
" Baik Pak saya keatas sekarang "
Jawab Mbak Yuli mengiyakan perintah dari Wijaya. Sedangkan Wijaya sudah berlalu keluar menebus obat untuk Ranum.
***
" Permisi Nyah, saya boleh masuk ? "
Terdengar suara Mbak Yuli dari luar dan segera Ranum menjawabnya.
" Masuk ajah Mbak, gak dikunci kok pintunya " jawab Ranum dengan suara paraunya.
Klek... Suara kenop pintu terdengar terbuka.
Lalu Mbak Yuli masuk pelan-pelan dan menghampiri Ranum yang terbaring di atas ranjang.
" Nyah... "
Panggil Mbak Yuli kepada Ranum dengan memelankan suaranya.
Ranum yang merespon Mbak Yuli membuka matanya perlahan dan menoleh ke arah sumber suara berasal.
" Mbak Yuli... " Senyum Ranum menimpali panggilan Mbak Yuli.
" Nyah mana yang sakit biar saya pijitin "
Saat hendak memegang kaki Ranum untuk memijat, sontak Ranum menolaknya.
" Ee nggak usah Mbak, temani ajah saya disini "
" Iya Nyah, duh panas banget badannya, saya kompres lagi ya "
Dengan cekatan Mbak Yuli meraih mangkok berisi air dan segera meletakkan handuk basah ke dahinya Ranum.
" Nyonya belum makan kan? "
" Belum mbak "
" Oiya haduhh, saya lupa. Saya turun dulu kebawah ya ambil sop ayam anget dulu sama bubur "
Ranum hanya mengangguk pasrah mengiyakan apa yang dikatakan Mbak Yuli.
Keadaan sekarang sungguh membuatnya tak berdaya, sakit di seluruh badan karena demam tinggi tak bisa ia elak kan.
Teringat disaat ia sakit, ibunya lah yang merawatnya, namun sekarang ia jauh dari ibunya keadaan yang memaksa ia harus seperti ini.
Segera ia menepis jauh-jauh pikiran yang malah semakin membuat ia stres.
*****
Saat menuruni tangga Mbak Yuli merutuki kebodohan dirinya sendiri, mengapa ia dari tadi tidak membawa sop ayam dan bubur untuk Ranum.
" Yuli... Yuli... mikirin apa sih kamu sampe lupa bawa sop ayam sama bubur "
Mbak Yuli bermonolog sendiri dan sambil memukul-mukul dahinya dengan telapak tangannya.
Saat Mbak Yuli hendak mengambil sop ayam dan bubur di pantry, ia melihat Wijaya telah datang membawa sebungkus obat yang telah ditebusnya tadi.
" Eh Pak Wijaya, tumben cepet "
" Iya, soalnya baru buka apoteknya "
" Biar saya saja yang bawa mbak makanannya "
" Tapi pak.. "
" Sudah saya saja "
" Baik pak "
****
Klek...
" Num... "
Terlihat Ranum sedang tidur dengan dahi yang tertempel dengan kain kompresan. Melihat istrinya dengan keadaan seperti itu membuatnya merasa tak tega membangunkannya namun bagaimana lagi ini saatnya Ranum makan dan minum obat.
Dengan langkah pelan ia meletakkan nampan dan obat di atas nakas, lalu ia duduk di samping tubuh Ranum. Dengan hati-hati ia membelai pipi mulus Ranum dengan jarinya dan membangunkan dengan suara lembutnya.
" Ranum, sayang bangun dulu "
Terasa terusik dengan Wijaya Ranum membuka matanya dan mengerjapkan matanya yang buram, ia melihat seseorang didepan matanya.
Ternyata itu adalah Wijaya, yang tangannya membelai pipi Ranum.
Sontak Ranum kaget dan membuang tangan Wijaya.
" Mau ngapain kamu, pegang-pegang pipi saya "
" Saya bangunkan kamu Num, untuk makan "
" Saya bisa sendiri " ketus Ranum.
Wijaya menghela napasnya, mendapat penolakan dari Ranum.
" Sudah saya siapkan sop ayam anget sama bubur, kamu makan sekarang biar saya yang suapin kamu. Terus minum obat "
Wijaya lalu meraih semangkuk bubur dari nakas, perlahan ia mulai menuangkan sop ayam untuk Ranum.
