
🍁SEPENGGAL KISAH NYATA DARI REKAN SEPERJUANGAN, DENGAN SEDIKIT BUMBU DARI OTHOR🍁
Bismillahirrahmanirrahim....
Happy reading semoga ada hikmah yang tersurat maupun tersirat yang bisa dijadikan pelajaran, dan jika masih banyak kekurangan mohon dimaafkan🙏
🌹🌹🌹
Seminggu telah berlalu, hari-hari Amalia mulai disibukkan untuk urusan antar jemput Via kesekolah, sekaligus menjadi guru privat Via. Pada awalnya bunda Via hanya menawarkan Amalia untuk menjadi guru privat sang anak, tapi ternyata ada sebab lain yang mengharuskan Amalia menjalankan pekerjaan rangkap sebagai tukang ojeknya Via. Salah satunya dikarenakan sudah seminggu ini juga Abi Via yang biasanya bertugas mengantar Via kesekolah, masih berada dirumah sakit. Bundanya juga tambah sibuk, selain disibukkan pekerjaan akhir tahun, juga sibuk bolak balik rumah sakit untuk mengurusi semua keperluan suaminya.
Tak ada luka serius yang dialami, bahkan lecet juga tidak ada sama sekali, namun dari kejadian terjatuhnya Abi Via dalam posisi duduk mengakibatkan tulang ekornya sedikit bermasalah, itulah yang menjadi penyebab sampai hari ini ia masih dirawat intensif. Jangankan untuk berjalan, berdiri saja rasanya ia tak mampu.
"Buk....?" via.
"Ia sayang" Amalia.
"Boleh tidak kita singgah kerumah sakit? Via kangen Abi?" tanya Via pada Amalia. Saat ini Amalia dan Via sedang berboncengan sepeda motor diperjalanan pulang menuju rumah Via.
"Gimana ya, takutnya kita nggak dibolehin masuk, lagian ibuk juga nggak tau Abi Via dirawat dirumah sakit yang mana"
" Kita tanya bunda gimana?" Sovia memberi ide untuk menanyakan tempat Abinya dirawat.
"Sebentar ya, ibuk pinggirkan motor dulu" Amalia termasuk orang yang taat aturan disaat berkendaraan, oleh sebab itu jika ingin menelpon ia akan menghentikan kendaraannya dipinggir jalan, itulah yang ia lakukan saat ini.
"Halo....." Amalia
"Ia...ada apa ya buk?"
"Ini Bun, Via ngajak saya untuk menjenguk Abinya dirumah sakit, katanya dia kangen"
"Apa tidak merepotkan ibuk? takutnya nanti malah ngerepotin...." ucap bunda Via disebrang sana.
"Kebetulan saya nggak ada kegiatan Bun, paling nanti sore seperti biasa ngajar privat Via"
"Benar ni buk guru?" tanya bunda kembali memastikan, karena bagaimana pun juga ia takut merepotkan Amalia,.
"Bunda kirim aja nama rumah sakit beserta ruangnya"
"Ia nanti saya WA alamatnya. Oya...jika tidak ngerepotin, bisa nggak buk, minta tolong beliin sate ayam satu bungkus buat Abinya Via, soalnya tadi saya buru-buru, jadi nggak sempat buat beliin" Ucap bunda Via, meski ada rasa tidak enak untuk meminta tolong sama buk Amalia.
Namun teringat dengan keinginan suaminya, terbesit rasa penyesalan dengan ucapannya pada sang suami pagi tadi yang meminta dirinya untuk membelikannya sate.
"Siap bun, nggak sama sekali merasa direpotkan kok Bun".
"Makasih banyak buk guru"
"Ia, sama-sama bunda, Assalamualaikum...."
"Walaikumsalam salam....".
Rumah sakit
Flash back on
Waktu masih menunjukkan pukul 07.16 pagi, suasana rumah sakit masih tampak sepi, hanya terlihat perawat sip malam yang bersiap pulang dan sip pagi baru ada beberapa yang datang, karena memang jam pergantian sip berlangsung pada pukul 08.00 pagi. Para cleaning servis sedang sibuk membersihkan ruangan. Sedang jam kunjung akan dimulai pada pukul 11.00 siang. Rumah sakit ini memiliki aturan hanya boleh 1 orang keluarga pasien yang diperbolehkan untuk menjaga pasien.
