An Unexpected Marriage

An Unexpected Marriage
Apa Kabar Ranum ?



Ting....


Dering notifikasi pesan singkat dari seseorang muncul dilayar handphone Ranum.


Hal itu mengalihkan perhatian Ranum ketika sedang membaca buku.


" Siapa ya, coba aku cek dulu "


Seketika itu mata Ranum melotot melihat layar handphonenya. Siapa yang tidak menyangka pengirim pesan singkat tersebut adalah Yudha.


" Hai, Num apa kabar? Baik kan? "


Typing....


" Baik, apa kabarmu "


Tak berselang lama Yudha membalasnya.


" Baik, maaf mengganggu kamu Num "


" Hmm iya "


Saat sedang asyik bertukar kabar, tiba-tiba saja Wijaya masuk tampaknya ia sedang mencari sesuatu.


" Num, kamu lihat buku agenda tugas saya ada dimana "


Ranum terlonjak kaget, melihat Wijaya sedang kelimpungan mencari buku agenda tugasnya.


Terlebih lagi Ranum sedang membalas pesan dari Yudha.


" Eh eee ada di nakas dekat tempat tidur "


Percuma saja jika Ranum hanya berbicara memberi tahu dimana tempatnya, itu hanya membuat Wijaya semakin kebingungan. Dasar batinnya.


" Ini yang kamu cari kan? "


" Oh, iya terima kasih Num "


Wijaya yang melihat Ranum tak seperti biasanya, ia tampak menyembunyikan sesuatu. Langsung saja ia menatap kearah mata Ranum, tampak ia gugup, tapi Wijaya yakin Ranum bukan gugup karena dirinya.


" Kenapa kamu Num? "


" Enggak, gapapa "


" Aku mau mandi badanku gerah "


Ranum segera berkilah dan mengalihkan pembicaraan agar Wijaya tidak curiga terhadap dirinya, sebetulnya ia menjaga perasaan Wijaya terlebih lagi ia sudah menikah dengannya.


" Tunggu dulu "


Wijaya segera mencekal lengan Ranum.


" Apa lagi? "


" Saya mau ajak kamu makan malam diluar, nanti malam jam 7 "


" Ohh " jawab Ranum diikuti dengan anggukan.




Ranum sudah bersiap malam ini, ia tampak begitu cantik. Dengan dress hitam selutut yang membalut tubuh moleknya, serta anting perak bermata biru emerald yang menggantung di telinganya.


Cukup simpel dan terkesan mewah, tak banyak aksesoris yang ia pakai malam ini cukup anting saja itu pun sudah membuat Ranum sangat cantik malam ini.



" Sudah siap Nyonya Wijaya? "



Tiba-tiba saja Wijaya muncul di belakang Ranum, ia menghampiri Ranum yang tengah mematut diri didepan cerminannya.



" Hmmm? "



Terlihat tangannya yang memegang lembut kedua bahu Ranum yang tampak polos, dan mendekatkan wajahnya di telinga Ranum, merapatkan tubuhnya untuk mengikis jarak diantara keduanya.



" Kamu cantik sekali malam ini Num "



Bisik lembutnya di telinga Ranum. Gerakan tangannya yang lembut mengelus bahu jenjang Ranum dan turun di lengan Ranum yang putih bersih.



" Sudah siap? "



Jawab Ranum dengan anggukan, ia masih tetap diam menanggapi perlakuan Wijaya.



Segera mereka berlalu meninggalkan kamar , dan turun untuk menuju garasi mobil.



\*\*



Wijaya tampak fokus menyetir mobilnya, sesekali ia melihat sekilas wajah Ranum.


Ia heran entah sampai kapan Ranum berdiam diri, tak sesekali Ranum berbicara kepada dirinya.



Wijaya segera meraih tangan Ranum dan menciumnya, Ranum yang mendapat perlakuan seperti itu terbelalak kaget.



" Senyum dong Num, cemberut mulu dari tadi "



" Apaan sih "



" Num, Num "



Wijaya hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika mendengar jawaban cuek dari Ranum.



" Gak waras lama-lama ini orang " batin Ranum.



Akhirnya mereka berdua sampai di restoran fancy, Wijaya segera turun dan membukakan pintu mobilnya.


Ranum turun dengan menggenggam tangan Wijaya.


Terlihat mereka berdua tampak sebagai pasangan yang serasi.


Tapi siapa yang tahu, mereka kerap terlibat adu mulut setiap harinya.



