AMALIA ISKANDAR

AMALIA ISKANDAR
16. SIAPA DIA?



Ting....ting...


Kembali ada pesan masuk di hape Amalia. Amalia memilih untuk berbaring dikasur Via dan mengabaikan pesan yang masuk. Ia paling tidak suka berbalas pesan yang tak jelas pengirimnya.


Baru akan memejamkan mata, Via masuk menghampiri Amalia yang berbaring membelakangi dirinya.


"Mama kata Abi ayo makan sama-sama!"


Amalia memutar badan memandang wajah Via yang ada disampingnya.


"Mama masih kenyang sayang, Via makan sama Abi ya?"


"Nggak mau, maunya sama mama juga" rengek Via pada Amalia.


Amalia mendudukkan diri, mau tak mau ia mengikuti kemauan Via. Padahal jauh dilubuk hatinya ia masih sedikit dongkol pada Abian.


Via dan Amalia berjalan beriringan menuju meja makan, rupanya Abian belum menyentuh makanannya.


"Kenapa belum makan?" tanya Amalia pada Abian karena nasi di piringnya masih utuh.


"Seorang suami nggak mungkin bisa makan, sementara istrinya kelaparan"


Ucapan Abian membuat hati Amalia bergetar, rona merah diwajahnya jelas terlihat. Baru kali ini Abian menganggap ia sebagai istri. Tapi itupun belum pasti, apakah kata-kata Abian hanya dibibir saja, atau tulus dari hati.


Amalia meletakkan hape diatas meja tepat disamping Abian, kemudian ia melangkah kearah dapur untuk mengambil piring.


Ting....ting....


Kembali ada pesan masuk di hape Amalia.


Karena penasaran Abian melirik kearah pesan yang masuk. Disana ia melihat ada beberapa wa dari pengirim yang tak bernama. Wajah Abian berubah sedikit memerah membaca setiap rangkaian kata di hape Amalia.


Kenapa nggak dibalas?


Oya, saya lupa memperkenalkan diri.


Saya dr Zain ayahnya Zaki, anak yang disalon tadi


juga yang mbak tolong di depan apotek.


Mohon maaf juga karena Zaki kening mbak sampai luka. Apapun sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih 🙏


Prak......


Abian menjatuhkan sendok kedalam piring, selanjutnya ia memutar kursi roda dan beranjak pergi meninggalkan meja makan tanpa menyentuh makanan yang sudah terhidang.


Amalia yang baru akan duduk dikursi meja makan dibuat melongo dengan sikap Abian yang tiba-tiba berubah.


Amalia menatap punggung Abian yang semakin menjauh, hingga menghilang ditelan pintu kamar.


Via juga sama, ia merasa heran dengan sikap Abinya yang tiba-tiba berubah, bukankah beberapa menit yang lalu Abinya sangat antusias menyuruh Via untuk mengajak Amalia makan bersama. Tapi kenapa sekarang malah Abinya yang pergi tanpa menyentuh makanan.


"Abi kenapa?" tanya Via dengan tatapan masih ke arah kamar Abian. Via hanya mengangkat kedua bahunya, petanda ia juga tidak tau.


"Ayo..kita makan! nanti keburu dingin, Abi nanti biar mama yang ngantar makanan ke kamar" tutur Amalia pada Via.


Mereka pun makan dalam diam, pikiran Amalia masih tetap sama tertuju pada sikap Abian yang dinilai suka berubah-ubah.


Apa mungkin karakternya seperti itu?


Karena Amalia belum terlalu mengenal Abian.


Begitu juga sebaliknya, mereka menikah bukan didasari atas cinta, melainkan simbiosis mutualisme bagi keduanya. Abian mengharapkan pertolongan Amalia, sementara Amalia mengharap gaji dari apa yang dilakukannya.


Amalia mempercepat makannya, ia ingin segera membawakan Abian makanan, karena ia tau Abian juga belum makan.


Selesai makan, Via membantu Amalia membawa piring kotor ke wastafel, sementara Amalia menyiapkan makanan untuk Abian.


Tanpa mengetuk pintu, Amalia masuk kekamar Abian, disana ia melihat Abian sedang berbaring membelakangi pintu. Tampak jelas Abian sedang memandangi foto Putri Aura,Via dan dirinya yang saling berpelukan dengan berlatarkan sebuah tempat wisata alam. Benar-benar tampak serasi, sama cantik dan gantengnya ditambah anak yang cantik dan lucu menambah kebahagian keluarga itu dimasa lalu. Siapa yang melihat pasti ada rasa iri, termasuk Amalia yang sedang berdiri dibelakang Abian dengan nampan ditangan.


"Ehm..." Amalia berdehem untuk menyadarkan Abian bahwa ada Amalia di sana.


Spontan Abian menekan tombol kunci dilayar hape, dan mengubah posisi menghadap Amalia.


"Bapak kenapa nggak makan?"


"Nggak selera" Jawab Abian sedikit ketus.


Amalia menarik nafas dalam, dan menghembuskannya perlahan untuk mengelola emosinya.


