An Unexpected Marriage

An Unexpected Marriage
Kepanikan Malam



Nampaknya malam ini tak sesuai seperti harapan Wijaya, yang diharapkan dari ia adalah keadaan Ranum yang semakin membaik.


Pukul 6 sore Ranum tak berhenti memuntahkan kembali isi perutnya, dan suhu badannya di atas normal. Membuat Wijaya semakin ketar ketir melihat Ranum.


" Num, saya bawa kamu ke dokter sekarang juga ya, supaya dapat penanganan lebih lanjut " cemas Wijaya.


" Enggak usah, saya disini saja besok juga sembuh kok " ucap Ranum dengan terbaring seraya memegang pelipisnya menandakan betapa pusing kepalanya.


" Gak bisa Num, ini sudah dari kemarin malam kamu seperti ini, jangan memperparah keadaan "


" Saya akan panggil Mbak Yuli untuk menyiapkan baju hangat kamu, habis ini kita ke dokter "


Ranum pasrah hari ini, seakan tak berdaya menahan sakitnya. Ia hanya melihat Wijaya dari pembaringannya, dan tak berkutik sedikitpun.


****


" Tolong siapkan baju hangat untuk ibu, saya kebawah dulu sebentar "


" Baik pak, saya siapkan "


Wijaya segera berlalu dan meninggalkan mereka berdua dalam kamar.


Sementara Mbak Yuli sibuk memilih pakaian hangat mana yang akan dipakai untuk Ranum malam ini, Ranum bergumam lirih kepada Mbak Yuli.


" Mbak, bapak kemana? "


" Eee kebawah sebentar Nyah "


" Tunggu sebentar ya " jawab Mbak Yuli menenangkan Ranum.


Ranum menjawab dengan anggukan kepalanya.


" Ayo Nyah, ganti baju dulu. Biar saya bantu ya "


Perlahan Mbak Yuli mulai mengganti pakaian Ranum menjadi pakaian hangat dengan telaten.


Namun tidak beberapa lama terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar.


Tok...tok...


" Saya Num "


Ternyata itu adalah suara milik Wijaya yang berasal dari balik pintu kamar.


" Sudah ganti bajunya? " tanya Wijaya


" Sudah selesai " jawab Mbak Yuli dan Ranum berbarengan.


Klek....


Kenop pintu kamar dibuka oleh Wijaya.


" Sudah pak, ada lagi yang diperlukan? "


" Bawakan minyak angin sama botol isi air hangat "


" Baik pak "


Setelah mendapat perintah dari Wijaya Mbak Yuli segera berlalu menuju lantai bawah untuk menyiapkan air hangat dan minyak angin untuk Ranum.


Dikamar kini hanya lah ada mereka berdua, Ranum dengan raut wajah yang pucat dan mata sayu melihat Wijaya secara lemah dan lalu menunduk ke bawah.


Wijaya yang melihat hal itu segera memeluk erat tubuh Ranum, memberikan kehangatan pada tubuh Ranum. Sesekali ia mengelus pucuk kepala Ranum, dan menenangkannya serta memberikan pengertian bahwa semua akan baik-baik saja.


" Everything is gonna be okay Num "


" Saya harap begitu " lesu Ranum.


" Mobil sudah saya siapkan, mari turun "


Wijaya mengajak Ranum untuk turun dan segera berlalu untuk ke dokter namun ketika hendak berdiri tubuh Ranum terhuyung kedepan, segera dengan sigap Wijaya menahan tubuh istrinya agar tak terjatuh ke lantai.


" Hati-hati Num " peluk Wijaya dari samping tubuh Ranum.


Tubuh Ranum membeku dipelukan Wijaya, sedetik kemudian ia segera tersadar akan perlakuan Wijaya.


" Maaf mata saya berkunang-kunang "


" Kepalaku sakit " keluh Ranum.


" Yasudah saya gendong kamu saja "


" Ta tapi "


" Daripada kamu jatuh dari tangga? "


" Saya bisa sendiri " elak Ranum.


Saat Ranum menolak ajakan Wijaya untuk digendong, dengan cepat Wijaya meraih tubuh Ranum dan mengangkatnya.


" Aaa " teriak Ranum.


" Sudah diam, jangan banyak menolak "


Wijaya menggendong Ranum dengan gaya bridal style menuju lantai bawah menuruni tangga, sedangkan Ranum yang berada dalam gendongan Wijaya diam tak berkutik saat Wijaya turun secara perlahan menuruni anak tangga, dengan tangan yang ia kalungkan ke leher Wijaya semakin mengikis jarak diantara keduanya.


Degupan jantung saling bertalu-talu memenuhi rongga dada Ranum, jarak wajah yang hanya sepersekian senti terlihat jelas pahatan wajah Wijaya didepan netranya.


" Tampan " batin Ranum.