Sama seperti hari sebelumnya di jam seperti ini Putri Aura sudah cantik dengan setelan kantornya, datang untuk mengecek kondisi suaminya, mengantarkan keperluan Abian dan melihat perkembangan sang suami. Ia memang tidak menginap di sana, dengan alasan Via tidak ada yang penjaga. Ditambah lagi disini tidak ada sanak saudara yang bisa dimintai tolong.
Abian terbaring di atas bednya, kondisi cedera pada tulang ekor, membuat ia lebih banyak berbaring.
"Bun...Boleh minta tolong?" Abian memecah keheningan. Bertanya dengan suara lembut pada sang istri yang duduk dikursi samping bednya dengan jari sambil mengotak atik hpnya.
"Tolong apa sih bi...?" Tanyanya dengan nada yang sedikit ditekan tanpa mengalihkan pandangan pada hapenya. Mungkin efek capek, jadi bawaannya sedikit ngegas.
"Abi pengen makan sate bun" Tatapnya lekat pada istri cantik yang sudah hampir sepuluh tahun menjadi partner hidupnya.
"Abi ni gimana sih....apa makanan dirumah sakit ini masih kurang? Liat...., buah....kue....juga masih menumpuk tu" tunjuknya dengan mengangkat dagu ke arah lemari kecil yang ada di samping kiri kepala abian.
Memang benar apa yang diucapkan Putri Aura sejak hari pertama dirawat, rekan Abian berdatangan untuk menjenguk. Belum lagi warga komplek yang juga ikut menjenguk karena beberapa hari tak melihat Abian kemesjit, lalu mereka menanyakan keberadaan Abian pada Putri Aura. Begitu juga dengan teman-temannya Putri Aura juga datang menjenguk suami dari HRD mereka. Mereka membawakan berbagai jenis buah tangan. Maklum Abian memang terkenal sebagai atasan dan warga yang baik dilingkungannya.
"Pakek acara pengen makan satek lagi. Abi nggak liat.....? Bunda mau kerjaaaaaa.....Abiiiii..... Bunda nggak sempat buat beliin Abi sate, ini aja bakalan kesiangan lagi, nggak enak sama temen kantor, mana mobil tadi nyendat-nyendat jalannya" ucapnya dengan nada sedikit meninggi.
"Emangnya mobilnya kenapa bun....?" tanya Abian dengan sedikit cemas. Biasanya sebelum istrinya berangkat kerja, ia lah yang selalu bertugas memanaskan mobil sambil mengecek kondisi mobil istrinya. Sekarang jangankan buat ngecek mobil, duduk lima menit saja rasanya ia tidak kuat.
"Mana bunda tau Bi, ni aja bunda minta dijemput" jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari hapenya lagi dengan jari jemari terlihat setia menari diatas layar hape.
"Minta jemput sama siapa ?" Tanya Abian pada istrinya.
"Sama temen kantor, nah.... ni dia udah nunggu di depan" ucapnya sambil membaca pesan wa yang masuk.
"Bunda berangkat dulu bi, udah keburu telat" sambil meraih tangan Abian untuk bersalaman.
"Hati-hati Bun....!" ucap Abian pada istrinya yang sudah berada diambang pintu.
" Ia....." jawab Bunda via singkat terus menghilang seiring ia menutup pintu.
Abian terdiam merenung tingkah istrinya yang mulai sedikit kasar padanya. Ia bisa memaklumi sikap istrinya yang sedikit berubah mungkin efek capek. Ia sadar selama seminggu ini istrinya tambah sibuk akibat dirinya. Tapi sebagai seorang istri harusnya disaat seperti inilah ia berada disamping suaminya, itu juga yang sebenarnya diharapkan Abian. Terlebih di kota P ini mereka tak punya sanak saudara, karena memang keduanya adalah perantau.
Flash back off
"Assalamualaikum....Abi...." Via mendorong pintu ruangan Abian,dan menghambur mendekati Abinya kemudian saling peluk.
"Walaikumsalam....eh....ada dedek, sama siapa sayang? tanya Abian melihat kedatangan putrinya sambil memeluk sayang.
"Sama ibuk" jawab Via masih dipelukan Abinya yang sedang terbaring.
"Ibuk.....?, ibuk yang mana?"
Bersambung.....