
Abian Vov
Kurang lebih tiga bulan sudah aku dinyatakan mengalami cedera tulang ekor, banyak perubahan dalam hidupku. Uang tabungan banyak terkuras untuk biaya berobat, meski ada bantuan dari BPJS.
Dari berpenghasilan belasan juta perbulan, kini tinggal lima jutaan, belum lagi kondisiku yang seperti mayat hidup, bernyawa tapi tak bisa apa-apa. Jangankan untuk memenuhi kebutuhan biologis istri, untuk berdiri saja aku tak mampu. Mungkin hal itu jugalah istri yang kucintai hingga detik ini, tanpa pikir panjang meninggalkanku.
Saat kata talak kulayangkan, duniaku terasa berhenti, terasa gelap, Aura yang selalu menyinari ku, berubah jadi awan hitam nan pekat.
Aku menjadi lelaki cacat, tak berguna...
Kondisiku benar-benar down, siapa yang akan mengurus diriku dan Via? Pulang ketanah kelahiran juga rasanya tak mungkin, karna kedua orang tuaku sudah tiada. Aku punya satu saudara perempuan, tapi ia juga sama sepertiku, ikut suaminya ketanah Papua.
Saat dunia terasa gelap, Amalia yang notabennya guru privat Via, membuat satu penawaran yang sangat tak masuk akal.
Kukira ia hanya bercanda, ternyata ia tak main-main. Apa mungkin ada wanita yang sudi mengorbankan hidupnya demi laki-laki tak berguna sepertiku?
Apa ada untungnya untuk dia yang terbilang masih muda juga sempurna?
Dalam kondisi emosi yang masih labil karena masalah demi masalah yang kuhadapi, akhirnya kuputuskan menerima tawaran Amalia untuk menikah siri. Karena aku juga sangat butuh orang yang bisa menjaga aku dan Via, sangat miris bukan...?
Selama ini aku tidak pernah tau tentang Amalia. Siapa keluarganya, dimana rumahnya, semua aku tidak tau. Satu yang pasti, tidak mungkin jika statusnya istri orang. Hanya saja aku pernah mendengar ia berkata jika nasib kami tak jauh beda, dicampakkan disaat tak berguna.
Pernikahan itu akhirnya digelar sesederhana mungkin, dengan berwalikan paman Amalia dan hanya mengundang beberapa warga. Tanpa dihadiri orang tua dan saudaranya. Amalia juga tak mempermasalahkan maskawin yang kuberikan.
Sebenarnya banyak pertanyaan dibenakku, kenapa Amalia seperti menutupi pernikahan kami dari keluarganya. Ada apa sebenarnya?
Pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan, tapi biarlah.
Lagian pernikahan ini dibangun atas dasar saling menguntungkan alias simbiosis mutualisme.
Tapi, ada hal aneh yang kurasakan saat nama AMALIA ISKANDAR dilantunkan dalam ijab qabul, ada debaran didalam sana, entah apa namanya. Tapi aku sangat yakin, seyakin-yakinnya, itu bukan cinta. Karena cintaku sepenuhnya telah kuberikan tanpa sisa, pada wanita cantik bernama Putri Aura.
Amalia Iskandar, siwanita misteri. Wajahnya memang ayu, tapi tak secantik Putri Aura. Mereka tak bisa disandingkan, karena dari segi fisik Putri Aura jauh diatas angin. Body Putri Aura lebih sintal seperti gitar spanyol yang enak untuk dipetik, tapi sayang jangankan memetik, ya....sudahlah....
Amalia terlihat lebih kurus dan kurang modis. Penampilannya juga terkesan biasa saja.
Itu penilaian ku untuk fisiknya, tapi untuk kasih sayang, mungkin Amalia pemenangnya.
Ku akui, Amalia wanita yang telaten, ia benar-benar mengurus diriku. Benar-benar menjadi ibu yang baik untuk Via. Semua itu terlihat sejak pertama kali aku melihatnya disekolah Via dulu, aura keibuan memang melekat ada dirinya. Apakah itu karna ia seorang guru?
Setelah tiga bulan lamanya, baru malam tadi aku merasa kedamaian dalam tidurku, nyenyak tanpa mimpi buruk yang meresahkan ditengah malam.
