AMALIA ISKANDAR

AMALIA ISKANDAR
9. SAH...



🍁SEPENGGAL KISAH NYATA DARI REKAN SEPERJUANGAN, DENGAN SEDIKIT BUMBU DARI OTHOR🍁


Bismillahirrahmanirrahim....


Happy reading semoga ada hikmah yang tersurat maupun tersirat yang bisa dijadikan pelajaran, dan jika masih banyak kekurangan mohon dimaafkan🙏


🌹🌹🌹


Suasana di meja makan tampak sunyi, hanya terdengar suara denting sendok yang saling beradu. Aku melirik sekilas pada Via, kemudian memutar pandangan ke arah Abian yang ada di sebelah kiri Via, tepat berada di depanku. Wajah keduanya sama, berduka dalam diam sambil mengunyah makanan yang sepertinya terasa hambar bagi mereka.


"Via, nggak usah sekolah dulu ya hari ini" Aku membuka percakapan sambil menatap Via tenang.


Ia menoleh padaku, begitu juga Abian, keduanya menghentikan sendokan nasinya.


"Ibuk, sudah mengabari wali kelasmu" Ucapku lagi untuk menjelaskan.


Tak ada jawaban dari Via, ia memalingkan tatapannya ada piring nasi dan melanjutkan kunyahannya.


"Kenapa harus di ijinkan?" Abian menatap tajam padaku sambil berkata dengan nada penuh protes, ia merasa tidak setuju Via tidak sekolah hari ini.


"Bapak tidak liat gimana kondisi Via?"


"Disekolah ia ketemu banyak teman, ia pasti akan sedikit terhibur" jawab Abian datar.


"Yakin???, yang ada Via malah merasa minder"


Aku berucap sambil bangkit dari meja makan membawa piring kotor bekasku ke dalam wastafel.


Pandangan Abian masih lekat menatapku, sedang Via tertunduk dengan mata memerah.


Selesai mencuci piring dan meniriskan di keranjang yang ada diatas wastafel, aku memutar badan dan kembali ke meja makan untuk mengambil piring bekas Abian dan Via.


"Jika Via ingin sekolah, ayo...Ibuk antar!" aku mencoba mengikuti maunya Abian, dengan gerakan tangan masih setia mengemas piring-piring di atas meja.


"Via nggak mau sekolah" Via bangkit dengan wajah sedihnya sambil berjalan ke arah kamar dan menutup pintunya dengan sedikit kuat.


Mataku dan Abian sama-sama memandang ke arah Via.


Tak lama setelah Via menghilang di telan pintu, mataku dan mata Abian bertubrukan. Tak ada getaran yang kurasa, begitu juga Abian, karena memang tak ada cinta diantara kami. Aku memutus pandangan dan membawa piring kotor ke dalam wastafel dan kembali mencucinya.


Sedang Abian menopang kepalanya dengan kedua tangannya, ada raut prustasi, kepalanya terasa berat seperti menjunjung bongkahan batu. Pikirannya masih tertuju pada istrinya, lebih tepatnya mantan. Ia masih belum sepenuhnya menerima keputusan Putri Aura yang berubah dalam sekelip mata. Rela meninggalkan dirinya dan Via.


Dunia memang terkadang kejam, saat kita sehat, terlebih banyak uang banyak cinta yang datang. Tapi saat kita sakit terlebih tak punya, cinta yang awalnya terasa manis seperti madu, berubah menjadi racun yang pahit.


"Sebaiknya bapak pertimbangkan lagi ucapan saya tadi!" Aku berucap tanpa melihat pada lawan bicara, dengan tangan yang masih sibuk menggosok piring.


Abian tertawa sinis, entah apa maksud tawanya, apa merendahkan aku yang tak sesempurna mantan istrinya, atau menganggap rendah dirinya sendiri. Yang pasti ia terlihat seperti orang yang putus asa, tak percaya lagi dengan namanya wanita.


Biarlah, aku tak peduli, niatku hanya satu, untuk mempermudah pekerjaanku, lagian aku juga sebenarnya sudah tidak mempercayai pernikahan.


"Kalau itu maumu, akan ku kabulkan" ucapannya datar tanpa ada rasa ketertarikan, apalagi getaran. Tak lebih hanya ikut dalam game yang coba untuk kumainkan.


Aku menghentikan gerakan tanganku, sedikit terkejut dengan ucapan Abian yang tiba-tiba menyetujui kegilaanku.


"Bagus" jawabku dengan garis bibir sedikit tertarik ke atas.


"Apanya?" Abian terlihat bingung dengan jawaban ambigu yang kulontarkan.


"Ya, bagus aja"


"Tak ada yang bagus dari pernikahan ini, yang ada hanya kegilaanmu" Abian berucap datar.


