An Unexpected Marriage

An Unexpected Marriage
Bahagia Terakhir Untuk Ranum



Ranum menatap ke arah cermin kamar yang memantulkan bayangan tubuhnya.


Dengan tatapan mata yang kosong, tak terasa Ranum meneteskan air dari sudut matanya, ia memejamkan matanya dan mulai merasakan sesuatu yang mulai menghancurkan semua mimpinya, pernikahan yang tak diinginkannya.


Ia akan berusaha semaksimal mungkin kali ini, ini adalah yang terakhir kalinya ia bersekolah.


Ia tak mau dan jangan sampai siapapun tahu akan masalahnya.


Cukup, sampai disini saja ia mengenyam pendidikan.


Tampak ia mengusap wajah, lalu ia menatap wajahnya di cermin kesekian kalinya, pucat wajahnya segera ia menaburkan bedak dan tak lupa mengoleskan pelembab sebelumnya lalu lip balm sebagai akhir dari riasannya.


Setelah ia merasakan semua sudah siap, segera ia menyambar tas ransel yang menemaninya bersekolah selama 2 tahun itu. Kini ia sudah siap tak lupa juga ia memakai cardigan kesayangannya itu.


Sembari melangkah keluar dari kamar, ia berharap semoga semua baik-baik saja hari ini dan tak ada yang ia risaukan selama olimpiade nanti.


Sampailah Ranum ke ruang makan, di sana sudah ada ayah dan ibu Ranum.


Ayah Ranum yang mulai menelisik penampilan Ranum, bertanya kepada Ranum.


" Mau kemana kamu? "


Ranum sedari tadi masih saja bergeming tak menjawab pertanyaan dari ayahnya.


" Num, sarapan dulu yuk nanti telat "


Perkataan ibu Ranum sudah disela dahulu oleh Ranum dengan cepat.


" Ranum ada olimpiade yah, tolong ini yang terakhir kalinya Ranum bersekolah, kasih Ranum kesempatan yang terakhir kalinya" jawab Ranum dengan pandangan lurus ke depan dan nada bicara yang dingin.


" Oke, kalau itu yang kamu mau Num, ayah ijinkan kamu sekolah tapi ini yang terakhir kalinya, camkan itu " tegas ayah Ranum dengan penuh penekanan.


Setelah menjawab permintaan dari Ranum, ayahnya mulai meninggalkan mereka berdua dalam kebisuannya.


" Sudah, sudah Num sudah. Sarapannya dihabiskan "



" Hadirin sekalian, selamat datang pada perhelatan bergengsi olimpiade antar sekolah se-Provinsi Jawa Barat, yang dimana total keseluruhan sekolah yang mengikuti olimpiade ini sebanyak 240 siswa delegasi dari sekolahnya masing-masing, dan sebagai juara pertama akan mendapatkan medali emas, sertifikat, dan uang beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi negeri, juara kedua mendapatkan medali perak, sertifikat dan uang pembinaan minat dan bakat, dan juara tiga akan mendapatkan medali perunggu, sertifikat dan uang pembinaan sekolah. Selamat berkompetisi dengan sehat, salam olimpiade salam juara "



Sambutan meriah dari pembawa acara dalam perhelatan olimpiade bergengsi tersebut mendapat respon positif dari seluruh peserta, diikuti tepukan tangan yang membahana di dalam gedung acara tersebut.


Tak terkecuali Ranum, ia tampaknya mulai melupakan masalahnya sendiri, seakan-akan ia lepas dari segala beban pikiran yang ada dalam dirinya.



Tak lupa Rani yang turut serta mendukung sahabatnya itu, ia tampak senang melihat Ranum mengulas senyum hari ini, tak seperti biasanya Ranum berwajah sendu dengan tatapan mata kosong yang ia lihat selama ini.


Ia akan menanyakan kepada Ranum hari ini perihal masalahnya, tapi ia tak berani Rani tak mau melihat Ranum sedih lagi seperti kemarin.


Biarlah besok ia akan menanyakan kepada Ranum.



" Diharapkan dengan segera bagi seluruh peserta olimpiade, memasuki ruangan yang telah disediakan masing-masing, terima kasih "



suara pemberitahuan itu menggema di seluruh gedung acara menandakan akan segera dimulainya olimpiade bagi seluruh peserta, Ranum yang tampak semangat dan percaya diri segera pamit kepada teman-temannya untuk memasuki ruangan olimpiade.



" Aku pamit dulu ya, keburu soalnya harus masuk sekarang " pamit Ranum kepada teman-temannya.



" Iya Num, semangat ya, yang teliti ngerjainnya "



Ranum merespon ucapan dengan anggukan dan senyuman dari teman-temannya.



" Eh iya Num, nomor ruangannya udah kamu ambil kan tadi ? " Tanya Rani dengan cemas.



