AMALIA ISKANDAR

AMALIA ISKANDAR
14. AMALIA



Selama perjalanan pulang dari salon, tak ada pembicaraan antara Abian dan Amalia, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


Setibanya di rumah, Abian lebih memilih untuk masuk kekamar, setelah membantu Abian berbaring ditempat tidur, Amalia langsung pamit lagi untuk pergi membeli keperluan dapur.


"Pak, sebelum kesekolah Via saya ijin buat belanja kepasar, soalnya barang-barang dapur dan isi kulkas sudah banyak yang habis"


"Ia, gunakan saja uang yang ada di ATM itu"


"Bapak ada yang ingin dipesan?"


"Nanti tolong kamu singgah di apotik samping penitipan Mutiara buat beliin saya obat xxxx"


"Ia, saya permisi dulu, jika ada hal mendesak bapak tinggal telpon, ini nomor saya"


Amalia meletakkan secarik kertas yang bertuliskan nomor hapenya, karena Abian memang belum menyimpan nomor Amalia.


Sesuai pesan Abian setelah menarik sejumlah uang di ATM Abian, Amalia melajukan motor ke apotik untuk membeli obat xxx.


***


"Mama...., mau mama"


"Sayang itu bukan mama Zaki"


"Itu mama Aki"


Zaki kembali berulah mencari wanita yang ia anggap sebagai mama saat di salon tadi. Kini mobil ayah Zaki sudah berhenti dipinggir jalan tepat di depan "PENITIPAN MUTIARA" dan bersebrangan dengan Apotik Megantara.


Zaki biasa dititipkan disana saat Omanya lagi ada urusan, sehingga tak ada yang menjaga, sedangkan ibunya meninggal dunia saat melahirkan Zaki tiga tahun yang lalu karena mengalami pre-eklampsia.


Ayah Zaki yang bernama dr. Zain hingga saat ini masih betah menyandang status duda, bukan tidak ada wanita yang berusaha mendekati dirinya, hanya saja hingga saat ini belum ada wanita yang bisa mencuri hatinya dan Zaki. Tapi anehnya saat disalon tadi, untuk pertama kalinya Zaki mengucap kata "mama" dan langsung menempel padi wanita yang ia ketahui bernama "Amalia". Tapi sayang, sepertinya laki-laki yang ada dikursi roda tadi adalah suami Amalia, tentu tak ada harapan lagi untuk dirinya berharap lebih pada Amalia.


Tangisan Zaki semakin kencang, seluruh cara sudah dicoba untuk menenangkan, tapi tak ada satu jurus pun yang mempan. Zaki terus menolak untuk diajak masuk kegedung dua lantai tempat ia dititipkan.


Disaat bersamaan Amalia menghentikan motor metiknya di depan apotik.


Zaki yang menyadari kehadiran Amalia di sana, reply berlari ke Arah Amalia yang ada disebrang jalan tanpa menghiraukan lalu lalang kendaraan. Amalia yang menyadari ada anak hampir tertabrak kendaraan spontan melempar helem yang masih ditangan dan secepatnya menyambar tubuh mungil kedalam pelukannya. Amalia terpental kepinggir jalan, dengan memeluk erat bocah laki-laki yang belum ia lihat wajahnya.


Kejadian itu sangat cepat, dr Zain tak sempat menahan tubuh Zaki. Ia sangat shock melihat Zaki yang hampir tertabrak kendaraan. Setelah kesadarannya kembali, secepat kilat ia berlari ke arah Amalia yang terpental dipinggir jalan.


Beruntungnya disaat kejadian tak banyak orang disana, sehingga tak menimbulkan kemacetan. Ada beberapa orang saja yang datang mendekat untuk melihat kondisi Amalia.


"Mama" suara gemetar bocah dalam dekapan Amalia.


Merasa tak asing dengan suara yang didengar,Amalia menundukkan pandangan pada bocah yang ada di dekapannya.


"Zaki???" Suara Amalia dan dr Zain bersamaan menyebut nama Zaki.


"Zaki sayang, apa ada yang luka nak?"


Nada penuh kekhawatiran Zain pada Zaki yang masih setia memeluk Amalia.


Amalia mencoba menggeser Zaki pada Zain, ternyata anak itu memberikan perlawanan dengan semakin mengeratkan pelukannya.


"Zaki sama ayah dulu sayang, kesian tantenya"


"Mama" Jawab Zaki menegaskan, sebagai bentuk protes pada ayah yang telah sembarangan mengganti kata "mama" menjadi Tante.


