Badass

Badass
23. Kacau yang belum usai.



"Tapi Hanin mau sama Dokter Daluman." Kata Hanin.


Wajah polos Hanin membuat Bang Enggano sama sekali tidak berani berkutik.


"Ya Bang..!!" Pinta Hanin.


~


"Arahkan yang benar..!!!!" Perintah Bang Daluman. Ia pun tidak mau pusing dengan tingkah sahabatnya yang terus saja memasang wajah cemberut karena mencemburui dirinya dengan alasan yang tidak jelas.


Bang Enggano sedikit menekan alat ke dalam dan Hanin sedikit merasa tidak nyaman, ia terpekik manja, Bang Enggano pun di buatnya salah tingkah.


"Lihat itu..!!" Secara profesional Bang Daluman menunjuk ke arah monitor. "Geser sedikit saja alatnya..!!"


Bang Enggano melihat ke arah layar monitor. Ada gerakan kecil, disana ada wajah yang belum terlihat gemuk tapi sudah lebih terlihat jelas.


"Arahkan menurut perasaanmu..!!" Kata Bang Daluman. Bang Enggano pun mengikutinya. "Anakmu laki-laki Kang, itu ada patil lele mirip punya bapaknya." Tunjuk Bang Daluman.


Meskipun hati Bang Enggano jengkel setengah mati karena harus mengikuti perintah Bang Daluman demi melihat calon bayinya tapi tak bisa di pungkiri hatinya amat sangat bahagia. Calon anak pertamanya berjenis kelamin laki-laki dan tak terasa air matanya membasahi pipi.


"Abang bahagia sekali dek. Melebihi apa yang kamu tau." Bang Enggano menghujani Hanin dengan ciuman sayang. "Inilah rasanya mau jadi Ayah? Rasanya segala lelah terasa hilang. Abang janji akan lebih rajin kerja untuk kamu sama jagoan kita."


Hanin mengangguk meskipun dirinya heran melihat Bang Enggano menangisi anak yang masih ada di dalam kandungan tapi yang jelas di dalam hatinya juga ikut bahagia. Ada rasa tak terlukiskan, ia merasa begitu di sayangi pria seperti Bang Enggano.


Bang Daluman menggeleng tapi dirinya pun ikut bahagia.


...


Hanin mengedarkan ke seluruh penjuru toko. Usai memeriksakan kandungan, Bang Enggano mengajaknya berbelanja pakaian untuk calon anaknya padahal calon anaknya pun masih sangat kecil untuk di belikan pakaian. Kata orang dulu mungkin 'pamali'.


"Abang.. kenapa beli baju dulu?? Kenapa nggak ajari Hanin menyetir mobil?" Tanya Hanin yang ternyata masih menagih janji.


"Sayang, dengar Abang..!! Si adek masih kecil sekali di dalam perut mu. Abang nggak berani." Tolak Bang Enggano karena memang saat ini dirinya berusaha keras untuk menjaga Hanin.


"Tapi Hanin berani Bang." Jawab Hanin.


"Ora usah ngeyel, maksud Abang itu.. Abang tidak mau ambil resiko apapun tentang kamu dan anak kita. Amit-amit kalau kita nabrak bagaimana??? Kalau Abang babak belur sih nggak apa-apa. Kalau kamu sampai kenapa-kenapa, Abang stress dek." Tak tau lagi bagaimana caranya bicara lebih lembut daripada ini dengan Hanin, yang jelas ia sudah mengungkapkan perasaannya.


Hanin memeluk dan menatap wajah Bang Enggano. "Maaf kalau Hanin membuat Abang cemas. Hanin janji nggak akan minta belajar menyetir mobil lagi." Kata Hanin dengan wajah penuh haru.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu ngerti juga sayang." Bang Enggano mengecup kening Hanin sebagai tanda apresiasi dari Hanin.


"Kalau begitu belajar naik motor saja."


Seketika itu juga jemari Bang Enggano mencomot bekas kecupannya di kening Hanin. "Nggak jadi deh." Bang Enggano seolah melempar bekas kecupan dan membuangnya sejauh mungkin.


