An Unexpected Marriage

An Unexpected Marriage
Mahligai Yang Tak Diharapkan #2



Dengan langkah perlahan, dan lengan tangan yang di genggam oleh para bridesmaids Ranum berjalan beriringan menuju pelaminan, disana sudah ada Wijaya yang berdiri menunggu kedatangan Ranum.


Tibalah Ranum, didepan Wijaya dengan anggunnya. Sorot mata Wijaya tak henti-hentinya memandang Ranum, namun ada satu hal yang membuat Wijaya mengerutkan keningnya, yaitu Ranum yang sedari tadi berjalan menuju pelaminan masih setia menundukkan pandangannya.


Tibalah momen dimana pengantin saling memasangkan cincin kawin di jari manis.


Wijaya yang mulai meraih tangan Ranum seketika itu juga pandangan mereka beradu menjadi satu, saling memandang satu sama lain.


Ranum yang melihat Wijaya dengan tampilan yang berbeda dari biasanya, begitu juga sebaliknya Wijaya melihat Ranum dengan kedua matanya yang tak berkedip mengisyaratkan bahwa Ranum sangat cantik hari ini, aura Ranum telah menghipnotis kesadaran Wijaya.


Setelah mereka beradu pandangan dalam sepersekian detik, akhirnya mereka tersadar dan saling menautkan cincin kawin di jari manisnya.


Wijaya yang membuka tudung pengantin, tak henti-hentinya juga sedari tadi memandang Ranum, perlahan tapi pasti Wijaya memegang kedua bahu Ranum dan mengikis jarak diantara keduanya tibalah ia mendaratkan ciuman dari bibirnya ke dahi Ranum.


" Akhirnya aku memiliki kamu Num seutuhnya " ujar batin Wijaya.




POV Rani



" Jadi gak si Yudh kerumah Ranum, keburu telat nih. Katanya jam 7 gimana sih? "



" Jadi dong, tunggu bentar lagi di jalan ini Ran, sabar dikit napa si "



" Iya, iya buruan "



Rupanya Rani sedang memberi pesan singkat kepada Yudha, ia mempunyai sebuah kejutan untuk Ranum, yaitu merayakan kemenangan Ranum pada olimpiade bergengsi antar sekolah kemarin. Tak lupa Rani membawakan beberapa kado yang telah ia beli bersama dengan Yudha dan beberapa makanan yang telah ia pesan.



" Ran aku udah sampe ni di depan gerbang, buruan keluar "



" Okey "



Dengan bergegas Rani keluar dari pekarangan rumahnya dengan menenteng tas belanjaan dan beberapa kado lalu menghampiri Yudha yang sudah menunggunya di dalam mobil.


Melihat Rani tergopoh-gopoh sambil membawa barang-barang, Yudha yang mengetahuinya segera keluar dan membantu Rani untuk memasukkan barang-barangnya.



" Nah gitu dong bantuin, bukan malah diem aja " sungut Rani



" Iyah iya , ini aku bantuin ribet amat si bawa barang banyak segala "



" Diem deh ih, bawel " timpal Rani



Yudha yang tak tahan dengan sikap Rani yang sedikit ribet itu segera memasuki mobilnya.



" Buruan masuk "



" Iya sabar napa si Yudh "



Mereka kini sudah berada dalam satu mobil, berkendara menuju ke rumah Ranum.


Mereka saling diam satu sama lain. Kini Rani mereka tak enak pada perasaannya, entah apa ada sesuatu yang mengganjal dilubuk hatinya.



" Yudh... " Kini Rani membuka percakapan



" Hmmm apa "



" Kamu ngerasain ga ada yang aneh dari Ranum? "



" Apa? Gak ada tuh "



" Ih yang bener ajah Yudh " kesal Rani



" Apa sih, perasaan kamu ajah kali "



" Males ah ngomong sama kamu "



" Yaudah "



Rani menghela nafasnya yang tak karuan, entah kenapa hatinya bingung sekarang.


Dia mulai memikirkan sesuatu, perlahan tapi pasti ia mulai memutar lembaran demi lembaran masalah yang pernah Ranum ceritakan kepadanya.


Seketika itu dia teringat tentang, masalah Ranum yang pernah diceritakan kepadanya tentang masalah pelunasan hutang ayahnya, dengan ancaman bila tak sanggup melunasi hutang Ranum akan dinikahkan.



