AMALIA ISKANDAR

AMALIA ISKANDAR
1. SUASANA HANGAT



🍁SEPENGGAL KISAH NYATA DARI REKAN SEPERJUANGAN, DENGAN SEDIKIT BUMBU DARI OTHOR🍁


Bismillahirrahmanirrahim....


Happy reading semoga ada hikmah yang tersurat maupun tersirat yang bisa dijadikan pelajaran, dan jika masih banyak kekurangan mohon dimaafkan🙏


🌹🌹🌹


Mereka berbaris dengan suasana hangat menyambut kedatangan para siswa. Salah satu diantara tiga orang itu memakai seragam dengan warna yang berbeda, jika dua diantaranya memakai seragam khusus ASN, tapi tidak dengan dia. Dia memakai seragam berwarna putih hitam, penanda pembeda kasta dilingkungan kerja. Tak masalah baginya, selama ia nyaman bekerja di sana. Karena ia memegang prinsip "manusia dimata Allah semua sama, yang membedakan hanyalah tingkat ketakwaannya".


🍁🍁🍁


"Assalamualaikum. . . anak shaleha...!" Sapaan hangat dari guru cantik berjelbab hitam sambil mengelus pucuk kepala anak yang memasuki pintu gerbang sekolah. "Walaikumsalam salam ibuk cantik" balasan hangat dari seorang siswi sambil mencium tangan buk guru cantik yang menyambut kedatangannya dengan senyum hangat.


Ya . . . , dia seorang guru cantik bernama Amalia Iskndar, salah satu dari tiga guru tadi yang berseragam hitam putih. Ia mengajar di sebuah Sekolah Dasar Negeri yang ada di kota P.


"Buk Lia, sepertinya itu murid ibu deh" Buk Nurlaila yang berdiri disamping Amalia menunjuk kearah jalan raya. Amalia memutar pandangannya mengikuti arah telunjuk buk Nur. "O....iya, sepertinya memang murid saya deh Buk, saya liat dulu ya buk, sepertinya ada drama lagi tu..." pamit Amalia pada buk Nur yang merupakan teman piketnya hari ini, sekaligus senior Amalia disekolah itu. Amalia berjalan kearah jalan raya berniat untuk menghampiri murid yang sedang merengek sambil menarik tangan sang ayah.


"Via....!" Amalia datang menyapa, berniat membujuk salah satu muridnya yang ia kenal memang sedikit manja, untuk masuk kedalam sekolah.


"Kenapa sayang? ayok... sama ibuk!" lanjutnya lagi sambil berjongkok mensejajarkan diri dengan Sovia yang berada disamping sang ayah.


Sovia anak cantik dengan pipi gembul yang menjadi ciri khasnya. Ia murid kelas 1 yang diajar oleh Amalia. Murid yang sehari-harinya terkenal agak manja, dan sedikit susah ditertibkan, namun dibalik itu semua Sovia murid yang penyayang.


Sovia menoleh kearah Amalia, namun ia masih tak bergeming tetap dengan rengekannya.


"Tu...buk gurunya udah ngajak adek" bujuk ayah Sovia yang sepertinya sedang buru-buru ingin pergi.


"Gak...mau, Abi kan udah janji sama adek, katanya hari ini mau ngantar adek sampai depan" sambil merengek Sovia mengingatkan janji sang ayah sambil menunjuk kearah guru piket yang sedang menyambut kedatangan para siswa. Ada keinginan seorang anak kecil kepada sang ayah yang sangat jelas tergambar dari raut wajah sang anak.


"Ia....tapi hari ini Abi buru-buru sayang" terlihat sang ayah sedang melirik kearah jam tangan yang ia kenakan. Sepertinya ia diburu waktu, entah ada urusan penting apa beliau.


"Gak mau" Sovia semakin mengeratkan pegangan tangannya pada sang ayah.


"Sayang, kesian Abinya, nanti Abi Sovia bisa telat, kesian kan kalau Abinya telat nanti dimarah sama bos"


"Tapikan, Abi yang bosnya" jawaban cerdas Sovia membuat sang ayah dan buk guru cantik tertawa bersamaan.


Namun buk guru tak kehabisan kata-kata untuk membujuk anak-anak yang biasa drama setiba disekolah. " Nah...karena Abi Sovia bosnya, makanya nggak boleh telat, kalau telatkan malu sama bawahannya. Emang Sovia mau Abinya dipanggil Boslat sama karyawan?". Kata-kata Amalia sontak membuat Sovia dan sang ayah mengerutkan kening sambil menatap bingung ke arah Amalia.


"Aku dipanggil Boslat?, perasaan selama ini semua orang memanggilku bos ganteng" gumam ayah Sovia, namun masih bisa di dengar oleh Amalia. Sepertinya ia sedikit tak terima dengan julukan baru yang diberikan buk guru sang anak.


