
" Iya Bu, saya siap bekerja dibawah tekanan. Saya berusaha untuk bekerja cepat dan rapi "
tegas Ranum pada pemilik rumah makan tempat ia bekerja sekarang.
" Bagus, kamu bisa kerja besok sore setelah pulang sekolah " jelas sang pemilik rumah makan.
" Baik Bu terima kasih banyak, saya pamit pulang dulu ".
Ranum undur diri untuk pulang ke rumah diikuti anggukan sang pemilik rumah makan.
Dalam perjalanan pulang tak henti-hentinya Ranum mengucapkan beribu-ribu syukur kepada Tuhan atas telah diterimanya ia bekerja.
Sepanjang perjalanan menuju rumah ia tak henti-hentinya juga mengulas senyum kecil, ia berharap semoga hasil dari ia bekerja dapat membantu mencukupi kebutuhan keluarganya.
" Syukur, kali ini aku diterima kerja bahkan ini pekerjaan pertama aku ". Batin Ranum dengan raut wajah bahagia.
Hari mulai petang, sang pemberi cahaya kehidupan di alam semesta pun ikut tenggelam digantikan perannya oleh sang gulita. Hiruk pikuk kota menumpahkan lautan manusia yang memenuhi jalanan, menandakan telah usainya kegiatan menyambung hidup di kala terang pagi.
Namun hal itu tidak berlaku bagi sebagian orang, ada diantara mereka mencari sesuap nasi di malam hari, Ranum salah satunya. Andai ia dapat memilih untuk hidup tidak seperti yang ia rasakan saat ini, pastilah ia tidak akan memilih.
Impiannya sederhana, memiliki keluarga kecil yang harmonis itu saja walaupun hidup serba kekurangan tak apalah. Kali ini benar-benar buruk bukan ia tak mau menerima hidup, keadaan yang semakin menghimpit ibu dan dirinya lah yang menjadi sebab asal muasal ia bekerja malam hari.
Gedubraak....
Gedubraak...
Suara hempasan tubuh ayah Ranum yang terhempas ke meja ruang tamu oleh dua orang serdadu penagih hutang.
" Kalo ga mampu bayar gausah banyak utang ngerti gak lo, miskin sok belagu " ucap sang serdadu lintah darat dengan kasar.
Kini sang raja lintah darat lah yang memberi ancaman agar pelunasan hutang segera terealisasikan, dengan langkah dingin perlahan-lahan mendekati ayah Ranum yang tersungkur pilu, sepatu kulitnya kini kian dekat di wajah ayah Ranum.
Sambil memegang rahang dengan keras sang raja lintah darat pun memberi ancaman dengan dua pilihan.
" Lo mau kan, utang Lo terbayar dengan lunas hmm? Jawab !!! "
" Mmmau mau... " Ucap ayah Ranum dengan terbata bata saking takutnya.
" Gue kasih dua pilihan, pertama kalo lo gabisa bayar dalam tempo 1 bulan ini nyawa lo dan istri lo jadi bayarannya, kedua kalo lo gak mau pilihan pertama terjadi di hidup lo, serahin anak perawan lo " sambil tersenyum sinis sang raja lintah darat mulai melepaskan dengan kasar rahang ayah Ranum.
Ya ayah Ranum berhutang kepada lintah darat tersebut entah berapa banyak hutang yang ia tangguhkan, Wijaya namanya sang raja lintah darat tersebut pria yang berusia 35 tahun telah mengancam keluarganya. Jikalau tidak terbayarkan nyawa ia dan istrinya lah yang menjadi taruhan, atau jika tidak begitu sang putri semata wayangnya akan diberikan kepada Wijaya.
Dalam keheningan malam mereka bertiga, ayah Ranum dan ibunya beserta Ranum berkumpul di ruang tengah. Mereka menampakkan wajah masam serta gurat kekhawatiran.
Entah apa yang bisa mereka ucapkan malam ini, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka.