" Makan yang ya banyak Num "
Ranum melihat perlakuan Wijaya seperti itu membuatnya merasa jengah, tapi keadaan yang tidak memungkinkan bagi ia untuk menolak suapan dari Wijaya. Dengan sangat terpaksa ia harus membuka mulutnya untuk menerima suapan Wijaya.
" Aaa buka mulutnya "
Dengan perlahan Ranum mulai membuka mulutnya dan menerima suapan dari Wijaya.
Tampaknya Ranum sangat lapar hari ini ia mengunyah makanan dengan lahapnya, melihat hal itu Wijaya nampak tersenyum geli.
" Dari tadi kamu menolaknya Num, saya tau kamu gengsi. Tapi perut laparmu tidak pernah bisa berbohong " batin Wijaya
Ranum makan seperti anak kecil dihadapan Wijaya, dengan makanan yang berantakan di mulutnya membuat Wijaya merasa gemas melihat Ranum.
" Num ada ayam di mulut kamu "
" Hah ? "
Tangan Wijaya beralih ke arah mulut Ranum dan membersihkan sisa makanan yang menempel di tepi mulut Ranum.
Sontak Ranum diam terpaku mendapatkan perlakuan yang manis dari Wijaya. Dengan mata yang sedikit terbelalak melihat Wijaya berada tepat di depan wajahnya.
Seketika itu juga lamunannya dipecahkan oleh Wijaya.
" Yuk, aaa lagi buka mulutnya "
Ranum yang kaget segera memalingkan wajahnya dari Wijaya. Tak terasa suapan demi suapan telah berakhir dan semangkuk sop ayam dan bubur telah habis Ranum makan.
Terlihat ada gurat bahagia di wajah Wijaya bagaimana tidak ia telah sukses membuat Ranum perlahan-lahan luluh terhadap dirinya.
" Sekarang minum obat, duduk sebentar lalu tidur ya Num biar cepet sehat "
" Iya " jawab singkat Ranum.
Wijaya lalu memberikan beberapa butir obat dan segelas air putih untuk Ranum.
Ranum segera menelan obat lalu diikuti dengan beberapa tegukan segelas air putih.
" Sudah " ucap Ranum.
" Istirahat sebentar " ucap Wijaya dengan mengacak rambut Ranum.
" Ishhhh apaan si " kesal Ranum.
" Hhhaa, Num cepat sembuh ya "
Cuppp...
Kecup mesra Wijaya di pipi Ranum.
Seketika dengan cepat pipi Ranum bersemu merah bak kepiting rebus. Perlakuan Wijaya yang tiba-tiba membuatnya merasa ada yang tak biasa dihatinya.
" Saya mandi dulu Num "
" Tunggu ! "
" Iya ada apa Num ? "
" Kamu kerja kan hari ini, biar saya saja yang siapkan pakaiannya "
Dengan menghela napasnya Wijaya merasa gemas melihat Ranum, dengan keadaan sakit seperti ini saja ia masih mementingkan orang lain bukan kepada dirinya sendiri.
" Tidak perlu, saya tidak kerja hari ini. Saya jagain kamu "
" Kenapa ? bukan pekerjaan yang lebih penting? kan ada Mbak Yuli yang jagain saya dirumah "
" Kamu tanya kenapa? "
" Iya " jawab Ranum dengan anggukan kepalanya.
" Karena kamu itu adalah istri saya "
" Bulshit " ejek Ranum.
" Hmmmm "
Wijaya enggan untuk berdebat lebih jauh dengan Ranum, ia lebih memilih meninggalkan istrinya itu di kasur dan segera berlalu untuk pergi mandi.
" Dih, dasar ada maunya " umpat Ranum.
" Kalo begini terus jangan-jangan aku bisa jatuh cinta sama Wijaya, aduh jangan sampe " Ranum sambil memukul-mukul tangannya pada dahinya merutuki apa yang telah ia bayangkan.
" Maaf, tapi yang pasti aku masih belum bisa nerima kamu. Aku sama sekali belum cinta sama kamu. Pernikahan ini atas dasar paksaan bukan murni dari kamu sama aku " batin Ranum berujar di dalam hati.
Ketika pernikahan antara mereka berdua dilandasi atas dasar paksaan dan bukan dari kehendak mereka berdua sendiri memanglah sangat sulit untuk menumbuhkan benih-benih asmara di dalam hati.
Tapi lambat laun seiring berjalannya waktu siapa yang akan tahu, dan apa yang akan terjadi pada mereka berdua.