An Unexpected Marriage

An Unexpected Marriage
Maaf Untuk Semalam



Wijaya mulai ******* dada Ranum, dan memberi tanda kepemilikan disana.


Dengan tangan yang masih setia bergerilya, tak pelak membuat Ranum mengeluarkan suara yang sedari tadi dinantikan oleh Wijaya.


" Akhhhh " desah Ranum.


" Bagus, terus begitu Num " ujar Wijaya dengan suara beratnya.


" Hentikan Wijaya hentikan, lepaskan akhhh "


Wijaya kian brutal diatas tubuh Ranum.


" Tidak aku tidak akan melepaskan kamu Num."


" Lepaskan aku "


Teriak Ranum, dengan mendorong kuat tubuh Wijaya. Ranum tampak meneteskan air matanya, entah malam ini ia merasa tidak siap untuk itu.


" Cukup hentikan ! "


Dengan lantang Ranum meneriakkan suaranya didepan Wijaya, sementara ia sudah tak memakai apapun di tubuh bagian atasnya, pun begitu dengan Wijaya ia sudah melepaskan kemejanya hanya tertinggal celana hitam dan gesper yang masih terlilit di pinggangnya.


Dengan napas yang masih memburu, Wijaya kini sadar apa yang telah ia perbuat kepada Ranum.


Ia tahu bahwa Ranum masih belum mencintainya, sebuah kesepakatan bersama bahwa ia akan melakukannya ketika Ranum sudah mencintai dirinya.


Namun kali ini tidak, ia sangat gegabah dan menuruti nafsu dan emosi yang telah mempengaruhinya.


Wijaya menjambak rambutnya dengan frustasi.


" Arggghh "


Hiks... Hiksss. Tangis Ranum memecah emosi Wijaya.


" Num, maafkan saya " ucap Wijaya dengan tangannya menangkup kedua pipi Ranum.


" Lepaskan tangan kotor mu dari wajah saya "


Ungkap Ranum seraya menutupi tubuh bagian atasnya dengan kedua tangannya.


" Apa ini Wijaya yang dinamakan dengan cinta?! Apakah ini cinta menurut mu "


" Tidak Num, bukan begitu maksud saya "


Pelan-pelan Wijaya meraih tubuh Ranum dan memeluknya dengan sayang, mengisyaratkan bahwa Wijaya memohon maaf kepada Ranum.


Lalu ia mengecup kening Ranum menyalurkan rasa cinta kepada Ranum, walau bagaimanapun juga ia tahu Ranum belum mencintainya.


" Istirahat Num, sudah larut malam "


Wijaya yang berkata demikian, dengan lembut menutupi tubuh atas Ranum yang polos dengan selimut, lalu mengambilkan baju hangat untuk Ranum.


Pelan-pelan ia membaringkan tubuh Ranum di atas pembaringan dan meninggalkan Ranum agar cepat terlelap tidur.


Terlihat Ranum masih menitikkan bulir bening dari netranya, hal itu semakin membuat Wijaya menyesal.


Segera ia berlalu meninggalkan Ranum menuju kamar mandi pribadinya, hasratnya masih membara malam ini maka dari itu segera ia pergi meninggalkan Ranum dan membasahi dirinya dengan air dingin dibawah naungan shower.


Ia masih mengenakan celana hitam panjang lengkap dengan gesper yang melilit di pinggangnya. Air mulai membasahi dirinya melewati sela-sela rambutnya, perlahan turun melalui dada bidangnya, lalu punggungnya sampai turun ke area tubuh bagian bawah.


Wijaya mulai menggeram, menahan gejolak yang masih memburu. Perlahan ia menepis jauh-jauh bayangan Ranum dalam otaknya.


Wijaya segera melepaskan celana panjangnya dan tampil lah ia dengan tubuh polosnya.


Menyalakan keran air dan masuk kedalam bathtub. Ini adalah obat bagi Wijaya untuk menuntaskan hasrat kepada Ranum.


Dinginnya air malam ini membuat Wijaya merasa tenang, tak lupa ia menyalakan sebatang rokok lalu menyesapnya secara perlahan.


POV Ranum


Ia menatap kearah wajahku dengan pertanyaan yang membuat diriku dilema, ataukah aku harus menjawabnya?


" Num, tatap mata saya sekarang. Katakan sekarang juga bahwa kamu adalah istri saya "


" Cepat katakan sekarang "


" Saya adalah istri anda wahai Wijaya Riyadi, istri Anda "


Dengan setengah menyeringai, Wijaya mulai mencium bibirku, ya itu adalah ciuman pertamaku.


Entah antara bahagia atau sedih, suamiku lah yang mendapatkannya. Tangannya bergerilya menyentuh setiap inci tubuhku.


Perlahan menuruni leher jenjang, dan sampailah ia tepat di mana area depan sensitif ku.