"Iihh.. kenapa di buang. Hanin mau di sayang." Protes Hanin kemudian mengikuti langkah Bang Enggano yang berjalan jauh meninggalkan dirinya untuk mencari pakaian bayi.


...


Sore hari menjelang malam Bang Enggano baru mengajak Hanin untuk pulang, ia berharap tubuhnya dan juga tubuh Hanin yang lelah akan membuatnya bisa langsung tertidur pulas.


"Gantian kamu yang mandi dek. Setelah itu langsung istirahat..!!" Kata Bang Enggano.


Hanin segera melangkah menuju ke kamar mandi.


"Pelan-pelan jalannya..!!"


Baru saja Bang Enggano akan membongkar pakaian bayi yang baru di beli, di depan rumahnya terdengar suara ketukan pintu.


~


Bang Daluman dan Bang Barito bertandang ke rumah Bang Enggano karena ada hal penting yang harus di bicarakan, semua tentang pekerjaan yang belum selesai dalam pembahasan rapat maupun via seluler.


"Abaaang..!!" Sapa Hanin.


"Abang di luar sayang. Kamu tidur dulu, nanti Abang nyusul." Kata Bang Enggano.


Bang Barito mencolek paha Bang Enggano. "Weehh.. bini lu minta di temani tuh."


"Nggak apa-apa, biasa dia mah. Kudu nyelip di ketiak ku dulu baru bisa tidur."


"Ya sudah temani dulu sono.. kasihan." Bang Daluman pun merasa tidak enak karena mengganggu waktu sahabatnya.


"Santai aja sih, aku sudah belikan semua benda warna pink untuk Hanin. Pasti dia sibuk dengan 'mainan' barunya." Jawab Bang Enggano.


Ketiganya pun kembali fokus dengan pembahasan kerja mereka.


"Hmm.. berarti aku akan menyiapkan banyak perban. Ini latihan beresiko." Kata Bang Daluman.


"Abaang, ponselnya nggak bisa nyala." Tiba-tiba saja Hanin berdiri di depan mereka.


"Masya Allah." Bang Barito langsung menunduk.


"Subhanallah." Bang Daluman mengalihkan pandangan menghargai Bang Enggano.


Bang Enggano sendiri untuk beberapa saat ternganga kemudian terperanjat. "Astagfirullah hal adzim.. Haniiin..!!" Bang Enggano langsung melompat dari tempat duduk nya di teras lalu melepas kaosnya untuk menutupi tubuh Hanin lalu menutup pintu. "Bisa-bisanya kamu pakai l*****ie keluar dari kamar. Malu ada teman-teman Abang..!!" Tegur keras Bang Enggano.


"Yang penting baju khan Bang?"


"Iya, tapi jangan sembarang pakaian. Kalau yang begini ini jatahnya Abang. Hanya Abang yang boleh lihat, yang lain nggak boleh. Dosa dek." Tanpa sadar Bang Enggano sampai sedikit membentak Hanin.


"Iiihh.. Abang marah melulu. Hanin mana tau ada teman Abang di luar." Hanin berbalik badan dan berniat membanting diri dengan posisi telungkup tanpa perhitungan.


Bang Enggano pun sigap menangkap. "Haniiiinn.. Yen di omongi wong lanang kuwi sing manut..!!!!!"


"Tak tau.. tak tau.. tak tau. Abang cakap apa Hanin tak tau." Hanin meronta dan berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Bang Enggano.


"Ya Allah tingkahmu iku lho."


Hanin yang kesal langsung melompat hingga tak sengaja puncak kepalanya menghantam hidung Bang Enggano hingga mengeluarkan banyak darah.


"Haniiiinn.. benar-benar jebolan club Tarzan kamu ya..!!" Kali ini Bang Enggano mulai kehilangan kesabaran. Tapi Hanin yang ketakutan melihat wajahnya yang penuh darah segera di manfaatkan dengan baik oleh Bang Enggano. "Aaah.. astaga.. Abang buta." Pekik Bang Enggano memasang wajah panik.


.


.


.


.