
Pagi ini tampaknya ia sudah siap untuk bergegas ke sekolah tempat dimana ia menimba ilmu, tapi cukup dingin pagi ini dengan rambut tergerai sebahu tak lupa ia memakai seragam putih abu-abu sambil mematut dalam cermin kamarnya, seulas senyuman terbit cerah diantara bibir basahnya sembari menyelipkan beberapa helai rambut pada daun telinganya.
Hai... perkenalkan namaku Ranum aku masih berstatus sebagai pelajar di bangku SMA, usiaku baru menginjak 18 tahun, tepatnya pada kelas 2 SMA. Banyak mengatakan aku keturunan Tionghoa padahal tidak sama sekali, memiliki kulit putih dan mata sipit bukan berarti keturunan Tionghoa. Ya ayahku mempunyai darah Manado tak pelak mewariskannya kepada diriku, ibuku berdarah Jawa beliau berasal dari Jogjakarta bisa dibilang aku keturunan Manado-Jawa.
Ting...! Handphone Ranum berbunyi menandakan ada sebuah pesan masuk. Seketika itu Ranum bergegas membuka dan membaca pesan tersebut.
" Num, aku tunggu kamu ya di halte bus seperti biasa barengan yuk sama kamu, okey " sebuah pesan singkat dari aplikasi berlogo telepon hijau tersebut dari sahabatnya bernama Rina.
"Okey, Rin siap " Ranum pun langsung saja membalas pesan tersebut.
Semua perlengkapan sekolah sudah dirasa siap dan tidak ada yang tertinggal, segera bergegas Ranum memakai cardigan berwarna biru muda kesayangannya lalu menuju ruang makan untuk sarapan.
Tepatnya diruang makan ternyata sudah ada kedua orang tua Ranum yang sedang menikmati santap pagi, sembari menyesap kopinya sang ayah bernama Pak Danuarta melirik putrinya. Sang ibu pun berujar pada Ranum.
" Ranum, sini sarapan dulu, ada telor dadar kesukaan kamu ". Gegas Ranum menarik kursi lalu mendudukkan dirinya sembari tangannya mencentong nasi kedalam piring yang sudah diberikan oleh ibunya.
" Bu uang belanjanya masih cukup yang bapak kasih kemarin? " Pak Danuarta sekilas menatap istrinya Bu Rianti.
" A-a ada kok pak masih cukup" ucap Bu Rianti terbata-bata.
" Baguslah " Pak Danuarta menjawab dengan santai.
Suasana pun berubah menjadi dingin diantara mereka. Ranum yang merasa tak enak pun segera menenggak air putih lalu berpamitan kepada orang tuanya.
Melangkahkan kakinya menuju halte bus, tak henti-hentinya Ranum berpikir tentang ayahnya tersebut, watak keras kepala yang kerap melakukan pemborosan keuangan rumah tangga, tiap malam dihabiskan waktunya untuk berjudi dan terlilit hutang sana sini.
Belum lagi tagihan keuangan sekolah untuk membayar uang buku dan uang ujian.
Ibunya hanya seorang penjual kue dirumahnya, terkadang beliau mendapatkan pesanan di hari tertentu atau ketika ada tetangga punya hajatan.
Dalam lamunannya Ranum ikut sedih dan bingung mau cari uang dimana untuk menutupi seluruh hutang bapaknya, jikalau hanya mengandalkan uang dari hasil penjualan kue ibunya pun tak cukup, apalagi ayahnya hanya seorang tukang ojek namun penghasilannya kerap habiskan oleh pesta malamnya.
Segera ia berlalu dari lamunannya tersebut, ia percaya bahwa Tuhan akan memberikan jalan terbaik untuknya. Secepat mungkin ia akan bekerja paruh waktu untuk membantu perekonomian keluarganya yang kian hari tambah terpuruk.
Jalan pun semakin dekat menuju halte bus, terlihat Rani teman Ranum menunggunya.
" Num... murung aja pagi begini, ada apa? kelihatannya gak semangat banget? " Selidik Rani.
" Biasalah Ran, kayak gatau aja " jawab Ranum dengan raut wajah malas.
Rani pun tak memberi tanggapan apapun kepada sahabatnya itu sendiri, 5 menit menunggu bus yang dinantikan datang juga segera mereka berdua masuk kedalam bus beserta penumpang lainnya yang akan disibukkan harinya dengan segala aktivitas kantor dan sekolah.
Dalam perjalanan mereka duduk berdua tanpa ada sepatah kata pun yang menghiasi perjalanan menuju sekolah, berdiam diri larut dalam pikiran masing-masing.
Sesampainya di sekolah mereka berjalan beriringan melewati lorong-lorong sekolah yang panjang, satu kalimat keluar dari mulut Ranum.
" Ran, kebetulan aku mau kerja paruh waktu kamu ada gak lowongan kerja dekat sini gak jauh-jauh kok ".
Langkah Rani terhenti seketika saat mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Ranum.
" Seriusan kamu mau kerja Num? ".
Ranum yang tak menyadari Rani berhenti pun tetap melangkahkan kakinya, namun ketika mendengar pertanyaan sahabatnya itu mendadak menghentikan langkahnya.
" Iya serius, masa bohong sih Ran ". Sambil membalikkan badannya.
" Kenapa kamu kerja Num, kamu kan masih sekolah, apa kamu bisa bagi waktu antara belajar dan sekolah nantinya? belum lagi kamu ada olimpiade antar sekolah kamu harus fokus Num ". Cecar Rani.
