
"Apa ini??" Bang Enggano menghindar saat Bang Daluman dan Bang Barito memberinya obat.
Bang Enggano mengangkat tinggi gelas berisi cairan berwarna antara coklat dan hijau yang pekat dan juga kental. Feeling-nya ragu untuk menelan 'obat' tersebut sampai saliva pun ikut sulit tertelan.
"Sudaaahh.. minum saja..!!" Kata Bang Daluman.
"Kau ini dokter tapi malah memintaku meminum minuman seperti ini. Bagaimana kau ini." Protes Bang Enggano.
"Pengobatan itu tidak melulu harus medis. Segala bentuk pengobatan bisa di coba asal untuk penyembuhan. Sekarang kamu coba saja dulu. Siapa tau yang ini berhasil Gan." Jawab Bang Barito.
Sebagai seorang sahabat tentu Bang Daluman dan Bang Barito tidak begitu saja membiarkan sahabatnya berada di dalam masalah.
"Aku pesimis. Perasaan segala apapun yang aku coba belum membuahkan hasil." Dari perkataan itu jelas Bang Enggano sudah merasa putus asa dan rendah diri terhadap usahanya.
"Sebenarnya bukan tentang obatnya, tapi psikis atau mentalmu yang hancur. Ayo cepat di minum sekarang..!!!" Bang Daluman sudah mendorong gelas itu sampai ke bibir Bang Enggano. "Ayoooo.. kamu nggak pengen nengokin anakmu?? Nggak kedinginan setiap malam menghindar dari Hanin??"
"Ya pengen." Jawab Bang Enggano.
"Makanya, cepat di minum..!!" Bang Daluman kembali mendorong gelas tersebut sampai bibir Bang Enggano.
Mau tidak mau Bang Enggano meneguk minuman tersebut hingga habis. Namun pahitnya yang terkira membuatnya nyaris menyemburkan minuman itu dari mulutnya.
"Hhkk.."
plaaakk..
"Habiskan..!!!!!" Bang Daluman sampai menepak bahu Bang Enggano agar pria itu segera menghabiskan minumannya. "Ingat Haniiiinn..!!!"
Takut ketentraman rumah tangga nya akan goyah akhirnya Bang Enggano meneguknya juga sampai habis.
...
Saat Bang Enggano kembali, Hanin sedang menonton serial drama pada layar laptop. Wajahnya terlihat serius apalagi saat melihat adegan romantis di dalamnya.
"Dek..!!!"
"Apa Bang? Mau makan?" Tanya Hanin tapi matanya tidak lepas dari layar laptop.
"Nggak."
"Ya sudah Abang tidur saja." Kata Hanin dengan suara semakin lirih karena fokusnya masih tertuju pada seorang aktor tampan yang sedang melakukan adegan perkelahian.
Bang Enggano semakin gelisah karena tidak berani mengutarakan keinginannya untuk mengajak Hanin memadu cinta. Gairah di dalam dadanya membuncah namun ia belum juga merasakan reaksi pada tubuhnya.
Hanin pun menoleh dan melihat Bang Enggano masih berdiri di tempatnya. Keningnya berkerut, konsentrasinya hilang.
"Laah.. Gi-Meen yang hilang kenapa Abang jadi di salahkan. Lagipula suamimu itu Gano bukannya Gi-Meen."
Terbersit rasa gemas dan kesal dalam hati Bang Enggano. Dirinya yang setiap hari bersama Hanin tapi Hanin selalu memuji 'pria' lain.
"Sebenarnya apa yang kamu sukai dari si Gi-Meen??? Muka putih seperti mayat, gagah juga tidak. Ngomong seperti sesak nafas." Kini Bang Enggano memprotes keras hobby baru Hanin yang lebih suka memuji pria lain.
"Gi-Meen gagah Bang, Abang saja yang tak tau. Dia berhasil merayu Ha Ji Mon sampai mau punya anak." Kata Hanin kemudian kembali terfokus pada layar laptop. "Ya ampun, ganteng sekali. Coba kulit Abang begini pasti Hanin jatuh cinta."
"Kau ini apa sih. Kulit Abang hitam begini karena kerja, untuk beli semua barangmu yang warnanya pink. Buat biaya tutup mulut yang suka nodong basreng, cimol dan kawanannya. Abang juga nggak jelek-jelek amat. Begini nih kelakuan, coba kalau Abang yang body shaming pasti ancamannya masuk penjara, tapi kalau kamu yang bilang.. siapa berani penjarakan????" Gerutu Bang Enggano.
"Bang, kalau anak kita lahir mirip ini saja ya..!!" Tunjuknya kini pada seorang aktor China.
"Baah.. tidak sekalian saja kamu minta anakmu mirip Daluman, biar gempar satu Batalyon. Bapaknya gosong begini minta anaknya putih susu."
Sesaat itu juga wajah Hanin berubah masa. Bang Enggano pun ikut kesal dengan Hanin tapi dirinya tetap harus melaksanakan misi perdamaian.
"Eehh sayang, kamu pengen anakmu seperti itu khan?" Kata Bang Enggano memasang wajah serius.
Hanin mengangguk sekilas menetap wajah Bang Enggano yang serius.
"Kalau begitu ada syaratnya..!!"
"Apa Bang?" Tanya Hanin ikut tertular wajah serius.
"Buatnya harus di ulang lagi dan kamu harus meniru genitnya si Ha Ji Mon..!!"
"Oke.. Hanin bisa." Jawab Hanin yakin. Ia kemudian berdiri dan membuka kancing pakaiannya di hadapan Bang Enggano tapi Bang Enggano mulai resah sebab untuk kesekian kalinya 'miliknya' belum juga bereaksi padahal sekujur tubuhnya sudah memanas akibat bantuan obat dari sahabatnya.
'Duuuhh.. mesinnya nggak panas juga, kalau sampai Hanin naik lalu aku yang tidak naik, aku bisa malu setengah mati.'
"Abaaang.. Hanin kangen..!!" Rengek sang istri membuat Bang Enggano resah.
Bang Enggano membuang nafasnya perlahan lalu mencoba merilekskan pikiran dan membalas perlakuan Hanin padanya.
'Mudah-mudahan Abang sanggup menyenangkan hatimu malam ini dek.'
.
.
.
.