Badass

Badass
14. Sembuh.



"Tabahkan hatimu sekarang jadi anak pungut." Kata Bang Jay karena dirinya sempat mendengar Mama Harni saat menegur Bang Enggano.


"Bisa gitu ya, perasaan gue nggak ada benernya." Jawab Bang Enggano.


"Kau tidak di maki saja masih untung Gan. Sudahlah, kalau kamu cari ribut lagi, berani nafas saja kau sudah salah." Imbuh Bang Noven.


Bang Enggano melirik pasrah pada Papanya yang menghubungi sana sini untuk memindahkan dirinya ke tempat tugas yang baru agar tidak bertemu lagi dengan Kania.


Kepindahannya pun di rasa tepat karena menyesuaikan dengan pangkat barunya.. Kapten.


...


"Bilik Hanin jangan di bongkar ya Ma. Hanin suka sekali bilik buatan Abang." Pinta Hanin saat tau kamarnya pun akan di bongkar karena harus mengikuti Bang Enggano pindah tugas.


"Nanti minta suamimu buat lagi. Duitnya khan banyak." Jawab Mama Harni dengan gaya bahasanya yang ketus.


Hanin tidak berani lagi menjawab saat Mama mertuanya sudah bersikap demikian.


"Hanin, dengan kata Mama. Kalau ada seseorang yang menindasmu, kamu harus melawan.. jangan pernah takut selama kamu benar." Kata Mama Harni. "Kamu juga harus mempertahankan suamimu dalam kondisi apapun. Ini bukan di daerahmu yang mengharuskan wanita tidak punya pendapat saat suaminya di ganggu wanita lain. Abang Gano milikmu, kamu wajib pertahankan dia dari gatalnya kelakuan wanita."


"Gatal kenapa Ma??" Tanya Hanin polos.


"Menggoda suamimu." Jawab Mama Harni.


"Maa.. jangan ajari menantumu jadi brutal." Tegur Papa Han.


"Lalu Papa akan membiarkan orang lain masuk dalam rumah tangga Gano dan merusaknya????? Pernikahan itu hanya sekali seumur hidup Pa. Kecuali Papa dan Gano punya niat kawin lagi..!!"


"Astaghfirullah.."


"Astagfirullah Ma, nggak lah. Hanin saja sudah cukup." Jawab Bang Enggano.


"Kalau begitu diam lah kalian..!!" Kata Mama Harni. "Kamu juga Hanin, harus berani ribut kalau masalah seperti ini. Istri sah itu kedudukannya lebih tinggi..!!" Nasihat Mama Harni untuk Hanin.


"Iya Mama..!!"


"Jangan iya aja, laksanakan..!!"


Bang Enggano tak sanggup berdebat dengan sang Mama. Ia memilih diam daripada akan semakin memperpanjang urusan.


"Mama mau ke rumahmu, mau mencicil menata pakaianmu. Masa bumil harus kerja berat." Oceh Mama sambil menyambar tasnya dan Papa Han juga memilih diam mengikuti kemanapun langkah Mama Harni pergi.


...


Bang Enggano menyodorkan kelingkingnya di hadapan Hanin. Memang terlalu kekanakan tapi dirinya harus mengalah dan membujuk istri kecilnya dengan cara yang paling lembut dan halus sebab Hanin pun belum begitu memahami rayuan gombal nan memabukan.


"Kita baikan..!!" Ajak Bang Enggano.


Hanin terus menatap wajah Bang Enggano dan memastikan keseriusan dari ucapan suaminya itu.


Tatapan mata Bang Enggano seakan mengarahkan dirinya agar menyambut permintaan perdamaian tersebut. Akhirnya Hanin pun menyambut kelingking Bang Enggano.


"Ya sudah baikan." Jawab Hanin kemudian tersenyum. "Tapi jangan jahat lagi sama Hanin ya..!!" Pintanya terus memastikan.


"Iya sayang, nggak akan lagi. Abang sayang ko' sama Hanin."


\=\=\=


Upacara kenaikan pangkat sudah di laksanakan namun hari ini kegiatan Bang Enggano tersebut tanpa di dampingi istri tercinta sebab Hanin masih berada dalam masa pemulihan.


"Assalamu'alaikum..!!" Bang Enggano melepas dahrim nya dan meletakan asal.


"Wa'alaikumsalam.. capek ya Abang?" Tanya Hanin.


Hanin mengangguk meskipun dirinya tidak pernah tau apa yang akan terjadi nanti.


"Jadi hari ini kita tidur di mana Bang?" Tanya Hanin.


"Di hotel."


"Mama dan Papa bagaimana?"


"Papa dan Mama sudah kembali ke Jakarta waktu kamu tidur. Mereka berangkat dengan keberangkatan paling pagi." Jawab Bang Enggano.


"Kenapa kita tidak tidur di mess transit saja?"


Bang Enggano hanya tersenyum menjawabnya, ia tidak akan mengatakan jika posisi mess transit membelakangi mess tentara wanita. Ia pahami jangankan untuk tenang, sekarang saja jika dirinya tak sengaja berpapasan dengan perawat wanita maka Hanin rela mendiamkannya karena sudah bisa mengekspresikan rasa cemburu.


...


Pemandangan gunung dari penginapannya lebih membuat suasana tenang bagi Hanin. Maklum dirinya lebih banyak di besarkan dari daerah pegunungan.


"Malam ini mau makan apa sayang?" tanya Bang Enggano sambil menyodorkan buku menu makanan agar Hanin bisa belajar membaca sekaligus paham gambar makanan tersebut


"Waaahh sepertinya enak sekali Bang." Mata Hanin berbinar melihat banyaknya makanan di buku menu.


"Jelas enak semua. Kamu mau yang mana?"


"Ini saja Bang." Tunjuk Hanin pada sebuah menu lalapan tempe dan tahu.


"Laah.. yang lain?"


"Tak ada, Hanin hanya mau coba makanan itu." Kata Hanin.


Bang Enggano menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Soal tempe tahu jelas saja rata-rata orang akan menyukainya, rasa yang ringan dan enak sudah menjadi ciri khas negeri kita.


"Bagaimana kalau ini?" Tanya Bang Enggano menunjuk menu makanan lain yaitu rendang.


"Gosong kah Bang?" Hanin terlihat tidak berselera dengan menu makanan bernama rendang.


"Nggak, kamu pasti suka." Jawab Bang Enggano.


...


Hati Bang Enggano begitu lega melihat Hanin sangat lahap menyantap rendang yang di pesannya tadi. Apalagi istrinya itu terlihat sangat cantik di bawah indahnya cahaya bulan.


Hanin memicingkan mata saat tau Bang Enggano terus menatapnya. "Ada apa Bang?"


"Kamu cantik sekali sayang."


"Hanin khan perempuan." Jawab Hanin singkat saja kemudian membuka mulutnya meminta Bang Enggano menyuapinya lagi.


Jujur rambut Hanin yang tergerai membuat batinnya tergoda, tapi keadaan saat ini sungguh tidak memungkinkan.


"Hanin masih cantik ya Bang?" Tanya Hanin karena Bang Enggano tidak melepaskan pandangan darinya.


"Sampai kapanpun kamu tetap cantik dan tetap paling cantik di antara yang tercantik."


.


.


.


.