Badass

Badass
31. Tidak semudah itu berdamai.



Bang Enggano memijat pelipisnya, wajahnya sudah merah padam menahan malu juga juga rasa marah tak tertahan.


Para sahabat dan seisi ruangan akhirnya bisa menerka dari ekspresi wajah tersebut.


"Ya sudah jangan banyak bertanya lagi. Jika hal tersebut tidak benar maka reaksinya pasti akan berbalas tindakan lain. Jadi benar kenyataannya jika tanda itu memang ada." Kata Bang Daluman.


"Alhamdulillah..!!"


"Alhamdulillah apanya?????" Bang Enggano sudah kembali terbakar amarah tapi Bang Daluman menenangkan sahabatnya.


"Baca..!! Iso moco opo ora?"


Bang Enggano pun membaca selembar kertas yang di bawa Bang Daluman.


"Astagfirullah.. Anggit benar-benar Abangnya Hanin?????"


Sekarang seisi ruangan ikut terkejut.


"Eehh pot, kalau memang begitu adanya kenapa tidak kamu katakan sejak kemarin dan malah buat Gano ribut dengan Anggit????" Protes Bang Barito.


"Aku dokter, aku membawa sumpah dokter di dadaku. Ada kode etik yang aku jaga. Aku jelas sudah tau saat sekilas memeriksa kondisi janin Hanin tapi itu masalah intern pasienku. Suaminya juga pasti tidak akan terima jika aku yang mengatakannya jadi mau tidak mau aku harus menunggu Gano yang mengesahkan sendiri satu-satunya bukti yang menunjukkan bahwa Hanin memang adik kandung Anggit yang hilang." Jawab Bang Daluman.


"Kau ini buat Anggit nyaris mati konyol. Kau pasti tau kalau Gano sumbu pendek." Protes Bang Barito.


"Saya minta maaf Git." Kata Bang Enggano.


"Nggak apa-apa Bang, saya ngerti." Jawab Bang Anggit.


Keduanya pun saling bersalaman membuang egois dalam diri.


Perlahan Hanin membuka matanya, Bang Enggano pun segera mendekati Hanin. Meskipun tubuhnya masih terasa remuk tapi demi Hanin dirinya berusaha menguatkan diri.


"Hanin..!!"


Hanin menepis tangan Bang Enggano yang mencoba membujuknya.


"Buat apa dekat-dekat lagi. Bukankah Hanin sudah di ceraikan. Dekat sama Bang Anggit pun tak boleh."


Secepatnya Bang Enggano menarik Hanin ke dalam pelukannya. "Maaf ya sayang, maaf kalau Abang menyakiti hatimu. Abang khilaf.. Abang tidak sengaja, sungguh tidak sengaja. Ucapnya merasa sangat bersalah pada Hanin. "Kalau soal Anggit, memang Abang tidak tau kalau Anggit adalah Abangmu, tapi coba kamu pahami.. tidak ada suami yang ikhlas istrinya berdekatan dengan pria lain. Jika Abang tau Anggit adalah Abangmu, jangankan bicara berdua.. tidur di mess nya juga Abang ijinkan atau Anggit tinggal di sini pun Abang nggak masalah."


Hanin menoleh pada Bang Anggit. "Bagaimana Bang, pura-pura nya sudah selesai apa belum?" Tanya Hanin dengan polosnya.


"Sudah selesai dari tadi Haniiiinn..!!" Jawab Bang Daluman.


"Tapi Hanin masih mau marah sama Bang Gano." Agaknya dirinya masih jengkel perkara kata cerai yang sempat terlontar dari mulut Bang Enggano.


Mama Harni duduk di kursi makan, hatinya terasa lega karena akhirnya masalah ini sudah clear dan selama ini beliau membiarkan saja Hanin bersama Bang Anggit karena sudah tau tanda tersebut di tubuh menantunya.


Papa Han juga membiarkan Hanin mengungkapkan perasaannya karena satu setengah bulan ini memang masa yang sangat melelahkan untuk Hanin.


Kini seluruh mata tertuju pada Bang Enggano. Suami Hanin itu memilih diam dan pasrah menerima kemarahan sang istri.


"Hanin sempat kecewa dengan Abang. Setelah Abang sadar dan tau keadaan Abang, Abang malah memilih memaki dan memusuhi Hanin padahal setiap hari selama satu bulan lebih Abang tidak sadar, Hanin selalu menunggu Abang sadar apapun keadaan Abang nanti." Saat ini Hanin sungguh mengungkapkan perasaannya yang paling dalam.


Bang Enggano mengangguk mengerti, posisinya sudah bagai anak yang sedang di marahi ibunya.


"Jika kejadian ini menimpa Hanin.. Hanin lumpuh dan tak bisa layani Abang, apakah Abang akan mencari pengganti Hanin dan meninggalkan Hanin???"


Pertanyaan tersebut begitu memukul perasaan Bang Enggano. Hatinya terasa sangat sakit. Dirinya yang begitu mencintai Hanin tidak akan meninggalkan bagaimana pun keadaan sang istri.


"Hal itu tidak akan terjadi dek. Abang mencintai apa adanya dirimu. Apapun keadaanmu, Abang akan selalu mencintaimu." Jawab Bang Enggano.


"Lalu kenapa Abang mengusir Hanin pergi jauh??? Hanin dan dedek sedih dengar Abang bicara begitu." Kata Hanin.


Hanin yang polos terisak sedih mengungkapkan isi hatinya.


"Ya Allah dek. Maafin Abang ya, Abang janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Abang janji akan terbuka dan jujur tentang apapun yang Abang rasakan."


"Kalau begitu Abang harus cap jempol dan pakai baterai. Kalau Abang ingkar, Hanin tuntut Abang ke kantor pos..!!" Ucap lantang Hanin mulai mengancam.


"Materai sayang. Kalau Abang salah lapor ke kantor polisi, atau kantor PM.. bukan ke kantor pos." Kata Bang Enggano membetulkan ucapan Hanin yang salah.


Bang Enggano sempat melirik ke arah kawan-kawannya. Ia tau pasti mereka yang telah mengajari Hanin banyak hal selama dirinya belum sadar.


"Abang menyalahkan Hanin???" Jelas sekali watak perempuan pada diri Hanin sudah mulai terlihat.


"Nggak.. Hanin nggak salah kok. Elfri yang salah."


"Siap salah Dan." Jawab Prada Elfri pasrah meskipun harus di salahkan.


"Oohh.. Hanin kira Hanin yang salah."


.


.


.


.