
Setelah pesta pernikahan telah usai dan para tamu serta kerabat dekat telah pulang kini tinggallah Ranum dan Wijaya berada dalam satu rumah bersama dengan orang tua Ranum.
Mereka membicarakan hal penting terkait tempat tinggal setelah mereka menikah.
" Saya berniat dan berharap sekali kalau Ranum tinggal di rumah saya " Pinta Wijaya
" Baiklah kalau begitu " Pak Wijaya pun menyetujuinya
Ranum dan ibunya yang mendengar serta melihat mereka saling berpandangan satu sama lain dan saling menggenggam erat tangan mereka.
" Ranum, segera kemasi barang-barang mu, sekiranya itu perlu " perintah Pak Danuarta
" Tidak usah terlalu banyak, saya sudah menyiapkan segala barang-barang keperluan Ranum dirumah " sanggah Wijaya
Ranum yang mendengar Wijaya berujar seperti itu membalas dengan lirikan sinisnya, ia tak tahu mengapa Wijaya harus repot-repot menyiapkan segala keperluan bagi dirinya.
Segera Ranum memasuki kamar untuk segera mengemasi barang-barang miliknya dan memasukkan kedalam koper.
Setelah semua dirasa cukup dan tidak ada yang tertinggal barulah Ranum menyeret kopernya dan menuju dimana orang tuanya dan Wijaya berada.
" Saya pamit dulu " salam untuk mohon pamit kepada orang tua Ranum.
" Num, jaga diri baik-baik disana ya nak, jangan lupa ibuk " Bu Rianti menangis terharu sambil memeluk tubuh Ranum.
" Iya bu, Ranum akan jaga diri disana ibu baik-baik dirumah jaga kesehatan, jangan banyak pikiran, Ranum sayang ibu "
Mereka berdua saling berpelukan dalam tangis masing-masing, Pak Danuarta yang melihat hal itu merasa jengah.
" Sudah, sudah Ranum itu sudah besar. Ga perlu lagi diperlakukan seperti anak kecil lagi. Lagian sudah ada suaminya yang bertanggung jawab "
" Apalagi sudah ditunggu Wijaya "
Ranum dan ibunya yang saling berpelukan, seketika melepaskan pelukannya setelah mendengar ucapan dari pak Danuarta.
" Sudah dulu ya bu, Ranum pamit dulu "
Kini Ranum dan Wijaya berjalan beriringan menuju mobil yang akan mengantarkan mereka berdua ke rumah Wijaya.
Sambil sesekali Ranum menoleh ke arah belakang melihat ibunya menangisi kepergian dirinya dari rumah dimana ia dibesarkan.
Dalam perjalanan pulang menuju rumah Wijaya yang lumayan jauh, Wijaya sambil menyetir mobil sesekali melirik ke arah Ranum yang duduk termangu serta memandang kosong jalanan lewat kaca mobil.
" Ekhemm.... "
Namun Ranum masih tetap bergeming.
" Mau makan apa? Nanti bisa mampir ke restoran terdekat "
" Nggak usah, gaperlu saya gak lapar " timpal Ranum dengan wajah malasnya.
Wijaya yang mengetahui sikap Ranum seperti itu, segera ia berinisiatif menelepon untuk memberitahu asisten rumahnya agar memasakkan beberapa masakan untuk dirinya dan Ranum.
Entah apa yang akan ia lakukan malam ini bersama Ranum, malam pertama mungkin? apakah Ranum sudah siap memberikan mahkota kesuciannya untuk dirinya? Ah, tidak tidak ia tidak mau gegabah malam ini biarlah sudah ia tahan niatnya.
Sesampainya di rumah Wijaya yang megah, Ranum masih saja diam seribu bahasa tak segera beranjak turun dari mobil.
Dengan segera Wijaya membukakan pintu mobilnya untuk Ranum.
Wijaya yang berinisiatif untuk membantunya turun dari mobil dengan mengulurkan tangannya untuk Ranum segera di tolak mentah-mentah oleh Ranum.
" Tidak perlu repot-repot saya bisa sendiri "
Wijaya yang ditolak secara mentah-mentah seketika diam kaku melihat Ranum turun dari mobil tanpa bantuan dari dirinya.
Tak berlangsung lama Wijaya segera menutup pintu mobil dan berjalan beriringan untuk memasuki rumah.
Yang saat itu juga disambut oleh asisten rumah tangganya.
" Pak Wijaya, makan malamnya sudah siap, sesuai perintah bapak, mari pak silahkan "
Mereka duduk di kursi makan, terlihat sudah di atas meja makan dihidangkan beberapa macam makanan lezat nan hangat, namun hal itu sama sekali tidak membuat Ranum bernafsu untuk memakannya.
Para pelayan yang mulai melayani Wijaya dan Ranum segera dihentikan tangannya ketika menyendok kan nasi ke dalam piring Ranum.
