
Suatu hal yang tidak mungkin untuk dimungkinkan sudah terjadi sekarang, entah rencana semesta yang mana membuat jalan takdir Ranum seperti ini.
Kelapangan hati serta keluasan cinta yang tumbuh bersemi di dalam hati, mungkin begitu adanya.
Tapi entah ada apa yang terjadi diantara keduanya, dulu saling membenci tapi sekarang?
"Num, mungkin kamu sedang tidak cinta saya sekarang. Tapi suatu hari saya bisa membuat kamu jatuh cinta kepada saya, meski awalnya dulu kamu tidak cinta. Jangan buang dulu perasaan saya tulus yang saya beri kepada kamu, simpan dulu mungkin suatu saat nanti kamu luluh karenanya" doa Wijaya dalam hati saat membelai mesra rambut Ranum dalam tidurnya.
*******
Pagi telah bersambut, Ranum menggeliat dalam selimutnya. Sudut matanya melirik ke arah samping, ternyata Wijaya ikut tidur bersamanya dalam satu ranjang.
Menyadari ada pergerakan disampingnya, perlahan Wijaya membuka mata.
Mereka saling berhadapan satu sama lain, pandangannya saling beradu.
Menatap bola mata hitam jernih milik Ranum membuat hati Wijaya terasa damai.
Begitupun sebaliknya, seulas senyum manis Wijaya membuat dunia Ranum terhenti seketika.
"Kamu cantik Num" singkat Wijaya.
Rona kemerahan terlihat jelas di pipi mulus Ranum akibat pujian Wijaya di pagi hari.
Tangan kokoh Wijaya meraih dagu Ranum, secara perlahan pandangan mereka saling berdekatan sekarang, mengikis jarak diantara keduanya.
Hembusan napas gugup dari Ranum kini Wijaya rasakan.
Perlahan tapi pasti, bibir Wijaya mulai mengecup bibir mungil Ranum, mencecap segala manisnya cinta yang ada, dentuman didalam dada semakin bertalu-talu menuntut perlakuan lebih atas ini.
Rangkulan erat dari Ranum seakan tak ingin kehilangan Wijaya menambah sentuhan jiwa dalam diri yang bergelora di pagi hari.
Tiba-tiba Wijaya seketika itu juga mendadak sadar akan perlakuannya, tak ingin membuat kekasihnya memburu dengan pertanyaan yang membuat tak enak hati, perlahan dia menghentikan cumbuannya kepada Ranum.
"Sarapan dulu Num, kamu pasti lapar, apalagi saya" elak Wijaya.
Ranum yang sedikit kebingungan, mencoba mencerna maksud perkataan Wijaya, apa dia enggan sekedar membelai dirinya?
Segera Ranum menepis pikirannya itu, mencoba untuk tetap berpikiran positif kepada Wijaya.
"Sepagi ini kamu mau sarapan?" tanya Ranum.
"Iya, saya ada jadwal pagi ini" jawab Wijaya.
******
"Hati-hati dirumah Num, kabari saya kalau kamu mau keluar rumah nanti. Biar sopir yang antar kamu pergi" pesan Wijaya kepada Ranum.
"Iya saya pasti kabari kamu, hati-hati juga dijalan" jelas Ranum.
"Saya pergi berangkat dulu Num"
Tiba-tiba Wijaya memajukan badannya dan mengecup kening Ranum.
Ranum seketika diam membatu, seluruh aliran darahnya membeku.
Mengapa harus pagi ini, dia diam tapi tak menolak. Melihat Wijaya semakin jauh pergi meninggalkan rumah setelah mengecup singkat keningnya membuat ia merasa sedikit kehilangan, ah memang Ranum terlalu berlebihan saja, bukankah ia akan bertemu dengan Wijaya nanti sore?
Perasaan yang kian bertalu-talu seakan menuntut kepastian untuk menerima Wijaya di dalam kehidupan Ranum.
Tak ingin berlarut-larut, segera ia masuk kedalam kamar.
Dalam diamnya ia menerawang jauh, sampai kapan dia begini?
Ia ingat pesan ibunya tentang penerimaan dalam hidup,
"Cobalah untuk berdamai dengan dirimu sendiri nak, belajarlah untuk bisa menerima apa yang terjadi. Mungkin kamu menyukai suatu hal padahal itu tidak baik untukmu, atau kamu membenci suatu hal tapi itu baik bagimu"
Pesan itu yang selalu terngiang-ngiang didalam pikiran Ranum.