Rani seketika tersentak, tapi pertanyaannya apakah ayahnya Ranum sudah melunasi hutang atau belum? Jika tidak Ranum lah yang akan jadi korban pernikahan.


Ini lebih dari satu bulan, berarti? Ah tidak tidak , segera Rani menepis pikiran buruknya. Ia mencoba untuk tetap berpikir positif kepada Ranum




" Aku mikirin Ranum Yudh, dia akhir-akhir ini gapernah cerita apapun sama aku, kayaknya ada yang dia tutupin deh "



" Ran, sebenernya kalo boleh jujur aku dari dulu suka sama Ranum, tapi aku ga pernah percaya diri buat ngungkapin perasaan aku "



" Tau kok " dengan sinisnya Rani menimpali Yudha



" Yaelah Ran gitu amat si "



" Kalo suka ya ungkapkan bukan malah dipendem, diambil orang baru tau rasa kamu "



" Punya temen gini amat " Yudha yang kesal dengan Rani melirik dengan mata malasnya



\*


Sampailah mereka di depan rumah Ranum, Rani yang terheran-heran melihat rumah Ranum yang banyak mobil berjejer dengan hiasan bunga-bunga mawar putih langsung segera menarik Yudha untuk memasuki rumah Ranum.



Betapa terkejutnya Yudha dan Ranum mengetahui bahwa sahabatnya lah yaitu Ranum yang sedang melangsungkan pernikahan dirumahnya.



Para keluarga dan kerabat Ranum dan Wijaya terheran-heran melihat kedatangan tamu yang tak diundang tersebut.


Hal ini memancing perhatian orang tua Ranum yaitu Pak Danuarta.



" Mau apa kalian kesini? " Dengan wajah yang menyelidik



" Om, ini gak salah kan om. Ranum nikah? "



" Iya, kenapa. Ada apa kalian datang kesini "



Ketika Rani hendak mengucapkan kalimat, Ranum datang menghampiri mereka bertiga.


Dengan mata yang berkaca-kaca Rani dan Ranum saling berpelukan erat, Yudha yang melihatnya pasrah pupus sudah harapannya untuk memiliki Ranum.



" Num, kenapa kamu nggak cerita sama aku "



" Maaf Ran, aku gabisa masalah ini begitu pelik "



" Num, aku masih gak percaya kamu seperti ini "



" Num, selamat ya atas pernikahan kamu " ujar Yudha memberikan selamat atas pernikahan Ranum, namun jauh didalam hatinya ia hancur melihat orang yang dicintainya secara diam-diam selama ini telah bersama laki-laki pilihan orang tuanya.



" Yudha... "



Ketika Ranum ingin berbicara kepada Yudha, ayahnya lebih dulu menarik tangannya untuk pergi meninggalkan mereka, agar tidak terjadi keributan dalam pesta pernikahan Ranum.



" Ayo, Num sudah biarkan saja mereka "



Pak Danuarta mencekal tangan Ranum yang hendak memeluk Rani sahabatnya, segera dengan cepat Pak Danuarta menyeret Ranum masuk dan meninggalkan mereka.



Rani yang sama dengan Ranum ingin saling berpelukan segera dihalau oleh Yudha.



" Sudah Ran, sudah kita pergi ajah "



" Tapi Yudha, Ranum... "



Dengan air mata yang mengalir deras Rani berusaha untuk masuk menemui Ranum, namun hal itu sudah dicegah oleh anak buah Wijaya.



" Kalian itu tidak diundang, dan tidak ada kepentingan, silahkan pulang. Kalau tidak lihat apa yang terjadi pada kalian "



" Udah Ran, ayo pergi " ujar Yudha kepada Rani



Rani dan Yudha segera pergi meninggalkan rumah Ranum, sambil sesekali mereka melirik ke arah belakang seakan tak percaya bahwa Ranum benar-benar menikah atas dasar paksaan dari orang tuanya.



Ketika berada didalam mobil, mereka saling diam seribu bahasa, tak ada percakapan seperti keberangkatan ke rumah Ranum.


Rani yang tak rela sahabatnya di perlakukan tidak adil oleh ayahnya sedangkan begitu juga pada Yudha yang hancur ketika melihat Ranum menikah bersama pria lain.



Semua serba dalam kekalutan saat ini tak terkecuali Yudha dan Rani, Ranum pun tak tahu apa yang akan terjadi pada esok hari.