
Suara deru mesin mobil terdengar oleh Mbak Yuli, segera ia menyambut kedatangan Wijaya.
Setelah Wijaya turun dari mobilnya, barulah Mbak Yuli membantu membawa tas berisi berkas-berkas penting perihal pekerjaan Wijaya.
" Ibu sudah tidur? " Tanya Wijaya dengan diiringi langkahnya menuju kamar pribadinya.
" Su sudah pak, sudah makan malam juga. Kakinya sudah saya oleskan salep "
Mendengar hal itu Wijaya merasa senang.
" Bagus "
" Apa bapak perlu makan malam dulu atau saya siapkan air hangat? "
" Tidak perlu, saya langsung ke kamar "
" Baik, pak "
Setelah sampai dikamar, Wijaya melihat Ranum tengah tertidur pulas dengan selimut membungkus tubuhnya sampai sebatas lehernya.
Melihat istrinya tidur pulas, Wijaya merasa damai ia menghampiri Ranum perlahan dan mendaratkan kecupan manis di pucuk kepalanya.
Dengan mengusap pelan kening Ranum dengan ibu jarinya Wijaya bergumam.
" Kamu cantik Num "
" Apa masih sakit Num kakinya "
" Kalau masih pincang ya sakit "
Wijaya yang mendengarkan penuturan dari mulut Ranum hanya bisa mendengus pelan.
Sebegini kah sikap Ranum padanya, sampai-sampai ia tak mau membuka pintu hatinya sedikit untuk Wijaya.
" Bagaimana dengan luka di pelipis kamu Num? Sudah kering? "
" Untuk apa terus bertanya tentang keadaan yang sudah jelas-jelas tidak baik saja "
Ranum yang sudah tak tahan dengan pertanyaan memuakkan yang kerap keluar dari mulut Wijaya, dengan ia segera hengkang dari kamar dengan jalan yang masih tertatih.
" Tunggu, Num tunggu "
Wijaya dengan sigap mencekal lengan Ranum, niat hati ingin mencegah Ranum untuk meninggalkan kamar.
" Buat apa bapak memperdulikan keadaan saya, buat apa pak? Hah buat apa? . Buat apa bapak repot-repot menghubungi dokter untuk memeriksa saya ! "
" Num, dengarkan saya !. Tidak ada sedikitpun niat di hati saya untuk tidak memperdulikan keadaan kamu Num. Dengar itu "
" Cihh... dasar "
Mendengar penjelasan dari Wijaya, Ranum saat itu juga langsung berdecih. Sungguh manis nian mulut seorang Wijaya batinnya.
" Lepaskan tangan saya, saya bisa sendiri "
" Num, berhenti dengarkan penjelasan dari saya, Numm "
Ranum yang berlagak tuli dan tak menghiraukan perkataan Wijaya, segera ia keluar dari kamar.
Melihat itu Wijaya tampak merasa gusar, serumit inikah pernikahan keduanya bersama Ranum.
" Arrggghhh sial "
Wijaya menjambak rambutnya dengan frustasi.
Kini mau tidak mau ia harus menuruti perintah Ranum untuk membebaskan seluruh hutang-hutang orang padanya.
Jika tidak Ranum akan terus-menerus begini sikapnya kepada dirinya.
\*\*\*
Diruang makan.
" Loh, Nyonya ngapain kesini sendiri, bapak mana?. Kaki Nyonya masih sakit, atau ada perlu Nyonya bisa panggil saya saja "
" Eeeh, enggak Mbak saya bisa sendiri kok, udah mendingan juga "
Setelah menjawab pertanyaan dari Mbak Yuli, Ranum mendudukkan dirinya pada kursi makan, lalu ia menuangkan air kedalam gelasnya dan mulai menenggak air sedikit demi sedikit.
Saat menenggak air, Ranum tak sengaja melihat Wijaya turun dari tangga, rupanya ia akan bersantap pagi bersama dengan Ranum.
Entah mengapa Ranum merasa jengah saat melihat Wijaya berada tepat di depan matanya terlebih lagi dengan ucapannya. Persetan dengan semua itu.
Dalam suasana sepagi ini, terlihat diantara keduanya sama sekali tidak menunjukkan hubungan yang harmonis. Hal itu turut dirasakan oleh Mbak Yuli selaku asisten rumah tangga. Bagaimana tidak selama 24 jam ia bekerja bersama Wijaya dan Ranum, terlebih lagi sudah lama ia mengenal sosok Wijaya.
" Kemungkinan besar nanti saya akan pulang sore, Num "
Tampaknya Wijaya yang berusaha untuk mencairkan suasana diantara mereka, sama sekali tidak digubris oleh Ranum.
Hanya dentingan alat makan yang saling beradu mengiasi pagi mereka.
" Saya kira semua istri akan senang bila suaminya pulang sore, terlebih lagi tidak pulang larut malam "
" Biasa saja " singkat Ranum.
