
"Sementara begini dulu, kalau Abang sudah sembuh pasti Abang memelukmu, jangankan memelukmu, memanggulmu ke kamar pun Abang sanggup." Kata Bang Enggano.
"Astagaaa.. baru juga sadar langsung main panggul istri saja. Sabar Gan." Tegur Papa Han yang baru masuk ke ruang rawat bersama Mama Harni.
"Alhamdulillah..!!" Mama Harni bahagia sekali melihat putranya sadar dari koma beberapa hari. Beliau pun menghambur putra satu-satunya. "Mama tidak tau lagi bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu Le."
"Aku nggak apa-apa Ma." Jawab Bang Enggano berusaha menggerakkan kakinya namun tidak ada reaksi apapun yang ia rasakan. Ia membuka selimutnya. "Kaki ku kenapa Ma? Kaki ku tidak bisa gerak."
Mama Harni, Papa Han dan Hanin terdiam namun air mata Hanin sudah berderai.
"Aku lumpuh??" Tanya Bang Enggano.
Tak ada jawaban dan itu berarti benar adanya jika dirinya sudah tidak seperti dulu lagi.
"Nggak.. nggak mungkin. Aku nggak mau lumpuuuuhh..!!!" Bang Enggano meronta-ronta tak bisa merasakan gerakan kakinya bahkan dirinya merasakan sebagian besar tubuhnya mati rasa. "Kenapa aku tidak mati saja Tuhan?????"
Teriakan Bang Enggano membuat Bang Barito, Bang Anggit, Bang Noven dan Bang Daluman menerobos masuk ke dalam ruangan.
"Abaang.. jangan bilang begitu." Hanin mencoba mendekati Bang Enggano tapi pria itu menolaknya.
"Jangan dekati aku..!!!!!"
"Kenapa Bang?" Tanya Hanin bingung.
"Pergilah.. aku tidak mau melihatmu..!!!!" Teriak Bang Enggano semakin menjadi.
"Pooot.. tenang dulu. Jangan bicara begitu. Kasihan Hanin sedang hamil." Kata Bang Barito mengingatkan.
"Pergi kalian semua..!!!!!" Bentak Bang Enggano.
"Kang, ojo ngono kuwi to. Kasihan Hanin..!!" Bang Noven ikut mengingatkan.
"Pergi kalian semua..!! Atau kalian akan lihat aku mati..!!!" Ancam Bang Enggano.
Bang Daluman sibuk menghubungi rekannya. Ia tau pasti saat ini sahabatnya itu sedang terpuruk dan syok berat dengan keadaannya.
"Abaaang.." Hanin kembali mencoba mendekat tapi Bang Enggano menolak dan bahkan tidak sengaja mendorongnya.
"Ganoo..!!!" Bang Noven sampai harus menegur sahabatnya, beruntung saat itu Bang Anggit bisa menahan tubuh Hanin.
Mama Harni yang tidak tahan melihat keadaan putranya segera keluar dari kamar.
Bang Enggano terdiam dan termenung, wajahnya masih terlihat sembab. Hanya ada para sahabatnya di dalam ruangan itu. Setelah mendengar tentang dirinya yang lumpuh, keadaannya semakin tidak baik-baik saja.
"Jangan bersikap seperti itu lagi. Hanin menunggumu setiap saat sampai tidak memikirkan keadaan dirinya sendiri." Kata Bang Noven.
"Aku akan menceraikan Hanin." Ucap Bang Enggano.
"Astagfirullah hal adzim." Bang Barito sungguh kaget mendengar ucap sahabatnya.
"Nyebut kowe pot..!!" Tegur Bang Daluman.
Bang Noven menepuk pundak sahabatnya. "Hanin salah apa sama kamu? Kalau niatmu menikahi dia hanya untuk main-main kenapa tidak kau urungkan sejak lama???"
"Aku yang tidak berguna, aku tidak sempurna untuk Hanin. Untuk apa Hanin bertahan dengan pria cacat sepertiku????" Datar saja Bang Enggano mengucapkannya. Pandangan matanya kosong.
"Kamu nggak cinta sama istrimu itu?? Kau lepaskan dia, masih banyak pria yang antri di belakang." Kata Bang Barito.
"Cinta saja tidak akan membuatnya bahagia??" Jawab Bang Enggano.
"Lalu anakmu?? Kamu mau lepas tanggung jawab????" Bang Noven sampai ikut terpancing emosi dengan seluruh jawaban Bang Enggano.
"Hanin berusaha keras belajar. Dia berjuang agar layak bersanding dengan Abang. Kenapa sekarang Abang mengatakan hal seperti itu?" Akhirnya Bang Anggit pun ikut buka suara.
"Kau boleh menikahinya."
Bang Daluman menengahi keributan di ruang rawat itu. Sebagai seorang dokter dirinya tentu paham dengan apapun yang terjadi hari ini.
"Tolong jangan berdebat dan tolong kalian jangan terpancing situasi. Selain keadaan fisik Gano yang sakit, mentalnya sedang tidak stabil. Apapun yang kalian katakan tidak akan masuk ke dalam pikirannya..!!"
//
"Hanin.. sadar ndhuk..!!" Mama Harni sangat mencemaskan keadaan menantunya. Hanin terbawa suasana karena Bang Enggano terus menolaknya. Entah sudah berapa kali Hanin tak sadarkan diri. "Pa.. tolong panggilkan dokter Daluman..!!"
Baru saja Papa Han akan memanggil Bang Daluman tapi beliau sudah datang di ruang kerjanya. Bang Daluman memang meminta Hanin dan keluarga untuk menunggu di ruangannya.
"Ada apa Pak? Hanin pingsan lagi?" Tanya Bang Daluman.
"Iya nih. Bagaimana ya??"
"Wajar Hanin seperti ini. Pasti Hanin juga terbawa perasaan. Gano jadi berubah sejak tau keadaannya. Dia merasa rendah diri sampai sempat berucap ingin menceraikan Hanin." Jawab Bang Daluman sambil memeriksa kondisi Hanin.
"Astagfirullah.. kenapa jadi begini??" Gumam Papa Han.
"Hanin sangat lemah. Mudah-mudahan Hanin kuat, jangan patah semangat membujuk Gano." Kata Bang Daluman.
//
"Bagaimana pun caranya, kamu harus bahagia Hanin. Bencilah aku, cari bahagiamu sendiri..!!"
.
.
.
.