
Bbgghh..
"Hhgghh..!!"
"Dankiiiii..!!" Prada Elfri mengejar Dankinya yang jatuh terperosok ke bawah bukit dan akhirnya tersangkut pada sebatang pohon.
...
Sirine ambulans masuk ke depan ruang UGD dan Bang Enggano segera mendapatkan perawatan.
"Cepat tangani.. perutnya terhantam dahan pohon..!!" Perintah Bang Daluman.
"Baik dok..!!"
Tak lama Bang Enggano tersadar dari pingsannya. "Awas saja kalian berdua..!!"
Wajah itu sudah penuh ancaman meskipun tenaganya hanya tinggal lima persen saja.
"Aku nggak sengaja, semua karena refleks saja. Lagipula kenapa kamu buat tindakan konyol seperti itu?" Kata Bang Barito.
"Kau yang mulai lebih dulu. Bisa-bisanya kau mengajari Hanin hal sefatal itu. Jangan manfaatkan kepolosan Hanin untuk hal yang tidak-tidak..!!!" Ucap Bang Enggano serius.
"Tapi harus ku akui Hanin memang pintar sekali mengerjai mu." Balas Bang Daluman.
"Ijin Bang, sejauh ini aman." Laporan Letda Lala sebagai dokter umum di rumah sakit tentara.
"Alhamdulillah..!!!" Ucap syukur Bang Daluman dan Bang Barito bersamaan.
"Yang penting Hanin khan nggak apa-apa bro." Bang Barito berkilah karena takut selepas perawatan ini Bang Enggano akan membuat perhitungan dengannya.
"Suntik obat pereda sakit di tambah sedikit obat tidur..!! Kapten Enggano kurang istirahat..!!" Perintah Bang Daluman.
"Tapi Bang..!!"
"Nggak apa-apa.. sedikit saja..!!" Imbuh Bang Daluman.
Bang Enggano berusaha mengelak tapi tenaganya yang nyaris habis tanpa sisa membuat dirinya tak bisa berkutik dan akhirnya dalam waktu beberapa detik saja Kapten Enggano kembali tertidur pulas.
"Syukurlah..!!"
"Aman kita Men..!!" Kata Bang Barito merasa lega.
"Aman pala lu Bar. Bagaimana caranya bilang sama Hanin kalau suaminya jadi begini??"
"Laah.. iya Men. Bijimana nih ceritanya???" Tanya Bang Barito kini terbawa panik lagi.
"Ya harus di ceritakan apa adanya." Jawab Bang Daluman.
...
Hanin setengah berlari masuk ke dalam ruang rawat Bang Enggano saat Prada Elfri menjemputnya di rumah.
"Abaaaang.. jangan mati duluuu..!!!" Hanin berteriak ketakutan melihat Bang Enggano terbaring lemah di ranjang. Matanya setengah terbuka berusaha mengumpulkan nyawa yang belum sepenuhnya genap.
"Abang sudah sadar." Bang Enggano meraih tangan Hanin dan memeluknya.
"Syukurlah, Hanin khan belum belajar menyetir mobil." Jawab Hanin.
Seisi ruangan mendes*h gemas, mereka semua sempat berpikir kalau Hanin terlalu sedih melihat Bang Enggano terbaring lemah, ternyata semua hanya karena Hanin ingin belajar menyetir mobil.
"Sabar, besok sudah boleh keluar dari rumah sakit."
"Langsung belajar Bang?" Tanya Hanin.
"Langsung masuk rumah sakit lagi..." Ucap kesal Bang Enggano. "Sabar sedikit, belajar menyetir itu butuh kesiapan mental, tidak hanya asal berani."
"Hanin sudah bisa semua Bang. Ayo lah..!!" Ajak Hanin masih terus merengek.
'Benar-benar ya ini bini satu. Inilah kalau tidak tau awalnya suami bisa masuk kesini. Gara-gara kau dan genk bapak asuh kau itu yang merusuh.'
"Besok ya sayang..!!" Bujuk Bang Enggano lagi. "Kalau Abang nggak kuat, terus kita nabrak bagaimana??"
"Jangan..!!!!!!"
"Kenapa Bang?" Tanya Hanin.
"Laki-laki dan perempuan yang tidak ada ikatan pernikahan, tidak boleh saling dekat. Barito sudah punya istri dan Daluman sudah punya kekasih. Kamu harus menjaga perasaan sesama perempuan. Seandainya Abang dekat dengan perempuan lain bagaimana perasaan mu??" Bang Enggano memberi nasihat secara ringan.
"Oiya ya Bang. Ya sudah deh Hanin tunggu Abang saja." Jawab Hanin meskipun dirinya harus menunggu dan menyisakan wajah cemberut.
