
Ranum yang sudah terlelap dengan memunggungi tubuh Wijaya, secara perlahan Wijaya melihat Ranum tertidur dengan pulas, dengan gerakan perlahan jemari Wijaya menyelipkan helai rambut Ranum yang menghalangi wajahnya.
Melihat istrinya tidur terlelap dengan sangat cantik, Wijaya yang melihatnya tersenyum samar.
Tak lama ia segera tidur menyusul Ranum yang sudah terbuai dalam mimpi indahnya.
Sinar matahari yang menembus tirai kamar Wijaya membuat Ranum terbangun, ia mengerjapkan matanya berulang kali untuk menyesuaikan cahaya matahari yang menyilaukan matanya.
Ranum yang menyadari bahwa Wijaya sudah tidak ada berada disampingnya, melihat hal ini ia merasa cemas bukan karena ketidakadaan Wijaya disampingnya, melainkan apa yang telah Wijaya perbuat kepadanya malam kemarin.
Saat Ranum sibuk dengan pikirannya, terdengar suara berat yang segera menyadarkan Ranum.
" Saya gak ngapa-ngapain kamu, tenang saja "
Ternyata itu adalah suara milik Wijaya, ia baru saja keluar dari kamar mandi, tampak ia melilitkan handuk hanya sebatas pinggangnya.
Tubuh atletisnya yang nampak basah membuatnya terlihat semakin panas pagi hari ini.
Menyadari hal itu segera Ranum mengalihkan pandangannya.
" Kenapa? kok noleh ke arah luar? "
Merasa risih Ranum segera mencebiknya.
" Setiap hari kamu akan terbiasa dengan penampilan saya setiap pagi "
Ketika Wijaya hendak membuka lilitan handuknya, segera Ranum menutup matanya dengan selimut.
Melihat hal tersebut, memancing gelak tawa Wijaya.
" Hahaha Num... Num "
" Dasar laki-laki gatau malu "
" Saya gak sebodoh itu membuka handuk, apalagi didepan kamu pagi hari ini "
" Kalau malam sih, boleh saja, dan sah pula " ujar Wijaya dengan memicingkan matanya kepada Ranum
" Laki-laki gak waras " umpat Ranum dan segera berlalu ke kamar mandi dan meninggalkan Wijaya sendiri.
Tibalah saatnya mereka bersantap pagi, sudah terhidang beberapa lapis roti dan selai kacang yang lezat. Kali ini bukan asisten rumah tangga Wijaya yang melayani mereka, melainkan Ranum sendiri yang mulai hari ini melayani Wijaya.
Ia mulai mengoleskan selai kacang pada roti milik Wijaya, lamat-lamat mata Wijaya tertuju pada Ranum yang serius melayani santap paginya, dengan tangan yang lihai Ranum meletakkan roti lapis di atas piring Wijaya.
" Saya terbiasa makan 2 lapis roti dengan selai kacang di pagi hari "
Ranum yang mendengar penuturan Wijaya, langsung saat itu juga melihat piring Wijaya, ia tidak tahu kebiasaan Wijaya memakan 2 lapis roti, dengan segera ia menaruh satu lapis roti lagi diatas roti yang sudah ia sajikan sebelumnya.
Ketika tangan Ranum hendak mengambil roti untuk Wijaya, segera Wijaya memegang pergelangan tangan Ranum dengan lembut.
Dan menuntun tangan Ranum yang memegang roti untuk menaruhnya diatas piring Wijaya.
Hal manis yang tak terduga seperti itulah membuat Ranum tak dapat melawan perlakuan Wijaya, disaat Ranum mulai tersadar ia segera meneguk air putih yang sudah tersaji di depannya.
Dengan senyuman puas Wijaya bersorak kegirangan dalam hatinya, perlahan tapi pasti Ranum akan luluh kepadanya.
****
Ucap Wijaya kepada anak buahnya melalui sambungan telepon.
" Num, tolong antar saya keluar. Setiap pagi setelah sarapan, kamu wajib mengantarkan saya pergi bekerja "
Ranum yang menanggapi ucapan Wijaya, hanya berdehem kecil, seolah tak memperdulikan perkataan suaminya tersebut.
