Badass

Badass
24. Latihan luar.



"Baaang????"


"Ganti pakaianmu dek.. bilang sama Mamen. Abang nggak bisa lihat apa-apa..!!"


~


"Waduuhh.. ini sih harus ganti bola mata, takutnya semakin parah karena semasa hidup suka lihat yang nggak bener." Kata Bang Daluman memasang wajah serius saat pura-pura memeriksa kondisi mata Bang Enggano.


"Tissue lagi nggak Men?" Tanya Bang Barito yang masih menggulung tissue karena memang darah dari hidung Bang Enggano terus mengucur.


"Nggak perlu, sudah berhenti keluar." Jawab Bang Daluman.


"Gimana Bang, mata Bang Gano bisa lihat lagi atau tak?"


Bang Daluman akan menjawabnya tapi Bang Enggano sudah mencengkeram lengannya.


"Ada syarat nya biar Abang bisa lihat lagi..!!" Kata Bang Enggano.


"Apa Bang?" Hanin terisak ketakutan dan merasa sangat bersalah karena dirinya telah membuat suaminya sampai tidak bisa melihat lagi.


"Kamu harus bisa baca ayat pendek juga bacaan sholat..!!"


Bang Daluman dan Bang Barito tersenyum saja mendengarnya. Mereka tau sahabatnya itu sedang mengajari Hanin dengan caranya. Cara yang kurang sewajarnya untuk mendidik istri tercinta.


"Hanin akan baca..!! Hanin sudah banyak hafal." Jawab Hanin kemudian ia memeluk Bang Enggano dan mulai membaca. "Bismillahirrahmanirrahim............."


~


'Alhamdulillah..'


Jelas terbersit rasa bangga karena hanya dalam waktu yang singkat Hanin mampu menghafal banyak do'a juga bacaan sholat.


"Ya Allah, Abang bisa lihat lagi..!!!" Ucap Bang Enggano mengakhiri keusilannya karena Hanin sudah menangis terisak-isak dan terdengar begitu sesak membuat hati kecilnya tidak tega.


"Alhamdulillah.. Abang jangan sakit lagi. Hanin minta maaf..!!" Kata Hanin penuh penyesalan.


"Makanya lain kali jangan banyak tingkah. Nurut apa kata Abang..!!" Nasihat Bang Enggano sambil mengusap sayang kening Hanin lalu mengecup bibirnya.


"Owalaaahh.. tak walik pisan omahmu iki, sing duwe perasaan sithik to.. aku ini jomblo, jomblo ngenes." Protes Bang Daluman.


Bang Enggano tertawa saja melihat ekspresi wajah Bang Daluman.


***


Sesuai dengan jadwal latihan gabungan, hari ini Bang Enggano dan rekan prajuritnya melaksanakan latihan gabungan.


"Selama Abang tinggal jangan macam-macam ya dek..!! Kalau butuh sesuatu, kamu hubungi Om Elfri..!!"


Tidak biasanya Hanin memasang raut wajah begitu sedih, seakan tidak rela suaminya akan pergi untuk melaksanakan latihan gabungan.


"Hanin sudah bisa baca do'a. Abang harus segera pulang dan baik-baik saja, jangan buta lagi..!!" Pinta Hanin.


Bang Enggano berlutut dan mencium perut Hanin yang kini sudah terlihat membesar. Hanya beberapa hari saja dirinya berangkat latihan tapi perasaannya kalut dan terasa sesak menusuk relung hati.


"Papa pergi sebentar saja ya Bang. Ini hanya latihan, bukan perang. Kamu baik-baik di rumah sama Mama, jangan rewel Bang..!!"


Para anggota yang akan berangkat sampai terbawa melownya Danki mereka, tapi perintah tetaplah perintah yang harus di laksanakan.


...


Baru beberapa jam Bang Enggano tidak bertemu dengan Hanin tapi rasa rindu itu sudah sangat terasa. Tubuh kekarnya terasa begitu lemah.


"Santai bro.. hanya tiga hari saja, masa nggak kuat??" Tegur Bang Barito menyemangati sahabatnya.


"Hanin berbeda dengan yang lain, tentu saja aku merasa lebih cemas meninggalkan dia meskipun sudah ada Elfri disana." Kata Bang Enggano.


//


Hanin membuka pintu rumahnya, terlihat Mama Harni berdiri di depan pintu rumah dinas Bang Enggano.


"Mamaa..!!" Hanin sampai kaget Mama dan Papa Mertuanya datang, ia menyeka air mata di pipinya. Rasa sepinya sedikit terasa terobati dengan hadirnya Mama dan Papa.


"Astagaa.. lama sekali buka pintunya, panas sekali di luar..!!" gerutu Mama Harni kemudian masuk ke dalam rumah.


"Kamu sehat ndhuk?" sapa Papa Han.


"Alhamdulillah sehat Pa." jawab Hanin, ia tersenyum senang melihat Mama dan Papa mertuanya datang.


Mama langsung mencuci tangan dan membongkar barang bawaannya tanpa suara. Banyak sekali barang dan makanan khusus untuk Hanin.


"Haniin..!!" panggil Mama Harni.


"Iya Mama..!!" Hanin segera datang dan menghampiri Mama Harni.


"Kenapa kamu nangis?? Bang Gano hanya pergi sebentar saja. Hanya latihan." kata Mama.


"Maaf Ma, Hanin tak ingin nangis tapi Mata Hanin tak mau menurut." Jawab Hanin dengan polosnya.


"Nggak usah nangis, ada Mama dan Papa yang temani..!!" Mama mengambil piring berisi nasi, lauk dan sayur lalu segera menyuapi Hanin. "Makan dulu, jangan mikir Bang Gano. Suamimu itu meskipun di lepaskan di hutan belantara, dia akan tetap hidup."


"Iya Mama." jawab namun kemudian Hanin memeluk Mama mertua dengan tangisnya. "Hanin rindu Abang."


"Sabar, dua hari lagi Bang Gano pulang." jawab Papa Han.


.


.


.


.