An Unexpected Marriage

An Unexpected Marriage
Hentikan Itu Wijaya !



" Oke, saya segera kesana sekarang, tolong catat siapa saja yang berani untuk tidak membayar hutang-hutangnya kepada saya segera "


Ranum yang tiba-tiba lewat di depan kamarnya tidak sengaja menguping pembicaraan Wijaya.


Sejenak Ranum mencerna maksud dari ucapan Wijaya kepada anak buahnya tersebut.


Semakin lama pembicaraan Wijaya dengan anak buahnya semakin menjadi-jadi.


Ranum yang tak tahan mendengarnya langsung membuka pintu kamar.


Sontak saja hal itu membuat Wijaya terkejut bukan main.


" Oke saya tutup dulu teleponnya, kerjakan dengan hati-hati "


Setelah Wijaya menutup sambungan telepon, barulah Ranum angkat bicara.


" Stop hentikan itu, usahamu banyak selain menagih hutang kepada orang-orang "


" Diam Ranum, ini urusan saya, jangan sekali-kali kamu campuri pekerjaan saya "


" Apakah kamu tidak sadar? banyak korban dari pekerjaanmu Wijaya, termasuk saya sendiri "


Mereka larut dalam emosi yang memuncak, Wijaya yang tak terima bila pekerjaan memberi pinjaman uang yang sudah diwariskan oleh ayahnya harus di tinggalkan begitu saja. Sedangkan Ranum justru kebalikannya, ia tak terima bila orang-orang yang meminjam uang kepada Wijaya harus menderita layaknya dirinya.


Perlahan-lahan Wijaya melangkah kearah Ranum, hal itu membuat Ranum refleks memundurkan langkah tubuhnya.


Perlahan tapi pasti Ranum sudah berada di dinding tembok, ia tak bisa berlari keluar sedangkan didepan sudah dihadang suaminya yaitu Wijaya.


Semakin dekat dan semakin dekat, tubuh Wijaya dengan Ranum. Tubuh kekar Wijaya sengaja menempel pada tubuh bagian depan Ranum, namun salah satu tangannya memegang lengan Ranum.


" Tidak mudah Num, untuk membuat saya menuruti perintah kamu "


Ucap Wijaya dengan suara sensualnya namun terkesan lebih kejam.


" Ehhggh sakit lepaskan tangan saya, lepaskan "


Wijaya malah semakin merapatkan tubuhnya ,dan mempererat cekalannya pada tangan Ranum.


" Asal kamu tahu, saya tidak menganggap bahwa kamu adalah korban dari pekerjaan saya Num "


Dengan salah satu tangannya, jemari tegasnya mulai membelai mesra bibir basah Ranum.


Ranum yang mendapat perlakuan seperti itu sontak langsung membuang mukanya.


" Lihat saya Num,.saya mencintai kamu apa adanya. Lagi sudah lama saya ingin kamu menjadi milik saya "


" Tapi, perlu kamu ketahui. Saya ingatkan sekali lagi kamu bukanlah korban dari pekerjaan saya "


" Tapi apa? hah apa? " Jawab Ranum dengan mata nyalang.


" Tapi ayahmu lah, yang telah bermain-main dengan saya "


" Satu lagi Num, kamu sudah sah menjadi istri saya. Apakah kamu tidak mau menunaikan hak kamu kepada saya dan menuruti semua perintah saya"


" Tolong lepaskan semua hutang-hutang mereka Wijaya !! "


Seketika itu juga Wijaya melepaskan dekapannya dengan Ranum dan pergi meninggalkan Ranum begitu saja.


" Dasar laki-laki brengsek, bagaimana pun caranya, aku harus menghentikan langkah Wijaya kali ini "


Dengan setengah berlari, Ranum menyusul Wijaya yang akan pergi bekerja seperti biasa.


Saat Ranum berlari menuruni anak tangga terakhir tiba-tiba saja kaki Ranum terkilir dan tubuh Ranum jatuh ke lantai, dengan teriakan Ranum itulah sontak mengagetkan Wijaya.


" Aaaaakkkh... "


" Ranum... "


Wijaya berlari dengan cepat dan menghampiri Ranum yang jatuh tersungkur di lantai.


" Num, mana yang sakit "


" Pelipis kamu berdarah Num "


Dengan tangis sesenggukan Ranum menahan sakit pada kakinya.


" Kakiku "


" Aww sakit "


Lalu Wijaya menggendong Ranum ala bridal style menuju kamarnya.


Setelah mereka sampai, Wijaya membaringkan tubuh Ranum di atas kasur, dan segera menelepon dokter pribadinya.


" Halo, dok istri saya sedang sakit, tolong segera kerumah saya "


" Baik, segera saya kerumah bapak "


***


" Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sebetulnya pak, saya sudah memberi beberapa resep obat pereda nyeri untuk Anda tebus di apotek. Oiya lukanya tidak parah, dua hari sekali mohon diganti plester lukanya "


" Baik terima kasih "


Setelah dokter berlalu pergi meninggalkan mereka barulah perdebatan panas mewarnai seisi ruangan kamar tersebut.