-_-_-_-_-
Kegiatan Hanin hari ini hanya menemani Bang Enggano di rumah sakit sampai tertidur pulas. Memar yang di rasakan Bang Enggano memang masih terasa tapi tidak parah dan besok pagi dirinya sudah boleh pulang.
"Laaah.. siapa nih pasiennya??" Ledek Bang Daluman melihat Hanin tidur di atas ranjang pasien dengan nyamannya sedangkan Bang Enggano duduk di kursi dengan jarum infus masih menancap di punggung tangan.
"Biar saja, daripada rewel minta nyetir mobil." Jawab Bang Enggano.
Tak lama Bang Barito masuk membawa wajah pias tak seperti biasanya tapi kemudian ia menarik senyum saat kedua sahabatnya menatapnya.
"Ada apa Bro?" Tanya Bang Daluman.
"Nggak apa-apa. Gimana kondisimu??" Bang Barito balik menanyakan keadaan Bang Enggano.
"Aku sudah sehat, ono opo kang?" Meskipun ketiga sahabat itu suka adu mulut dan ribut tapi tetap mereka saling support satu sama lain.
"Nggak ada apa-apa." Jawab Bang Barito berusaha tersenyum.
"Brooo.. kalau ada apa-apa cerita, kita bukannya mau kepo urusanmu.. tapi mungkin setidaknya hatimu bisa lega."
"Istriku selingkuh." Jawab Bang Barito.
"Yang benar kang? Ko' bisa?" Bang Enggano tak habis pikir dengan apa yang di alami sahabatnya, sebab setahu dirinya rumah tangga Bang Barito adem ayem saja. Apalagi Bang Barito sudah di karuniai seorang putra.
"Ya karena kau tau sendiri tugas pasukan seperti apa. Sering meninggalkan anak istri. Mungkin Vera kesepian." Bang Barito menarik nafas panjang lalu mengusap wajahnya kemudian kembali tersenyum meskipun terasa getir.
"Hmm.. sorry bro, sejauh mana hubungan istrimu dan........"
"Kau tau lah, selingkuh pakai rasa pasti jauh. Aku berusaha menyenangkan Vera, berusaha memenuhi kewajibanku sebagai suami tapi aku tidak tau kalau apa yang ku berikan mungkin masih kurang untuk Vera." Jawab Bang Barito.
Bang Enggano dan Bang Daluman memberi support pada Bang Barito.
"Lalu apa keputusanmu?" Bang Enggano beralih duduk di tepi ranjang Hanin dan menarik lengan sahabatnya agar berpindah posisi duduk.
"Entahlah Bro, tapi Dilan masih sangat kecil. Akan ada ada anak yang menjadi korban dari pertengkaran orang tua dan aku pun korban dari perpisahan orang tua." Bang Barito kembali menghela nafas. "Aku akan pertahankan pernikahanku, aku akan mendidik Vera.. bagaimana pun juga Vera adalah Mamanya Dilan, aku tau perjuangannya melahirkan Dilan, perselingkuhan istriku juga adalah salahku yang kurang memberinya perhatian."
"Aduuhh.. besar juga hatimu bro. Aku nggak kuat, semangat ya..!!" Bang Daluman menepuk pundak sahabatnya.
Sorot mata Bang Enggano mengarah pada Hanin. Ia sejenak memejamkan mata, perlahan hatinya mulai resah dan takut kalau Hanin akan melakukan hal yang sama seperti Vera. Selain kurang rasa sayang dan perhatian, Hanin masih sangat polos dan mudah di perdaya orang.
"Astagfirullah..!!" Bang Enggano mengusap dadanya. Rasa nyeri begitu terasa hingga ke dalam hati.
"Jangan menyamakan Hanin dengan wanita lain. Kami disini mungkin bukan siapa-siapa mu dan istrimu, tapi kami juga bersedia membantu setiap perkembangan mental, sosial dan pengetahuan Hanin. Kami berusaha dekat dengan Hanin tidak berniat buruk. Minimal dengan mengenal kami dan teman-teman mu yang lain akan membantu istrimu cepat beradaptasi." Kata Bang Daluman.
"Thanks ya buat kalian."
"Makanya kau ini jangan terlampau cemburuan. Sabar, pelan-pelan sampai Hanin paham dunia barunya. Istrimu limited edition kang." Imbuh Bang Barito.
"Ingat ya.. besok jadwal USG. Periksa dalam ya.. hahahaha..!!" Tawa renyah Bang Daluman mengisi ruangan.
"Aku cari dokter kandungan lain kalau tidak ada biar aku cek sendiri." Jawab Bang Enggano kesal.
.
.
.
.