" Nggak masalah kalo itu Ran, aku bisa atur semuanya, lagi pula olimpiade minggu depan. Aku kerja paruh waktu setelah olimpiade kok "
Ranum tidak menjelaskan apa sebab ia mencari pekerjaan, biar masalah rumah ia pendam sendiri. Sambil mengulas senyum Ranum meraih tangan Rani yang mulai menunjukkan wajah masam kepadanya.
" Udah gapapa kok Ran, aku bisa " ujar Ranum kepada Rani.
" Hmm... iya deh iya " jawab Rani.
Sambil menatap wajah sahabatnya itu Rani terlihat ada yang disembunyikan dari sorot mata Ranum tapi entah itu apa, batin Rani mulai menangkap sinyal tak baik dalam kehidupan Ranum, ia banyak bercerita sebelumnya tentang kedua orangtuanya dari carut marut hubungan antara mereka. Tapi setidaknya Rani mulai memberikan ruang privat kepada sahabatnya itu, ia tidak ingin terlibat jauh dalam masalahnya. Bukankah Ranum sendiri yang meminta dicarikan pekerjaan, tapi sudahlah ia berharap semoga semua akan baik-baik saja kedepannya.
Sambil berjalan beriringan Rani dan Ranum mulai memasuki kelas dimana ia akan belajar sampai sore hari tiba, awal pagi penuh harapan memang bagi keduanya bahkan seisi kelas tersebut.
Selepas kegiatan sekolah akan berakhir, tiba-tiba saja Rani membawa kabar gembira untuk Ranum sambil menyerahkan ponselnya kepada Ranum.
" Num, aku ada kabar bagus buat kamu, ini coba lihat ada lowongan kerja buat kamu. Lihat ajah dulu siapa tahu cocok " ujar Rani dengan semangat.
Lantas Ranum mengambil ponsel Rani dan melihat lowongan pekerjaan dengan teliti,
seketika terbit senyuman di wajah Ranum.
" Iya sama-sama kok, pilih ajah Num yang kamu rasa cocok, tapi Num... " Jeda Rani.
" Kenapa Ran?" Tanya Ranum dengan wajah penuh selidik.
" Kamu yakin dengan kerja paruh waktu itu Num? Aku harap kamu bisa atur waktu kamu " harap Rani dengan wajah cemas.
" Pastinya Ran " jawab Ranum dengan meyakinkan sahabatnya itu.
" Bu, Ranum ijin kerja paruh waktu besok sore, lepas pulang sekolah " ijin Ranum pada ibunya.
" Apa Num? Kerja? kamu itu masih sekolah nduk, belum waktunya untuk bekerja, toh ibu masih kuat membiayai sekolah kamu " protes Bu Rianti kepada Ranum.
" Tapi Bu, Ranum kemarin dapat tagihan hutang pelunasan uang sekolah" terang Ranum.
Ibunya pun hanya diam seribu bahasa, tangannya pun terhenti ketika mengaduk adonan kue.
" Akan ibu usahakan, bagaimanapun caranya, toh bapakmu juga ada uang dari hasil ngojek "
" Sampe kapan Bu, bapak nggak akan berubah.
Ranum sedih liat ibu tiap hari berantem dengan bapak, cuma masalah uang ".
" Tanya masalah kerja kamu ke bapak, ibu Ndak bisa kasih keputusan " Bu Rianti berlalu meninggalkan Ranum yang terpaku di dapur, tampak Bu Rianti sedang menyeka matanya melangkahkan kakinya menuju kamar.
" Pak, Ranum mau bicara sama bapak, penting pak " dengan nada yang cemas namun berhati-hati Ranum mulai mengutarakan niatnya.
" Bicara aja, apa susahnya " Bapak Ranum dengan menghisap rokok kreteknya.
Perlahan tapi pasti Ranum mulai membuka mulutnya untuk berbicara meskipun masih dipayungi kecemasan karena takut bapaknya tak menyetujuinya.
" Emmm.... begini pak Ranum mau kerja paruh waktu, lepas pulang sekolah. Ranum udah telepon pemiliknya, besok interview pak kalo udah lolos bisa langsung kerja besoknya ".
Bu Rianti yang mengintip dari balik kelambu kamarnya tanpa sepengetahuan Pak Danuarta dan Ranum, hanya bisa pasrah lamat-lamat ia mendengarkan pembicaraan mereka. Bu Rianti tampak gelisah takut ada hal yang terjadi pada putri semata wayangnya itu.
" Ohh, kerja. Kerja apa kamu Num." tanya Pak Danuarta.
" Di toko sepatu pak sama di rumah makan " jelas Ranum.
" Jadi, mau kerja yang mana kamu? "
" Ranum masih bingung pak, mau kerja yang mana. Tapi Ranum rasa di rumah makan pak soalnya banyak ceperannya " jawab Ranum
" Baguslah kamu kerja, jadi gak nyusahin orang tua, lumayan nambah keuangan rumah itung-itung biar dapur mengepul terus, ya lebih-lebih bisa kasih uang ke bapak " jawab Pak Danuarta dengan entengnya.
" Iya pak " jawab Ranum dengan wajah sendu.
Bu Rianti yang mengintip sedari tadi hanya bisa menangis tergugu melihat anaknya dibawah tekanan rumah tangganya yang kian carut marut, belum lagi masalah perekonomian keluarga yang kian menghimpit hutang sana sini akibat dari ulah suaminya itu membuat anaknya ikut merasakan pedihnya kehidupan.
Bukan ia tak kasihan namun bagaimana lagi tulang punggung keluarga yang diandalkan sekarang tak dapat dipercaya sepenuhnya.