
POV Wijaya
Di pagi hari yang dingin ini, Wijaya sudah bangun dari tempat tidurnya. Dengan memakai kaos putih polos dan celana training hitam ia melihat pantulan bayangan tubuhnya di cermin besarnya.
Dengan tubuh yang gagah dan tinggi semampai ia mengulas senyum tipis. Agaknya ia bersenang hati saat ini, bagaimana tidak ia akan mempersunting gadis cantik impiannya hari ini.
" Ranum, sesuai namamu kamu ada adalah gadis cantik yang pernah aku temui, bagaimana mungkin aku tidak jatuh hati kepada dirimu Num. Semakin tersiksa aku bila tak memilikimu dengan sesegera mungkin " ucap Wijaya dengan keinginan yang tak tertahankan selama ini.
Siapa yang menyangka ia adalah seorang duda, istrinya telah meninggalkan dirinya untuk selamanya akibat penyakit yang diderita selama 2 tahun.
Telah cukup lama Wijaya menduda, tak pernah ia menampakkan dirinya bersama wanita lain. Bisa dibilang ia setia, namun watak keras dan kasarnya lah yang membuat dirinya diberikan label pria kejam. Namun jauh dilubuk hatinya ia merasa kesepian dan penuh kelukaan batin.
Ia beranjak dari mematut diri didepan cermin, dan langkahnya terhenti di depan lemari pakaiannya yang besar, tangannya perlahan membuka pintu lemari, matanya tertuju pada laci kecil dalam lemari, jemarinya mulai menarik laci dan menampilkan beberapa lembar foto dan sebuah album kenangan.
Wijaya yang mengambil benda lalu mendudukkan dirinya di kasurnya.
Perlahan tapi pasti ia mulai membuka lembar demi lembar sambil lamat-lamat ia memperhatikan setiap inci dari bagian foto tersebut.
Dalam foto tersebut, menampakkan seorang wanita berbalut dress pernikahan berwarna putih yang sedang memegang bouquet bunga mawar putih, dengan renda yang menghiasi tubuhnya. Tak lupa juga ada seorang pria gagah, dengan setelan jas dan tuxedo hitamnya, mereka terlihat bahagia dengan merapatkan diri mereka masing-masing dalam dekapan hangat dengan sebuah senyuman yang menghiasi wajahnya.
Tak lain dan tak bukan mereka adalah sepasang kekasih, Wijaya dan mantan istrinya Sekar.
Wijaya yang melihat itu terlihat matanya mulai berembun membasahi pandangannya.
Ia tak pernah percaya sampai saat ini, Sekar meninggalkan dirinya.
Ia tak mau semakin larut dalam kesedihannya, segera ia beranjak lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Dalam gemericik suara air, ia mulai berdiri dibawah naungan shower dan perlahan air mulai mengalir ke seluruh tubuh Wijaya, melewati sela-sela rambut hitam legamnya.
Tubuh tinggi semampainya dan wajah tampan, hidung bak paruh elang membuat wanita siapapun yang melihatnya akan terpesona melihatnya.
Setelah semua kegiatan sanitasi dirasa sudah selesai, ia mulai melilitkan handuk pada pinggangnya. Tangannya yang kekar mulai menyugar rambutnya dengan jemari tegasnya.
Sengaja rambutnya ia biarkan basah, melangkah keluar dari kamar mandi ia membuka lemari gantungnya. Tampak setelan jas hitam lengkap dengan tuxedo warna senada dan celana panjangnya.
Ia segera mengenakan setelan jas tersebut, ketika hendak memasang kemeja putihnya ia tertegun sejenak melihat pantulan bayangan tubuhnya di cermin. Sambil bergumam lirih ia memegang dadanya.
" Kenapa, jantungku berdetak lebih cepat tak seperti biasanya.. "
" Kedua kalinya aku menikah "
Tampaknya ia mulai gugup, sebentar lagi ia akan melakukan akad pernikahannya bersama Ranum. Segera ia menepis jauh-jauh perasaan gugup yang menghampirinya.
Lengkap sudah ia dengan setelan jas hitamnya, ditambah sepatu vantovel pria yang memberikan kesan maskulin, dan parfum bak kaum Borjuis.
Ia duduk termenung dengan kaki bertumpu pada paha sebelah kirinya.