Membuatku tersadar dan keluar dari permainan panas Wijaya. Hatiku berkata ini bukan saatnya Num.


" Hentikan " ucapku namun ia dengan panasnya masih berada diatasku.


" Sial " batinku dalam hati.


Entah mengapa aku tidak bisa memberinya malam ini, aku tidak siap terlebih lagi tidak ada cinta untuknya.


" Maaf " batinku berujar demikian padanya.


Aku tahu dia lelaki normal, melihat dia frustasi menahan hasratnya membuat diriku semakin bersalah terhadapnya.


Dia menenangkan diriku, membawanya ke dalam dekapan hangatnya seraya mengecup keningku.


Entah harus apa aku, sekali lagi kukatakan " maafkan aku Wijaya "


Perlahan aku akan melupakan kisah kasihku bersama Yudha, bagaimana pun juga aku adalah istrimu Wijaya.


Tak sepantasnya aku memadu kasih dengan orang lain selain dirimu.


Kulihat ia nampak frustasi menahan hasratnya, segera ia menidurkan diriku tak lupa ia memberi baju hangat setelah menutupi tubuhku yang setengah polos.


Malam ini sungguh luar biasa usahaku untuk memejamkan mataku, bagaimana tidak bulir bening dari mataku tak berhenti untuk menetes.


Kubiarkan saja Wijaya berada dikamar mandi, otakku masih saja terbayang-bayang perlakuan Wijaya, hati kecilku mulai merinci apa saja yang Wijaya telah lakukan padaku, walaupun pada awalnya ia melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap diriku, tak pelak itu semua karena ayahku.


Apakah tindakan yang aku lakukan adalah salah? mendiamkan, dan mengacuhkan Wijaya.


Semua serba salah bagiku, perihal cinta yang tak kunjung tumbuh di hatiku membuat diriku mengabaikan semua perhatian Wijaya.


POV Wijaya


Rasa cemburuku yang menyelimuti atmosfer hatiku malam ini sungguh memuakkan, berulang kali aku meyakinkan Ranum bahwa aku lah yang terbaik baginya.


Melihat Ranum dicintai oleh pria lain, naluri laki-laki ku memberontak melihatnya.


Entah malam ini melihatnya sungguh memabukkan bagiku, tatkala dua hasrat menaungi jiwaku antara gairah dan cemburu.


Kupandangi wajahnya, hanya satu kata yang tergambar dalam mataku yaitu candu.


Dengan mata memerah kupandangi netranya.


" Num, tatap mata saya sekarang. Katakan sekarang juga bahwa kamu adalah istri saya "


" Cepat katakan sekarang "


" Saya adalah istri anda wahai Wijaya Riyadi, istri Anda "


Ucapan darinya membuat netraku berkabut melihat tubuhnya.


Rasa cemburuku, rasa ingin memilikinya, cinta yang menggebu ku luapkan malam itu juga.


Perlahan ia menikmati sentuhan yang ku suguhkan, sampai suara yang kuinginkan sedari tadi keluar membuat diriku merasa puas.


Namun itu hanya sesaat, Ranum mendorong kuat tubuhku menjauhi dirinya.


Ia menangis tergugu dan membuat diriku merasa bersalah terhadapnya, bagaimana tidak sebelumnya kita telah membuat kesepakatan bersama tidak ada percintaan sebelum kita benar-benar saling mencintai. Kali ini aku mendahuluinya, tertekan oleh nafsuku.


Namun apa? Akulah yang mencintai dirinya saat ini, sedangkan Ranum belum mencintai diriku sama sekali.


" Ayolah Wijaya, jangan gegabah malam ini. Ingat istrimu belum mencintai dirimu " umpat batinku.


Dengan frustasi aku mulai menjambak rambutku, arggghh...


Kulihat ia dengan tubuh setengah polosnya, ia menitikkan air mata yang membuat ku merasa runtuh sebagai seorang pria.


" Apa yang telah aku perbuat padamu Num, maafkan aku " batinku.


Segera kupeluk dia, ku kecup keningnya dan menyelimuti tubuhnya yang setengah polos itu serta segera kuberikan baju hangat untuknya.


Namun hasrat ku masih memuncak dan tak tersalurkan malam ini, itu sungguh menyiksaku.


Segera ku enyahkan bayangan tubuhnya, kubiarkan air mengalir membasahi tubuhku.


Ku lepaskan celana yang masih bertengger di tubuhku membuat aku terlihat polos malam ini, dan berendam adalah salah satu hal yang bisa membuat diriku kembali normal. Kunyalakan sebatang rokok dan perlahan ku sesap , terlihat asap putih mengepul dari mulut ku, dan aku menikmatinya malam ini.


" Ah sudahlah " batinku.


" Tindakan ini justru membuatnya merasa tidak nyaman, hmmm suatu saat kamu akan mencintai saya Num. Saya pastikan itu "