AMALIA ISKANDAR

AMALIA ISKANDAR
3. KECELAKAAN



🍁SEPENGGAL KISAH NYATA DARI REKAN SEPERJUANGAN, DENGAN SEDIKIT BUMBU DARI OTHOR🍁


Bismillahirrahmanirrahim....


Happy reading semoga ada hikmah yang tersurat maupun tersirat yang bisa dijadikan pelajaran, dan jika masih banyak kekurangan mohon dimaafkan🙏


🌹🌹🌹


Sore menjelang.


Sinar matahari sore masih setia dengan langit biru. Jalanan kota P masih terbilang ramai, dikarenakan sekarang bertepatan jam pulang kantor. Kafe-kafe mulai ramai disinggahi anak kuliyahan dan orang-orang yang memang sengaja nongkrong bareng teman maupun gebetan.


Disebuah kafe yang berdinding transparan dengan kaca di depan samping kiri dan kanan. Kafe ini dinamai dengan CW kafe, yang sudah memiliki beberapa cabang di kota P ini. Kafe ini cocok untuk tempat tongkrongan manusia dari generasi X sampai Alpha. Tak heran jika kafe ini tak pernah sepi pengunjung dari siang hingga tengah malam, ditambah jam kunjung hingga 24 jam. Suasana yang disajikan sangan nyaman, dengan spot foto hampir diseluruh ruangan. Bagi para perokok disediakan ruang terbuka yang tetap nyaman. Namun jika ingin suasana yang homy dan sejuk disarankan untuk memilih di dalam ruangan, karena dipasilitasi dengan full AC. Disini juga disediakan bermacam menu,dari makanan ringan hingga makan berat seperti nasi goreng maupun Ayam geprek.


Kafe inilah yang dijadikan bunda Via untuk bertemu dengan Amalia. Disalah satu meja yang ada disudut ruangan sudah tampak Via dan bundanya. Di atas meja sudah terhidang satu gelas jus alpukat kesukaan Via, dan segelas capuccino dingin. Via sudah tidak lagi mengenakan seragam sekolah, ia mengenakan baju model Sabrina yang dipadu padankan dengan rok lepis model selutut, dengan sepatu plat bermotif hello Kitty dikakinya, menambah kesan modis untuk anak seusianya.


Tak jauh berbeda dengan Via, sang bunda juga terlihat masih sangat cantik di usianya yang menginjak kepala tiga. Dengan masih memakai seragam kantoran, rok selutut berwarna abu tua dipadankan dengan kemeja putih berkerah renda hingga sebatas dada ditambah blezer abu tua yang membungkus bagian luarnya. Di dada sebelah kiri tertempel name tag bertuliskan Putri Aura. Pantas saja ia bak seorang putri yang memiliki aura cantik. Make up natural di wajah putih mulusnya menambah kesan cantik....dan cantik....bagi yang memandang.


"Bunda....buk Amalia jadi datangkan?" tanya Via yang harap-harap cemas takut buk Amalia tak jadi datang. Sambil mengaduk-aduk jus Alpukat digelasnya ia memandang ke arah pengunjung yang memasuki kafe. Berharap wajah buk Amalia yang muncul diantara beberapa pengunjung.


Bunda mengalihkan perhatiannya dari layar hp yang sejak beberapa menit tadi dipandanginya. Ia tersenyum ke arah Via yang duduk disampingnya, "sabar ya, mungkin buk Amalia lagi dijalan sayang" ucapnya lembut ke pada sang anak yang terkesan tak sabaran.


"Nah....itu buk Amalia" Bunda Via melambaikan tangan ke pada Amalia dengan senyum terkembang di bibirnya.


Amalia membalas dengan senyuman sambil terus berjalan mendekat ke arah meja Via dan bundanya.


"Sudah lama Bun?" sambil cipika-cipiki pada wanita cantik yang dihampirinya.


"Baru, palingan 15 menitan, oya...silakan duduk buk guru!" Bunda via kembali duduk di kursinya sambil mempersilakan Amalia.


"Makasih Bun, eh....via...juga ikut rupanya" Amalia baru menyadari ternyata ada via si gadis cantik di samping bundanya.


"Maaf ya....ibuk nggak langsung nyapa, habisnya cantik banget sih....., ibuk sampai pangling liatnya" dengan gemesnya Amalia mencubit pipi gembulnya.


Via tesipu malu mendengar pujian buk guru yang dirinduinya. Dengan malu-malu ia mendekatkan diri pada Amalia, menyalami buk guru cantiknya.


