Badass

Badass
35. Panas.



"Ada reaksi atau tidak?" Tanya Bang Daluman penasaran.


"Nggak ada, tapi sekujur tubuhku panas. Dadaku juga berdebar kencang dan panas, kepalaku sampai sakit." Jawab Bang Enggano.


Kening Bang Daluman berkerut. Sebagai seorang dokter tentu dirinya memahami reaksi dasar yang di alami sahabatnya.


"Coba tunggu lima belas menit lagi. Kalau debaran jantungmu semakin kuat, lebih baik kita pulang..!!" Kata Bang Daluman.


:


"Men.. tolong Men..!! aku nggak kuat nih.. rasanya jantungku sakit sekali..!!" Bang Enggano meremas dadanya dengan kuat sampai merosot dari kursi.


"Haniiin..!!" Bang Daluman memanggil Hanin yang sedang berada di dalam rumah.


Mendengar suara Bang Daluman, Hanin segera keluar untuk mendampingi dan disana terlihat Bang Enggano sudah duduk di lantai dan memercing memegangi dadanya.


"Ada apa Bang? Bang Gano kenapa?" Tanyanya bingung.


"Kamu pakai obat apa?" Selidik Bang Daluman agar setidaknya ia tau cara menangani hal darurat yang terjadi pada Bang Enggano.


"Salah satunya ada kayu ular dan akar-akaran dari hutan. Memang ada apa sih?" Jawab Hanin karena setau dirinya obat herbal tidak berbahaya.


Bang Daluman menyandarkan punggung Bang Enggano agar bisa bernafas lebih lega dan leluasa.


"Tolong ambilkan air minum hangat untuk suamimu..!!" Kata Bang Daluman sambil memeriksa keadaan sahabatnya.


Hanin melihat Bang Enggano begitu tersiksa, untuk bernafas pun rasanya harus begitu memaksakan diri. Secepatnya ia segera berlari ke dapur dan mengambil air minum hangat untuk Bang Enggano.


:


Rasanya Bang Enggano nyaris pingsan merasakan reaksi obat yang sudah di teguknya tadi. Semuanya terasa amat sangat menyakitkan.


Sebisa mungkin Bang Enggano mengatur jalan nafasnya yang tidak beraturan.


"Apakah ada yang berbahaya dari obat ini Men?" Tanya Bang Enggano memastikan.


"Sejauh ini yang kulihat masih aman. Obat yang di gunakan Hanin semua berasal dari alam dan tidak ada pengaruh buruk. Kurasa tubuhmu kaget menerima reaksi dari obat herbal." Jawab Bang Daluman sesuai dengan pengalaman medisnya.


Memang dalam beberapa hal dirinya bisa di katakan kurang tapi harus di akui semua pihak, dalam usianya yang masih muda.. kemampuan dokter Daluman tidak bisa di anggap remeh. Semua sesuai dengan porsinya begitu pula dengan Bang Enggano yang sudah sangat terlatih dalam bidang pasukan.


"Aku harus bagaimana Men? Ku tahan sakitnya atau ada obat pereda nyeri."


Kali ini wajah Bang Daluman serius. Ada yang begitu ia cemaskan tapi tak sampai hati untuk mengungkapkan pada Bang Enggano. Kapten Enggano mengalami kelumpuhan syaraf lokal, tertimpa pohon sampai terduduk dengan tulang ekor dalam posisi yang keras bukanlah hal yang sepele.


"Bagaimana Men?? Aku kesakitan..!!!!!" Pekik Bang Enggano tak sabar lagi.


"Masuklah ke kamar bersama Hanin, cobalah dulu. Kami pamit pulang..!! Aku tidak bermaksud menggurui mu atau ikut campur dalam masalah intern rumah tanggamu. Tapi kalau kamu bersedia nanti ceritakan padaku sebagai doktermu. Aku hanya butuh tau apa yang kamu rasakan dan tidak ingin tau apa yang kalian lakukan..!!" Bang Daluman segera berdiri dan meninggalkan tempat.


...


"Kita mau diam begini saja? Atau mau coba?" Tanya Hanin.


"Abang rasa.. Abang belum bisa melakukannya sekarang." Jawab Bang Enggano tanpa melihat wajah sang istri yang nampaknya sangat berharap padanya namun sebagai pemilik tubuh tentu dirinya paham kondisinya sendiri.


"Sebenarnya kenapa Abang tidak mau berusaha? Apa Abang nggak kangen sama Hanin??" Kata Hanin sudah kembali bersiap naik darah.


Mental Bang Enggano kembali terhantam, jika saja tidak ingat kata 'sabar' pasti dirinya akan menangis meraung-raung karena terlalu malu dan kecewa dengan dirinya sendiri.


"Siapa yang tidak rindu dengan istri. Suami akan selalu menginginkan belaian sayang dan hangatnya tubuh istri. Di dalam hati ini begitu menginginkan mu, tapi tubuh ini berkata lain, dia seakan menolak di fungsikan." Jawab Bang Enggano.


Hanin mendengarkan sembari berkedip-kedip mencerna segala ucapan Bang Enggano padanya.


"Bagaimana kalau sekarang Hanin yang mencoba. Siapa tau badan Abang bereaksi, asal.........."


"Asal apa sayang?"


"Asal Abang tak anggap Hanin sebagai wanita yang.... Yang suka menggoda laki-laki." Hanin begitu malu mengungkapkan nya karena takut dengan pandangan orang.


"Ya Allah dek, mana ada Abang mikir begitu. Asal kamu tau, suami sangat senang kalau istrinya berinisiatif mengajak lebih dulu. Pandangan mata laki-laki terpenuhi dan kebutuhan batinnya lebih terasa terpuaskan hingga tuntas karena berarti kami-kami ini masih di butuhkan selain soal nafkah lahir." Jawab Bang Enggano perlahan juga mulai mengerti isi hati Hanin. "Asal suami sendiri, bukan suami orang."


Hanin tersenyum geli kemudian berdiri di hadapan Bang Enggano. Dengan menghilangkan rasa ragu di hatinya, ia membuka kancing bajunya kemudian dengan Bang Enggano. Disana Bang Enggano mulai sedikit terpengaruh, perhatiannya tertuju pada dua bongkah kembar yang membuatnya penasaran.


"Eegghh.." Bang Enggano mengalihkan perhatiannya, tiba-tiba tubuhnya terasa sakit.


"Belum ya Bang?" Tanya Hanin dengan suara lembutnya.


"Tuasnya macet dek. Sudah ya..!! Abang nggak bisa." Jawab Bang Enggano.


"Masa sih??? Hanin nggak percaya." Ia mendorong dada Bang Enggano hingga telentang di atas ranjang, ia pun dengan berani merangkak dan akhirnya melucuti segala yang melekat di tubuh Bang Enggano.


Bang Enggano pasrah, ada rasa takut tapi sungguh ia merindukan malam bersama Hanin.


Lama kelamaan ia merasakan sentuhan tangan Hanin. "Arghh.. eeghh..!!" Tanpa disadari Bang Enggano terus saja melenguh.


Hanin memberanikan diri memeluk Bang Enggano dan saat itu juga Bang Enggano menerkamnya.


"Kenapa lama sekali dek??" Bang Enggano tidak sabar menunggu Hanin yang terkesan begitu lama menyelesaikan tugasnya.


"Abang maunya bagaimana??"


.


.


.


.