An Unexpected Marriage

An Unexpected Marriage
Jatuh Sakit



Ketika Wijaya sudah keluar dari ruang sanitasinya, ia melihat istrinya tidur pulas dengan mata yang terlihat sembab.


Sungguh ia merasa menyesal malam ini, melihat Ranum seperti ini.


Ia tak mau mengganggunya, segera ia menaiki tempat tidur dan memejamkan mata menyusul Ranum yang terbuai mimpi.


***


Pukul 4 pagi....


" Ibu... "


" Jangan tinggalkan Ranum "


Wijaya yang semula tertidur, seketika membuka matanya di pagi buta seperti ini bukan tidak mungkin mendengar Ranum mengigau membuatnya kaget.


" Num, kamu kenapa "


Wijaya yang mencoba untuk membangunkan Ranum, tak membuahkan hasil. Ia mencoba menyentuh wajah Ranum, betapa kagetnya ia merasakan panas di telapak tangannya.


Rupanya Ranum demam, hal ini membuatnya merasa panik di pagi buta ini.


" Num, tunggu dulu saya ambilkan kompres untuk kamu "


Dengan tergopoh-gopoh Wijaya keluar dari kamar dan turun kebawah untuk mengambil air dingin.


Setelah sampai, ia mulai menaruh handuk kecil basah pada dahi Ranum.


Wijaya yang melihatnya semakin diliputi perasaan yang bersalah, ia merasa semua gara-gara dia. Ia segera memeriksa suhu tubuh Ranum dengan termometer, perlahan ia membuka mulut Ranum dan memasukkan termometer di bawah lidahnya.


Sembari menunggu, ia sesekali menempelkan telapak tangannya di atas dahi Ranum.


Panas sekali batinnya. Tak dipungkiri bahwa kejadian tadi malam membuat Ranum sakit begini.


Tak berselang lama termometer sudah berbunyi, segera Wijaya mengeceknya betapa kagetnya ia melihat suhu tubuh Ranum di atas suhu normal.


" Num.. bangun "


Tampak Wijaya menepuk pelan pipi Ranum, namun nihil tidak ada tanggapan sama sekali.


Dengan paniknya Wijaya menelepon dokter pribadinya untuk datang kerumahnya guna memeriksa Ranum.


" Dok, tolong ke rumah saya segera, ini urgent dok istri saya sedang sakit "


" Baik saya kesana sekarang "


Setelah mematikan sambungan telepon, Ranum masih saja mengigau. Hal tersebut sungguh membuat Wijaya panik.


" Bu.... Ranum, Ranum... "


" Numm bangun, bangun Num "


Wijaya menggoncangkan tubuh Ranum sesekali ia menepuk pipi Ranum.


Perlahan-lahan mata Ranum terbuka dengan sayu sambil menatap mata Wijaya.


" Num, syukur kamu sudah bangun "


" Dokter sedang perjalanan kesini "


" Badan saya sakit, tolong " ucap Ranum dengan memelas dengan berderai air mata.


" Iya Num, segera dokter datang " Wijaya berbicara menenangkan Ranum dengan menangkup kedua pipi Ranum.


15 menit berlalu dokter datang...


Bel rumah berbunyi...


Mbak Yuli bergegas membuka pintu rumah...


" Haduh, siapa ya pagi begini datang kerumah " gerutu Mbak Yuli


Sesaat setelah Mbak Yuli membuka pintu, ia terheran-heran mengapa dokter pribadinya Pak Wijaya datang kerumahnya sepagi ini.


" Loh dokter ada apa dok ? "


" Pak Wijaya meminta saya untuk datang kesini, istrinya sedang sakit sekarang "


" Yaa ampun, mari masuk masuk... "


Mbak Yuli mempersilahkan dokter pribadinya Wijaya untuk memasuki rumah, betapa kagetnya ia mendengar kabar sakitnya Ranum.


" Nyonya sakit apa yah, duh jadi gak enak begini perasaan "


***


" Sejak kapan istri Anda mengalami demam ? "


" Subuh tadi dok "


" Hmmm... Perlu diketahui pak ini gejala awal penyakit typus, tolong dengan sangat diperhatikan kesehatannya terutama pola makan dan makanan apa saja yang dikonsumsi "


Wijaya yang mendengarkan penuturan dokter terlihat cemas akan keadaan istrinya Ranum.


" Begini saja, saya akan berikan resep obat, dan beberapa suplemen tambahan untuk istri Anda. Dan satu lagi, jangan biarkan istri Anda stres itu sangat bisa mempengaruhi kesehatannya "


" Baik, dok terima kasih banyak "


" Sama-sama, saya permisi dulu "


***


" Loh dokter sudah mau pulang? "


" Iya Mbak saya permisi dulu "


" Iya iya dok "


Tak lama setelah itu terdengar suara Wijaya memanggil Mbak Yuli.


