An Unexpected Marriage

An Unexpected Marriage
Semakin Dekat



" Iya, pasti secepatnya. Acaranya berlangsung secepatnya ". Rupanya ayah Ranum sedang berbicara lewat telepon dengan seseorang yang diduga adalah Wijaya.


Sesegera mungkin akad pernikahan akan terlaksana, tapi itulah yang membuat Ranum semakin terjebak dalam masa depan yang suram. Bukan pernikahan yang ia inginkan, mengeyam pendidikan sama seperti teman-temannya, mengeksplorasi dunianya, menemukan passion yang ia pilih, itulah yang ia inginkan. Bukan kungkungan dibawah ************ pria yang memaksa ia membangun rumah tangga bersamanya.


Pernikahan bukanlah solusi atau jalan keluar yang tepat untuk menyelesaikan suatu permasalahan hidup, melainkan hanya penambah masalah kehidupan yang tak berujung.


Menikahlah ketika sudah siap, bukan karena suatu paksaan belaka.


Pemaksaan kehendak perkawinan pada anak dibawah umur adalah suatu tindakan yang bersifat kriminal.


Ayahnya adalah seseorang yang memaksa kehendak perkawinan. Apa yang akan Ranum lakukan sekarang? tidak ada, ia tak punya kuasa apapun dalam keluarganya.


Ranum terlalu muda untuk menikah, minim akan edukasi tentang kesehatan mental dan reproduksi.


Dimana ia belum siap lahir batin untuk mengarungi biduk rumah tangga.


Suasana dalam kelas saat ini sedang serius semua murid mendengar penjelasan dari wali kelasnya.



" Besok, Ranum akan mewakili sekolah kita dalam rangka olimpiade antar sekolah, yang diadakan tiap tahun. Semoga saja sekolah kita sama ya menang juara 1 seperti tahun kemarin. Untuk kalian semua support terus Ranum ya "



" Baik buuu...." Sontak semua seisi kelas memberikan dukungan kepada Ranum, sambil mengiringi dengan tepukan tangan.



Ranum yang setengah bahagia itupun hanya tersenyum tipis melihat tanggapan serta dukungan dari kelasnya tersebut.



" Num, kamu kok ga seneng gitu? Ada masalah?"



Rani yang merasakan ada hal yang tak mengenakkan dari Ranum mulai bertanya ada apakah gerangan. Apakah masalah keluarga lagi yang sedang ia pikirkan sekarang?



Sambil menggelengkan kepalanya Ranum memberi isyarat bahwa tidak ada yang ia risaukan. Padahal jauh di lubuk hati kecilnya tersimpan luka yang tak bisa ia jelaskan kepada Rani.



Perasaan yang mulai menjalari hati Ranum mulai menelusup ke dalam otak Ranum, akankah ia harus bertahan hidup sampai disini saja?


Ataukah ia perlahan menikmati pernikahan yang membuat ia seperti mayat hidup selamanya?


Ia mulai bimbang, sementara olimpiade akan dilaksanakan besok, hari ini adalah hari tenang baginya setelah sekian lama ia melakukan persiapan materi. Secepatnya ia akan pulang hari ini, semoga saja ia tak perlu menunggu lama di halte bus, harapnya.


Suara bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaring, pertanda telah usainya pelajaran sekolah.


Rani yang sedari tadi menaruh curiga kepada Ranum, mulai membuka suara untuk mengutarakan niatnya tapi ini belum saatnya ia akan mendahului Ranum keluar dari halaman sekolah.


Ranum telah menunggu selama 5 menit di mobil dan mulai membuka kaca mobil saat Ranum berada tepat didepannya.


" Num, bareng aku yuk " pinta Rani.


Ranum yang mulai menyadari ada Rani berada di mobil berhenti seketika itu saat mendengar ucapan Rani.


" Tapi Ran, enggak dulu deh "


" Ayo cepetan masuk, panas nih "


Ranum yang menghela nafasnya mulai mengiyakan permintaan Rani dengan anggukan kepalanya.


Rani yang melihat Ranum mengiyakan permintaannya pun mulai mengulas senyum.


Mereka sudah ada dalam satu mobil yang sedang berkendara menuju rumah Ranum, sepanjang perjalanan Rani mulai melirik ke arah raut wajah Ranum, tampak sendu sorot matanya. Entah apa yang Ranum pikirkan sekarang batin Rani mulai bertanya-tanya sedari tadi.


" Num... " Panggil lembut Rani kepada Ranum.


Ranum mulai tersentak pelan saat mendengar panggilan Rani


" Iya Ran, ada apa? " Tanya Ranum


" Enggak ada apa-apa kan sama kamu? " Selidik Rani.


" Ada apa-apa gimana Ran, enggak kok gak ada cuma nervous ajah besok " elak Ranum.


" Beneran nih?, gak ada yang lain kan Num " selidik Rani, dengan raut wajah khawatir.


