
Karangan penulis. Jangan menggabungkan keadaan di dalam dunia nyata..!!
🌹🌹🌹
Bunyi burung berkicau ceria menyambut pagi, namun Bang Enggano terdiam tanpa suara. Dirinya tidak bisa memejamkan mata semalam suntuk. Ada pesan batin tak tersampaikan membuat hatinya gelisah.
"Demi kamu dan anak kita, Abang rela menahan diri. Kamu tidak akan paham seberapa inginnya Abang punya anak. Pangkat sudah Kapten begini tapi telat punya anak." Gumam Bang Enggano.
Arloji di tangannya sudah berbunyi. Bang Enggano beranjak dari ranjang hendak mandi dan menuaikan sholat subuh tapi tiba-tiba kepalanya terasa pusing.
Bang Enggano sedikit banyak memahami bahwa yang di rasakannya saat ini mungkin sindrom yang menular dari ibu hamil pada suaminya. Ia mengusap perut Hanin.
"Oke sayang, Papa terima marah mu karena kemarin Papa sudah sempat jahil sama Mama. Tapi adek juga nggak boleh nakal ya, Papa mau kerja.. cari uang yang banyak untuk Mama dan adek."
Tak lama rasa mual Bang Enggano perlahan memudar.
"Pintar, boleh main sama Papa tapi jangan nakal ya..!!" Pesannya mengajak bicara bayi kecil yang masih ada di dalam kandungan Hanin.
Hanin pun terbangun saat merasa ada sentuhan di perutnya. "Ada apa Bang?"
"Sholat dulu...!!" Ajak Bang Enggano.
:
Hanin tidak paham kenapa suaminya sering menangis di dalam akhir do'a sholatnya. Suaminya yang selalu terlihat gagah dan berwibawa selalu menitikkan air mata usai sholat.
"Kenapa Abang menangis?" Tanya Hanin tidak bisa menahan pertanyaan dari rasa bingungnya.
"Manusia tetap tidak akan paham apa yang sedang manusia lain rasakan. Abang sedang mengadukan segalanya pada Tuhan dan memohon ridho untuk segala kegiatan di hari ini. Abang titipkan hidup ini pada Tuhan, memohon perlindungan untukmu juga anak kita. Tidak lupa segala jerih payah orang tua serta belas kasih Tuhan untuk kedua orang tuamu yang telah melahirkanmu ke dunia. Tanpa mereka, Abang tidak mungkin bisa memeluk dirimu hingga hari ini." Jawab Bang Enggano.
Sebersit rasa sedih melingkupi hati Hanin. Dirinya tidak pernah hidup bersama kedua orang tua, bahkan rupa orang tuanya pun dirinya tidak paham. Hanya bapa tua yang selalu di ingat menemaninya, itu pun hanya sesaat karena bapa tua lebih memilih berkebun di ladang hingga tidak banyak pula komunikasi di antara mereka.
"Sudahlah.. jangan di pikirkan yang telah lalu. Sekarang kamu sudah punya Abang, tak perlu takut sendirian lagi." Kata Bang Enggano. "Ayo bilang apa, Allah sudah memberikan banyak kemudahan dan kebaikan dalam hidup kita..!!"
"Alhamdulillah..!" Jawab Hanin.
"Bagaimana untuk memulai pagi ini?"
"Bismillah..!!" Kata Hanin.
"Subhanallah.. istri sholehah nya Bang Gano." Tak lupa Bang Enggano meninggalkan kecupan sayang seperti biasanya.
...
Usai sarapan pagi Bang Gano menuju Bandara. Di temani Prada Elfri mereka akan berangkat di tempat dinas mereka yang baru. Setelah susah payah membujuk sang Papa akhirnya dirinya bisa membawa serta Prada Elfri bersamanya.
"Surat keterangan dan surat Amelden mu sudah sampai mana El?" Tanya Bang Enggano.
"Siap.. ijin.. masih kurang tanda tangan Danyon..!!" Jawab Bang Enggano.
