
"Hanin tidak tau Bang, hmm.. pasti hanya Bang Gano yang tau."
"Bagaimana cara tanyanya?" Gumam Bang Anggit sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bisakah kau sopan sedikit menanyakan hal yang sifatnya pribadi pada istri orang?? Apa kamu tidak menganggap saya ada disini lagi????" Bang Enggano benar-benar marah saat Bang Anggit menanyakan hal yang sifatnya sensitif pada Hanin dan di dengarkan dua sahabatnya juga.
"Saya mohon maaf Bang."
"Jaga sopan santun mu Anggit, saya belum mati." Kata Bang Enggano.
...
Sore itu Bang Enggano kembali ke rumah dinasnya. Rumah dinas yang sudah beberapa bulan lamanya tidak di lihatnya lagi.
Hawa sejuk dan teduh masih kental terasa oleh tangan terampil istri tercinta.
Hanin ikut pulang bersamanya tapi Bang Enggano seakan menolak kehadiran Hanin disana.
"Kamu di kamar sebelah..!!" Kata Bang Enggano.
"Kenapa begitu, Hanin istrimu." Sambar Mama yang sebenarnya tidak sabar melihat kelakuan putranya beberapa hari ini.
"Pisah kamar atau aku tidur di mess..!!" Ancam Bang Enggano.
"Nggak usah Ma, biar Hanin tidur di kamar Bang Anggit saja..!!" Jawab Hanin berjalan pelan kemudian mengambil kopernya.
Mama Harni dan Papa Han diam saja dan tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga putranya. Tapi terlihat Bang Enggano begitu geram hingga mengepalkan tangan sekuatnya.
"Apa kurang nyaman tinggal disini??" Tegur Bang Enggano.
"Bukan kurang nyaman Bang, tapi tidak nyaman." Ujar Hanin kemudian memberikan kopernya pada Bang Anggit. "Kalau Abang memang ingin pisah.. silakan..!! Hanin tak melarang lagi. Hanin mencoba bertahan dalam tangisan menunggu Abang siuman. Tapi Abang harus ingat, selepas Hanin tak menjadi istri Abang lagi. Anggap kita tak saling kenal juga tak ada anak ini dalam hidup Abang."
Cukup kaget Bang Enggano mendengarnya pasalnya ia sangat mencintai Hanin dan putranya yang akan segera lahir ke dunia.
"Pergi ke kamar mu..!!" Ucap Bang Enggano tanpa banyak kata.
"Beri Hanin kepastian kalau memang Abang inginkan Hanin bahagia..!!"
Bang Enggano memejamkan matanya. Perasaannya berantakan. Dadanya terasa begitu sesak. Bagaimana ia bisa mengulang perkataan buruknya pada istrinya yang sedang hamil.
"Jangan memaksa saya..!!" Pinta Bang Enggano. Suaranya sudah bergetar tapi dirinya berusaha kuat.
Bang Anggit menggandeng tangan Hanin untuk keluar dari rumah.
"Hentikan langkahmu Anggit..!!" Bentak Bang Enggano. "Atau kau memang masih penasaran dengan tahi lalat yang ada di sela paha istri saya?????"
Bang Anggit melepaskan genggaman tangan itu, aura di rumah dinas Bang Enggano terasa semakin memanas. Bang Barito dan Bang Daluman pun sudah ada disana hanya Bang Noven saja yang sudah kembali ke tempat dinasnya bersama Irene yang kemarin sempat salah paham dengan Hanin.
"Saya tidak menyalahkan keadaan Abang tapi Hanin memang terlalu menderita jika terus bersama mu Bang..!!" Bang Anggit kembali menarik tangan Hanin.
Tangan Bang Enggano sudah mengepal mencengkram kursi roda. Hatinya terasa sakit, harga dirinya terinjak-injak.
"B******n..!!" Amarah Bang Enggano memuncak. Sekuat tenaga dirinya berdiri dari kursi roda dan tanpa sadar mengarahkan pukulan ke wajah Bang Anggit.
Bang Anggit pun meladeni setiap serangan dari seniornya.
Bang Barito dan Papa Han begitu cemas. Mama sudah menangis kencang sedangkan Hanin mematung, tubuhnya sampai gemetar karena lemas. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Bang Enggano bisa berdiri.
Saat Papa Han dan Bang Barito bersiap mencegah keduanya, Prada Elfri dan Bang Daluman mencegahnya. Hingga pada akhirnya Bang Enggano menghajar dan membanting Bang Anggit hingga menimpa meja ruang tamu rumahnya.
Melihat Bang Enggano berhasil mengalahkannya, Bang Anggit pun tersenyum. "Aku akan tetap menyayangi istrimu..............."
"Haniiiinn..!!" Mama terpekik begitu kencang melihat Hanin nyaris ambruk.
Secepatnya Bang Enggano menarik Hanin ke dalam pelukannya. "Deekk.. Hanin.. sayang..!!" Bang Enggano menepuk pipi Hanin berkali-kali.
Bang Daluman segera memeriksa kondisi Hanin dan membantu Bang Enggano merebahkan Hanin di sofa.
Bang Anggit pun mendekati Hanin. "Hanin.. bangun dek..!!"
Tak bisa lagi mengontrol rasa marahnya, Bang Enggano kembali menarik kerah seragam Bang Anggit lalu menghajarnya habis-habisan.
Hanin yang masih setengah sadar pun tak tau lagi bagaimana mengontrol amarah suaminya yang tenga meledak tak terkendali.
"Beraninya kau Anggit, kalau kamu tidak melecehkan Hanin.. darimana kamu bisa menebak tanda lahir itu. Mungkin Hanin pun juga tidak akan tau tanda itu." Bang Enggano mengepalkan tinjunya dan bersiap menghajar Bang Anggit.
"Kalau memang tanda itu ada di sela paha Hanin, berarti Hanin adalah adik kandung saya." Kata Bang Anggit.
"Apaaa??? Ulang kata-katamu..!!!!!!!" Tak lama Bang Enggano merasakan nyeri di kakinya. "Aduuuhh.. aawwhh..!!"
Bang Anggit segera membantu seniornya untuk berdiri, saat itu Bang Enggano terus menatap mata Anggit lalu bergantian menatap wajah Hanin.
"Bagaimana Bang, tandanya atau tidak??" Tanya Bang Anggit.
.
.
.
.