Untuk menghindari kesalah pahaman makna, akhirnya Amalia berdiri menatap secara bergantian kearah Sovia dan sang ayah lalu berkata "Boslat itu artinya bos telat ".


Seketika wajah ayah Sovia langsung berbinar, "Oh...saya kira apa tadi, he...e...., sayang sama buk guru ya!" pintanya lagi pada Sovia berharap mempersingkat drama sang anak.


"Dasar laki-laki maunya selalu dipuji" namun kata-kata itu hanya di dalam hati saja, tak berani Amalia cetuskan, saat melihat perubahan ekspresi ayah sang murid yang memang ia akui lumayan ganteng.


Akhirnya perlahan Sovia mulai melepaskan pegangan tangan pada sang ayah dan mendekat kearah Amalia.


"Salim dulu sama Abinya!" pinta Amalia pada Sovia, ia selalu membiasakan anak-anak berakhlak mulia.


Tak ayal si ayah langsung membungkukkan badan, membalas dengan kecupan sayang dikening sang anak, dan berpesan " belajar yang rajin, jadi anak pintar kebanggaan bunda dan Abi ya...dan jangan nakal!" Si ayah mengelus lembut pucuk kepala Sovia.


Amalia memandangi kedua manusia yang berbeda generasi dengan perasaan menghangat, ada senyum di bibirnya dan ada andaian yang entah dihatinya.


Sesaat kemudian Sovia sudah merubah posisi dengan menggandeng tangan buk guru.


Permisi pak, saya bawa Sovia kedalam dulu" pamit Amalia dengan senyum ramah pada ayah sang murid yang belum ia ketahui namanya.


Laki-laki itu hanya membalas dengan anggukan dan sedikit sudut bibir yang ditarik keatas, menandakan ada senyuman kecil diwajahnya, yang mungkin juga menandakan kelegaan setelah drama sang anak.


Kemudian bergegas ia menutup pintu samping mobil bekas sang anak. Selanjutnya memutari mobil menuju kearah pintu kemudi dan menarik handel pintu untuk masuk mendudukkan diri didepan stir mobil. Setelah menutup pintu mobil ia pun menghidupkan mesin, memijak kopling dan memasukkan gigi mobil kemudian langsung tancap gas melesat pergi meninggalkan sekolah sang anak.


Amalia dan Sovia memandangi kepergian mobil Mitsubishi hitam yang dikendarai ayah Sovia, setelah mobil bergerak menjauh Amalia mengajak Sovia untuk lanjut masuk kedalam sekolah.


Setibanya di depan para guru piket, Amalia mengarahkan Sovia untuk salim kepada buk Nur dan buk Sinta.


"Sovia kenapa sayang?" tanya buk Sinta yang merupakan guru agama dikelas Sovia.


Sovia tak menjawab, terus diam dan setelah salam langsung berjalan ke arah temannya yang sudah menunggu diselasar sekolah.


"Biasa buk, drama ingin sang ayah ngantar sampai kekelas, tapi ayahnya sepertinya buru-buru" tutur Amalia sambil menyalami anak-anak.


" Kalau nggak salah, ayah Sovia kan kerja di ....ih....apa sih...itu...tu...yang di jalan Pak Kasih" Buk nur mencoba mengingat-ingat tempat kerja ayah Sovia.


"Supervisor Pe***do buk" jawab Amalia.


"Nah ...itu....ih...susah amat nyebutnya, maklum lidah nenek-nenek" buk Nur menertawakan dirinya sendiri.


"Nenek-nenek umurnya, tapi tampilannya masih ABGSSS" tambah buk Sinta, yang membuat ketiganya tertawa.


Jarum pendek jam yang dipasang didinding sekolah mengarah tepat keangka 07.00 dan bel yang berbunyi dua bahasa pun telah dihidupkan salah satu guru yang ada di ruang guru, sebagai penanda jam pelajaran akan segera dimulai.


Amalia, buk Sinta serta buk Nur membubarkan diri dan bermaksud untuk masuk keruang guru untuk mengambil tas kerja masing-masing. Setelah itu mereka langsung ingin masuk ke kelas masing-masing untuk menjalankan tugas mulia dan begitu juga dengan Amalia.


Saat hendak melangkah ke dalam kelas, tiba-tiba ada yang memanggil namanya.


"Buk...Amalia!"


Amalia memutar badan dan melihat kearah orang yang memanggil namanya.


"Eh...pak Burhan, ada apa pak?" tanyanya pada pak Burhan yang merupakan seorang operator sekolah tempat ia bekerja.


"Itu ..., buk Amalia dipanggil kepsek untuk menghadap beliau"


"Ada apa ya Pak?" tanya Amalia dengan wajah sedikit penasaran.


Bersambung....