
Pagi hari Hanin terbangun dari tidurnya, ia melihat posisinya sedang tidur memeluk erat tubuh Bang Enggano tapi suaminya itu terlihat tidak menolaknya.
Tak lama Bang Enggano pun terbangun dari tidurnya. Hanin kembali memejamkan matanya.
Perlahan sekali Bang Enggano mengatur kepala Hanin agar bisa lebih nyaman dalam tidurnya.
"Abaaang.. perut Hanin sakiiiiit..!!" Gumam Hanin dalam tidurnya.
Bang Enggano tergerak, ia segera mengusap perut Hanin meskipun tanpa kata. Bibirnya mendekati wajah Hanin lalu menarik selimut.
cckkllkk..
Mendengar suara pintu terbuka, Bang Enggano segera menarik diri dan membuang selimut. Wajahnya terlihat datar saja meskipun sama sekali tidak bisa menutupi salah tingkah.
Bang Daluman pun bersikap biasa saja. Ia mengambil selimut yang sempat di buang sahabatnya dengan sengaja.
"Ada apa nih?" Tanya Bang Daluman pura-pura tidak tahu.
"Ada baunya Hanin. Aku malas." Jawab Bang Enggano.
"Laah.. bau istri sendiri ko' malas. Memangnya bau apa??" Pancing Bang Daluman. "Coba aku cek sendiri." Bang Daluman mendekatkan wajahnya pada wajah Hanin dan saat itu Bang Enggano langsung menyambar bantal yang sedang di tiduri Hanin.
buuugghhh..
Bang Enggano menghantam wajah Bang Daluman.
"Aawwhh.. Abaaang.. ada apa sih??" Hanin membuka matanya. Ia belaga menahan rasa sakit dan meremas pakaian Bang Enggano.
"Eehh.. cepat kau periksa pot. Aku nggak mau ada drama di kamarku..!!" Perintah Bang Enggano tapi kecemasan itu terlalu ketara di wajah tampannya.
Secepatnya Bang Daluman memeriksa keadaan Hanin. Ia berubah menjadi serius. Alisnya seolah bertaut menjadi satu.
"Ada apa?" Tanya Bang Enggano.
"Apa pedulimu??? Bukankah kamu tidak menginginkan Hanin lagi. Aku mau menikahkan Anggit dengan Hanin." Jawab Bang Daluman terkesan santai tapi penuh wibawa.
Bang Enggano sungguh kaget hingga matanya melotot. "Apaa?????"
"Kenapa?? Kau sendiri yang tidak mau dengan Hanin."
"Tapi kenapa kamu tidak bilang sama aku dulu????" Protes Bang Enggano.
"Kau mau jadi apa?? Wali nikah istrimu??" Bang Daluman kembali memeriksa keadaan Hanin. "Aku akan membawanya ke ruang rawatnya biar Anggit yang menjaga."
Ingin sekali Bang Enggano protes kembali tapi rasa gengsinya membuatnya terdiam.
...
Hati Bang Enggano terasa tersayat dan panas melihat Bang Anggit merangkul Hanin lalu mengusap perut Hanin. Kelakuan mereka sudah bagai suami istri saja.
"Dorong saya sampai tempat Anggit..!!" Perintah Bang Enggano pada Prada Elfri.
"Siap Danki..!!"
Prada Elfri segera mendorong kursi roda Bang Enggano hingga sampai taman tempat Bang Anggit dan Hanin duduk.
"Begini kelakuan kalian di belakang saya???? Kamu masih istri saya Hanin." Nada suara Bang Enggano sudah tidak terkontrol lagi.
Bang Anggit tak menjawab tapi rokok di tangannya semakin memancing amarah Kapten Enggano.
"Jauhkan rokokmu Git..!!!!" Bentak Bang Enggano sudah terbawa emosi.
"Jauh ko' Bang..!!" Jawab Bang Anggit.
Menghindari perdebatan dengan Bang Enggano, Bang Anggit pun menjauh dari Hanin dan melepas rangkulan tangannya.
"Kenapa kamu tidak tidur di kamar rawatmu?? Luka mu belum sehat khan?" Tanya Bang Enggano memastikan keadaan Hanin.
"Hanin mau main sama Bang Anggit." Jawab Hanin.
Dada Bang Enggano rasanya sesak karena Hanin memilih pria lain untuk menemaninya.
