
" Ingat besok pernikahan kamu dan Wijaya jangan sampai kamu mengecewakan ayah, ingat itu Num ! " titah sang ayah.
" Kamu tega Danuarta, jual anak kamu sendiri, tega kamu tega, kamu adalah seorang ayah yang tidak punya hati sama sekali. Seekor harimau gak akan pernah makan anak sendiri Danuarta gak akan pernah, dan kamu hari ini jual anak kamu ke orang lain demi kepentingan pribadi kamu sendiri, tega
kamu " amarah ibu Ranum mulai meledak-ledak setelah mendengar titah Pak Danuarta kepada Ranum.
Bu Rianti yang marah tepat didepan mata Pak Danuarta, seketika itu juga Pak Danuarta menjambak rambut hitam Bu Rianti dengan kuat seakan tak terima dengan ucapan Bu Rianti.
" Kamu dengar baik-baik, mulai sekarang, dan mulai detik ini. Jangan campuri urusan pribadi saya, saya tahu yang terbaik untuk Ranum " ancam Pak Danuarta, setelah berkata demikian ia mulai melepaskan jambakan rambut dari kepala Bu Rianti, sementara itu sedari tadi Bu Rianti meringis kesakitan dengan menitikkan air mata menahan jambakan rambutnya.
Pelik kian masalahnya, ia terpaksa terkungkung dalam belenggu bejat suaminya. Berharap semoga semua tidak akan pernah terjadi dalam hidupnya esok hari, yang ia pikirkan sekarang adalah anaknya Ranum bagaimana nasibnya kelak setelah menikah bersama Wijaya.
Ia tak bisa membayangkan betapa sengsaranya hidup dalam mahligai rumah tangga yang tidak pernah ia impikan selama ini.
Sayup-sayup terdengar suara Ranum, ia menangis dalam balik pintu kamar.
Segera Bu Rianti membuka pintu kamar dan memeluk anaknya, luruh sudah mereka dalam tangis masing-masing, saling berbagi luka, berdarah bersama, kini mereka seakan tak berdaya.
" Bu, Ranum nggak mau semua ini terjadi, Ranum lebih baik mati daripada Ranum harus nanggung ini semua sendiri Bu..."
" Sssst... Ranum nggak boleh bicara gitu, ada ibu nak, ibu disini bersama kamu ibu gak pernah ninggalin Ranum sendirian "
Ketika mereka saling menumpahkan segala kerunyaman dan keresahan satu sama lain, ayah ranum yaitu Pak Danuarta datang dengan membawa gembok dan kunci.
Ibu Ranum yang tersadar jika ada seseorang di ambang pintu kamar segera menoleh, lalu bangkit dan melepaskan pelukannya dengan Ranum.
" Apalagi kamu, buat apa kesini dasar ayah brengsek! belum puas kamu? Mau apalagi hah? Ujar Bu Rianti dengan mata nyalang.
Dengan amarah yang memuncak, pak Danuarta mulai menarik tangan Bu Rianti dengan kuat-kuat lalu menyeretnya keluar kamar Ranum, sehingga membuatnya terjerembab.
Dengan segera Pak Danuarta mengunci pintu kamar Ranum.
Ranum yang mengetahui hal tersebut, segera beranjak dan berlari berniat menghentikan aksi ayahnya itu.
" Ayah, ayah ayah jangan kunci pintunya yah, Ranum mohon, buka ayah, buka ayah!!! " Ujar ranum dengan teriakan penuh permohonan kepada ayahnya itu.
Namun nihil ayahnya tetap bersikeras pada niatnya untuk mengunci Ranum untuk tetap berada didalam kamar.
" Jangan biarkan, anak itu keluar dari kamar " ucap Pak Danuarta kepada Bu Rianti.
" Gila kamu Danuarta " Bu Rianti mengucapkan kalimat tersebut dengan tatapan mata nyalang penuh amarah.
Dengan langkah perlahan dan tatapan serta raut wajah dinginnya Pak Danuarta mulai mencengkeram erat rahang Bu Rianti dan membisikkan sesuatu didekat telinganya.
" Jangan main-main dengan saya " bisiknya kepada Bu Rianti.
Setelah Pak Danuarta membisikkan kata-kata kepada Bu Rianti, ia menghempaskan wajah Bu Rianti dan segera berlalu meninggalkannya sendiri dalam keadaan carut marut.