" Sudah segini saja cukup nasinya "
Wijaya yang melihat itu diam memperhatikan setiap sikap Ranum.
Mereka makan dalam keheningan, hanya dentingan alat makan yang menghiasi makan malam mereka. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka.
Setelah selesai makan malam saat akan beranjak dari tempat makan, Wijaya langsung memegang pergelangan tangan Ranum dengan cepat.
Ranum yang merasa risih, berusaha untuk melepaskan pergelangan tangannya yang di pegang erat-erat oleh Wijaya.
" Lepaskan tangan saya Pak Wijaya "
" Tunggu dulu, bersihkan badan kamu dikamar saya. Mandilah dengan air hangat. Baju-baju kamu sudah saya siapkan. Kamar saya ada diatas "
" Kenapa harus dikamar bapak? saya yakin dirumah ini banyak kamar mandi selain dikamar Anda "
" Stop Ranum, jangan buat saya semakin kesal malam ini. Turuti semua perintah saya, karena saya sekarang sudah menjadi suamimu "
Ranum yang mendengarkan perkataan Wijaya langsung melepaskan cekalan tangannya oleh Wijaya dan mencebiknya.
Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, rupanya Ranum sedang mandi di bawah naungan shower.
Wijaya yang mengetahui hal tersebut, segera membuka kenop pintu kamar mandi secara perlahan. Mata Wijaya yang terhipnotis saat itu juga tak sengaja melihat siluet tubuh polos Ranum dari kaca buram kamar mandi. Wijaya terpaku beberapa saat, namun tak lama ia menyadari hal tersebut dan segera beranjak dan meninggalkan Ranum sendiri dalam kamar mandi.
Ia memutuskan untuk mandi di kamar mandi yang berada di lantai bawah saja, biarlah Ranum mandi di kamarnya.
***
Saat semuanya sudah dirasa bersih dan sudah berpakaian santai Wijaya memasuki kamarnya dan duduk di kasurnya, nampaknya Ranum belum selesai dengan ritual mandinya.
Tak berselang lama ia menunggu dengan memainkan ponselnya, keluarlah Ranum dari balik pintu kamar mandi.
Siapa yang tidak menyangka, Ranum yang memakai dress tipis selutut berwarna hitam tanpa lengan telah membuat aliran darah Wijaya memanas ketika melihatnya.
Ranum yang sadar akan perhatian Wijaya yang melihat dirinya, ia enggan untuk merespon lebih jauh bahkan sama sekali tidak ada niat untuk berbicara dengan Wijaya.
Segera Ranum, mendudukkan dirinya pada kursi riasnya dan mulai menyisir rambutnya.
Wijaya mempunyai niat untuk mendekati Ranum malam ini, dengan langkah perlahan tapi pasti ia sudah berada di belakang tubuh Ranum, dan segera mensejajarkan kepalanya dengan kepala Ranum dengan cara membungkukkan badannya.
Dengan perlahan jemarinya piawai mengelus pipi mulus Ranum.
" Malam ini kamu sudah menjadi milik saya, selamanya akan tetap milik saya "
Ranum yang merasakan risih segera menimpali perkataan Wijaya.
" Jangan harap untuk memiliki saya Pak " ucap Ranum dengan geram
" Saya akan menunggu kamu sampai akmu mencintai saya seutuhnya Ranum, sudah lama saya menginginkan kamu " bisik Wijaya dengan mesra di telinga Ranum.
" Ini sudah malam Num, sebaiknya kamu tidur "
Ranum yang mendengar perintah Wijaya langsung melirik kasur berukuran king size milik Wijaya.
" Tenang Num, saya gak akan melakukan apa-apa malam ini kamu bisa tidur dengan tenang "
Ranum seketika itu juga berdecih mendengar penuturan dari Wijaya.
Segera Wijaya beranjak dan langsung merebahkan tubuhnya diatas kasurnya tak lama ia mulai memejamkan matanya.
Tampaknya Wijaya sudah tidur lelap, tak henti-hentinya Ranum mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan kamarnya bersama Wijaya, ia tak mendapati sofa maupun kursi panjang untuk ia meletakkan tubuhnya yang penat malam ini.
Dengan sangat terpaksa ia harus tidur bersama dengan Wijaya.
" Ruangan kamar sebesar ini sama sekali gak ada kursinya, atau dengan sengaja Wijaya tak menaruhnya disini agar aku tidur bersamanya? "
Malam ini terasa begitu panjang bagi Ranum, dengan sangat terpaksa ia tidur disampingnya Wijaya. Ia memberikan jarak pada tubuh Wijaya dengan menaruh guling ditengah-tengah mereka berdua.
Dengan segera Ranum membalikkan badannya memunggungi tubuh Wijaya.