Bang Barito tersenyum menanggapi Hanin. "Ya sudah, biar Anggit menemanimu ya..!!"
"Apa-apaan kau ini?????? Apa kau sengaja lupa kalau Hanin adalah istriku????" Tegur Bang Enggano.
"Aku ingat, tapi kamu yang tidak mau dengan Hanin. Sekarang biarkan Hanin bahagia menjalani hidupnya. Kau cukup mendo'akan yang terbaik untuk mereka." Kata Bang Barito.
Ingin rasanya Bang Enggano bangkit dan menghajar sahabatnya itu tapi apalah daya, kakinya saja tidak mampu menopang tubuhnya sendiri.
Lebih kesal lagi saat melihat Bang Anggit mencolek gemas dagu Hanin.
"Cantiknyaaa.. Abang jadi terpesona." Goda Bang Anggit, seketika pipi Hanin memerah.. istri Kapten Enggano itu tersipu malu.
"Terserah kau saja..!!" Bang Enggano melirik Prada Elfri dan memintanya agar segera menjauh.
Prada Elfri pun membawa Dankinya menjauh. "Ijin Danki.. kita mau kemana?" Tanyanya pada Kapten Enggano.
"Bawa saya kesana..!! Disana ada pemandangan bukit..!!" Perintah Bang Enggano.
...
Cukup lama Bang Enggano berdiam diri, raut wajahnya terlihat murung dan seolah Kapten Enggano kehilangan semangat hidup.
Prada Elfri juga tidak berani bertanya apapun dan memilih duduk diam menemani Danki di sampingnya.
Bang Enggano mengusap wajahnya kemudian bersandar pada sebatang pohon di belakangnya.
"Kenapa hati saya masih egois, berat melepaskan Hanin padahal saya tau Hanin tidak akan bahagia lahir batin hidup dengan saya. Hanin berhak bahagia." Ucap Bang Enggano membuka percakapan.
"Tapi Danki juga tidak pernah bertanya pada Ibu Hanin apakah Ibu Hanin bahagia tanpa Danki." Jawab Prada Elfri. "Tidak semua wanita mengartikan bahagia seperti pemikiran Danki. Banyak istri yang tulus ikhlas hidup dengan laki-laki pilihannya bagaimana pun keadaan nya."
"Tapi Anggit telah mengisi kekosongan hati Hanin. Saya juga melihat Hanin bahagia bersama Anggit."
"Itu benar Dan.. saya juga melihatnya. Lalu apakah Danki menyerah dan ingin bersama Ibu Hanin kembali??" Tanya Prada Elfri.
Bang Enggano terdiam sejenak, ia meremas dadanya. "Tidak. Kamu tidak mengerti posisi saya dan lagi saya tidak tega melihat Hanin menderita."
"Jika nyawa saja bisa Danki korbankan demi menghalalkan seorang gadis yang cantik jelita, lalu saat ini apalah arti pengorbanan itu. Tidak kah tanggung jawab itu harus berjalan sampai akhir..!! Susah payah Danki mengajaknya melihat dunia baru, lalu sekarang Danki akan melepasnya begitu saja??" Jawab Prada Elfri.
"Saya bisa apa Elfri, kamu lihat keadaan saya..!! Menjadi dankimu saja saya tidak pantas apalagi bersanding dengan mutiara rimba. Perhatian saja tidak cukup untuk membangun rumah tangga. Hidup saya hanya beban semua orang, Biar saya mengalah..!!!!"
Prada Elfri memeluk Bang Enggano lalu mengusap punggungnya. Dankinya itu menangis sejadi-jadinya karena merasa begitu putus asa. "Istighfar Danki, yang kuat, yang tegar..!! Dunia tidak akan patah karena kaki tidak mampu berjalan tapi dunia akan runtuh tanpa adanya perjuangan. Danki ikut terapy ya..!! Saya akan temani Danki..!!" Bujuk Prada Elfri yang mengutip salah satu nasihat Dankinya itu.
Terlihat Bang Enggano bersandar lemas, nafasnya sudah lebih pendek. Pandangan matanya nyaris hilang. "Bagi yang sudah menikah, anak istri adalah semangat hidupmu.." Prada Elfri kembali mengutip kata-kata Dankinya.
"Haniiinn..!!" Ucapnya lirih mengingat bayang Hanin tak berhenti mengusik relung hati.
.
.
.
.