Dengan langkah perlahan mereka memasuki tempat tersebut, memilih tempat duduk yang nyaman.


Dan waitress memberikan buku menu kepada mereka berdua.


Setelah memilih menu, Wijaya meminta untuk menuangkan dua gelas Champaign untuk dirinya dan Ranum.



" Cheers "



Wijaya dan Ranum bersulang untuk makan malam ini.


Mereka tampak menikmati suguhan makan malam yang lezat



" Kamu menikmatinya Num "



" Lumayan "



" Aku tahu kamu menikmatinya Num, kamu hanya sedang berpura-pura didepan saya "



Batin Wijaya dalam hati seraya menyunggingkan senyum tipisnya.



Tibalah saatnya mereka untuk meneruskan perjalanan mereka menuju pusat perbelanjaan.


Wijaya berniat untuk memberikan sesuatu untuk istrinya.



Saat mereka sampai di tempat parkir mobil Ranum bertanya kepada Wijaya.



" Kita ngapain kesini "



" Oh iya, saya hampir lupa untuk memberitahu kamu Num. Saya mau ajak kamu berbelanja, dan memberikan sesuatu untuk kamu "



" Ayo cepat turun "



\*\*\*



Wijaya memilih outlet perhiasan milik brand ternama untuk membelikan sebuah kalung untuk Ranum.



" Bagaimana cantik bukan? "



Wijaya mengalungkan kalung di leher jenjang Ranum, ia berdiri tepat di belakang tubuh Ranum sambil melihat Ranum dari pantulan cermin.



" Kamu suka? "



" Iya Pak " jawab Ranum



" Mas bukan pak " bisik lembutnya di telinga Ranum.



" Saya punya sesuatu lagi untuk kamu Num "



" Apa itu? " tanya Ranum kepada Wijaya dengan wajah penasaran.



Lalu Wijaya memegang sebuah kotak dan membukanya di hadapan Ranum.



Melihat benda tersebut Ranum kaget dan terbelalak melihatnya.


Betapa tidak terkejutnya Ranum melihat benda tersebut, ia seketika menegang dan pipinya bersemu merah. Benda tersebut adalah lingerie berwarna hitam.



" Apa maksudnya? "




" Keterlaluan " sungutnya didepan Wijaya.



" Sudah, sudah. Ayo kita pulang lagipula ini sudah malam "



Setelah semua urusan sudah selesai barulah mereka berdua pulang, dan berjalan beriringan tanpa menggandeng tangan.



Tiba-tiba saja...



Ada yang menarik tangan Ranum.



" Ehhh " Ranum terkaget.



" Yudha? kamu? "



Hal tersebut memancing emosi Wijaya, melihat tangan istrinya digenggam oleh pria lain selain dirinya.



" Siapa Anda, dan untuk apa memegang tangan istri saya. Lepaskan ! "



Setelah mendapat perkataan demikian dari Wijaya Yudha segera melepaskan genggaman tangannya kepada Ranum.



" Perkenalkan saya Yudha, teman Ranum "



Ucap Yudha dengan menatap ke arah wajah Ranum. Ranum yang masih terpaku masih setia melihat wajah Yudha dengan tatapan kerinduan.


Bagaimana tidak, dahulu ia sangat mencintai Yudha, namun sekarang ia sudah menjadi istri sah Wijaya mustahil baginya untuk memiliki Yudha.



Wijaya yang melihat Ranum dengan Yudha saling bertatapan membuat emosinya semakin memuncak.



" Ayo Num, kita pulang sekarang " titah Wijaya lalu menarik tangan Ranum dengan paksaan.



Saat Ranum dan Wijaya sudah berbalik badan, Yudha menghentikan langkah mereka.



" Tunggu, tunggu dulu "



" Apa lagi " sungut Wijaya.



" Saya ingin berbicara dengan Ranum sebentar saja saya mohon "



Wijaya maju selangkah tepat di depan wajah Yudha.



" Ada keperluan apa sebenarnya Anda kepada istri saya. Bukankah Anda hanya teman? "



" Ya saya hanya teman Ranum "



" Teman biasa atau teman dekat? "



Ucap Wijaya dengan melirik kearah ranum yang berada belakangnya. Terlihat Ranum merasa gusar dan gelisah.


Yudha nampak tergagap saat akan menjawab pertanyaan dari Wijaya.