Amalia mendudukkan diri disisi Abian, perlahan Abian bertumpu pada kedua tangan untuk mendudukkan diri dan bersandar dikepala ranjang.


Abian menatap Amalia lekat, mencoba menyelami kedalaman hati Amalia.


"Mau disuapi?" tanya Amalia lagi.


Masih tak ada jawaban dari Abian, namun tatapannya masih lekat pada Amalia.


"Siapa dia?"


"Dia siapa?"


Apa maksudnya dengan menanyakan "siapa dia?"


"Kamu ketemu sama dia lagi kan?"


Amalia meletakkan nampan diatas nakas yang ada di samping tempat tidur.


"Maksud bapak apa?"


Amalia semakin pusing dengan kata-kata Abian.


Abian membuang muka, merasa di bodohi oleh Amalia.


"Apa maunya wanita ini, berpura-pura polos, padahal bermain di belakangku, dasar wanita semua sama. Pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan, ok...kita lihat sampai dimana permainannya" suara hati Abian.


"Bapak kalau mau marah dipending aja dulu, nanti setelah makan baru dilanjutin marahnya, soalnya marah juga butuh banyak energi pak" Ucap Amalia sambil mengambil kembali piring yang ada di atas naman.


Sadar atau tidak, sudut bibir Abian sedikit terangkat mendengar saran Amalia untuk ia memending amarahnya.


"Aaakkk..."


Amalia mendekatkan sendok kebibir Abian, mau tak mau Abian akhirnya membuka mulut juga.


Pernah berumah tangga hampir sepuluh tahun, baru hari ini ia diperlakukan sangat istimewa, disuapi layaknya bayi kecil yang baru belajar makan.


Ada rasa hangat di dada Abian, tatapannya lekat pada Amalia. Benarkah wanita yang belum genap sehari ini benar-benar tulus menjadi istri dan merawat dirinya?


Tapi, siapa laki-laki yang mengaku sebagai dr Zain itu? Kenapa juga anak kecil itu memanggil Amalia mama?


Banyak pertanyaan di kepala Abian, tapi untuk saat ini ia memilih untuk makan, seperti yang Amalia sarankan. Karena untuk marah juga butuh energi.


Suapan demi suapan makanan lolos dikerongkongan Abian, hingga akhirnya makanan dipiring itu tandas. Ternyata masakan Amalia cocok dilidahnya, atau karena disuapi makanya makanan semakin terasa enak.


Amalia meletakkan kembali piring kosong ke atas nampan dan mengambil gelas yang berisi air minum untuk Abian.


"Makasih" ucap Abian setelah meminum air yang Amalia berikan padanya.


Amalia membalas dengan anggukan dan sedikit tersenyum pada Abian.


"Siapa dia?" Tanya Abian datar.


Senyum yang terkembang diwajah Amalia seketika memudar, ternyata Abian benar-benar mengikuti sarannya untuk makan terlebih dahulu, baru melanjutkan marahnya.


"Jujur saya bingung mau jawab apa pak, dari pada saya menjawab sesuatu yang tidak penting sekarang lebih baik kita bahas soal pengobatan bapak yang jauh lebih penting" Sisi dewasa Amalia mulai ia tampakkan, karena baginya apa yang Abian tanyakan sama sekali ia tak mengerti, dari pada dijawab takut salah, mending membahas yang jelas-jelas.


Apa yang dikatakan Amalia ada benarnya, kini Abian terlihat mulai tenang kembali. Pengalaman ditinggal begitu saja boleh jadi membuat ia susah untuk mempercayai seseorang, apalagi Amalia yang menurutnya penuh misteri.


"Saya rasa bapak jangan lagi mengkonsumsi obat-obatan yang diresepkan dokter, karna setau saya obat-obatan itu jika dikonsumsi dalam waktu yang lama akan berpengaruh pada organ yang lain, terutama ginjal" papar Amalia dengan nada serius.


"Jadi, maksud kamu?" Abian sedikit terkejut dengan ucapan Amalia, bukankah dimana-mana kalau kita ingin sehat harus ikut anjuran dan resef dokter?


"Ya, kita ganti pengobatan bapak secara non medis, terapi misal, dan untuk pengganti obatnya akan saya buatkan dari herbal"


"Emang kamu bisa?"


"Insyaallah pak, kalaupun tidak bisa, setidaknya sekarang kita hidup di era modern, segala informasi dengan mudah bisa kita dapatkan, asal ada kuota"


"Membuat herbal itu tidak gampang, butuh keterampilan dan waktu"


Abian sedikit meragukan kemampuan Amalia. Pasalnya meski herbal minim efek samping, namun jika penyajiannya salah juga bisa berdampak negatif.


"Bapak tenang aja, serahkan semuanya sama saya, sekarang bapak istirahat, soalnya hari ini bapak banyak duduk!"


Amalia mengatur susunan bantal Abian sedikit tinggi, soalnya Abian baru saja habis makan. Jika tidur dengan posisi biasa akan meningkatkan asam lambung.


Entah magnet apa yang digunakan Amalia, perlahan tapi pasti Abian menuruti semua ucapan Amalia.


Bersambung....