
" Bagaimana dok, keadaan istri saya? Apakah
hari ini sudah diperbolehkan untuk pulang? " tanya Wijaya dengan harap-harap cemas.
" Begini pak, saya akan pantau terus keadaan istri bapak sampai nanti sore. Setelah semua dirasa sudah membaik saya akan perbolehkan untuk pulang " terang dokter kepada Wijaya.
" Baiklah dok, terima kasih banyak "
" Sama-sama pak "
****
Ini sudah ketiga harinya Ranum menjalani rawat inap di rumah sakit, lebih tepatnya hari ini adalah kepulangannya untuk kembali ke rumah. Keadaannya semakin membaik dari hari ke hari, hanya menunggu persetujuan dari dokter nanti sore Ranum sudah diperbolehkan untuk pulang.
Hal ini memantik rasa senang di hati Wijaya, karena keadaan istrinya telah membaik daripada sebelumnya.
Wijaya melangkah perlahan keluar dari ruang dokter menyusuri koridor rumah sakit.
Dan tibalah ia dikamar inap Ranum, dengan hati-hati Wijaya membuka kenop pintu dan melangkahkan kakinya masuk.
" Num.. " panggil Wijaya.
" Iya " jawab singkat Ranum.
" Kamu akan diobservasi sampai nanti sore, setelah itu kamu boleh pulang "
" Syukurlah "
" Kamu mau makan apa? biar saya pesankan "
" Apa ya? " bingung Ranum.
" Soto atau rawon? " tawar Wijaya.
" Soto saja "
" Baik saya pesankan "
Sekitar 15 menit menunggu makanan yang dipesan sudah datang.
Kini Wijaya menuangkan seporsi soto ke dalam semangkuk bubur untuk Ranum. Dan segera menyuapi istrinya.
" Ayo aaa "
Aaaa
Ranum membuka mulutnya menerima suapan bubur soto dari Wijaya. Sekilas Ranum bertanya-tanya dalam hati apakah Wijaya sudah makan atau belum?
" Kamu sudah makan? "
" Saya? gampang nanti saya makan "
Sepertinya Ranum mencurigai bahwa suaminya belum makan sama sekali.
Ia segera mengambil alih mangkuk yang ada digenggaman tangan Wijaya dengan cepat dan mencoba untuk ganti menyuapi suaminya.
" Buka mulutmu sekarang " ucap Ranum sambil memegang sesendok bubur soto dihadapan wajah Wijaya.
Wijaya yang terhenyak diam membatu melihat perlakuan Ranum kepadanya.
" Maksud kamu Num? "
" Saya tau kamu belum makan sedari malam "
" Saya akan makan nanti Num " elak Wijaya.
" Jangan memaksa, cepat buka mulutmu " titah Ranum.
" Tapi Num... "
" Saya gak mau kamu sakit seperti saya nantinya kalau kamu gak mau makan "
Wijaya lebih memilih untuk mengalah dan meladeni keras kepalanya Ranum, dengan helaan napasnya Wijaya mulai membuka mulutnya.
Wijaya yang terlihat pasrah menurut saja saat sesendok bubur soto memenuhi rongga mulutnya tapi dilain sisi Wijaya merasakan getaran yang merambat ke dalam dadanya.
Bentuk perhatian kecil dari Ranum membuat Wijaya merasa ada dalam biduk rumah tangga yang dibangun bersama dengan Ranum.
Hubungan ini seakan layangan yang pergi jauh bebas dan mengulurkan senarnya jauh menjelajah indahnya angkasa namun harus ditarik paksa oleh kenyataan bahwa ini semua hanyalah semu baginya. Suatu ketidakpastian yang harus dimungkinkan.
Terlebih lagi rasa bersalahnya semakin menyeruak kembali saat Ranum terbaring tak berdaya beberapa hari lalu, setelah kejadian malam yang tak menyenangkan.
" Kamu makan saja dulu Num, habiskan bubur mu "
" Tidak, saya akan makan bersama kamu " elak Ranum.
" Num... "
" Iya saya akan makan bersama kamu " jelas Ranum.
Wijaya lebih memilih untuk menuruti perkataan Ranum dan makan dengan semangkuk bubur soto berdua bersama dengan Ranum.
