An Unexpected Marriage

An Unexpected Marriage
Tak Diduga



" Apa Num !!! "


Rani terkejut setengah tak percaya mendengar penjelasan dari Ranum.


" Memang benar begitu adanya, 1 bulan lagi aku akan menikah kalau tidak sanggup lagi membayar hutang ke pak Wijaya, aku gak tau lagi harus apa Ran melarikan diri pun percuma banyak serdadu bengisnya " dengan tatapan mata kosong Ranum menjelaskan apa yang mengganjal hatinya semalam suntuk.


" Apa gak bisa dinegosiasikan dulu Num "


" Nggak sepertinya Ran, mau dinegosiasikan bagaimana pun hutang terlanjur menumpuk "


" Terus gimana sekolah kamu harus ditinggal begitu saja Num, sayang Num olimpiade kurang 3 hari lagi " sesal Rani yang telah mendengar penjelasan Ranum.


" Gatau Ran, gatau lagi " jawab Ranum seadanya, ia tak tahu menahu kelak akan bagaimana nasibnya setelah diserahkan kepada Wijaya.


Entah nasib baik atau buruk yang akan menyambut di kehidupannya nanti.


" Sabar Num, sabar banyak berdoa aku percaya kamu bisa melewati ini semua " Rani yang memeluk Ranum pun tak kuasa menahan air matanya, mereka berdua berpelukan saling menguatkan hanya bisa menangis tergugu.


~~


Dalam perjalanan pulang Ranum hanya menatap kosong pada kaca bus, sesekali matanya terlihat berembun hendak meneteskan air mata layaknya diluar sana, hujan deras mengiringi perjalanan Ranum pulang menuju rumah.


Hiruk pikuk pengamen jalanan dalam bus sama sekali tak ia hiraukan, baginya sekarang hanyalah bagaimana ia melunasi hutang bapaknya.


Seorang kondektur bus berteriak mengumumkan daerah mana yang hendak dituju oleh penumpang, kebetulan itu daerah rumah Ranum segera mungkin Ranum turun dan membayar uang perjalanan. Sambil berlari kecil Ranum menutupi kepalanya dengan tangan menghalau air hujan membasahi tubuhnya.


Ia berhenti sejenak di depan warung, perutnya terasa perih ia mengingat bahwa sedari tadi pagi belum ada sesuatu yang mengganjal perutnya, tapi seakan dompet Ranum berteriak memanggil Ranum untuk tidak mampir ke warung untuk sekedar membeli sepiring nasi hangat.


Sambil memegang perutnya Ranum segera berlalu, tapi cerobohnya Ranum tak melihat siapa orang didepannya Ranum menabrak seseorang dalam langkah kakinya


Bruuk....


" Maaf... maaf saya tidak sengaja tolong maafkan saya " pinta Ranum.


Ternyata yang tidak sengaja di tabrak Ranum adalah seorang laki-laki yang membawa kantong plastik berisikan belanjaan.


Alhasil banyak barang bawaannya berceceran.


Ranum pun dengan sigap membantu memasukkan barang belanjaan laki-laki tersebut. Saling berjongkok tidak sengaja dua pasang mata tersebut saling bertatapan sejenak.


" Loh Ranum "


" Kamu "


Jawab mereka seakan tak percaya siapa yang berada di didepannya.


" Yudha ? Ngapain kamu disini? "


" Lah kamu ngapain disini? " Yudha bertanya balik kepada Ranum.


" Eee enggak ngapain kok, aku baru ajah turun dari bus "


" Oh, gitu... By the way kamu sudah makan? Kebetulan aku belum makan yuk mampir " sambil menunjuk warung nasi didekatnya Yudha berusaha menarik tangan Ranum untuk makan bersama dirinya.


" Enggak Yudha, aku mau pulang dulu " elak Ranum.


" Udah ah ayo, temenin aku makan "


Terpaksa Ranum mengikuti permintaan Yudha, sambil melangkah dengan tarikan tangan Yudha, Ranum mulai memasuki warung nasi tersebut. Mereka berdua mulai memesan makanan.


Sambil sesekali melirik kearah Yudha, Ranum yang sebenarnya menaruh hati Yudha sedari dulu hanya bisa memendam rasa, karena takut Yudha menjauh darinya. Pun demikian dengan Yudha hanya bisa memendam rasa juga tak berani mengutarakan isi hatinya kepada Ranum.


" Makan yang banyak ya Num biar cepet gede " canda Yudha yang mengacak rambut hitam Ranum.


" Ih... apaan sih Yudha " Ranum nampak kesal, tapi jauh di lubuk hati kecilnya ia sama sekali tidak pernah merasa risih ataupun kesal kepada Yudha, melainkan perhatian itulah benih-benih asmara mulai tumbuh dalam hatinya.