Ranum tidak ingin larut dalam perdebatan seperti dikamar tadi. Ia lebih memilih untuk mengalah dan meninggalkan Wijaya yang masih sibuk dengan santap paginya.
Ia lebih memilih untuk kembali ke kamar, untuk menenangkan emosi yang tengah mendominasi hatinya pagi ini.
Samar-samar terdengar suara nyaring dari kamar, rupanya telepon Ranum berdering menandakan bahwa ada seseorang yang menelepon dirinya.
Segera ia melihat, ternyata itu adalah ibunya.
" Iya Bu, ini Ranum. Ranum kangen banget sama ibu "
" Ibu juga kangen sama kamu Num. Gimana kabarnya disana, sehat kan? "
" Syukur Ranum sehat "
Saat itu juga Wijaya yang hendak memasuki kamar ia mendengar suara sayup-sayup orang sedang berbicara lewat telepon. Perlahan ia mengintip dari balik tembok kamar, ternyata Ranum sedang menelepon orang tuanya.
" Ranum sudah sarapan belum? "
" Sudah kok,Bu. Ibu gimana sudah sarapan? "
" Sudah, oiya ngomong-ngomong Wijaya memperlakukan kamu dengan baik kan Num? dia gak kasar ke kamu "
" Ee enggak kok Bu "
" Wijaya baik "
Wijaya yang sedari tadi menguping, terheran-heran mendengar Ranum berbicara seperti itu kepada orang tuanya.
Mengapa Ranum tidak mengadu saja perihal pertengkaran yang terjadi diantara mereka? Justru kebalikannya yaitu malah Ranum mengatakan baik-baik saja, seolah tidak terjadi apapun.
" Yasudah Num, disambung lain waktu lagi. Kamu yang baik-baik disana. Jaga kesehatan itu yang penting "
" Iya Bu pasti, Ranum tutup dulu teleponnya ya "
Tuutt... sambungan telepon telah terputus.
Ini adalah saat yang tepat bagi Wijaya untuk membicarakan perihal permasalahan diantara mereka. Termasuk ia akan mengulik alasan mengapa Ranum tidak mengadu saja kepada orang tuanya tentang masalah rumah tangganya.
Tak berselang lama Wijaya memasuki kamar.
" Lagi bicara dengan siapa kamu Num? "
Selidik Wijaya, padahal sebenarnya ia mengetahui semua percakapan tadi di telepon.
" Ibu " jawab singkat Ranum.
" Kenapa kamu tidak membeberkan bahwa ada permasalahan diantara kita Num, kepada ibu kamu? "
" Sudah gila ya, ini masalah rumah tangga. Apa pantas di umbar? "
" Saya kira kamu akan membuka kedok saya "
Ucapan Wijaya tersebut meluncur dari mulutnya secara entengnya, hal tersebut semakin memancing emosi Ranum yang kian memuncak.
" Kamu ! Kamu kira saya apa? Semudah itu? "
" Cukup sudah cukup, saya minta maaf kali ini. Bukan maksud saya untuk tidak memperdulikan keadaan kamu Num. Ini bukan yang saya mau, melihat kamu terluka seperti ini "
" Lalu apa ? "
" Begini, saya sudah membebaskan seluruh hutang-hutang mereka Num "
Ranum diam dan masih tetap bergeming serta tidak memberikan ekspresi wajah apapun.
" Saya harap ini awal yang baik bagi kita, khususnya kamu "
" Anda saja saya tidak "
" Sampai kapan kamu akan terus begini Num? "
" Sekarang sudah jam 8 sebaiknya pergi ke kantor atau akan telat "
" Untuk apa, saya adalah bosnya "
" Dasar "
" Oh iya Num, saya lupa. Ini kartu ATM untuk kamu. Itu sudah atas nama kamu juga. Kamu berhak menggunakannya "
" Yasudah saya pergi dulu "
Cupp....
Tiba-tiba Wijaya mengecup pipi kanan Ranum.
Sontak membuat Ranum menjadi diam kaku mendapatkan perlakuan seperti itu dipagi hari lebih-lebih dia sedang marah kepada Wijaya.
Entah haruskah ia memberontak atau senang.
Ranum merasakan dentuman jantung yang semakin bertalu-talu membuat gaduh rongga didalam dadanya.
Ranum masih setia diam melihat tingkah Wijaya terhadap dirinya. Sampai Wijaya berlalu meninggalkan dirinya didalam kamar Ranum masih tidak percaya entah ia harus bersikap apa kali ini.
Semakin ia terpaku semakin ia hanyut dalam ambiguitas untuk menilai dan menerima Wijaya dalam hidupnya.
Terlalu abstrak rumah tangga yang Ranum bangun bersama Wijaya. Ini baru permulaan saja, akhirnya? siapa yang akan tahu.