AMALIA ISKANDAR

AMALIA ISKANDAR
21.KAKU



Amalia menggeliat, namun geraknya terbatas, sempit, gerah dan ia merasa ada beban dibagian perutnya.


Perlahan Amalia membuka mata, mengumpul sedikit demi sedikit kesadarannya. Terang lampu, membuat Amalia menyipitkan mata untuk mengatur jumlah cahaya yang masuk diretina.


Begitu mata mulai terbuka, ada yang aneh dengan seisi kamar, sejak kapan ia menyimpan meja dan kursi di dalam kamar? warna kamar juga tak biasa, kalau pun ia tidur dikamar Via, warna kamarnya hijau muda, sedang yang ini?


Pikiran Amalia terhenti, saat merasakan ada yang menarik bagian perutnya, Amalia tersentak, mulut menganga dan matanya membulat, hantukah yang sedang memeluknya?


Mengumpulkan seribu keberanian, Amalia menoleh kearah perut, terkejut bukan kepalang, ia melihat ada tangan gendruwo penuh bulu melingkar cantik membelit erat dirinya.


"Waaaaaaa..........." Amalia berteriak sekuat tenaga.


Bugh.......


Tubuh mungilnya terjatuh kelantai, akibat gerakan berontak untuk melepaskan diri dari cengkraman gendruwo. Entah bagaimana cepatnya gerakan Amalia, tiba-tiba saja sudah berpindah kelantai dalam posisi terduduk.


"Astagfirullah, kamu kenapa?" Abian kaget, terbangun dari tidurnya karna teriakan Amalia yang melengking digendang telinga.


"Ha....?" Amalia masih tak percaya, ternyata gendruwo sekarang bisa mengubah wujudnya menyerupai Abian.


"Kamu kenapa?" ulang Abian melihat tingkah Amalia seperti orang sawan.


"Ka...kamu, gendruwo?, ja...jangan ganggu sa...saya!" bibir Amalia bergetar hebat, ucapannya juga terbata.


"Ha......ha......" Abian tertawa lepas ditengah malam, malah suara tawa itu semakin menakutkan bagi Amalia.


"Ampunnnnn, jangan makan saya.....!" Amalia memejamkan mata, menangkupkan kedua tangannya didepan muka, sebagai wujud permohonan maaf ke pada gendruwo.


Melihat tingkah Amalia yang semakin tak beres, Abian melerai tawa, ada rasa bimbang jadinya melihat Amalia yang semakin ketakutan.


"Istighfar..., ini aku Abian suamimu, bukan gendruwo!"


"Suami?" Perlahan Amalia membuka mata, menatap kearah laki-laki yang dikira gendruwo. Abian tersenyum ke arahnya.


"Ia, aku suamimu" Abian meyakinkan.


"Tapi, bagaimana bisa kita tidur bersama disini? tunjuk Amalia pada kursi tempat ia tidur tadi. Amalia masih belum sepenuhnya mengingat awal cerita.


"Kamu lupa? semalam kan kita habis bertengkar, kan kamu sendiri yang bilang, bertengkar itu menguras banyak tenaga. Setelahnya kamu tertidur dalam pelukan ini" Abian menunjuk dadanya.


Seketika wajah Amalia merona, bisa-bisanya ia tak sadar dan tertidur di dada Abian. Bikin malu, mau ditaruh dimana mukanya.


"Tapi, Via?


Amalia baru teringat akan Via, karena semalam tak sempat bertanya, akibat pertikaian mereka berdua.


"Via ikut bundanya sejak siang kemaren, soalnya besok diakan libur, jadi mereka ingin jalan berdua" Abian menjelaskan pada Amalia.


"Jadi, sejak kemaren bapak sendiri dirumah? Ya Allah, ampuni aku atas sikap lalaiku, jadi dari kemaren juga bapak belum makan" Suara hati Amalia penuh penyesalan.


Croooookkkkkkk.......


Bunyi cacing diperut Abian, suara itu jelas semakin membuat Amalia merasa bersalah.


"Dari kemaren bapak belum makan?" tanya Amalia memastikan.


Abian hanya menggeleng pelan, namun senyum masih terkembang diwajahnya.


"Maafkan saya pak!" Amalia tertunduk, malu atas sikapnya, apa bedanya dia dan Putri Aura? tega meninggalkan Abian sendirian. Wajar jika semalam Abian marah padanya.


"Ia, dimaafin, dengan syarat...."


"Syarat? Amalia memotong ucapan Abian.


"Sekarang kamu harus masak untuk saya"


"Siap bos!" Amalia bangkit langsung menuju dapur, Abian tersenyum melihat tingkah Amalia, ternyata istrinya ini orang yang lucu.