****


" Dari hasil pemeriksaan istri bapak barusan, saya menganjurkan untuk rawat inap pak. Keadaannya semakin parah bila tidak ditangani lebih lanjut. Terlebih lagi istri Anda kekurangan cairan, itu sangat berbahaya " jelas dokter.


" Baik dok, usahakan pengobatan yang terbaik untuk istri saya "


" Baik, saya siapkan kamarnya dulu "


Dokter segera berlalu bersama para perawat untuk mempersiapkan kamar inap untuk Ranum.


Wijaya menghampiri Ranum yang tergolek lemas tak berdaya di atas brankar, perlahan ia menggenggam erat tangan Ranum.


" Num, kamu harus rawat inap sekarang "


" Separah itu keadaan saya? "


" Kamu kuat kok Num "


Tiba-tiba saja perawat datang menghampiri Ranum dan Wijaya untuk memberi tahu bahwa kamar inap yang akan ditempati Ranum sudah siap.


" Maaf, bapak. Kamar inap sudah siap. Dokter sudah menunggu "


Para perawat membawa Ranum yang tidur di atas brankar menuju kamar inap yang telah disiapkan.


Sementara Wijaya mengikuti Ranum dengan menggenggam tangannya.


Setelah sampai dan memasuki ruang kamar inap segera dokter mengambil tindakan medis untuk Ranum.


Wijaya yang sedari tadi tak mau jauh dari Ranum segera di halau untuk menunggu diluar.


" Pak, maaf bapak bisa tunggu diluar "


" Tapi, istri saya dok "


" Tenang pak, istri Anda baik-baik saja "


" Baiklah saya tunggu diluar " pasrah Wijaya.


****


" Bapak sudah diperbolehkan masuk, mari pak "


Dengan setengah berlari memasuki ruang kamar inap Wijaya menghampiri Ranum yang sudah dipasangi jarum infus, dan selang oksigen di hidungnya.


" Dok gimana istri saya? "


" Kami akan terus memantau perkembangan kesehatan istri Anda selama tiga hari kedepan, dan sedari tadi selama kegiatan pemeriksaan dilakukan istri Anda mengeluh sesak napas " terang dokter kepada Wijaya.


Wijaya mendengarkan penuturan dokter dengan seksama dan sesekali melirik ke arah Ranum dengan raut wajah khawatirnya.


" Kami pamit keluar dulu pak, semoga keadaan istri Anda lekas membaik " pamit dokter.


" Baik dok, terima kasih banyak "


Dokter menjawab dengan tepukan di pundak Wijaya dan segera berlalu meninggalkan mereka berdua.


Dalam hening ruang kamar inap, Wijaya membelai pipi Ranum. Entah rasa bersalah semakin menyeruak kembali di dadanya malam ini. Perasaan yang membuatnya merasa takut untuk ditinggal selama-lamanya, seakan mengajaknya bernostalgia. Melihat Ranum yang dipasang alat bantu pernapasan ia semakin teringat ketika istrinya meregang nyawa dengan bantuan alat itu.


Cukup dengan masa lalu yang kelam itu, Wijaya tak mau kehilangan wanita yang dicintainya kedua kalinya.


Wijaya tak mau membangunkan Ranum yang tidur dengan pulas, nampak napasnya telah teratur tidak seperti tadi sebelum dibawa ke rumah sakit.


Wijaya menaikkan selimut sampai batas dadanya Ranum, supaya ia tetap hangat.


Ia hampir lupa, untuk memberitahu Mbak Yuli untuk mengantarkan tas berisi pakaian hangat dan beberapa baju untuk Ranum.


Sambungan telepon..


" Halo Mbak, tolong ke rumah sakit sekarang. Bawakan baju hangat untuk ibu ya, dengan baju gantinya. Oiya selimut jangan lupa "


" Baik, pak saya siapkan sekarang "


Tut...


sambungan telepon telah diakhiri oleh Wijaya.


Tak lama Mbak Yuli akan segera datang kerumah sakit, tinggallah Wijaya menjaga Ranum seorang diri.


Detik demi detik berlalu, dan berganti menit dentingan jarum jam menunjukkan pukul 8 malam.


Sekitar 30 menit Wijaya menunggu, yang diperintah ternyata sudah datang.


Dengan langkah tergesa-gesa Mbak Yuli segera masuk dan memberikan tas berisi baju-baju Ranum.


" Ini pak titipan bapak tadi sudah saya bawakan "


" Terima kasih banyak "


" Sama-sama pak, ibu sakit apa pak? kok sampe dipasang alat bantu pernapasan " cemas Mbak Yuli.


" Typus mbak, sedikit sesak napas "


" Ya ampun Nyah, semoga lekas sembuh "


" Iya Mbak, mbak bisa pulang sekarang, saya yang jaga ibu "


" Baik pak, saya pulang "