
Malam semakin larut, hanya terdengar dentingan jarum jam yang seakan tak pernah berhenti berputar. Wajahnya sedang terlihat kusut malam ini bagi seorang pria yang sedang menunggu istrinya terbaring di atas ranjang rumah sakit.
Gurat lelah di wajahnya serta rasa kantuk yang mulai menjalari tubuhnya.
Pun tak terkecuali istrinya, telah tertidur lelap sedari tadi akibat efek obat yang telah diberikan oleh dokter, tak luput dua selang penghidupan yang sedang membantunya agar segera pulih.
Ya Wijaya, ia lebih memilih untuk berada didekat Ranum tidur, duduk disebelahnya sedangkan ia tidur dengan posisi kepala tertunduk di ranjang istrinya.
Dengkuran halusnya terdengar sayup-sayup...
Tik....tik...tik...
Suara dentingan jarum jam berbunyi di keheningan malam.
Perlahan bola matanya bergerak aktif dan tak lama terbuka lalu menampilkan sepasang netra berwarna hitam jernih.
Ranum telah terbangun, entah berapa lama ia tertidur pulas. Ia segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Sepi batinnya.
Namun terdengar suara dengkuran halus dari seseorang yang ia kenal. Yaitu suaminya, Wijaya.
Ranum melirik ke samping tubuhnya, nampak Wijaya sedang tidur pulas dengan posisi kepala tertunduk diam.
Dalam hati kecilnya ia bertanya-tanya apakah ini suaminya? Yang selama ini telah ia kenal walaupun tak lama.
Ada desiran halus yang menjalari hati Ranum, sebuah perasaan yang tak biasa, yang ia rasakan sekarang. Namun ada perasaan yang berbeda saat ia dulu mencintai Yudha, cinta pertamanya.
Entah kenapa sekarang, ketika ia melihat Wijaya masih ada terbesit rasa benci yang tertanam di dasar hatinya. Perasaan itu beradu menjadi satu dengan rasa desiran halus yang tak biasa saat mendapatkan perlakuan manis dari suaminya itu.
" Saya memang membenci kamu Wijaya, memang membencimu. Entah kenapa setiap kali perlakuan manis mu menggoyahkan tiang kebencian saya terhadap dirimu " gumam Ranum didalam hatinya.
" Perasaan yang sungguh berbeda dari apa yang saya cintai kepada Yudha dahulu "
" Bukan maksud saya untuk menduakan, saya masih ada rasa dengan Yudha. Maafkan saya sungguh sangat keterlaluan. Tapi sekarang saya adalah istrimu, akan saya kubur dalam-dalam perasaan saya kepada Yudha "
Perlahan jemarinya menggapai kepala Wijaya, ia mulai menautkan antara rambut Wijaya dan jarinya satu sama lain.
Ranum menggenggam halus rambut Wijaya, lalu melepaskannya dan digantikan oleh usapan lembut.
" Bukan ini yang saya mau Tuhan, tolong kuatkan saya. Bukan juga saya memaksa, tapi tetapkan lah hati dan hidup.saya pada satu orang jika memang ia ditakdirkan untuk menjadi teman hidup saya. Jika tidak lepaskan saya dari hidupnya selama-lamanya " doa Ranum saat sedang membelai lembut rambut hitam Wijaya.
Tak dipungkiri bahwa Ranum mulai perlahan-lahan luluh hatinya. Kerasnya karang penghalang sedikit demi sedikit telah terkikis oleh perhatian dan cinta yang diberikan oleh Wijaya.
" Sulit untuk menerima kamu di hidup saya, maaf kalau saya terlalu banyak menolak kamu selama ini sekali lagi maafkan saya ".
" Bagaimana keputusannya nanti, saya tidak tahu pasti akan benar-benar mencintai kamu atau tidak. Saya takut jikalau harus berpura-pura untuk cinta sama kamu ".
" Terlalu banyak mimpi yang saya pendam karena kamu, karena pernikahan ini "
Setitik bulir bening meluncur bebas dari sudut netra Ranum. Baginya ini sungguh luar biasa menyakitkan, harus mencintai orang yang sama sekali tidak kita cintai.