" Udah kok Ran, tadi aku ambil di panitia lomba "



" Syukurlah "



" Nanti dulu ya " salam Ranum kepada teman-temannya.



" Semangat Num " teriak teman-temannya dengan semangat.



Ranum yang melangkahkan kakinya dibelakang guru pengantarnya, tiba-tiba saja tangannya diraih oleh seseorang dan seketika itu juga Ranum tercekat dan mematung beberapa saat.



" Semangat ya Num, pasti bisa, pasti kamu dapet juara ".



Ternyata itu Yudha, orang yang selama ini dicintai oleh Ranum, yaitu cinta pertamanya.


Ranum, yang seketika itu langsung mengulas senyum dan diikuti oleh anggukan kepalanya menandakan ia merespon ucapan Yudha dengan baik. Mereka yang saling mengumbar senyum satu sama lain tak pelak mendapatkan perhatian dan gangguan dari teman-temannya yang bersorak menggoda Yudha dan Ranum.



" Cie...cie... udah nanti dulu ayang beb mau lomba "



Begitulah mereka yaitu teman-teman Ranum


bersorak dan meledek Yudha dan Ranum.


Ranum yang tersipu malu segera mempercepat langkahnya dan meninggalkan Yudha yang sedari tadi melihat Ranum dengan sorot kedua matanya yang teduh itu.



Ranum yang mengikuti guru pengantarnya menuju ruang olimpiade mulai memasuki ruangan yang dimana Ranum akan berkompetisi. Segera ia menyerahkan nomor ruangannya kepada panitia pertanda ia telah memasuki ruangan.



" Num, ibu nganter kamu sampe sini ya, yang teliti ngerjainnya, jangan lupa berdoa sebelum ngerjainnya, kalo udah teliti lagi dua kali, jangan lupa waktu kamu dua jam, manfaatkan waktu kamu sebaik-baiknya " titah Bu Sri, yaitu guru pengantar Ranum sekaligus guru pembimbingnya.



" Baik Bu " Ranum mengulas senyum kepada Bu Sri dan berlalu meninggalkan Bu Sri.



Ranum yang telah memasuki ruangan, segera duduk di bangku urutan dua dari depan tepatnya di barisan tengah. Ia menunggu sejenak tak lupa mengeluarkan alat tulis dan ID card peserta olimpiade.


Tak lama petugas pengawas olimpiade mulai memasuki ruangan dan memimpin jalannya doa, setelah itu mulai membagi soal olimpiade kepada seluruh peserta.


Ranum yang tampak antusias mengikuti alur olimpiade mulai tak sabar membuka lembar soalnya, ia mulai serius di tiap-tiap butir soal yang ia mulai kerjakan.


Perlahan tapi pasti ia mulai pada pertengahan lembar soal, berarti kurang setengah lembar soal lagi ia mulai memeriksa jam tangannya kurang satu jam lagi waktunya ia harus memaksimalkan waktunya.



Detik demi detik berlalu, dan berganti menit Ranum hampir menyelesaikan soalnya, kurang 30 menit lagi. Ia meneliti lebih lanjut apakah jawabannya sudah ia perhitungankan dengan matang.


Akhir yang ditunggu sudah tiba, sampailah ia akan mengumpulkan hasil jawabannya, segera ia mengemasi seluruh alat tulisnya dan menata lembar jawaban dan soal yang sudah ia kerjakan sedari tadi.



Waktu telah berakhir dan bel berbunyi dengan nyaring, seluruh peserta olimpiade segera keluar.


Seluruh soal peserta olimpiade wajib ditinggalkan di mejanya masing-masing.



" Gimana Num bisa? soalnya mudah atau susah? " tanya Bu Sri dengan cemas.



" Syukur Bu, semua yang diajarkan oleh Bu Sri keluar semua dia lembar soalnya tadi " jawab Ranum dengan semangat dan antusias.



" Syukur kalau begitu Num, ibu seneng dengernya, oh iya pengumuman hasil olimpiade nanti ke keluar satu jam lagi " terang Bu Sri.



" Iya Bu, Ranum bolehkan ke teman-teman? ".



" Boleh kok, ayo sama ibu oiya sama bantuin Pak Yudi bagi nasi kotak ke temen-temen yuk.. ".



Setelah Bu Sri dan Ranum membagikan konsumsi dengan Pak Yudi, mereka semua yang menjadi supporter Ranum mulai rehat sejenak sambil mengisi perutnya, sesekali berbincang santai setelah menikmati santap siangnya.


Tak terasa pengumuman olimpiade yang sedari tadi ditunggu-tunggu sudah tiba, semua peserta tampak tegang mendengarkan penjelasan dari panitia tak terkecuali Ranum yang merasakan jantungnya berdetak kencang.