Ranum yang sedari tadi menggedor-gedor pintu kamar meminta untuk segera keluar mulai memanggil ibunya.
" Bu, ibu, ibu... Keluarkan Ranum bu " jerit tangisnya.
" Ranum, Ranum sabar ya sabar, ibu cari kuncinya " segera Bu Rianti berlalu mencari dimana kunci tersebut.
Hal itu mulai diketahui oleh ayah Ranum, dengan cepat dan segera ia menghentikan niat Bu Rianti untuk membuka gembok kamar.
" Mau apa kamu, sudah saya bilang jangan lepaskan anak itu " amarah yang sudah tak terbendung lagi, dengan ringannya tangan Pak Danuarta secara refleks ia menampar wajah Bu Rianti.
Plakkk....
" Jangan sesekali macam-macam dengan saya ingat itu " ancam Pak Danuarta dengan tatapan mata bengisnya.
" Sebaiknya kamu masuk cepat ke kamar Rianti, jangan campuri urusan saya "
Pak Danuarta mulai menyeret tangan Bu Rianti untuk memasuki kamar.
Sesampainya mereka dikamar, Pak Danuarta menghempaskan tubuh Bu Rianti di atas tempat tidur.
" Jangan berani-berani melawan saya "
" Mengerti? "
Melihat istrinya, kehabisan tenaga akibat pertengkaran hebat ia segera berlalu meninggalkannya sendirian lalu menutup pintu dengan suara dentuman yang keras.
Meninggalkan Bu Rianti sendiri dalam perasaan kekalutan yang mendera dirinya.
Ia menangis tergugu, entah apa yang akan terjadi pada esok hari ketika akad pernikahan Ranum.
Semua persiapan pernikahan sudah rampung, entahlah apa yang harus ia rasakan sekarang bahagia sama sekali tak ia rasakan, kepedihan yang mendominasi atmosfer hatinya sekarang.
Ranum yang dulu ia lahirkan dari rahimnya sendiri, sedari bayi hingga beranjak remaja ia kasihi dan sayangi kini dipersunting boleh laki-laki yang tidak sama sekali Ranum inginkan.
Laki-laki yang tak pernah ia harapkan dihidupnya.
Sementara didalam kamar , Ranum yang sedari tadi menangis sambil memeluk lututnya membelakangi pintu kamar, hanya bisa berharap pasrah. Semoga Tuhan memberikan jalan yang terbaik baginya.
Dalam hati kecilnya, batinnya, jiwa mentalnya tertekan mengahadapi kerumitan masalah yang dihadapi dirinya.
Bahkan impian sejak kecil, sudah pupus dimakan pergulatan keduniawian ayahnya.
Ia meluapkan segala jerit tangisnya dalam kamar, ia menjerit sejadi-jadinya dan menjambak rambutnya.
Seolah mengatakan mengapa dirinya harus menanggung semua ini, mengapa dirinya harus menerima takdir yang tak berpihak kepadanya.
Namun luruh sudah tubuh Ranum di lantai kamarnya yang dingin, ia meringkuk seakan tak punya daya kuasa melawan ini semua.
Pun ia sekarang, hanya bisa pasrah menerima pinangan dari Wijaya, pria yang menghancurkan semua mimpi dan angannya.
Ranum takut terjadi sesuatu kedepannya jika ia menikah bersama Wijaya, keselamatan dirinya dan ibunya yang ia pertaruhkan sekarang.
Air mata masih mengalir bahkan telah menganak sungai di pipinya, pertanda Ranum masih kalut dalam pedihnya.
Malam yang semakin mencekam, membuat ia diliputi keresahan esok harinya.
Segera ia bangkit dan mengusap air matanya, Ranum tersadar ia tak boleh seperti ini terus menerus, semakin ia begini semakin ibunya menderita melihatnya.
Beranjak dari lantai, ia mematut didepan cermin wajahnya yang cantik mulai pucat dan tak bercahaya sama sekali sekarang.
Matanya yang sembab, bibir yang bergetar menahan tangis tubuh yang ringkih kurus tak seperti dulu.
Kini ia sadari sekarang, semua akan ia hadapi sendiri ia tak mau ibunya tahu apapun masalah yang akan ia hadapi.
Ia akan terlihat tegar demi ibunya mulai dari sekarang, hanya demi ibunya.