Memuakkan memang jika harus terus menerus berbohong kepada pasangan terlebih kita berada dalam satu ranjang dan satu atap yang sama.
" Sebaiknya aku harus melupakan Yudha, sebelum terlambat. Ini demi kebaikan keluarga kita bersama. Ya itu lebih baik ".
" Maafkan saya belum bisa menjadi istri yang baik bagi kamu, saya terlalu ego memikirkan diri saya sendiri "
Ranum bermonolog sendiri dalam keheningan malam, dengan tangan yang tak lepas dari kepala Wijaya. Entah ia tak ada kekuatan untuk menyatakan perasaannya kepada Wijaya yang sesungguhnya.
" Sungguh ini sangat menyiksa batin saya " tangis Ranum.
Ranum tergugu dalam tangisnya, tak disadari hal itu memancing Wijaya untuk bangun dari tidurnya.
Dengan mata yang memerah akibat terlalu lama tidur, Wijaya dengan kagetnya melihat Ranum menangis tergugu sambil menutup wajahnya.
" Num, kamu kenapa nangis? ada yang sakit? atau perlu saya panggil kan dokter? " ucap Wijaya dengan panik sembari menangkup kedua pipi Ranum.
" Enggak, gak perlu saya baik-baik saja "
" Kenapa, mimpi buruk? "
" Tidak " kilah Ranum
Segera Wijaya mendekap tubuh Ranum erat-erat, guna menyalurkan ketenangan dalam diri Ranum.
Pelukan hangat untuk malam ini membuat Ranum sedikit lebih merasa tenang dari pada sebelumnya.
" Lapar? "
" Saya haus "
Wijaya segera melepaskan pelukannya dan memberikan segelas air putih untuk Ranum.
Ia mengangkat pundak Ranum dan meminumkan gelas yang berisikan air putih pada mulut Ranum.
Dengan telaten Wijaya merawat Ranum penuh kasih sayang.
" Sudah cukup "
" Mau ngemil Num? tadi Mbak Yuli bawa biskuit susu dari rumah "
" Boleh, saya mau satu saja "
" Ini Num " Wijaya memberikan satu keping biskuit kepada Ranum.
Langsung saja Ranum menggigit dan mengunyah biskuit tersebut dengan gemasnya. Lagi-lagi Wijaya menahan tawanya melihat Ranum bak anak kecil yang sedang kegirangan mendapat makanan kesukaannya.
" Kamu kenapa tidur disini, kan ada sofa. Nanti punggung mu sakit "
" Iya nanti saya pindah " jawab Wijaya.
" Yasudah saya mau tidur dulu " pungkas Ranum.
" Iya tidurlah "
Wijaya membenahi selimut Ranum sampai sebatas dadanya. Lalu memberikan sebuah hadiah kecil nan manis untuk Ranum.
Cuppp.....
Sebuah kecupan manis dari Wijaya, mendarat mulus tanpa ada aba-aba di kening Ranum.
Tanpa disadari hal itu sukses membuat Ranum panas dingin dibuatnya.
" Cepat sembuh Num "
Segera Wijaya mengambil selimut dari dalam tas dan merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Dengan lengan sebagai bantalan Wijaya segera menutup mata dan pergi tidur.
Hal itu tidak berlaku untuk Ranum yang masih saja setia terbelalak melihat Wijaya yang mana telah memberikan kecupan selamat tidur untuknya.
" Gila ini sungguh gila, diluar nalar. Bagaimana aku bisa mencintai Wijaya? " batinnya.
" Ranum, tolong gunakan sedikit akal sehat dan nalar mu. Jangan bodoh Num, ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Apakah kamu akan terus bergelut dengan keraguan dan kebohongan dalam hatimu? ".
" Benci mu mulai perlahan goyah, sedangkan mimpi dan angan-angan dirimu terlampau jauh di atas sana "
Ranum mulai resah untuk malam ini dan seterusnya bagaimana tidak, ia sedang dihadapkan oleh sebuah dilema, antara dimana ia sedang tidak mencintai Wijaya terlebih lagi ia harus berpura-pura dan kebencian bercampur menjadi satu dengan desiran yang diberikan oleh Wijaya kepada dirinya.
" Tuhan, kenapa kau ciptakan rasa yang sungguh begitu rumit didalam hati? "