" Pak mobilnya sudah siap, bapak bisa berangkat sekarang " ucap anak buah Wijaya
" Oke saya berangkat sekarang "
Ranum yang sudah mengerti kemana ia selanjutnya dan tugas apa yang harus ia laksanakan, segeralah Ranum mengantar Wijaya menuju teras rumah.
Sesampainya di teras rumah, Wijaya yang melihat Ranum diam dengan cueknya, tiba-tiba saja Wijaya mengecup pipi mulus Ranum.
Cupp....
Suara kecupan manis terdengar jelas di telinga Ranum, sontak Ranum menoleh ke wajah Wijaya.
Dan blushh...
Pipi Ranum seketika memerah bak kepiting rebus setelah mendapatkan perlakuan tak terduga dari suaminya.
Hal tersebut memancing emosi Ranum, dengan mata melotot ke arah wajah Wijaya sontak membuat Wijaya menahan tawa.
Wijaya menang kali ini untuk meluluhkan hati wanita cantik itu.
Tak terima dengan perlakuan Wijaya, Ranum menghentakkan kakinya melangkah kembali kedalam rumah.
" Dasar, laki-laki gak waras, bisa-bisanya cium aku di depan anak buahnya. Gak tau malu " umpat kasar Ranum.
Segera ia mengalihkan pikirannya tentang Wijaya pagi ini.
Ia melihat piring berantakan dimeja makan bekas santap paginya bersama Wijaya.
Ketika hendak, membereskan meja makan, Ranum sudah dicegah duluan oleh asisten rumah tangga Wijaya.
" Nyoya, tidak perlu repot-repot membereskan meja makan, biar saya saja Nya "
" Nggak apa-apa kok, lagian saya nggak repot "
" Mari,.biar saya bantu "
Mereka membawa piring kedalam wastafel, dan saat Ranum hendak mencucinya sudah di cegah terlebih dahulu dengan asistennya
" Sudah, sudah biar saya saja,. Nyonya tunggu saja, itung-itung nemenin saya hehehe "
" Bisa ajah "
" Panggil saja saya Mbak Yuli Nya "
" Eee Iya Mbak Yuli "
" Omong-omong, bapak itu hebat ya usahanya ada dimana-mana, satu disana satunya disini "
" Maksudnya Mbak? "
" Iya Nya, bapak itu banyak usahanya "
Ranum yang mendengar penuturan dari Mbak Yuli, segera berlalu dan berpamitan menuju kamarnya.
Saat sudah berada dikamar, Ranum penasaran dengan isi ruangan ini, tampaknya seolah-olah ada sesuatu yang Wijaya simpan.
Tapi pikiran itu segera ia tepis jauh-jauh, ia berfikir bagaimana pun itu hak Wijaya menyimpan segala sesuatunya dikamar ini.
Ranum teringat dengan koper miliknya, ia belum menata baju-bajunya kedalam lemari. Sungguh sial malam kemarin, ia terpaksa memakai baju laknat didepan Wijaya, bagaimana tidak semua baju-bajunya dalam koper disinggahkan dilain tempat.
Segera Ranum membuka lemari dan menata baju-bajunya, saat hendak memasukkan baju ada sebuah benda yang menarik perhatian Ranum.
Sebuah kertas foto yang terselip di laci, dan tak secara beraturan keluar berantakan.
Sontak saja membuat tangan Ranum mengambil kertas foto tersebut. Didalam kertas foto tersebut menampakkan seorang pria gagah tinggi semampai dengan seorang wanita cantik dan anggun memakai busana pernikahan.
Ya, yang dilihat Ranum adalah Wijaya dengan seorang wanita, ia mempunyai prasangka bahwa wanita itu adalah istrinya.
Apa mungkin ia menjadi madu istrinya Wijaya?
" Apa Wijaya memiliki dua orang istri? selain aku? "
ketika Ranum membalikkan kertas foto tersebut terdapat tulisan " in memoriam, my wife "
Ranum berfikir keras mengartikan tulisan tersebut.
" In memoriam my wife? apa jangan-jangan istri Wijaya meninggal "
" sepertinya foto ini sudah lama, biarkan saja aku taruh di dalam sini. Takutnya malah aku yang sibuk mencari tahu siapa Wijaya "
" Eh, tapi tunggu-tunggu. Aku rasa ada benarnya juga mencari tahu siapa Wijaya yang sebenarnya. Tapi gak sekarang, belum tepat aku menanyakan semua ini ke Wijaya "