" Suatu hari nanti, aku pasti bakal mengutarakan perasaan aku ke kamu Num, sudah lama aku pendam " suara batin Yudha.



Ranum yang mulai bekerja hari ini mulai mengantar pesanan kepada para pengunjung rumah makan dengan sigap dan cekatan. Saat mengantar pesanan menuju meja nomor 12 Ranum dikejutkan dengan seorang pria.Tak lain tak bukan dia adalah seorang Wijaya sang raja debt kolektor.


Wijaya yang sengaja memakai topi hitam agar tak dikenali Ranum mulai mengenalkan dirinya secara terang-terangan.


Wijaya yang semula menunduk mulai menyapa Ranum penuh dengan ambisi untuk segera memiliki Ranum.



" Ranum..." Panggilnya dengan ramah namun terkesan menakutkan.



Ranum yang mulai menyadari gelagat tak menyenangkan saat meletakkan pesanan mulai melirik dengan sengit kearah Wijaya.



" Mau apa kamu kesini hah "



" Mau memastikan bahwa kamu baik-baik itu saja, selebihnya saya makan disini bersama wanita cantik seperti kamu Num ".


" Jangan macam-macam dengan saya pak " Ranum mulai merasa tak enak.



" Saya gak akan macam-macam dengan kamu Num, saya mau kamu jadi istri saya. Bagaimana mudah kan? " Tawar Wijaya kepada Ranum.



" Sampai kapanpun saya gak akan pernah menjadi istri anda " tegas Ranum dengan geram.



" Saya akan bayar hutang bapak saya, secepatnya "



" Oh begitu, baiklah waktu kamu tinggal 3 minggu dari sekarang. Saya akan lihat kemampuan kamu untuk membayar hutang senilai 50 juta rupiah kepada saya " ucap Wijaya dengan terkekeh mengejek kepada Ranum.



Ranum pun yang mulai dibakar api amarah yang seketika itu juga meninggalkan Wijaya dari mejanya dengan langkah cepat.


Ia tak percaya bahwa Wijaya benar-benar mengancam dirinya. Sungguh naas hidupnya dilingkari oleh Wijaya dan lilitan tali hutangnya.



Dalam keheningan malam Ranum melangkah pulang menuju rumahnya, langkah yang sudah mulai gontai, wajah lusuh menandakan bahwa penatnya hari yang telah dilaluinya. Penambahan jam belajar Ranum untuk mengikuti olimpiade antar sekolah serta pekerjaan melelahkan malam harinya. Semuanya dilakukan demi orang tuanya tapi ia tak dapat berbuat banyak malam ini apakah ia akan pasrah menerima keadaan yang nyata-nyata segera membelenggunya atau tidak.


Dinginnya angin malam seakan menusuk tulang Ranum, sesegera mungkin ia merapatkan jaketnya dan mempercepat langkah kakinya menuju rumah.


Pun sampai menuju rumah, Ranum disambut dengan hangat oleh ibunya sembari merangkul pundak ia mempersilahkan duduk kepada putrinya.


" Duduk dulu Num, ibu buatkan kamu teh anget ya "


Dengan mengangguk pertanda ia mengiyakan permintaan ibunya, badan yang terasa pegal mulai di renggangkan dengan gerakan kecil.


Selang tak beberapa lama kemudian akhirnya ibunya Ranum menyajikan teh hangat beserta makanan ringan kesukaan Ranum.


" Minum dulu Num selagi masih anget, ini ada camilan kesukaan kamu "


" Makasih ya Bu, Ranum minta maaf kalo ngerepotin ibu maaf juga kalau Ranum ada salah sama ibu " ujar Ranum dengan mata sendunya.


Ibu Ranum yang mengerti ranah pembicaraan akan menuju kemana, ia segera menghentikan Ranum dan mencari topik pembahasan yang lain terkait olimpiade Ranum.


" Eh, iya Num bentar lagi kan kamu ikut olimpiade nanti kalo masuk 3 besar ibu mau buatin kamu mie goreng spesial khusu buat kamu Num " dengan semangatnya ibu menjanjikan hadiah sederhana kepada Ranum, bukan barang mewah dan berharga melainkan mie goreng yang terbilang sederhana.


Dengan anggukan kepala Ranum ia mengiyakan janji ibunya, mereka berdua saling berpelukan dengan rasa kasih sayang ikatan batin antara ibu dan anak memang tidak dapat terelakkan, Bu Rianti yang merupakan ibu kandung Ranum tahu akan perasaan Ranum sekarang, dengan caranya sendiri ia berusaha membesarkan hati anak semata wayangnya itu.