An Unexpected Marriage

An Unexpected Marriage
Sehari Menjadi Istrimu



Senja telah menampakkan dirinya diujung barat sana, para pelayan rumah sibuk dengan tugasnya masing-masing. Tak terkecuali Ranum, yang turut ikut membantu persiapan makan malam, walaupun ada pelayan rumah mulai sekarang Ranum yang menghandle kegiatan apa yang akan dilakukan.


" Mbak, tolong nanti kalau sudah matang ayam gorengnya taruh disini saja ya, oh ya buahnya juga jangan lupa ya " perintah Ranum dengan santun.


Ranum yang hendak menaiki tangga, melihat Mbak Yuli membawakan pakaian Wijaya segera ia cegah.


" Mbak Yuli, biar saya saja yang bawakan ke kamar "


" Biar saya saja Nya, nanti malah ngerepotin nyonya "


" Enggak Mbak, kebetulan saya mau ke kamar juga kok "


" Iya sudah Nya, ini bajunya maaf saya malah jadi ngerepotin nyonya "


Ranum menjawab dengan gelengan kepala serta senyuman kepada Mbak Yuli.


Ranum melangkah menaiki tangga dengan menenteng tumpukan baju ditangannya.


Ranum membuka kenop pintu dan segera masuk kedalam kamar, ia mulai membuka lemari baju dan mulai menatanya.


Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil, dengan tergesa-gesa ia membuka tirai kamar dan melihat siapa yang datang.


Ternyata Wijaya, ia terlihat keluar dari dalam mobil. Rupanya pria tersebut sudah pulang dari kegiatannya bekerja.


Tapi Ranum tak menghiraukan kepulangan Wijaya, ia masih tetap dengan kegiatannya yaitu menata baju di lemari.


Bahkan ia tak tahu kegiatan apa yang akan ia lakukan dirumah ini, hampir semuanya dilakukan oleh asisten rumah tangga.


" Dimana ibu? " tanya Wijaya,



" Ada diatas pak " jawab Mbak Yuli



Ibu yang dimaksud Wijaya adalah Ranum, ya ia sekarang menjadi Nyonya Wijaya, lebih tepatnya Nyonya muda dirumah ini.



Dengan langkah kakinya yang lebar, segera Wijaya menemui Ranum yang sudah berada di kamarnya.


Saat ia sampai di depan pintu kamar, ia mulai membuka kenop pintu secara perlahan, dan melangkahkan kakinya masuk.



" Num... " panggilnya dengan suara prianya dengan berat.



" Hmm " jawab Ranum dengan cuek.



" Kamu lagi apa, Num? "



" Gak lihat, saya lagi ngapain? "



" Saya sudah menyiapkan pelayanan dirumah ini, kenapa kamu masih repot-repot mengurus kamar saya? "



Ranum bergeming dan tak menjawab pertanyaan dari Wijaya.



" Cepat makan, Mbak Yuli sudah menyiapkan makan malam buat bapak "



" Saya akan makan malam dengan kamu Num "



" Terserah "



Ranum yang masih dingin akan sikapnya kepada Wijaya lebih memilih untuk keluar dari kamar, ia merasa tidak betah bila tetap berada didalam bersama Wijaya.



Ia tahu bila Wijaya, akan menunaikan ritualnya setiap sehabis pulang kerja, yaitu mandi.


Ranum enggan melihat Wijaya bertelanjang dada didepannya, itu sangat membuatnya merasa risih lebih baik ia segera keluar dan menunggu Wijaya dibawah.


\*\*\*\*



Setelah kurang lebih 10 menit menunggu akhirnya Wijaya turun dari lantai atas, dengan memakai pakaian santainya.



Wijaya segera duduk didekat ranum, dan melihat Ranum sibuk menuangkan nasi kedalam piringnya beserta sayur dan lauk pauk.


Seketika Wijaya terkesima dengan perlakuan Ranum kepadanya.



" Cepat makan pak, atau bapak akan lapar sepanjang malam bila hanya melihat saya terus-terusan seperti ini "




Disaat Wijaya melahap makanan yang sudah masuk kedalam mulutnya, Wijaya berbicara kepada Ranum.



" Makanan ini enak, lebih enak lagi kalau kamu yang memasak dengan tanganmu sendiri, lebih-lebih lagi untuk saya "



Mendengar ucapan Wijaya, Ranum hanya melirik sekilas ke arah wajah Wijaya.


Entah mengapa Ranum enggan untuk merespon pembicaraan Wijaya, ia masih kesal dan marah kepada Wijaya dengan perlakuan semena-mena terhadap dirinya.



Didalam kamar...


Ranum duduk dengan manis didepan meja riasnya, terlihat sedang sibuk membersihkan wajahnya dengan kapas dan cairan pembersih.