Dingin hubungan antara keluarga kecil itu, tidak ada keterbukaan dan komunikasi yang baik sejak keluarga itu dibangun.
Perlahan tapi pasti , Pak Danuarta mulai mengawali pembicaraan.
" Tadi ada debt kolektor kesini, menagih hutang. Dalam jangka waktu 1 bulan kalau bapak gak bisa bayar, bapak atau ibu yang mati, atau bisa dua-duanya. Atau kamu Num yang akan dinikahkan dengan Wijaya debt kolektor bapak "
Ujar Pak Danuarta yang sedari tadi menunjukkan wajah cemas dan kebingungan.
" Bapak udah gila ya pak, anak sendiri mau di jadikan sebagai pelunas hutang ke Wijaya. Bapak sadar gak sih, itu semua karena kelakuan bapak ga mungkin pak Wijaya datang ke rumah kalo bapak gak punya hutang " protes Bu Rianti dengan berurai air mata.
" Cukup bu, cukup... Bapak pusing dengernya. Mau gak mau Ranum kita nikahkan dengan Wijaya, hanya itu yang bisa bapak lakukan "
" Bapak udah gila, gila pak gila " teriak ibu Ranum
Pak Danuarta berlalu meninggalkan mereka berdua dalam tangis yang kian pilu.
" Ibu, ga pernah Sudi anak ibu dinikahkan dengan Wijaya Num, ibu gak sudi dunia akhirat ibu tidak akan merestui "
" Ibu, ibu yang tenang Ranum akan berusaha melunasi hutang bapak "
" 50 juta Num, 50 juta hutang bapakmu " jelas Bu Rianti kepada Ranum.
Seketika itu Ranum terkejut mendengar ucapan sang ibu, betapa besarnya hutang ayahnya kepada Wijaya hingga dirinya lah yang akan diserahkan sebagai pembayaran hutang.
" Ranum, Ranum janji bu akan melunasi hutang bapak " Yakin Ranum, meskipun begitu hati kecilnya tak pasti akan melunasi hutang bapaknya itu, gaji pertama Ranum tak akan pernah cukup untuk membayar hutang.
Malam telah larut meninggalkan mereka dalam isak tangis pilu dalam tidurnya. Ranum yang sedari tadi tak bisa memejamkan mata mulai menitikkan air kepiluan dari netranya, masa depannya lah yang menjadi taruhan sekarang.
Dipaksa menikah atau nyawa kedua orang tuanya yang menjadi taruhan.
Sebegini kah rumit hidupnya, ditekan oleh ayahnya yang tidak memberikan ruang kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri ia tak punya kuasa lagi sekarang seakan-akan hidupnya runtuh mendengar keputusan ayahnya. Satu hal yang pasti ibunya lah yang membela ia sekarang, ia menaruh harapan besar pada Tuhan semoga saja ini tidak terjadi seperti yang ia bayangkan malam ini.
Ranum terlelap dalam rintik air mata yang kian membasahi pipinya, deru angin malam yang menerbangkan mimpinya untuk menjadi apa yang ia cita-citakan kini mulai perlahan pupus.
Menjadi arsitek, adalah mimpinya sekaligus cita-cita yang ingin dicapainya, akan tetapi pernikahan yang tak ia inginkan sudah terbayang di pelupuk matanya.
ia tak punya kuasa lagi sekarang seakan-akan hidupnya runtuh mendengar keputusan ayahnya. Satu hal yang pasti ibunya lah yang membela ia sekarang, ia menaruh harapan besar pada Tuhan semoga saja ini tidak terjadi seperti yang ia bayangkan malam ini.
Tuhan, andai saja ini tak terjadi di dalam hidupnya pastilah ia akan disibukkan dengan berbagai tugas menumpuk di meja belajarnya bukan mencari uang kesana kemari hingga larut malam menanti.
Andai saja ayahnya tidak sebegini pada keluarganya, termasuk ia dan ibunya pastilah akan menjadi keluarga yang harmonis.
Malang nian nasib Ranum.