
Hanin sudah sangat terhibur dengan kehadiran Mama dan Papa mertua. Di hari ketiga ini hatinya sangat bahagia karena Bang Enggano akan segera pulang dari kegiatan latihan luar.
"Nanti kalau Bang Gano sudah pulang, Mama dan Papa kembali ke Jakarta. Kamu baik-baik belajar disini sama suamimu..!!" Pesan Papa Han.
Hanin mengangguk sambil menikmati buah melon yang Mama Harni sediakan untuknya.
//
"Sadar pot..!!" Bang Daluman memberi pertolongan darurat pada Bang Enggano yang tidak sadar akibat tertimpa pohon.
Bang Barito mendorong Bang Noven dengan kasar. "Kau tidak dengar, Gano sudah berteriak memberi peringatan padamu.. ada pihak lain mengintai kita yang sedang latihan."
"Aku dengar, tapi tidak cukup waktu untuk aku melangkah pergi pot." Jawab Bang Noven.
"Kewaspadaan mu hilang Nov. Kamu mikir apa????" Bentak Bang Barito.
"Aku cemas karena istriku masih mabuk."
"Asal kau tau ya, Gano juga punya banyak pikiran dan kecemasan. Hanin sangat rawan untuk di tinggalkan. Bodoh sekali kau pot..!!!"
"Kalian bisa diam atau tidak???? Aku tidak bisa konsentrasi. Gano kehilangan banyak darah, tubuhnya luka." Tegur Bang Daluman.
Tak lama darah segar mengucur dari sela bibir Bang Enggano. Bang Barito dan Bang Noven pun ikut panik.
"Astagaaa.. ini pasti luka dalam. Kena bagian apa?" Bang Daluman memeriksa keadaan sahabatnya di sana sini namun belum menemukan hasil apapun.
Di dalam ambulans militer itu, tidak ada yang tidak panik dengan keadaan Kapten Enggano.
...
Papa Han sudah mendapatkan kabar tentang keadaan putranya namun beliau berusaha tenang sebab beliau pun juga memikirkan keadaan mental Hanin nantinya.
"Ada apa Pa?" Tanya Mama Harni saat Hanin sedang mandi sore.
"Gano kecelakaan Ma. Saat sedang dalam latihan, ada pihak luar yang masuk dan menyerang para anggota dengan senjata api. Mereka pasti berasal dari perkampungan di bawah bukit. Orang-orang yang menentang pihak kita mendekat pada wilayah mereka." Jawab Papa Han.
"Apakah tidak ada ijin untuk menggunakan tempat latihan itu Pa?" Mama Harni masih heran dengan kejadian yang menimpa putranya.
"Ada Ma, kami para aparat sudah melaksanakan sesuai prosedur. Tapi kita pun tidak tau musibah akan datang untuk menimpa siapa. Surat ijin memang buatan manusia tapi takdir milik Tuhan semata." Kata Papa Han.
Mama dan Papa terdiam saat Hanin sudah selesai mandi. Mereka mengurungkan niat untuk memberi tau Hanin sekarang tentang keadaan yang sebenarnya pada menantunya dan akan memberi kabar nanti setelah mereka tiba di rumah sakit.
...
"Kita mau periksa Ma? Tapi kemarin Hanin dan Abang sudah periksa kandungan." Kata Hanin heran karena Mama dan Papa mengajaknya ke rumah sakit tentara.
"Nggak.. pokoknya kamu ikut saja dengan Papa dan Mama." Mama menggandeng tangan Hanin menuju ke sebuah lorong.
Ruangan yang Hanin rasa tampak sepi ternyata sudah ramai para anggota. Disana ada Bang Barito juga Bang Daluman dan tak di sangka Bang Noven pun berada disana.
"Mungkin ada keluarga Kapten Enggano??" Tanya dokter.
"Saya orang tua nya." Kata Papa Han.
Dokter mengangguk melihat senior nya berada di sana.
"Dari seluruh hasil pemeriksaan yang dilakukan.. Maaf, kami harus menyampaikan berita yang kurang menyenangkan." Kata dokter. "Kapten Enggano tidak akan bisa berjalan lagi, sel syarafnya rusak. Hanya tersisa syaraf tangan dan tubuh bagian atas yang masih berfungsi dengan baik."
"Ya Allah.. lalu bagaimana untuk selanjutnya dok? Apa masih ada harapan untuk bisa kembali berjalan?" Tanya Papa Han.
"Harapan pasti akan selalu ada meskipun persentase nya sangat kecil. Semua tergantung pada keadaan tubuh dan diri sendiri." Jawab dokter.
Hanin terdiam mendengar seluruh penjelasan dokter. Kakinya gemetar, pandangan matanya kabur. Hanin terhuyung dan tak sadarkan diri menimpa Mama Harni.
"Astagfirullah Papaaaa..!! Haniin Paaaaa..!!!!!!!" Pekik Mama Harni kaget setengah mati.
Bang Anggit yang berada disana sangat sigap menahan tubuh Hanin.
Papa Han melihat dan mengingat wajah Letnan Anggit. Mau tidak mau Papa Han menyerahkan penjagaan Hanin pada junior putranya itu.
"Mama jaga Hanin di bantu Letnan Anggit dan Prada Elfri. Pastikan saat Hanin sadar tidak sampai syok berat Ma."
...
Mama Harni mundur dan duduk menjauh dari Hanin. Kali ini Mama Harni tidak bisa membantu Hanin. Hatinya yang biasanya kuat kini mendadak rapuh mendengar jerit tangis Hanin.
"Hanin.. kamu yang sabar dek, harus kuat..!! Beri Bang Gano dukungan penuh. Jangan patah arang sebelum perang."
Hanin semakin terisak-isak di buatnya. "Hanin nggak patahkan arang, Hanin masak pakai kompor. Kemarin juga yang berangkat perang tuh Abang Gano, bukan Hanin."
Entah Bang Anggit harus bagaimana menenangkan istri seniornya tapi untuk saat ini menjelaskan keadaannya pun tak akan ada gunanya sebab Hanin pun tak akan mengerti.
"Hmmpp.. perut Hanin sakit Bang..!!" Tanpa sadar Hanin mencengkeram erat bahu Bang Anggit.
Mama Harni yang tadinya hanya melamun secepatnya segera membantu menantunya. "Om Anggit, tolong bantu saya panggilkan Kapten Daluman..!!"
"Siap ibu.. segera..!!"
.
.
.
.