Lampu yang redup berwarna kuning hangat, menambah kesan romantis dalam kamar.


Wijaya datang menghampiri Ranum, nampaknya Ranum masih saja cuek bebek terhadap dirinya.


Ia betah sekali untuk tidak berbicara, bahkan kalimat panjangnya hanya bisa dihitung dengan jari.


" Num "


Ranum masih setia dengan kegiatan membersihkan wajah.


" Saya mau bicara dengan kamu "


" Terkait pernikahan kita "


Ranah pembicaraan ini yang membuat Ranum muak mendengarnya dari mulut Wijaya.


" Apalagi? " Jawab Ranum dengan ketus.


" Belum puas bapak membuat saya menderita? "


Seketika itu juga Ranum bangkit dari kursi rias dan berdiri tegap didepan Wijaya.


Wijaya yang merasa tertantang melihat Ranum berada tepat didepannya, langsung membawa Ranum kedalam dekapannya dan membanting tubuh Ranum diatas tempat tidur dan menindihnya.


Dengan perlakuan Wijaya yang mendadak tiba-tiba membantingnya, secara refleks Ranum memekik kecil.


" Saya mau kamu melayani saya Num, seperti tadi pagi " Wijaya membisikkan kalimat itu ditelinga Ranum dengan nada setengah mendesah.


Mendengarkan perkataan Wijaya seperti itu membuat Ranum merasa geli dan risih.


Sontak Ranum memukul dada bidang Wijaya.


Bugh..bugh...


" Lepaskan saya pak, saya mau ke kamar mandi sekarang " ucap Ranum dengan penuh alasan kepada Wijaya.


" Saya tidak akan melepaskan kamu Num, sebelum kamu memanggil saya dengan sebutan Mas, saya ini masih muda. Apakah saya terlihat tua dimata kamu Num "


" Menyingkirlah Pak, ma maksud saya Mas. Cepat "


Mendengar hal itu ,sama sekali tidak membuat Wijaya melepaskan kungkungannya kepada Ranum, malah justru tambah merapatkan badannya.


" Apakah kamu siap malam ini bersama saya "


" Maksudnya " Ranum keheranan


" Memberikan hak saya "


Ranum yang mengerti maksud dari ucapan Wijaya, langsung membuang muka setelah sedari tadi menatap lekat wajah Wijaya.


" Maaf, saya tidak bisa memberinya malam ini "


Wijaya beringsut setelah mendengar ketidaksiapan Ranum malam ini.


" Saya tidak akan memaksamu malam ini Num "


Ranum segera membetulkan posisinya dan menarik selimut dan menutupi tubuhnya untuk segera pergi tidur.


Ada gurat kekecewaan diwajah Wijaya setelah mendapat penolakan dari Ranum.


Namun bohong bila Wijaya tak dapat menahan hasratnya kepada Ranum. Segera ia tahan dan membuang jauh-jauh bayangan malam nan indah bersama Ranum.


Ia tidur dalam bagiannya masing-masing, seperti malam kemarin hanya guling pembatas antara mereka berdua.


Malam ini sungguh terasa panjang bagi Wijaya, apa yang akan ia dapatkan haknya dari Ranum, malah ditolak secara mentah-mentah.


Namun ia tak boleh gegabah dalam mengambil tindakan, justru Ranum akan menjauh darinya.


Wijaya mencoba berdamai dengan kejadian tadi dan segera memejamkan matanya.


Ranum yang sedari tadi hanya berpura-pura tidur, lamat-lamat memerhatikan Wijaya yang telah tertidur pulas di belakangnya.


Dengan menolehkan kepalanya ke belakang, Ranum menitikkan air matanya, apakah ini rumah tangga yang sebenarnya ia sedang jalani bersama dengan Wijaya.


Membayangkan saja ia tak sanggup apa yang akan terjadi kedepannya. Rasa benci dan kekecewaan yang mendalam membuat dirinya kehilangan apa artinya itu cinta, terlebih cinta dalam pernikahan yang sama sekali tak pernah ia harapkan.


Bagaimana ia akan membuka hati untuk suaminya? sedangkan suaminya lah yang membuat dirinya merasakan kebencian yang teramat besar.


Bagi pasangan lain, malam ini adalah malam yang paling ditunggu-tunggu, tetapi tidak bagi Ranum dan Wijaya. Meraka saling sibuk dengan pikirannya masing-masing, dan dalam hasrat yang menggebu bagi Wijaya dan berbanding terbalik dengan Ranum yang lebih memilih untuk menolak ajakan Wijaya.


Malam semakin larut, seakan membuai pasangan yang terpaut usia jauh itu terlelap begitu dalam di alam bawah sadarnya masing-masing.