" Saya tidak ada urusan dengan Anda "



" Ayo Num kita pulang sekarang "



Wijaya menggandeng tangan Ranum dan melangkah dengan cepat meninggalkan Yudha seorang diri dibelakang mereka.



Ada satu kalimat keluar dari mulut Yudha yang sontak saja membuat emosi Wijaya mencapai ubun-ubun kepala.



" Aku mencintaimu Num, masih seperti dulu "



Wijaya menghentikan langkahnya dan berbalik arah, dan dengan segera mencengkeram erat kerah baju Yudha dan memukul wajah Yudha.



Bughh... Bughh...



" Bicara sekali lagi !! "



" Cukup Wijaya cukup hentikan " teriak Ranum untuk melerai pertikaian antara Wijaya dan Yudha.



" Hentikan Wijaya "



Ranum menarik tubuh Wijaya dan menjauhkannya dari Yudha.


Melihat Yudha tersungkur di lantai dengan luka dan lebam di bagian wajahnya, Ranum segera menghampiri Yudha.



" Yudha, wajah kamu luka-luka. Aku obati ya " ucap Ranum dengan raut wajah sedihnya.



Wijaya yang dibakar api cemburu melihat Ranum memihak kepada Yudha, lagi-lagi ia menarik secara kasar lengan Ranum.



" Aku adalah suamimu Num, dan aku lebih berhak atasmu Ranum "



" Hentikan Wijaya, apa yang kamu lakukan itu menyakiti orang lain "



" Ranumm... " Teriak Yudha yang terlihat sudah jauh dimatanya.



Dengan segera ia menyuruh paksa Ranum memasuki mobilnya, mereka berdua larut dalam emosi masing-masing dan tidak ada pembicaraan yang mengantarkan mereka berdua pulang



\*\*\*



" Num, apa yang kamu perbuat bersama temanmu Yudha brengsek itu hah "



" Jangan menuduh saya serendah itu, saya tidak pernah melakukan apapun dibelakang kamu "



" Bohong "



Pertengkaran hebat terjadi dikamar mereka, terlebih lagi sebagai suami Wijaya merasa cemburu melihat Ranum dicintai oleh Yudha.



" Terserah apa mau mu, saya jujur tidak pernah berbuat nista dibelakang kamu "



" Num, tatap mata saya sekarang. Katakan sekarang juga bahwa kamu adalah istri saya "


ungkap Wijaya dengan mata merah seraya mencengkeram erat kedua bahu Ranum di atas kasur.



" Baik saya akan katakan sekarang juga " ucap Ranum dengan menantang.



" Cepat katakan sekarang " perintah Wijaya dengan napas yang memburu.



" Saya adalah istri anda wahai Wijaya Riyadi, istri Anda " ucap tegas Wijaya dengan mata menatap lurus kearah mata Wijaya.



Wijaya yang mendengarkan perkataan itu bersorak gembira dalam hatinya dan ia menang sekarang untuk memiliki Ranum seutuhnya.



Wijaya segera mendekati tubuh Ranum dengan tangan masih mencengkeram erat kedua bahu Ranum.


Ia menekan tubuh Ranum berada tepat dibawahnya.



Lalu dengan cepat ia mendekatkan wajahnya ke wajah Ranum, dan segera mendaratkan bibirnya tepat di bibir sensual Ranum.


Wijaya \*\*\*\*\*\*\*\*\*\* dengan kasar, dan napas yang terdengar kian memburu.



Awalnya Ranum memberontak mendapatkan perlakuan dari Wijaya. Perlahan ia turut larut dalam permainan panas Wijaya.



Wijaya yang tidak tinggal diam segera membuka kancing kemejanya, dan berganti mengarahkan tangan Ranum keatas.



Terdengar suara tersengal dari mereka, dan segera mencari udara untuk mengisi rongga paru-paru. Namun tidak lama bagi Wijaya untuk bergerilya di setiap inci tubuh Ranum.



Perlahan Wijaya menyusuri leher jenjang Ranum dan membuat perlakuan disana, tangannya yang tidak tinggal diam menyentuh kulit mulus Ranum.



Perlahan tapi pasti Wijaya telah sampai pada dada Ranum, ia melepaskan kaitan dress Ranum, kini tinggallah Ranum dengan tampilan setengah terbuka dihadapan Wijaya.



Wijaya terus gencar memberikan sensasi sentuhan kepada Ranum dan semakin merapatkan tubuhnya diatas Ranum.