Aku menyelesaikan cucian piring, dan kembali kemeja makan, Abian menatapku dengan sorot mata yang kompleks penuh keheranan.


"Mungkin bapak menganggap saya kecentilan, atau wanita obralan, terserah, saya tidak peduli, yang jelas pernikahan ini harus segera dilaksanakan"


"Kita akan menikah, tapi hanya secara siri, dan satu lagi jika orang tidak bertanya, jangan sekali-kali mengakui pernikahan kita di depan umum" ucap Abian tanpa peduli pada perasaanku. Biarin....emang gue pikirin.


"Emang penting bagi saya untuk mengakui pernikahan ini? jangan terlalu G R pak, malah itu yang saya harapkan, karena begitu pekerjaan saya selesai, kita dengan mudah mengakhiri semuanya"


Kata-kataku lancar tanpa perasaan.


"Bagaimana dengan keluargamu, apa mereka setuju dengan kegilaanmu ini?"


"Jangan pikirkan apa yang tidak perlu bapak pikirkan, sekarang fokuslah pada kesehatan bapak demi Via"


Abian tersentak mendengar ucapanku, mungkin dia sedikit tersentuh. Ah....apa peduliku.


"Kamu benar, sekarang tujuan saya memang hanya karena Via" Abian berkata dengan makna yang dalam.


***


Ruangan kerja Putri Aura


"Kamu benar-benar kejam Put" Ucap Anggi sahabat Putri yang bekerja ditempat yang sama, hanya beda bagian. Jika Putri Aura menduduki bagian HRD, sedang Anggi staf keuangan.


"Ia aku memang kejam, istri yang tak pandai bersyukur, ibu yang jahat, terserah....apa pun yang orang dan kau katakan memang benar adanya. Tapi satu yang perlu kau tau, aku ingin bahagia, itu saja" Putri Aura berucap dengan mata memerah menahan tangis dan sesak di dadanya. Sebenarnya ia juga merasa berat dengan itu semua, tapi egonya mengalahkan segalanya.


"Aku hanya tidak ingin kau menyesal Put, sudah menyia-nyiakan suami sebaik Abian" Anggi menyayangkan sikap Putri yang lebih mementingkan diri sendiri, meninggalkan Abian dalam kondisi kesakitan.


"Aku tidak akan pernah menyesal dengan apa yang kuputuskan"


"Yakin....kamu? Jangan sampai saat itu tiba malah semuanya sudah terlambat" Anggi mengakhiri ucapannya dan meninggalkan Putri Aura yang tak bisa menerima nasehatnya.


Putri Aura menatap kepergian Anggi, dengan sorot mata tak terbaca. Ia memutar kursi kebesarannya menghadap jendela kaca yang menyajikan pemandangan kota P dari lantai tiga gedung itu.


"Aku tidak akan pernah menjilat ludahku sendiri, keputusanku meninggalkan Abian sudah tepat, karena aku tidak ingin menyia-nyiakan hidupku" Gumamnya pelan dengan tatapan jauh kedepan.


***


Dua hari kemudian.


Dikediaman Abian malam setelah isya, tepatnya diruang tamu yang bernuansa putih dengan luas tiga kali empat meter persegi.


"Bagaimana saksi, sah?" tanya penghulu yang sedang menjabat tangan Abian.


"Sah!!!!" jawab saksi dan beberapa orang yang hadir di pernikahan itu, termasuk RT setempat yang juga diundang untuk menyaksikan jalannya acara sakral itu.


"Alhamdulillah........" kata selanjutnya yang diucap oleh penghulu dengan dilanjutkan doa untuk kedua mempelai.


Pernikahan yang sangat sederhana, tidak ada kebaya apalagi acara mewah. Karena mereka sepakat pernikahan ini hanya untuk mengikat mereka dengan kata ijab dan kabul.


Amalia hanya menggunakan baju muslim berwarna krim dipadukan dengan jelbab senada, sedang Abian memakai baju Koko berwarna putih dengan celana kain berwarna hitam. Tak lupa ia memakai peci dikeplanya. Via sendiri mengenakan baju muslim berkarakter hello Kitty, duduk manis disamping Amalia, turut menyaksikan pernikahan Abinya.


Abian hanya menyiapkan satu Al-quran sebagai mas kawinnya. Amalia tak memikirkan itu, ia datar-datar saja.


Tak ada sanak keluarga yang menyaksikan pernikahan mereka, apalagi Abian yang hanya sebatang kara di kota P ini. Pernikahan mereka hanya berwalikan paman Amalia dari garis keturunan Ayahnya, yang kebetulan sedang bekerja di kota itu.


Bersambung....