Jika biasanya aku dengan susah payah untuk melakukan sesuatu, tidak lagi sekarang. Bahkan kencingku saja diurusin, apalagi hal yang lainnya. Pengecualian untuk urusan ranjang. Termasuk penampilanku, setelah tiga bulan baru hari ini ada orang yang memperhatikan penampilanku, siapa lagi kalau bukan Amalia. Ia mengajak aku kesalon untuk memotong rambut yang sudah menutupi sebagian wajahku. Aku mulai merasa hidup kembali dan ingin mencoba membangun mimpi bersama Amalia Iskandar. Itupun jika ia sudi.
Tapi, baru saja mimpi akan dimulai, aku mendapatkan kenyataan pahit, saat dimeja makan tanpa sengaja aku mengintip ke arah hape yang berdenting menandakan ada pesan masuk di hape Amalia.
Pesan itu dari seseorang yang tak bernama.
"Kenapa nggak dibalas?
Oya, saya lupa memperkenalkan diri.
juga yang mbak tolong di depan apotek.
Mohon maaf juga karena Zaki kening mbak sampai luka. Apapun sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih 🙏"
Oh....jadi laki-laki yang disalon tadi seorang dokter.Tunggu, sejak kapan mereka bertukar nomor?
Apa diam-diam Amalia menemuinya?
Sungguh luar biasa, ternyata ia bukan wanita baik-baik, aku harus membentengi diri agar tak terjebak oleh sikap manisnya.
Jadi, luka yang ada didahinya juga ada hubungannya dengan laki-laki itu, sungguh hebat dramanya. Pantas saja saat kutanya "siapa dia?" Amalia berpura-pura tak mengerti dengan apa yang kutanyakan. Dasar wanita murahan, syukur Tuhan telah menampakkan sikap aslinya lebih awal.
Akan kuruntuhkan rasa kepercayaan yang mulai kubangun untukmu Amalia. Meski aku laki-laki cacat, aku punya harga diri.
\*\*\*
Vov dr Zain.
Satu kata untuk hari ini "amazing......"
Sudah tiga tahunan aku menyandang status duda beranak satu, yang ditinggal mati oleh seorang wanita bernama Lestari.
Bukan aku menutup diri, hingga status duda yang kusandang awet hingga detik ini. Hanya saja aku mencari wanita yang bisa menaklukkan hati Zaki, putra semata wayangku.
Sudah banyak wanita yang dikenalkan oleh orang tua, saudara termasuk termasuk Tante Nur yang paling antusias mencarikan jodoh untukku serta rekan kerja, tapi tak ada satu pun yang bisa menaklukkan hati Zaki.
Sebagai laki-laki normal, aku ingin segera memiliki pasangan, berumah tangga sebagaimana layaknya pasangan lainnya. Namun lagi-lagi tak ada satupun wanita yang bisa menaklukkan hati Zaki.
Bagiku, kebahagian Zaki adalah kebahagiaanku, jadi jika aku ingin menikah, wanita itu haruslah diterima dan menerima Zaki.
Zaki anak yang istimewa, ia punya keistimewaan sendiri, ia akan mengamuk jika sesuatu tak sesuai keinginannya. Seperti kejadian pagi tadi saat disalon, ia menangis sejadinya, karena tak ingin pergi kesalon melainkan kesupermaket membeli eskrim.
Sudah berbagai cara kulakukan untuk membujuknya, tapi semua sia-sia. Sampailah pada kejadian yang tak terduga, dengan tiba-tiba Zaki menghentikan tangisannya dan untuk pertama kali menyebut kata "mama" pada wanita asing yang melintas disamping kami.
Aku sedikit shock, pasalnya Zaki bukan anak yang mudah dekat, terlebih dengan orang asing.
Rasa tak percaya masih memenuhi kepalaku. Ada apa dengan wanita itu?
Tatapan intens kulayangkan, dia wanita berhijab dengan wajah yang memang ayu, meski tubuhnya terlihat sedikit kurus.
Dia juga sama, terlihat shock dengan panggilan Zaki untuknya, hingga berkali-kali ia bertanya, apa benar Zaki sedang memanggil dirinya dengan sebutan "mama"?
Ternyata benar, malah Zaki minta digendong. Syukurnya tak ada penolakan apalagi marah, ia malah tersenyum ramah dan menggendong Zaki layaknya seorang ibu dengan anaknya.
Pemandangan yang sungguh luar biasa, yang belum pernah kusaksikan.
Bersambung....