" Iya Ran, gak ada apa-apa kok " senyum simpul Ranum yang diikuti dengan anggukan kepalanya, pertanda ia mengiyakan dan takkan terjadi apapun.


Selang 20 menit dalam perjalanan pulang, tibalah mereka didepan rumah Ranum, tampaknya Rani sedikit bingung dengan keadaan rumah Ranum sesaat setelah membuka kaca mobil.


" Num apaan ya kok rame begini rumah kamu? banyak orang lagi "


" E... eee itu nggak kok Ran gaada apa-apa "


Dengan segera mungkin Ranum keluar dari mobil Rani, ia tak mau dicecar pertanyaan soal keadaan yang membelenggunya.


Ia tak mau sahabatnya itu larut dalam masalahnya, bahkan turut terlibat dalam masalah Wijaya.


Karena ia tahu sahabatnya itu, akan membelanya bagaimana pun caranya.


Maka dari itu Ranum lebih baik memendam masalahnya sendiri.


Rani yang melihat Ranum dengan keheranan mulai dari sikap dan bahasa Ranum yang berbeda dari biasanya, mulai menaruh curiga yang teramat dalam, kemarin masih bisa ia tolerir sikap sahabatnya itu tapi sekarang tidak.


Secepatnya ia akan mencari tahu apa akar dari masalahnya dan apa yang ia sembunyikan selama ini.




Ia segera memasuki kamar tidurnya, ia menumpahkan segala keluh kesahnya bukan ia menuntut kepada Tuhan, apa sebegini kah rumitnya kehidupan yang ia jalani.



Pupus sudah mimpinya.



Tanpa disadari, Bu Rianti datang menemui Ranum yang menangis tergugu di kamarnya.


Bu Rianti mengelus rambut hitam Ranum dengan lembut, tangannya yang mulai keriput menyentuh pundak Ranum, ia menguatkan dengan sepenuh hati.


Tampak dari sudut matanya ia merasakan kepedihan di hati anaknya itu.



" Num... " panggilnya dengan lembut



Ranum yang tahu ibunya memanggil segera menoleh dan memeluk tubuh ibunya tersebut.



" Bukan ini yang Ranum mau Bu... bukan ini " Dengan tangisan memilukan Ranum mengungkapkan perasaan yang tak ia harapkan.



" Sabar Num, sabar " ucap ibunya.



Ranum mulai melepaskan pelukannya, mulai mengamati wajah ibunya, ada sesuatu yang membuat ia penasaran di wajah ibunya.


Ia melihat warna biru keunguan pada pipi sebelah kiri, Ranum percaya itu bekas dari tangan bapaknya.



" Bapak... bb-bbapak " ucapnya sambil tergagap.



" Bapak main tangan lagi ke ibu, bapak nampar ibu lagi ? ".



" Brengsek, bajingan " Ranum yang mengumpat mulai mencari dimana bapaknya.



Ibunya yang mencegah mulai berteriak memohon agar Ranum menghentikan niatnya tersebut.



" Dimana kamu hah, brengsek ? " Ranum yang mulai kesetanan mencari batang hidung bapaknya.



Ranum yang mulai menemukan dimana ayahnya berada mulai meluapkan emosi dan kekesalannya itu.



" Lihat, lihat Ranum dan ibu.. lihat !! lihatlah dengan mata kepala ayah. " ucapnya dengan berteriak.



" Apa apaan ini " Ujar ayahnya Ranum yang masih tak mengerti ucapan Ranum.



" Gara-gara ayah, gara-gara hutang ayah Ranum kehilangan masa depan Ranum. Lihat ibu... lihat !! ibu kesiksa gara-gara ayah, menanggung beban dari suami yang sama sekali gak tau diri seperti ayah "



Plakkk...



Suara tamparan keras dari ayah Ranum, terdengar keras seisi ruangan.



Ibu Ranum yang melihat Ranum jatuh tersungkur di lantai sesegera mungkin ia menguatkan Ranum, dan membantunya bangun.



" Dasar anak durhaka, gatau diuntung bikin susah aja, untung-untungan ada yang mau nikahin kamu. Sekolah tinggi cuman ngabisin duit, mendingan kamu itu nikah. Denger ya, ayah akan tetep nikahin kamu dan Wijaya.


Wijaya itu orang kaya, hidup kamu bakal enak sama dia gak bakalan susah lagi kayak kita sekarang " bentak ayah Ranum.



" Dan kamu.. " menunjuk ke arah ibu Ranum.



" Gausah sok-sok bela Ranum, kamu itu sama aja sama-sama bodoh seperti Ranum, dikasi kehidupan enak malah gak mau, maunya apasih kalian berdua? ".



" Bikin hidup susah, semakin susah aja " umpat ayah Ranum yang sembari melangkah meninggalkan mereka berdua dalam tangis kepiluan.