" Mbak... mbak Yuli "


" Iya Pak, bapak perlu apa ? "


" Tolong buatkan bubur mbak, untuk ibu "


" Maaf pak sebelumnya, Bu Ranum sakit apa ya ? "


Wijaya yang mendengar pertanyaan itu hanya bisa menghela napasnya.


Mbak Yuli dengan kagetnya segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


" Baik pak saya buatkan sekarang "


Melihat Mbak Yuli memenuhi perintahnya Wijaya langsung mengangguk dan meninggalkan Mbak Yuli, segera ia bergegas untuk pergi ke kamar menemui Ranum.


Saat setelah Wijaya memasuki kamar, ia melihat istrinya sudah terbangun dengan mata sayu.


Tergolek lemas dengan keringat dingin membasahi keningnya.


Ranum melirik ke arah Wijaya yang perlahan mendekati dirinya. Perlahan Wijaya duduk di kasur tepat disebelahnya dan mencondongkan dirinya kearah Ranum.


" Num maafkan saya semalam, saya tidak ada sedikitpun niat untuk menyakiti kamu " sesal Wijaya.


" Kalau kondisi tubuh kamu seperti ini terus sampai siang saya akan bawa kamu ke rumah sakit "


Ranum terdiam mendengar penuturan Wijaya, ia bingung harus apa sekarang menolak perintah Wijaya pun percuma tubuhnya sedang tidak baik-baik saja sekarang. Mau berkata apa ia tak ada kata-kata untuk dilontarkan dari mulutnya.


Sekarang hanyalah ia bisa mendengar ucapan Wijaya.


" Kepala kamu sakit Num ? "


Ranum mengangguk pasrah tanda ia mengiyakan apa yang ia rasakan sekarang.


" Sabar sebentar, mbak Yuli buatkan bubur untuk kamu "


***


Tok..tok..


" Buburnya sudah siap Pak "


Tampak Mbak Yuli sudah menyiapkan bubur di atas nampan, dengan semangkuk kecil suwiran ayam dan segelas air hangat untuk Ranum.


" Iya mbak, masuk "


Mbak Yuli masuk dan menaruh nampan di atas nakas dekat dengan Wijaya.


" Saya permisi Pak "


Setelah Mbak Yuli berlalu, mulailah Wijaya menyuapkan bubur ke mulut Ranum dengan penuh kasih sayang.


" Kamu makan dulu Num, perut kamu kosong saya ga mau sakit kamu tambah parah "


" Buka mulutnya "


Wijaya dengan telaten menyuapi Ranum, bagaimana tidak istrinya yang ia cintai sekarang ini sedang sakit terlebih lagi ia melakukan kesalahan sebelumnya kepada Ranum, yang membuat Ranum seperti ini.


Sepertinya Wijaya ingin menebus kesalahannya tadi malam kepada Ranum.


" Aaaa "


Mendengar perintah Wijaya, Ranum membuka mulutnya menerima suapan dari tangan Wijaya.


Tampak Ranum malu-malu, ini adalah suapan pertamanya.


" Aku mau muntah "


Hoekk....


" Num.. Num.. "


Ranum segera berlari menuju kamar mandi, terlihat ia sedang berada di wastafel memuntahkan bubur yang telah ia telan.


Wijaya yang panik segera menghampiri Ranum dan memijat tengkuk leher Ranum.


" Ayo Num, muntahkan terus gapapa "


hoekk... hoek...


" Sudah? "


Ranum menganggukkan kepalanya pertanda ia mengiyakan pertanyaan dari Wijaya.


" Lidah aku pahit, perutku tidak enak "


" Ayo ke kasur biar saya pijatkan punggung kamu "


Saat hendak menarik tangan Ranum, Wijaya berhenti seketika mendapati respon Ranum yang tak mau menerima ajakan pijatan dari Wijaya.


" Tenang saya janji, gak bakalan ngapa-ngapain kamu "


Dengan langkah ragu Ranum berjalan dengan Wijaya menuju kasur.


Ia didudukkan oleh Wijaya, sementara Wijaya berada di belakang punggung Ranum.


Perlahan Wijaya memijat tengkuk leher Ranum dengan telaten.


" Begini-begini saya pinter pijat loh Num "


Canda Wijaya untuk mencairkan suasana, namun hal tersebut tak mendapat respon dari Ranum.


" Kepalaku pusing, lebih baik aku tidur aja "


" Yasudah, tapi kamu harus isi perut dulu, jam 8 saya belikan kamu obat. Sementara kamu makan dulu jangan sampai perut kamu kosong Num "


" Tapi... "


" Biar saya suapkan "


Ranum pasrah melihat Wijaya bersikukuh untuk merawat dirinya.


" Habiskan ya Num, nanti saya suruh Mbak Yuli untuk buatkan sop ayam atau sop sapi untuk kamu Num "


" Tidak perlu repot-repot "


" Kenapa harus repot, kamu itu istri saya Num "


***


" Mbak, tolong buatkan sop ayam buat ibu, jangan lupa bubur polosnya "


" Baik pak, ada lagi ? "


" Tidak, tolong temani ibu dikamar saya mau nebus obat "