Dengan memegang dagunya, ia tampaknya memikirkan sesuatu yang mengganjal hatinya.
POV Ranum
Dengan wajah yang sendu, ia duduk di meja riasnya, rambut hitamnya yang tergerai ke belakang mulai diikat oleh perias pengantin.
Ia sengaja memakai dress terusan tanpa lengan agar supaya tidak menyulitkan untuk para perias mendandaninya.
Perias pengantin mulai membersihkan wajah Ranum, diikuti tahapan riasan selanjutnya.
Sampailah pada polesan perona bibir, Ranum meneteskan air matanya.
Perias yang menyadari hal tersebut, mulai mengusap air mata Ranum. Sambil menangkup lembut wajah masam Ranum dan memeluk erat tubuhnya, memberikan kekuatan pada Ranum.
Ranum yang memegang bouquet bunga mawar putih, mulai tersadar ketika perias pengantin meresletingkan gaun pada punggungnya.
Dengan sanggul rambut dan mahkota perak bermotif bunga-bunga kecil, sempurnalah Ranum hari itu menjadi calon pengantin.
Tampak paras ayu rupawan, riasan dan gaunnya membalut tubuh moleknya, kulit putih bersih dan bermata sipit bak pengantin dari negeri China.
" Hari ini, statusku berubah menjadi istri orang. Mulai saat ini dan seterusnya aku bukan tanggung jawab orang tua ku. Meninggalkan ibu sendiri dalam rumah. Dan aku sendiri bersama Wijaya yang menghancurkan kehidupanku " batin Ranum.
Jam 8 pagi semua tampak serba putih di rumah Ranum, bunga-bunga mawar berwarna putih menghiasi seluruh ruangan tak terkecuali kamar Ranum.
Semua orang tampak menunggu kedatangan Wijaya serta rombongannya.
Tak lama berselang, mulai datang iring-iringan mobil Wijaya beserta keluarga dekatnya.
Konsep pernikahannya adalah private wedding, yang mana hanya dihadiri oleh kerabat dan keluarga dekat saja.
Wijaya yang telah datang dengan kendaraan mobil mewahnya, mulai membuka pintu dan menurunkan salah satu kakinya yang berbalut vantovel berwarna hitam mengkilat, mulai keluar dari dalam mobil dengan gagahnya.
Melangkah dengan langkah maskulinnya, ia memasuki rumah Ranum, disambut dengan hangat oleh ayah Ranum tidak dengan ibunya ia menyambut kedatangan Wijaya dengan wajah masam.
Mereka langsung mempersilahkan Wijaya duduk di kursi akadnya.
Tak berselang lama penghulu mulai membacakan petuah-petuahnya, serta doa pembukaan akad pernikahan, sampai pada saat-saat yang paling ditunggu adalah ijab kabul.
" Saya nikahkan dan kawinkan engkau wahai Wijaya Riyadi dengan seorang wanita bernama Ranum Saraswati binti Danuarta dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang senilai 10 juta rupiah beserta emas 10 gram dibayar tunai " ucap sumpah setia oleh penghulu kepada Wijaya dengan menggenggam erat tangannya.
" Saya terima nikah dan kawinnya Ranum Saraswati binti Danuarta dengan maskawin tersebut dibayar tunai " ucap Wijaya dengan lugas dan tegas serta menatap mata sang penghulunya.
" Bagaimana para saksi? Sah? "
" Sah, sah " ucap para saksi dan hadirin semua dengan serempak.
Ranum yang mendengar ijab kabulnya dari dalam kamar, meneteskan air matanya tak menyangka hidupnya akan berakhir pada titik terendah seperti ini.
Ia seperti mati, bak mayat hidup menyaksikan pernikahan yang tak pernah ia harapkan dihidupnya.
Sambil duduk termangu menatap pantulan dirinya di depan cermin, ia mengusap air matanya dan menormalkan mimik wajahnya.
Terdengar suara ketukan pintu, ia segera menoleh, tak diduga para bridesmaids mengantar Ranum untuk menemui suaminya yaitu Wijaya.
Dengan memakai tudung pengantin, ia menundukkan pandangannya kebawah untuk menghindari sorot mata orang-orang yang turut hadir dalam acara pernikahannya.