"Nanti saya tembusi. Kalau sudah selesai biar segera saja dikirim via kilat khusus. Berkas negara itu." Kata Bang Enggano.
"Siap..!!"
...
Bang Enggano melirik Hanin yang diam mematung di sudut pesawat angkut logistik militer.
"Kenapa sayang?" Tanya Bang Enggano melihat Hanin yang mematung.
"Apakah burung ini aman?" Hanin balik bertanya.
Bang Enggano menahan senyum geli. Ternyata Hanin lumayan takut dengan burung besi tersebut.
Pesawat menukik dan bersiap untuk mendarat, rasa takut Hanin semakin menjadi. "Para leluhur semesta alam, tolong lindungi kami.. ada putra sang penguasa khayangan di dalam bejana suci." Ucap Hanin menimbulkan suasana hening menjadi ria tapi jelas tidak ada satu pun anggota bahkan crew yang berani menertawai istri Kapten Enggano.
Dengung suara pesawat terdengar, Hanin sampai terlonjak karena ban pesawat sudah menyentuh landasan pacu.
"Aaaaaaaaaa...." Jerit Hanin.
"Alhamdulillah.. mendarat kita sayang." Kata Bang Enggano.
Hanin masih bersandar, wajahnya teramat pucat.
~
"Welcome brooooo..!!!!" Sapa Danki C Batalyon tempur setempat.
Seperti biasa para lelaki akan berjabat tangan ala mereka.
"Bini mabuk Boss?" Tanya litting Bang Enggano d sana karena melihat Hanin muntah usai turun dari pesawat.
"Mabuk iyaaaa.. hamil juga iya. Sudah tiga bulan Bar" Jawab Bang Enggano.
"Pantas..." Bang Barito menyisir rambutnya lalu mendekati Hanin. "Hai.. bininya Gano. Ini Abang Barito." Sapanya.
Hanin menoleh ke arah sumber suara tapi sesaat setelah melihatnya, perut Hanin terasa teraduk-aduk. "Hhhkkkk.."
"Astagfirullah.. deeekk..!!" Bang Enggano panik dan segera membantu Hanin.
"Laaah.. bojomu kenapa? Masa mual lihat orang ganteng? Beginilah ya kalau kebiasaan lihat bekantan di rumah." Kata Bang Barito.
"Kau bisa diam atau tidak????" Tegur Bang Enggano.
"Ijin Danki, apa perlu saya carikan dokter?" Tanya Prada Elfri.
"Sebentar.. saya hubungi Daluman..!!" Kata Bang Barito lalu sibuk dengan ponselnya.
"Daluman disini Bar??"
"Iya, dia dokter kandungan." Jawab Bang Barito.
"Apaaaa??? Nggak.. jangan hubungi dia. Aku nggak percaya sama dia." Tolak Bang Enggano.
"Di antara kalian, kau yang paling tidak bisa di percaya.. makhluk c*b*l." Kata Bang Barito.
"Haaii.. sayang, tumben hubungi gue. Kenapa lu?? PMS???" Tanya seseorang di seberang sana.
Raut wajah Bang Enggano sudah menunjukkan bahwa dirinya malas dengan makhluk bernama Daluman.
Sengaja Bang Barito mengaktifkan loudspeaker di ponselnya. "Ini.. si Gano baru datang, penempatan tugas di sini. Bininya hamil.. mabuk Man."
"Hahahaaaay.. pucuk di cinta ulam pun tiba. Bilang sama Gano, gue ubek juga tuh bininye." Kata Bang Daluman.
"Heehh.. Daal sendal.. sampai lu berani colek Hanin.. gue buat rahang lu geser."
"Weeehh.. santai brother..!! Lu butuh gue.. gue dokter kandungan." Tawa renyah terdengar disana.
"B******n.. matikan ponselnya. Aku mau cari bidan saja..!!" Ucap geram Bang Enggano.
.
.
.
.