Bagaimana jika keduanya saling terlibat dalam rasa dilema pada dirinya masing-masing? Ranum yang akan melupakan Yudha sebagai cinta pertamanya dahulu dan mencoba untuk menerima hadirnya Wijaya didalam hidupnya untuk selamanya. Sedangkan Wijaya berada dalam kebimbangan dengan rasa bersalahnya kepada Ranum, ia merasa bahwa Ranum belum mencintainya secara utuh sebagai suaminya.
*****
" Istri Anda sudah diperbolehkan pulang pak, biar perawat melepaskan jarum infusnya dulu "
" Syukurlah dok, terima kasih banyak sudah merawat istri saya sampai sembuh sedia kala "
" Sama-sama pak, ini sudah menjadi tugas saya. Oh iya jangan makan makanan dengan tekstur keras dulu, pola makanan harus dijaga betul-betul, terlebih lagi istirahat dan jangan stres "
" Baik dok terima kasih "
" Saya permisi dulu "
Sementara itu perawat sedang melakukan pencabutan jarum infus Ranum.
Wijaya menunggu dengan setia di samping Ranum sembari sesekali menenangkan istrinya itu yang terlihat sedikit kesakitan akibat jarum infusnya.
" Baik pak, sudah selesai pasien sudah diperbolehkan pulang "
" Terima kasih banyak sus, saya pamit dulu "
" Sama-sama pak "
Setelah Ranum mendapatkan plester ditangannya Wijaya memakaikan Ranum cardigan kesayangannya itu dengan hati-hati.
" Mari saya bantu pasangkan cardigannya, angin diluar dingin Num "
" Boleh " jawab Ranum seakan tak menolak.
Setelah itu, Wijaya merangkul pundak Ranum dan sedikit merapatkan tubuhnya disamping badan Ranum secara posesif .
Ranum sedikit tak nyaman terlebih lagi ia berada ditempat umum banyak sekali orang berlalu lalang.
" Saya malu dilihat banyak orang " ucap Ranum seraya melepaskan rangkulan Wijaya.
" Kenapa? kita suami istri kok. Tidak ada yang melarang " Wijaya semakin mempererat rangkulan tangannya ke pundak Ranum.
" Terserah " jawab Ranum dengan wajah malasnya.
Akhirnya Ranum lebih memilih untuk mengalah dan menuruti perlakuan Wijaya terhadapnya. Namun tak sedikit pula orang yang melihat mereka berdua dengan tatapan mata kagum melihat Wijaya memperlakukan istrinya dengan baik terlebih lagi romantis.
Ranum tidak sepercaya diri itu melakukan rangkulan pundak seperti ini, ia terlihat agak menunduk menghindari sorot mata orang-orang yang berada dalam rumah sakit terlebih lagi saat mereka berada dalam parkiran kendaraan.
Wijaya membukakan pintu mobilnya untuk Ranum, ketika hendak memasuki mobil Wijaya dengan sigap melindungi kepala Ranum dengan tangannya agar tidak terhantuk oleh bagian atas mobil.
Sebenarnya bukan perhatian besar yang membuat pasangan merasa semakin cinta dan sayang kepada kita, melainkan bentuk perhatian kecil yang sederhana setiap harinya malah justru membuat pasangan merasa semakin diistimewakan setiap saat.
Terlebih lagi kita sebagai pendengar setia pasangan kita, menceritakan tentang bagaimana ia melewati hari-harinya dengan kita ataupun tidak.
Cukup didengarkan saja itu jauh lebih melegakan perasaannya, lebih lagi kita memberikan solusi dari masalah apa yang ia ceritakan.
Hubungan paling intim dari dua pasangan bukanlah **** melainkan terjalinnya komunikasi yang baik diantara keduanya.
Saling memahami perasaan dan keinginan pasangan karena disaat kita telah menjalin hubungan asmara lebih jauh, kita bukan hanya menyatukan dua badan dalam satu rumah.
Melainkan dua kepala, dua pikiran, dua keluarga besar, serta dua jiwa menjadi satu.
Bagaimana kita merasa cukup dengan pasangan dengan segala kurang lebihnya yang terdapat pada dalam diri pasangan masing-masing.
Rasa percaya satu sama lain yang mendasari dalam hubungan itu juga sangat penting.