"Masak hanya salim?, ciumnya mana? pinta Amalia sambil mensejajarkan tingginya dengan Sovia.


Mendapat lampu hijau dari Amalia, via langsung memeluk dan menciumi pipi kiri dan kanan Amalia.


Bunda tersenyum melihat pemandangan hangat didepannya.


Di tempat berbeda


Kantor Abi Sovia


Terlihat papan nama bertuliskan ruangan Supervisor dengan nama M. Abian Dwi Putra, yang tak lain adalah Abi dari Sovia.


"Tok...tok....tok..." terdengar suara pintu ruangan Supervisor diketuk.


"Masuk...!" Perintah pemilik ruangan.


"Pak...."


"Silakan Zul,"


"Makasih pak" Zulfahmi merupakan staf yang ada dikantor cabang, ia adalah orang kepercayaan Abian. Dedikasinya tak lagi diragukan oleh karena itu tak jarang Abian meminta pendapatnya untuk urusan lapangan.


"Mekanik lapangan bilang mesin RMG di 06 belum bisa ditangani, mungkin kita harus kembali mendatangkan mekanik dari Cina pak?" Jelasnya sembari memberi masukan.


Abian menyilangkan kedua tangan di dada dengan serius menyimak penjelasan Zul.


"Apa tidak sebaiknya kita coba dulu dengan mekanik yang ada di J*PI, karena setau saya disana banyak mekanik yang terampil bahkan sudah pernah mendapatkan pelatihan langsung dari Cina" jawab Abian dengan berbagai pertimbangan. Salah satu yang ia pikirkan adalah tentang pembiayaan, yang mungkin akan membengkak dikarenakan mendatangkan tenaga ahli dari Cina.


"Kalau itu keputusan bapak, akan saya koordinasikan langsung dengan pihak lapangan" ucap Zul lagi.


"Tapi nanti biar saya tinjau langsung kelapangan Zul, untuk berkoordinasi langsung dengan pak Malik selaku koordinator lapangan dan orang mekanik". Abian tak pernah buru-buru dalam membuat keputusan, semua harus dipastikan agar tak jadi kesalahan dalam pengambilan keputusan yang akan berdampak buruk bagi perusahaan.


"Ok...kalau begitu akan saya sampaikan pada pak Malik Pak. Kira-kira kapan bapak mau turun" Zul kembali memastikan.


Abian melirik jam yang ada di layar HP nya, "saya ashar dulu ya, setelah itu baru langsung kelapangan".


"Baik pak, saya pamit sekalian mau ke pak Malik" Zul berdiri dan melangkah membuka pintu ruangan.


Abian hanya membalas dengan sedikit senyum dan anggukan.


"Derttt.....dert...." Hp bunda Via bergetar disela pembicaraan mereka.


" Sebentar...., saya angkat telpon dari Abinya Via ya buk guru" Pamit bunda Via sambil berdiri untuk menjauh sebentar dari Amalia.


Amalia tersenyum dan mempersilakan dengan anggukan.


"Ya...haloo...Bi...."


"Maaf buk, saya Zul"


"Lho...kok hp bapak sama kamu?" Bingung bunda Via sampil menurunkan hp dari kupingnya untuk memastikan lagi nama si penelpon, karena setau dirinya tadi yang menelpon adalah Abinya Via.


"Halo....buk?" Zul kembali memanggil bunda Via karena tiba-tiba tidak ada suara dari sebrang sana.


"Ini hp Abi via kan?" kembali memastikan.


"Ia, buk"


"Abinya kemana?" tanya bunda Via lagi.


"Bapak masuk rumah sakit Anto**us buk"


"Kok bisa?" Kaget bunda via sambil menutup mulut mendengar berita sang suami masuk rumah sakit, padahal tadi pagi mereka masih sarapan bersama dan Abi Via baik-baik saja.


Dari tempat duduknya Amalia sekilas melihat kecemasan diwajah bunda Via saat berbicara dengan seseorang di seberang telponnya.


"Bapak kecelakaan saat meninjau lapangan buk" jelas Zul lagi.


"Astagfirullah...., parah nggak Zul?"


"Tadi bapak hanya tergelincir dari tangga RMG buk, tapi saat ingin bangkit, bapak langsung nggak bisa berdiri" jelas Zul lagi, karena ia sendiri juga ada di lokasi kejadian mendampingi Abian melihat kondisi Mesin RMG yang bermasalah.


"Ya...udah, saya langsung kesana sekarang".


" Baik buk".


Bersambung......