"Ok...ok...mama, bukan tante"


Zain terpaksa mengalah agar tak kembali merusak mood Zaki.


Amalia menyentuk bagian kening yang sedikit tertutup jelbab, saat dilihat ternyata ada darah dijarinya.


"Astagfirullah...kepala mbak berdarah"


Zaki yang melihat kening Amalia mengeluarkan darah, beranjak turun dari pangkuan Amalia. Ia merasa tak tega melihat Amalia kesakitan.


"Ayah...obat mama!"


Zaki menarik tangan si Ayah untuk mengobati Amalia yang meringis menahan sakit.


"Mbak....biar saya obati!"


"Nggak usah pak, hanya luka kecil, maaf jadi merepotkan"


"Justru saya yang ingin meminta maaf, semua ini kesalahan saya"


"Nggak masalah bagi saya, asal Zaki baik-baik saja"


Melihat Zaki tanpa luka sudah membuat hati Amalia tenang, ia sama sekali tak mempermasalahkan dirinya.


Entah kenapa dari dulu ia sangat menyukai anak kecil, dan sebaliknya ia seperti magnet bagi anak-anak. Daya tariknya membuat anak yang baru saja melihatnya langsung bisa menempel, itulah yang sekarang terjadi pada Zaki.


"Sekali lagi terima kasih banyak mbak, saya tidak bisa membayangkan jika tidak ada mbak, entah apa yang terjadi pada Zaki"


"Sama-sama. Zaki jangan kayak tadi lagi ya sayang, nurut kata ayah dan jangan suka nangis, ok?"


Zaki mengangguk pasti, berjanji untuk tidak lagi menangis. Amalia tersenyum senang, perlahan ia berdiri sambil melihat jam dipergelangan tangan.


Entah kapan orang-orang yang berada disana telah menghilang setelah melihat Amalia yang baik-baik saja.


"Mbak biar saya obatkan dulu lukanya, kalau dibiarkan takut infeksi"


"Nggak usah pak, lagian saya juga mau mampir ke apotik, nanti sekalian disana bersihinnya"


Mana mungkin Amalia menyetujui permintaan ayah Zaki untuk menyentuh keningnya. Amalia tidak ingin menimbulkan kesalah pahaman lagi.


Zaki yang berada digendongan si ayah sudah tak lagi menangis, ia menatap sayu ke arah Amalia.


"Zaki, mama ke apotik dulu ya buat obatin luka mama, sampai ketemu dilain waktu ya?"


Menoel hidung Zaki yang sedikit tenggelam karena ditarik kedua pipinya yang tembem. Setelah itu Amalia langsung beranjak pergi, sekarang ini ia sedang dikejar waktu, karena satu jam lagi waktunya Via keluar kelas dan sebelum meluncur kesana Amalia harus membeli barang-barang dapur terlebih dahulu.


Degg....


Untuk pertama kalinya ada wanita yang menyebut dirinya "mama" untuk Zaki, membuat ada rasa aneh di dalam hati Zain. Sayangnya wanita itu sudah bersuami.


Zain dan Zaki menatap kepergian Amalia hingga wanita itu berada di apotik. Ada rasa hampa, namun entah untuk apa?. Zain menggendong Zaki ke arah mobil, untuk mengambil perlengkapan Zaki. Sama halnya dengan Amalia, sekarang ini Zain juga harus secepatnya sampai dirumah sakit tempat ia bekerja.


Tak ada lagi drama, hanya celotehan Zaki dengan khas cadelnya yang mengiringi langkah mereka masuk ke dalam gedung penitipan.


Ting.....ting ....


Pesan masuk di hape Zaki, karena ia sedang diburu waktu tak menghiraukan dan memilih melakukan mobil menuju rumah sakit.


Setelah menempuh jarak lima belas menit, Zaki sudah mendudukkan diri diruangan. Kini saat yang tepat untuk melihat pesan yang masuk. Bersandar dikursi kebesarannya dengan mata dan tangan fokus pada hape. Ia mulai membuka pesan yang ada di sana, salah satunya pesan dari sang tante "Tante Nurlaila" nama yang terucap pelan dibibir merah yang tak pernah menyentuh rokok.


Salammu udah Tante sampaikan,


Mau kenal orngnya nggak???🤗


Ni Tante kirim fotonya ya,


Mata Zaki membulat sempurna saat melihat foto yang dikirim buk Nurlaila, satu kata yang terucap dibibirnya "AMALIA???"


Bersambung....