" Jangan keras kepala Num "


" Yang keras kepala itu Anda Wahai Pak Wijaya "


" Saya tidak semudah itu melepaskan hutang mereka Num "


" Terserah saja, mau sampai kapan begini. Apakah tidak ada rasa iba sedikitpun di hati kamu, melihat mereka menderita hah? "


Perdebatan semakin lama semakin panas, sampailah pada akhirnya mereka berdua memutuskan sesuatu untuk mengakhiri semuanya.


" Apa yang akan kamu minta Wijaya, agar kamu melepaskan semua hutang-hutang mereka? Katakan sekarang! "


Tampaknya Wijaya mulai menimang-nimang sesuatu yang ada dalam pikirannya.


" Bagaimana, kalau saya ingin kamu menjadi istri saya seutuhnya "


" Maksud kamu apalagi, dengan menjadi istri seutuhnya? "


" Hmmmm "


Wijaya tersenyum tipis namun terkesan menginginkan sesuatu pada diri Ranum.


" Memberikan hak saya sebagai seorang suami "


" Apakah kamu tidak lihat kondisi saya seperti ini hah? "


" Saya akan tunggu sampai pemulihan kakimu benar-benar sembuh "


" Bagaimana juga, saya bisa melakukan malam pertama dengan kamu tanpa atas dasar cinta "


" Mudah bagi saya menaklukkan hati kamu Num, sangat mudah "


Ranum memberikan penawaran sekaligus sebagai jalan tengah agar masalah diantara mereka segera cepat selesai.


" Segera atasi hutang-hutang mereka, sekarang. Kamu boleh mendapatkan hak mu setelah aku sembuh, lebih-lebih kalau kamu berhasil membuat saya jatuh cinta. Bagaimana? "


" Penawaran bagus, tapi ingat Num. Saya tidak pernah main-main dengan perkataan saya "


Setelah berkata demikian, Wijaya langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar meninggalkan Ranum duduk termangu di atas pembaringan.




" Nya, Nyonya boleh saya masuk? Saya bawa makan malam buat nyonya "



Nampaknya Mbak Yuli dari balik pintu kamar membawa makan malam untuk Ranum.



" Boleh Mbak, silahkan masuk lagian nggak dikunci kok "



Ceklek...



Kenop pintu kamar dibuka oleh Mbak Yuli, ia membawa nampan berisi makanan beserta beberapa toples camilan kecil.



" Taruh ajah di nakas Mbak, terima kasih ya "



" Iya sama-sama Nya, oh iya saya hampir lupa. Ini waktunya kaki Nyonya di olesi salep "



" Ehmm, saya bisa sendiri kok Mbak, gapapa "



" Eh, Nyonya biar saya saja. Nyonya makan dulu biar saya yang ngolesi salep "



" Ttapi Mbak...."



" Udah biar saya saja "



Dengan rasa terpaksa Ranum menuruti perkataan Mbak Yuli, walau bagaimanapun juga Ranum merasakan lapar di perutnya, dengan segera menyuapkan makanan melalui mulutnya.


Mbak Yuli mengabarkan sesuatu kepada Ranum.



" Bapak nanti pulang agak telat Nya, jam 8 malam lebih katanya, makanya saya disuruh ke kamar Nyonya malam ini suruh temenin katanya gitu "



" Saya gatau Mbak malah kalau, Pak Wijaya pulang telat "



Syukurlah Wijaya pulang telat, setidaknya tidak ada drama yang terulang lagi malam ini, sungguh memuakkan.



" Nyonya kok bisa si kayak gini. Malah jatuh dari tangga " gerutu Mbak Yuli



Ranum yang sedang makan, hanya bisa tersenyum tipis mendengar Mbak Yuli menggerutu.



" Kan jadi bengkak begini, kasihan Nyonya jadi gabisa jalan malah pincang " tutur Mbak Yuli dengan wajah sedihnya.



" Udah gapapa, lagian ga seberapa parah, semingguan juga sembuh " bela Ranum



" Yaudah Mbak, saya mau istirahat dulu udah ngantuk banget, udah habis juga makannya "



" Iyadah Nya, Nyonya selamat istirahat. Saya pamit keluar dulu ya "



Ranum memberikan jawaban kepada Mbak Yuli dengan anggukan.


Segera ia benamkan tubuhnya dan menyelimuti seluruh tubuhnya.


Ia tak habis pikir dengan Wijaya, kenapa ia tak memberi tahu kalau Wijaya pulang telat malam ini. Terlebih lagi Wijaya sengaja berpesan kepada Mbak Yuli supaya menemani dan membawakan ia makanan.



Ck.. dasar pria aneh gumam Ranum