" Mari kita saksikan di layar lebar ini berapa persen perolehan nilai olimpiade seluruh peserta, yang tertinggi angka presentasenya ialah yang memenangkan olimpiade, sudah kita urutkan semua dari juara pertama sampai urutan ke sepuluh, selanjutnya urutan bebas "



" Dengan hitungan mundur 5,4,3,2,1 "



" Dan hasilnya... "



Ranum yang tak kuasa mendengar ucapan dari panitia, mulai menutup mata dan membiarkan teman-temannya melihat presentase nilai olimpiadenya.



Semua teman dan guru Ranum bersorak gembira, dan Rani yang ikut berteriak mengguncangkan tubuh Ranum dengan keras dan antusias.



" Nummm kamu menang Num "



Ranum yang sontak membuka matanya tak percaya apa yang terjadi didepannya, ia membaca perolehan nilai di layar raksasa tersebut, 98.99% perolehan nilai Ranum, selisih nilai 2.8% yang berada di bawahnya.


Ranum, yang tak menyangka ia pemenang pertamanya menangis bahagia melihat dirinya memenangkan olimpiade yang selama ini ia impikan.



" Ran, ini ga bohong kan? ini nyata kan?"



" Iya Num, ini nyata, kamu menang " ungkap Rani sambil menangkup kedua pipi Ranum, dan segera ia memeluk tubuh sahabatnya itu.



" Selamat ya Num, ibu bangga sama kamu Num " ungkap Bu Sri kepada Ranum.



" Sekali lagi selamat ya Num.. " ucap tulus Yudha kepada Ranum yang memberikan bouquet bunga dari balik punggungnya itu kepada Ranum.



Dengan senyum sumringah dan perasaan malu menjadi satu yang tak karuan menyelimuti hati Ranum, ia menerima bouquet bunga dari Yudha dengan menundukkan kepalanya.



" Makasih ya Yudha "



Yudha mengangguk pertanda bahwa ia mengiyakan jawaban Ranum.



" Eh Num, ayo berdiri ke podium sana cepetan. Aku udah siap kamera nih, ayokkk " Rani mulai menarik tangan Ranum dengan segera, membuat Ranum setengah berlari menuju ke podium.



Ranum yang sudah sampai di podium mulai menaiki posisi juara pertama, para panitia dan penyelenggara olimpiade serta dinas pendidikan mulai memberikan ucapan selamat dan mengalungkan medali emas ke leher ranum, memberikan pin yang bertuliskan " I'm the winner "


di dada kiri Ranum, serta memberikan boneka icon olimpiade.



Rani yang sedari tadi sudah memotret Ranum beserta para fotografer wartawan mulai memberi arahan ke kamera kepada Ranum untuk fokus melihat kameranya. Ranum yang tampak bahagia tercetak jelas di raut wajahnya.



Kini Ranum mulai, menerima hadiahnya berupa beasiswa untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi negeri. Ia tampak menangis terharu menerimanya.


Setelah puas menikmati foto bersama, kini giliran teman-teman Ranum berfoto bersama dirinya.


waktu telah berlalu, senja mulai menampakkan jingganya pertanda bahwa telah usainya acara tersebut.



Semua pulang dengan kendaraan masing-masing, tak terkecuali Ranum yang diantar oleh Rani pulang menuju rumah Ranum. Ia tak berhenti bicara sedari tadi hingga didalam mobil.


Rani yang menanggapi hal tersebut dengan tenang dan sesekali tertawa kecil melihat sahabatnya itu.


Tak terasa sudah mereka berdua sampai didepan rumah Ranum, tampaknya orang-orang yang membantu acara pernikahan Ranum sudah pulang sedari tadi, jadi tidak menimbulkan rasa curiga Rani kepada Ranum.



" Sampai besok ya Num, daah " salam Rani untuk pulang.



Ranum mulai melambaikan tangan kepada Rani yang berpamitan pulang setelah mengantarkan dirinya, lalu segera ia masuk kedalam rumah dan membawa perolehan kejuaraan olimpiadenya.



" Ranum.... kamu menang nak? " sambut Bu Rianti dengan terkejut saat melihat Ranum.



" Iya Bu, Ranum juara 1 "



Mereka saling berpelukan, dan larut dalam keharuan masing-masing.



Ayah Ranum yang melihat mereka berdua saling berpelukan menelisik penuh penasaran, dan membaca papan hadiah bertuliskan " Beasiswa Perguruan Tinggi Negeri " itu seketika melihat dengan sinis.



" Halah Num... cuma begitu doang, jangan ngimpi kamu kuliah tinggi "



Ranum yang mendengar ucapan ayahnya tersebut, mulai melepaskan pelukannya bersama sang ibu, kini mulai terlihat menitikkan air mata.



" Ayah tega sama Ranum " ia menghentakkan kakinya dengan keras dan memasuki kamarnya dengan berderai air mata.