Mungkin sudah saatnya ia mulai menerima Wijaya di dalam hidupnya.
"Mungkin sudah saatnya saya menerima kamu, meskipun awalnya juga saya yang menolak kehadiran kamu" ucap Ranum dalam hatinya.
Mengapa saat ia bersama Wijaya, perasaannya kian larut dalam permainan cinta Wijaya.
Apakah ini benar adanya? seperti kisah dalam novel cinta? semula benci jadi rindu?
Ranum yang mematung berdiri di jendela kamar, perlahan tersadar saat angin berembus mesra di wajahnya menyibakkan rambut hitam legamnya.
Angin yang membelai lembut wajahnya seperti Wijaya membelai dirinya.
"Hmmm..... Wijaya, saya sudah membuka hati untuk kamu, tolong jangan kecewakan hati saya.
Tuhan, jikalau benar memang Wijaya jodoh dan suratan takdir saya, bolehkah saya meminta luaskan hati saya untuk mencintai kelebihan dan kekurangannya, mencintai segala apa yang ada dalam dirinya.
Sungguh saya tidak sanggup kalau harus terus begini..." ucap Ranum dalam hatinya.
Bolehkah ia meminta lebih atas ini, atas perasaannya yang tak karuan saat bertemu Wijaya? cinta atau apakah ini?
Haruskah Ranum memastikan perasaannya?
Kini Ranum duduk termenung, tangannya meraih sebuah foto album pernikahannya diatas meja.
Perlahan tangan indahnya membuka lembar demi lembar halaman album.
Matanya tercekat pada salah satu foto dimana Wijaya sedang mencium keningnya untuk yang pertama kali.
Rahang tegas, ditambah sedikit cambang yang tak tercukur habis membuat kesan maskulin Wijaya.
Matanya perlahan berair, mengingat hari dimana ia diperistri oleh Wijaya.
"Kalau mungkin waktu berpihak kepada kita saat itu, mungkin tidak akan terjadi seperti ini.
Tapi bagaimanapun juga kamu suamiku, baik buruk mu aku bersedia terima" ikhlas Ranum.
"Mulai saat ini saya menerima kamu sebagai suamiku, saya akan berusaha mencintai kamu"
Tak terasa air mata Ranum lolos begitu saja dari mata indahnya.
Awalnya sulit bagi Ranum melakukan ini semua, tapi ia tak mau terjebak dalam situasi ini terus menerus.
Segera ia tutup album pernikahannya itu dan menyimpannya didalam lemarinya.
Biarlah jadi kenangan, batinnya berkata demikian.
Ia segera menghapus jejak air matanya, tak mau berlarut-larut dalam kesedihan yang tengah menderanya.
...****************...
Sang Surya telah pulang ke peraduannya, tangan cekatannya begitu terampil menggunakan alat masak, ya itu Ranum.
Melihat jam pukul 4 sore sudah saatnya ia mulai bersiap-siap memasak makan malam untuk Wijaya.
Sebenarnya Wijaya sudah melarangnya untuk memasak karena sudah ada asisten rumah tangga yang membantunya, tapi Ranum menolak jikalau untuk urusan dapur.
Biarlah ia yang melakukannya, terlebih lagi ia tak ada kesibukan yang berarti dirumah Wijaya.
"Semoga kamu suka masakan saya" ucap Ranum dalam hati dengan seulas senyum di bibir manisnya.
Ranum memasak beberapa macam lauk, dan satu menu sup kesukaan Wijaya.
Ia tampak senang sampai-sampai tak terasa ia menyeka peluh yang ada di keningnya.
"Nanti kamu pulang, hidangan ini sudah siap di meja makan".
Setelah semua kegiatan masak ia selesaikan tepat pukul 5 sore, ia mulai menata hidangannya dia atas meja makan.
Menyiapkan segala keperluan saat makan nanti seperti garpu, sendok, gelas, dll.
Seulas senyum terbit dari wajah lelahnya, kini terbayar sudah setelah semua masakannya selesai ia masak.
Kini saatnya ia mulai mandi dan bersiap menyambut Wijaya pulang.