*******


Masakan sederhana sudah terhidang di atas meja, Amalia memasak telur dadar yang diirisi bawah bombay, cabe rawit serta daun bawang. Hanya itu menu yang bisa disajikan Amalia, berhubung sekarang masih jam dua pagi.


Amalia tersenyum hangat melihat Abian. Amalia tak ikut makan karena masih kenyang.


Dalam sekejap Abian menghabiskan satu piring nasi dan semua telur dadar buatan Amalia. Entah masakan Amalia terlalu enak, atau perutnya yang terlalu lapar.


"Alhamdulillah" satu kata mengakhiri acara makan Abian.


"Sangat!"


Dua jempol Abian acungkan sebagai penghargaan pada Amalia.


"Amalia!"


Amalia menghentikan gerakan memungut piring bekas Abian.


"Emmm"


"Mulai sekarang, biasakan jangan memanggil aku bapak!"


"Emangnya mau dipanggil apa?"


"Hubby, mungkin"


"puuuuttttt" Amalia tak mampu menahan tawa, panggilan itu serasa menggelitik.


"Emang kenapa?" Abian keheranan.


"Bapak demam ya?" Secepatnya Amalia meletakkan punggung tangannya dikening Abian. Sepertinya bukan Amalia yang kesambet gendruwo, tapi Abian.


Abian melengos menatap Amalia tajam, keseriusannya malah dijadikan Amalia bahan candaan.


"Ya udah manggilnya jangan hubby juga kali, kayak orang lagi kasmaran. Gini aja deh, kata "saya" aja diganti jadi "aku". Kalau untuk bapak ya tetap bapak aja, nggak enak didengar bunda Via. Nanti ketauan lagi kita nikah siri, bisa kiamat" tutur Amalia panjang lebar.


"Emang kenapa kalau dia tau?"


"Jangan bilang...., bapak udah ngasih tau" Amalia memasang wajah penuh selidik.


"Biarin......" jawab Abian cuek.


"Bapak........!" Kedua kaki dihentak-hentakkan kelantai, setelah sekian tahun berusaha bersikap dewasa, kali ini suara manja ia muncul kembali. Memang itulah Amalia, pada dasarnya dia adalah wanita manja, karena keadaan yang memaksa ia bersikap dewasa.


"Ia, enggak deh....." Abian tertawa lucu melihat tingkah Amalia, yang baru kali ini menampakkan sisi manjanya. Selama ini yang ia tau Amalia wanita yang sedikit agresif dan mandiri.


"Tu...kan ketawa lagi, pasti ia kan?"


"Ya....enggaklah, mana sempat bahas itu sama dia" Abian kembali datar.


"Syukur deh kalau gitu, eh....mau kemana?"


Memutar kursi roda membelakangi Amalia, Abian bergerak ingin pergi.


"Tidur"


"Mau diantar?" goda Amalia, mulai terbiasa mencandai Abian.


"Nggak" Jawab Abian berpura-pura ketus.


"Yakin..??? kita belum bulan madu lho?"


Candaan Amalia makin menjadi, seketika Abian menghentikan gerak kursi roda dan memutarnya kembali mendekat ke hadapan Amalia yang masih berdiri disisi meja, dengan wajah masih menyunggingkan tawa.


"Emang mau?"


Bukan menjawab pertanyaan Amalia, justru sekarang Abian balik bertanya. Wajahnya dibuat sedikit mesum, Ia tau Amalia sedang mengerjainya, jadi tak ada salahnya ia balas mengerjai.


Seketika wajah Amalia merona, tawa yang tadi terkembang perlahan berganti memucat ketakutan.


Tak menyangka candaannya dianggap serius oleh Abian.


"Ha.....?"


"Emang mau bulan madu sekarang?"


Abian menyeringai nakal, perlahan diraihnya tangan Amalia, dikecupnya punggung tangan Amalia yang berdiri tegang.


Abian mendongak melihat reaksi Amalia yang tegang, wanita itu menutup mata rapat, tubuhnya menjadi kaku. Debar jantung Amalia tak beraturan, perlahan ia menarik tangannya dari Abian, sambil menggelengkan kepala, menolak ajakan Abian.


"Tadi bukan main beraninya, eh....baru dipegang dikit udah menciut, ha....ha..." Abian tertawa terbahak-bahak, kembali memutar kursi roda untuk kembali keperaduan.


Perlahan Amalia membuka mata, ternyata Abian sudah menghilang dari hadapannya. Sekarang ia bisa bernafas lega. Ternyata ia baru sadar, Abian sedang mengerjainya.


Bersambung.....